Qurban Ibrahim dan Sesat Pikir Dawkins

Momen hari raya Idul Adha kerap diasosiasikan dengan peristiwa yang melibatkan Nabi Ibrahim dengan putranya, Ismail As. Seperti yang terekam dalam al-Quran, Nabi Ibrahim diuji oleh Allah Swt dengan perintah untuk menyembelih anaknya. Tapi kemudian penyembelihan itu tidak benar-benar terjadi. Karena kemudian jasad Ismail diganti dengan seekor hewan sembelihan. Al-Quran menyebutnya sebagai “sembelihan yang agung” (dzibhun ‘azhîm). Dan tradisi berkurban disyariatkan, antara lain, untuk mengingat pengorbanan besar Nabi Ibrahim itu.

Dalam buku Outgrowing God, sebuah buku yang ditulis sebagai ajakan untuk menjadi Ateis, Dawkins menjadikan kisah Ibrahim dan Ismail ini sebagai salah satu dalil untuk membuktikan kekejaman kitab suci. Secara lebih jelas dia ingin mengatakan bahwa al-Quran, dan juga kitab-kitab suci yang lain, bukanlah kitab suci yang baik. Bahkan al-Quran itu, tegas Dawkins, lebih buruk! Apa buktinya? Buktinya, antara lain, ialah kisah penyembelihan itu. Setelan melansir kisah penyembelihan tersebut dalam Alkitab, Dawkins kemudian menulis:

Kisah yang sama diceritakan dalam Alquran (surat: 99-111). Di sini nama puteranya tidak disebutkan, dan ada tradisi dalam Islam bahwa itu adalah putra Ibrahim [Abraham] yang lain (dengan ibu yang berbeda, Ismail. Dalam versi Alquran, Ibrahim mengalami mimpi di mana dia melihat dirinya mengorbankan putranya…Jika kamu adalah Ishak (atau Ismail), bisakah kamu memaafkan perbuatan ayahmu? Jika kamu adalah Abraham (atau Ibrahim), bisakah kamu memaafkan perbuatan Tuhan? Jika hal seperti ini terjadi di zaman modern, Abraham akan dikurung karena kekejaman yang mengerikan terhadap anaknya.” (Dawkins: 2019, hlm. 84-85)

Kalau kita amati dengan cermat, dalam kutipan ini Dawkins sesunggungnya telah terjebak dalam false analogy; satu kekeliruan berpikir yang terjadi manakala seseorang mempersamakan dua hal yang tidak benar-benar sama, tapi keduanya dilabeli dengan penghukuman serupa, tanpa ada alasan logis untuk membenarkan penghukuman itu. “Bisakah kamu membayangkan apa yang akan dikatakan hakim jika seseorang berdalih, “Tapi saya hanya mengikuti perintah.” “Perintah dari siapa?” “Ya, Yang Mulia, saya mendengar suara ini di kepala saya.” Atau “Saya mengalami mimpi ini.” Apa yang akan kamu pikirkan, jika kamu menjadi juri? Apakah kamu pikir itu alasan yang cukup bagus? Atau apakah kamu akan mengirim Abraham ke penjara?” (Dawkins, 2019: hlm. 85)

 Kalau ada manusia biasa berencana untuk menyembelih anaknya, dengan alasan mimpi, pasti kita akan mengecam perbuatan tersebut. Dan memandangnya sebagai sesuatu yang keji. Itu benar. Dan kita sepakat dengan hal itu.

Tapi siapa Ibrahim? Ya, dia adalah seorang manusia. Tapi dia juga seorang nabi. Dan inilah yang membedakan dirinya dengan manusia-manusia yang lain. Jika Anda tidak percaya dengan persoalan kenabian, tentu itu diskusi lain yang bisa kita bahas secara terpisah. Yang jelas, kalau secara faktual Ibrahim itu benar-benar seorang nabi, dan dalil akan kenabiannya itu bisa dibuktikan secara sahih, maka apa yang dikatakan Dawkins di atas adalah bentuk kecacatan berpikir.

