Kenapa Harus Memilih Pesantren?

Tak sedikit kalangan anak muda yang menilai pesantren sebagai “penjara suci”. Hidup di pesantren dibayangkan seperti hidupnya seorang tahanan. Tidak boleh main hape, tidak boleh keluar tanpa izin, kalau salah diberikan sanksi, apa-apa mengantri, makan sama tempe tahu, dan lain-lain. Namun, melihat pergaulan anak muda zaman sekarang, yang lebih sering disibukkan dengan dunia game dan internet, tampaknya sekolah di pesantren sudah menjadi pilihan yang layak untuk dipertimbangkan. Beberapa kali saya berjumpa dengan wali santri yang cemas dengan pola hidup anak-anaknya. Dan, pada akhirnya, mereka tidak punya pilihan lain kecuali memasukkan anaknya ke lingkungan pesantren.

Mungkin masih ada yang bertanya-tanya, apa sih gunanya mondok itu? Kenapa sih kita harus memilih pesantren? Sekolah kan di mana aja sama, yang penting tergantung orangnya? Itulah komentar yang cukup sering kita dengar. Tentu saja, di satu sisi, pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah. Tapi, demi memberikan penjelasan yang lebih memuaskan, tampaknya kita perlu menerangkan alasan yang lebih terperinci kenapa kita harus tetap memilih pesantren ketimbang sekolah di luar. Sebagai seorang santri, saya hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang mendapatkan banyak manfaat dari kehidupan pesantren itu. Lantas apa saja manfaatnya? Kita akan rangkum jawabannya ke dalam lima poin sebagai berikut:

Pertama, pesantren mengajarkan kesederhanaan. Memangnya ajaran ini penting? Ya, sangat penting. Sewaktu mondok saya dididik dengan kesederhanaan, baik dalam soal makanan, pakaian, maupun fasilitas dan lingkungan. Pondok saya benar-benar mendidik santrinya untuk hidup sederhana. Dan itu benar-benar membekas dan memberikan dampak positif bagi fase kehidupan saya yang selanjutnya. Sewaktu hidup di Kairo kadang saya harus terpaksa makan apa adanya. Karena keterbatasan uang saku. Tapi saya merasa nyaman dengan kesederhanaan itu. Karena sudah terbiasa. Pada akhirnya, punya uang atau tidak punya uang, selama masih ada yang bisa dimakan, saya tidak mudah mengeluh dengan keadaan. Dari mana ajaran ini saya dapat? Dari pesantren.

Pak kiai selalu memberi kami nasihat, bahwa kesederhanaan itu sengaja ditanamkan, agar kalau kita ditakdirkan jadi orang kaya, kita tumbuh menjadi hamba yang pandai bersyukur. Tetapi apabila ditakdirkan menjadi orang miskin, yang hidup apa adanya, kita tidak akan kaget, dan mampu bertahan hidup dengan keterbatasaan yang ada. Karena sudah terbiasa. Bayangkan kalau kita sudah terbiasa hidup enak. Di saat terjatuh, kita akan merasa sengsara, sakit, gelisah, dan hidup dengan cucuran air mata. Pesantren mengajarkan kesederhanaan. Karena kesederhanaan adalah modal terpenting bagi kita agar bisa menyesuaikan diri dengan kerasnya lika-liku kehidupan.

Kedua, selain menanamkan prinsip kesederhanaan, pesantren juga mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, kesabaran, dan keprihatinan. Pesantren bisa menjadi miniatur kehidupan. Ketika hidup di pesantren, Anda tidak hanya bertemu dengan orang-orang baik. Kalau pesantren hanya menampung orang-orang baik, ya itu namanya bukan pesantren, tapi perkumpulan para wali. Di pesantren sudah pasti ada orang baik dan yang tidak baik. Semuanya melebur menjadi satu sebagai perantau dan penuntut ilmu. Ketika keluar dari Pesantren, dan tenggelam dalam dunia yang sesungguhnya, Anda akan menjumpai manusia dengan karakter dan kepribadian yang berbeda-beda.

Boleh jadi Anda bertetangga dengan orang yang kurang ramah, boleh jadi Anda punya pasangan yang kurang menyenangkan, boleh jadi Anda punya atasan yang kurang ajar, terkadang kita juga berhadapan dengan perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang-orang sekitar, sebelum Anda merasakan itu, pesantren sudah terlebih dulu menyediakan wadahnya. Selama hidup di pesantren, Anda bukan hanya akan belajar tentang ilmu-ilmu agama, tapi Anda juga akan belajar tentang bagaimana seharusnya kita berinteraksi dengan sesama. Berinteraksi dengan orang baik harusnya seperti apa. Dan kalau bertemu dengan orang yang kurang baik, harusnya bagaimana. Semua itu Anda pelajari selama Anda di pesantren. Sehingga dengan begitu Anda tidak akan kaget ketika hidup di alam luar.  

