Menjadi Ateis Sama dengan Meneladani Tuhan?

Istilah Ateis kerap kita sematkan kepada orang-orang yang tidak percaya, atau menolak, keberadaan Tuhan. Dan pengertian itu memang benar adanya. Ateis adalah orang yang tidak percaya dengan keberadaan Tuhan. Sebagaimana orang beriman tidak semuanya pintar, orang Ateis juga begitu. Beberapa di antara mereka ada yang pintar, tapi sebagian besar dari mereka adalah orang-orang bodoh. Saya katakan bodoh, karena orang Ateis kerap kali mengorbankan nalar sehatnya ketika menafikan keberadaan Tuhan. Mereka tidak pernah menyajikan argumen yang logis untuk mengukuhkan klaim tersebut.

Baru-baru ini saya menyimak omongan salah seorang di antara mereka yang cara berpikirnya benar-benar kacau. Bisa saya pastikan, bahwa Ateis yang satu ini bukan Ateis yang “terdidik”, dalam arti punya bacaan yang luas dengan alam pemikiran umat manusia. Ini semacam “Ateis jalanan.” Ketika menyimak ocehannya, sayapun tidak begitu tertantang untuk memberikan tanggapan. Tapi, di balik ocehannya, saya melihat ada celah untuk mengingatkan publik tentang pentingnya mempelajari Ilmu Logika, agar kita tidak mudah terjebak dalam kekeliruan berpikir, seperti yang dipertontonkan oleh dirinya.

Apa yang dia katakan? Dia bercerita bahwa dia menjadi Ateis setelah membaca al-Quran. “Saya ini menjadi Ateis justru setelah saya membaca al-Quran.” Katanya. Kok bisa begitu? Dalam al-Quran, Tuhan itu, tuturnya, tidak bertuhan. Dalam arti Dia tidak tunduk pada sesuatu yang lain. Karena kita diperintahkan untuk meneladani Tuhan, maka, kata dia, kita harusnya tidak percaya dengan keberadaan Tuhan. Karena Tuhan sendiri tidak bertuhan, kok! Maka jadilah saya Ateis. Karena itu, menurutnya, menjadi Ateis itu sama dengan meneladani Tuhan yang tidak bertuhan.

Sepintas tampak logis. Bahkan, yang belum terbiasa dengan diskursus teologi, boleh jadi akan mengiyakan pernyataan tersebut. Padahal kecacatannya sudah sangat jelas. Di manakah sesungguhnya letak kecacatan berpikir orang itu? Paling tidak ada dua. Pertama, dia mengatakan bahwa al-Quran meminta kita untuk meneladani Tuhan. Sementara di al-Quran sendiri tidak ada perintah untuk meneladani Tuhan itu. Coba, ada nggak ayat yang meminta kita untuk meneladani Tuhan, dalam arti bahwa kita harus persis sama seperti diri-Nya? Yang ada justru perintah agar kita menyembah-Nya, dan beramal dengan sebaik-baiknya, sebagai wujud penghambaan kita kepada-Nya.

Mungkin yang dia maksud ialah ungkapan yang selama ini oleh sebagian kalangan diduga sebagai hadits. Padahal status ke-hadits-annya sendiri masih diperselisihkan oleh para ulama. Apakah itu hadits atau bukan. Ungkapan yang dimaksud ialah, “takhallaqû bi akhlâqillâh” (berakhlaklah dengan akhlak Allah). Demikian bunyi ungkapan itu. Maksudnya ialah berakhlak dengan nama dan sifat-sifat Allah, sesuai dengan maqam kita sebagai hamba.

Yang tidak kalah penting untuk dicatat ialah, kalaupun itu diterima sebagai sebuah hadits, yang diperintahkan dalam ungkapan itu ialah meneladani sifat-sifat Allah, bukan meneladani wujud Allah dan menyamai ketuhanan-Nya, sehingga kita harus sama seperti diri-Nya. Tidak ada perintah semacam itu. Ketika dia menduga bahwa al-Quran telah memerintahkan dia untuk meneladani Allah, dengan menjadikan dirinya sebagai Tuhan, maka dia telah menisbatkan kepada al-Quran, sesuatu yang tidak dia katakan sendiri.

Dengan kata lain, dengan pandangan tersebut, dia telah menisbatkan kepada al-Quran suatu pemahaman yang sebenarnya adalah pemahaman dia sendiri, bukan apa yang dikatakan oleh kitab suci. Logiskah cara berpikir seperti ini? Bagi yang masih bernalar sehat, dengan mudah dia pasti akan berkata tidak. Ini jelas tidak logis. Dia sudah menarik kesimpulan dari suatu premis yang benar-benar keliru. Sementara kesimpulan yang benar hanya bisa ditarik dari premis yang benar.   

Kedua, dengan mengatakan Tuhan tidak memiliki Tuhan, maka dia telah mengandaikan pemberlakuan sesuatu kepada sesuatu, sementara sesuatu itu sendiri tidak bisa menerima pemberlakuan sesuatu itu. Maksud saya, dia hendak memberlakukan sesuatu kepada Tuhan, yaitu keterciptaan dan ketergantungan, sementara Tuhan sendiri adalah wujud yang tidak dapat menerima itu, karena diri-Nya sendiri.  

Tuhan tidak memiliki Tuhan, karena ketuhanan-Nya memang mengharuskan Dia untuk tidak tunduk pada apapun. Manakala dia tunduk kepada sesuatu—yang kita asumsikan sebagai Tuhan—maka gugurlah sudah ketuhanannya. Singkat kata, kalau tunduk, maka sesuatu tidak bisa disebut sebagai Tuhan. Karena ketika itu dia akan menjadi butuh kepada sesuatu yang lain. Dan kalau sudah butuh pada sesuatu yang lain maka Dia menjadi sama dengan makhluk. Sementara akal yang sehat tidak memungkinkan adanya pencipta (khaliq) yang persis sama dengan yang dicipta (makhluq).

Mengatakan Tuhan tunduk kepada Tuhan itu sama saja dengan mengandaikan terjadinya kontradiksi. Anda mengatakan sesuatu sebagai A, tapi dia juga bukan A. Dan, logika yang sehat menyatakan, bahwa dua hal yang kontradiktif itu, tidak mungkin saling terhimpun juga tidak mungkin saling terangkat. Dengan kata lain, tidak mungkin kita katakan sesuatu itu sebagai Tuhan. Tapi pada saat yang bersamaan kita katakan bahwa Dia tunduk kepada sesuatu yang lain. Karena menyatakan Tuhan tunduk kepada sesuatu yang lain sama saja dengan menyatakan bahwa dia itu bukan Tuhan.

Di sinilah pentingnya mempelajari logika. Hukum kontradiksi adalah pembahasan paling mendasar dalam logika. Yang memahami hukum ini dengan baik tidak mungkin terjebak dalam kecacatan berpikir seperti tadi. Dewasa ini tak jarang kita menyaksikan orang-orang yang tampil kritis, tapi sayangnya sikap kritis mereka tidak dibekali dengan landasan berpikir yang logis. Konsekuensinya, muncullah kegaduhan demi kegaduhan. Dan pada akhirnya tenggelamlah kita dalam percakapan-percakapan yang tidak banyak memberikan kemanfaatan. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.

Bagikan di akun sosial media anda