Menghayati Takdir Di tengah Pandemi yang Tak Kunjung Berakhir

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَاركاً فِيهِ ، مِلْءَ السَّمَواتِ ومِلْءَ الأَرْضِ ومِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا ومِلْءَ مَا شِئْتَ من شَيْئٍ بَعْدُ. أهلَ الثَّنَاءِ والَمجْدِ ، أَحَقُّ مَا قَالَهُ العَبْدُ وكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ ، اللّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ ، ولاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ ، ولاَ رَادَّ لِمَا قَضَيْتَ ، ولَا يَنْفَعُ ذَا الجَدِّ مِنْكَ الجَدُّ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ ورَسُوْلُه, بَلَّغَ الرِّسَالَةَ ، وَأَدَّى الأَمَانَةَ ، وَنَصَحَ الأُمَّةَ ، وَكَشَفَ اللهُ بِهِ الغُمَّةَ ، وَجَاهَدَ فىَ سَبِيْلِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ. فَاللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيمَ، ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا ِإِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

أَمَّا بَعْدُ ؛

فَيَا آيُّهَا النَّاسُ ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ ، فَقَدْ فَازَ الُمتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فىِ كِتَابِهِ الكَرِيْمِ ، وَهُوَ أَصْدَقُ القَائِلِيْنَ ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ، بسم الله الرحمن الرحيم : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

وَقَالَ :  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. صَدَقَ اللهُ العَظِيْمُ.

Hadirin, sidang salat jum’at yang dirahmati Allah

Betapapun sulitnya keadaan yang menimpa kita, tak ada alasan bagi kita untuk tidak memanjatkan rasa syukur kepada Allah Swt. Berbagai kenikmatan hidup telah kita reguk. Dan kalaupun ada kesengsaraan yang menimpa kehidupan kita, kesengsaraan itu tidak akan pernah sebanding dengan nikmat yang telah kita terima. Allah Swt tak pernah jemu memberikan nikmat kepada hamba-hamba-Nya. Karena itu, pada kesempatan kali ini, mari hadirin sekalian kita tingkatkan rasa syukur dan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Atas limpahan nikmatnya kita masih bisa menjalani sisa hidup. Di saat saudara-saudara kita yang lain sudah hilang harapan untuk bertahan hidup, bahkan sudah tidak lagi merasakan nikmatnya hidup.

Semoga salawat dan salam senantiasa tercurah untuk junjungan kita, teladan kita dan pelita kehidupan kita, Nabi Muhammad Saw. Sebagai orang Muslim, kita percaya—dan memang seharusnya kita percaya—bahwa Nabi Muhammad Saw tidaklah mati seutuhnya. Yang mengalami kematian hanyalah jasadnya yang mulia. Adapun ruhnya senantiasa hadir menyertai umatnya. Dalam salat kita diajarkan untuk berucap, “assalamu ‘alaika ayyuhan nabiy.” Untuk menunjukkan bahwa beliau itu benar-benar hadir. Karena huruf kaf, dalam gramatika bahasa Arab, hanya digunakan untuk lawan bicara yang hadir. Semoga kehadiran nabi dalam kehidupan kita dapat menjadi jalan untuk memudahkan langkah kita menuju Allah Swt.

Hadirin, sidang salat jum’at yang dirahmati Allah

Di tengah kesulitan masa pandemi seperti sekarang ini, sudah sepatutnya kita merenungkan dan menghayati kembali salah satu pilar keimanan yang selama ini kita pegang teguh dalam agama kita. Yaitu keimanan kepada takdir. Keimanan kita kepada takdir mengharuskan kita untuk percaya bahwa Allah Swt mengetahui segala sesuatu. Dan segala sesuatu yang terjadi, hanya bisa terjadi berdasarkan pada apa yang sudah diketahui oleh Allah itu. Sebelum masa pandemi hadir, Allah Swt, dengan ilmu-Nya yang azali, sudah tahu bahwa dia akan terlahir. Pengetahuan Allah tentang segala sesuatu yang akan terjadi itu, dalam bangunan akidah Islam, sering kita sebut dengan istilah qadha’.

Adapun ketika apa yang sudah diketahui oleh Allah itu benar-benar terjadi, seperti halnya pandemi yang sekarang kita rasakan ini, maka itulah yang oleh para ulama disebut dengan istilah qadar. Keimanan pada qadha dan qadar merupakan salah satu dari rukun iman. Itu artinya, jika kita meragukan dua hal itu, maka keimanan kita tidaklah sempurna. Bahkan boleh jadi, jika kita mengingkari salah satu pilar tersebut, maka kita sesungguhnya telah keluar dari lingkaran orang-orang beriman. Namun, yang menjadi persoalan kita saat ini bukan soal ada atau tidak adanya keimanan kepada takdir itu sendiri. Yang patut untuk kita renungkan ialah, sejauh mana keimanan terhadap takdir itu mampu kita hayati dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di masa pandemi seperti sekarang ini.

Kita mengaku beriman kepada takdir, tapi kita menolak apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan, sebagai Dzat yang telah menetapkan takdir itu sendiri. Kita percaya bahwa Allah itu maha baik, tapi berbagai putusan-Nya yang tidak menyenangkan kita, kita pandang sebagai sesuatu yang tidak baik. Kita mengaku percaya bahwa Allah itu menginginkan yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya, tapi betapa seringnya kita mengira bahwa apa yang kita pikirkan itu lebih baik ketimbang apa yang sudah diputuskan oleh Tuhan kita. Kita tahu bahwa sesuatu yang sudah terjadi tidak akan bisa diubah. Tapi, anehnya, kita seringkali berandai-andai, bahwa apa yang kita pikirkan itu lebih baik dari apa yang telah Tuhan tetapkan. “Kalau saja tidak begini, maka tidak akan terjadi begini.” Seolah-olah kita memandang pengandaian kita lebih baik dari apa yang telah ditetapkan oleh Allah Swt.