Karena dia telah mempersamakan perbuatan seorang nabi dengan prilaku manusia biasa. Sementara keduanya jelas berbeda. Dan kita tidak punya alasan yang logis untuk mempersamakan keduanya.  Mungkin ada yang berkata, tapi kan menyembelih manusia itu perbuatan keji? Betul, bagi manusia biasa itu adalah perbuatan yang keji. Bagi nabipun sebetulnya termasuk perbuatan keji juga, kalau dia tidak diperintahkan untuk melakukan itu.

Masalahnya Nabi Ibrahim mendapatkan perintah melalui mimpi. Dan mimpi seorang nabi adalah wahyu. Lah terus kenapa mimpi kita tidak bisa menjadi wahyu? Ya karena kita manusia biasa. Yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ialah menunaikan perintah Tuhan-Nya. Dan, yang tidak kalah penting untuk dicatat, perintah itupun dikemukakan dalam konteks menguji. Tuhan ingin menguji ketabahan Ibrahim dengan mengorbankan salah seorang anaknya. Dan pada akhirnya, ketika Ibrahim menunaikan seruan itu, sebagai bentuk ketaatannya, Ismail pun tidak jadi disembelih.

Pertanyaannya, kalau ini dikatakan sebagai perbuatan yang keji, di mana letak kekejian itu? Ismail tidak jadi disembelih. Dan apa yang dilakukan oleh Ibrahim hanyalah upaya untuk menunaikan perintah dari Tuhan. Ingat, dari Tuhan. Bukan dari manusia biasa. Anda tidak bisa mempersamakan perintah Tuhan dengan perintah manusia biasa. Sebagaimana Anda juga tidak bisa mempersamakan perbuatan nabi dengan perbuatan manusia biasa.

Sebagai bentuk ketaatan, perintah Tuhan harus ditunaikan. Justru, kalau tidak ditunaikan, Ibrahim akan terjerumus dalam perbuatan maksiat. Karena dia tidak taat dengan perintah Tuhannya. Lagipula, perintah menyembelih anak yang ditujukan kepada nabi Ibrahim bukanlah perintah untuk melakukan hal yang sama kepada para pengikutnya. Itu yang perlu kita catat dengan baik. Apa ada, misalnya, syariat penyembelihan anak dalam ajaran Islam dengan alasan bahwa dia pernah dilakukan oleh seorang nabi? Jelas tidak ada.

Tapi, mungkin ada yang bertanya, apa mungkin Tuhan memerintahkan kekasih-Nya untuk melakukan perbuatan keji semacam itu? Pertanyaan ini sesungguhnya didasarkan pada satu asumsi yang keliru. Yaitu memandang perbuatan Tuhan sama dengan perbuatan manusia, sehingga apa yang dipandang keji bagi manusia juga dipandang keji bagi Allah Swt. Padahal, logika yang sehat tidak bisa mengamini analogi semacam ini. Dari status ontologisnya saja sudah berbeda. Tuhan adalah wujud yang niscaya. Sementara manusia termasuk wujud yang tidak niscaya. Tuhan pemilik segala sesuatu. Manusia bukan. Lantas dengan alasan logis macam apakah kita mempersamakan perbuatan keduanya?

Sebagaimana kita tidak bisa mempersamakan perbuatan seorang nabi dengan seorang manusia biasa, kita juga tidak bisa mempersamakan antara perbuatan Tuhan dengan perbuatan hamba-hamba-Nya. Sayang, Dawkins tidak memercayai Ibrahim sebagai Nabi. Bahkan dia memandangnya sebagai dongeng. Tapi tentu, pengingkaran seseorang terhadap sesuatu bukanlah alasan untuk menafikan sesuatu itu. Dawkins percaya atau tidak, Ibrahim tetaplah seorang nabi, yang menerima wahyu dari Allah Swt, dan mendapatkan tempat yang mulia di sisi para pengikutnya. Demikian, wallahu ‘alam bisshawâb.

Bagikan di akun sosial media anda