Ketiga, pesantren mengajarkan dasar-dasar agama. Apakah pengajaran dasar-dasar agama itu penting? Kalau Anda percaya bahwa akhlak seseorang itu dipengaruhi dengan lingkungan dan ajaran yang dia terima, maka jawabannya sudah pasti iya. Penanaman nilai-nilai agama itu sangatlah penting. Berkali-kali saya menyimak curahan hati orang tua yang kecewa dengan sikap kurang ajar anaknya. Orang tua sudah diperlakukan seperti halnya teman, bahkan mungkin lebih rendah dari teman. Mudah melawan, tidak mau disuruh, kerjaan main terus pula. Orang pesantren, yang memahami ajaran agamanya dengan baik, tidak mungkin melakukan hal itu.

Ketika hidup dalam pergaulan yang bebas pun, orang pesantren masih tahu batasan. Karena ketika mondok mereka sudah terbiasa hidup di lingkungan yang baik. Ya, hidup di pesantren tidak menjamin seseorang hidup jadi orang baik. Tapi, minimal, seburuk-buruknya orang pesantren, mereka tahu dasar-dasar agama. Dan mereka didik untuk terbiasa menunaikan kewajiban-kewajiban agama. Dan itu akan memberikan dampak yang tidak kecil dalam membentuk cara pandang sekaligus kepribadian mereka. Kalaulah mereka tidak menjadi orang baik sekarang, siapa tahu nilai-nilai yang mereka terima dari pesantren itu akan mereka amalkan di masa yang akan datang.

Keempat, biaya sekolah di pesantren cukup terbilang murah. Tapi kan ada pesantren-pesantren yang mahal? Ya, memang ada. Tapi, selama masih ada yang menyediakan biaya murah, kenapa harus mencari yang mahal? “Oh tidak. Kalau biayanya mahal, fasilitasnya juga bagus, kualitas pembelajaran juga lebih baik.” Saya tidak bisa menyalahkan pandangan itu. Tetapi, berdasarkan apa yang saya tahu, mahal murahnya biaya pendidikan di pesantren tidak menjadi jaminan kualitas dari pesantren itu. Pesantren dengan biaya bulanan 400 sampai 500 ribu sekarang sudah banyak.

Dibandingkan sekolah di luar, yang tidak dapat mengontrol penuh pergaulan anak-anak kita—di samping juga minimnya pendidikan agama yang mereka terima—tentu lebih baik masuk pesantren. Biaya segitu sudah termasuk makan, minum dan tempat tinggal. Orang tua hanya cukup mengirimkan uang mingguan, dan makanan seperlunya. Sewaktu mondok saya dikasih uang 50 ribu untuk seminggu. Selebihnya paling dibawakan martabak. Sudah. Selesai. Dan saya betah dengan uang jajan segitu.

Kelima, bagi sang anak, masuk pesantren adalah bagian dari bakti kepada orang tua. Dan bagi orang tua, memasukkan anak ke pesantren adalah solusi yang tepat apabila mereka sudah tidak sanggup lagi mendidik anak di dalam rumah. Tentu ini bukan berarti bahwa pesantren itu hanya jadi tempat pelarian semata. Maksud saya, di luar sana ada orang tua-orang tua yang minim pendidikan agama. Mereka tidak bisa memberikan pendidikan agama yang baik kepada anak-anaknya. Sudah begitu mereka sibuk dengan kerjaan. Padahal mendidik anak itu hukumnya wajib. Barangkali, jika dihadapkan dengan “keterpaksaan” semacam itu, sementara mendidik anak itu tetap wajib, maka pesantren dapat membantu dalam meringankan kesulitan Anda.    

Bagi sang anak, hidup di pesantren bisa dijadikan jalan untuk membahagiakan kedua orang tua. Orang tua yang baik tentu akan senang jika anaknya hidup di lingkungan yang baik, dan mendapatkan pengajaran yang baik. Lebih senang lagi kalau kita, sebagai anak, kelak benar-benar menjadi orang baik. Sebagian besar orang tua yang saya temui tidak ada yang berharap anaknya bisa jadi pebisnis, pejabat, apalagi artis dan bintang sinetron. Mereka berharap anaknya bisa menjadi orang baik, dan menjadi “investasi” amal untuk orang tuanya kelak.

Ketika orang tua sudah tiada, anak yang dididik di lingkungan pesantren akan tahu, bahwa orang tuanya masih memiliki hak atas dirinya, yaitu hak untuk didoakan. Lulusan pesantren minimal bisa baca yasin dan tahlil. Ketika orang tua sudah tiada, tak ada lagi yang mereka harapkan kecuali doa. Karena harta dan kekayaan semuanya akan hilang dan lenyap. Dan pesantren senantiasa menanamkan nilai-nilai religius semacam itu. Dia menyediakan lingkungan yang baik, sebagaimana dia juga menyuguhkan pendidikan yang baik. Dan jika kita berharap agar anak kita menjadi orang yang baik, maka berikanlah dia lingkungan yang baik. Karena manusia adalah “anak” dari lingkungannya. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb. 

Bagikan di akun sosial media anda