Tak sedikit orang yang berkeluh kesah, dan tidak terima dengan keadaan yang menimpa kita sekarang ini. Tak jarang juga kita menjumpai orang yang berandai-andai, bahwa kalau saja pandemi ini tidak terjadi, niscaya keadaan kita bisa lebih membaik lagi. Ungkapan-ungkapan semacam ini sejujurnya tidak akan pernah keluar dari mulut orang beriman, yang benar-benar percaya akan takdir Tuhan, dengan segala kebaikan yang tersimpan di balik takdir itu. Orang yang percaya kepada takdir, akan tahu dan sadar bahwa peran dia di dunia hanyalah sebagai hamba, yang mengikuti apa yang ditetapkan oleh Tuhannya.

Tugas dia hanyalah berusaha dan berdoa. Hanya sebatas itu. Kalau ternyata apa yang sudah diusahakan itu tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, orang beriman yakin, bahwa apa yang telah ditetapkan Tuhan pastilah mengandung kemaslahatan. Kalaulah kemaslahatan itu tidak tampak sekarang, bukan tak mungkin jika dia akan tampak di masa yang akan datang. Tuhan sengaja menyembunyikan kebaikan dan kemaslahatan itu, demi menguji keimanan hamba-hamba-Nya. Selama masa pandemi ini, kita perlu membangun kesadaran yang sedalam-dalamnya, bahwa tugas kita sebagai hamba hanyalah berusaha dan berdoa, bukan merubah keadaan yang sudah ditetapkan oleh Allah Swt.

Tidak ada gunanya kita menyesali apa yang sudah terjadi. Apalagi sampai menolak apa yang sudah ditetapkan oleh Tuhan kita sendiri. Karena sedalam apapun penyesalan kita, sedahsyat apapun kesedihan kita, sepusing apapun kita dalam menyikapi keadaan yang ada, kepusingan, penyesalan dan kesedihan kita tidak akan pernah mampu merubah apa-apa. Kaset kehidupan tidak bisa kita putar ulang. Yang sudah terjadi pasti akan terjadi. Sekalipun kita berandai-andai sampai ribuan kali. Sikap terbaik dalam menghadapi kenyataan ialah pasrah dan berdoa, setelah kita melakukan upaya dan usaha semampu kita. Allah Swt telah mencatat semua yang akan terjadi di dunia ini, sebelum kita benar-benar ada.

Dalam al-Quran, Allah Swt berfirman:

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid [57]: 22-23)

Pandemi telah menyulitkan kehidupan banyak orang. Boleh jadi kita mengira pengalaman pahit ini sebagai sesuatu yang kurang baik. Tapi seringkali Allah mentakdirkan sesuatu yang baik, di balik suatu peristiwa yang dalam pandangan kita tidak terlihat baik. Kita adalah hamba, bukan penguasa yang bisa merubah segala-galanya. Kita harus percaya dengan takdir. Dengan memercayai takdir, kita bisa mendaratkan ketenangan dengan mudah. Dan tidak terlalu dipusingkan dengan keadaan yang telah membuat kita susah. Sengsara atau tidaknya manusia sebetulnya tidak ditentukan dengan kenyataan yang dia terima, tetapi ditentukan dengan penyikapan dia terhadap kenyataan yang ada. Jika kita mampu menerima takdir Allah Swt, maka di situlah kita akan mendapatkan ketenangan yang sesungguhnya. Itulah ciri orang beriman. Dan di situlah pentingnya keimanan ketika kita berada dalam masa kesusahan.   

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فىِ القُرْآنِ العَظِيْمِ ، وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الُمسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khotbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ هَدَاناَ لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ النَّبيِّ الأُمِّيِّ الحَبِيْبِ العَالِي القَدْرِ العَظِيْمِ الجَاهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُوْنَ ، اِتّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ، وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

الدُّعَاءُ

اللَّهُمَّ يَا سَمِيعَ الدَّعَوَاتِ ، يَا مُقِيلَ العَثَرَاتِ ، يَاقَاضِيَ الحَاجَاتِ ، يَا كَاشِفَ الكَرُبَاتِ ، يَا رَفِيعَ الدَّرَجَاتِ ، وَيَا غَافِرَ الزَّلاَّتِ ، اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ ، وَالمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ، الأحْيَاءِ مِنْهُم وَالأمْوَاتِ ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَينَا الإِيمَانَ ، وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا ، وَكَرِّه إِلَيْنَا الكُفْرَ وَالفُسُوقَ وَالعِصْيانَ ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ. اللَّهُمَّ تَوَفَّنَا مُسْـلِمِينَ ، وَأَحْيِنَا مُسْلِمِينَ ، وَأَلْحِقْنَا بِالصَّالِحِينَ غَيرَ خَزَايَا وَلاَ مَفْتُونِينَ. اللَّهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حقَّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا ، وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ. اللَّهُمَّ رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَينَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ، رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ، وَاعْفُ عَنَّا وّاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى القَوْمِ الكَافِرِينَ. رَّبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا ، رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ ، رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَىٰ رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

قُوْمُوْا إِلَى الصَّلاَةِ يَرْحَمْكُمُ اللهُ   

Bagikan di akun sosial media anda