Terlalu Banyak Tuhan, Maka Tuhan Menjadi Tiada?

Kita harus membedakan dengan cermat, antara gambaran atau keyakinan kita tentang sesuatu, dengan sesuatu yang kita gambarkan atau kita yakini itu sendiri. Menurut nalar yang sehat, itu adalah dua hal berbeda, dan tidak akan ada orang waras yang mempersamakan keduanya. Saya duduk di hadapan tiga orang, katakanlah A, B dan C. Dan masing-masing dari mereka punya gambaran berbeda tentang saya. Yang pertama meyakini saya sebagai orang jahat. Yang kedua memandang saya sebagai orang baik. Dan yang ketiga menggambarkan saya sebagai sosok yang biasa-biasa saja.

Pertanyaannya, apakah banyaknya gambaran dan keyakinan mereka tentang saya itu mempengaruhi kesatuan diri saya sendiri? Dan apakah keragaman gambaran mereka tentang diri saya untuk otomatis bisa menafikan keberadaan saya? Oh jelas tidak. Sama sekali tidak. Tolong cermati pertanyaan ini dengan baik. Selama nalar Anda sehat, saya yakin Anda akan berkata tidak. Kenapa bisa begitu? Karena gambaran kita tentang sesuatu itu satu hal, sesuatu yang kita gambarkan, yang berada di luar pikiran kita, itu hal yang lain lagi.

Sekarang saya minta Anda untuk menggambarkan sebuah kobaran api dengan kepanasan yang benar-benar dahsyat. Saya mau tanya, apakah gambaran dan pengetahuan Anda tentang api itu adalah api itu sendiri? Tak perlu berpikir panjang untuk menjawab pertanyaan ini. Semua yang bernalar sehat akan berkata tidak. Sebab, kalau gambaran Anda tentang api itu adalah api itu sendiri, maka konsekuensinya kepala Anda sudah pasti akan hangus terbakar. Tapi faktanya hal itu tidak terjadi. Itu artinya, gambaran dan keyakinan Anda tentang sesuatu bukanlah sesuatu itu sendiri.

Jika ada di antara pembaca yang keberatan dengan pernyataan tersebut, dan memandangnya sebagai pernyataan yang tidak masuk akal, saya minta tunjukkan, di mana letak ketidak-masuk akalan pernyataan itu. Saya kira itu pernyataan yang sangat logis. Saya ulangi sekali lagi. Gambaran, keyakinan dan pemahaman kita tentang sesuatu bukanlah sesuatu itu sendiri. Dan apa yang kita gambarkan tentang sesuatu bukanlah penentu ada atau tiadanya sesuatu yang kita gambarkan itu. Apakah Anda paham sampai di sini? Saya anggap Anda paham.   

Sekarang mari kita berbicara tentang Tuhan. Satu kesepakatan yang tidak bisa kita tolak, bahwa sepanjang sejarah, manusia punya gambaran yang berbeda-beda tentang Tuhan. Kita bisa katakan juga bahwa gambaran dan keyakinan manusia tentang Tuhan itu berkembang dari masa ke masa. Tidak ada masalah. Itu memang fakta yang tidak bisa kita tolak. Tapi, pertanyaannya, apakah keragaman gambaran tentang Tuhan itu dapat dijadikan alasan untuk menetapkan banyaknya Tuhan itu sendiri, apalagi dijadikan alasan untuk menafikan keberadaan-Nya?

Harap Anda ingat kesepakatan kita di awal, bahwa gambaran kita tentang sesuatu bukanlah sesuatu itu sendiri. Karena apa yang terbayangkan oleh nalar itu bukanlah sesuatu yang berada di alam luar (maksud saya di luar pikiran). Atas dasar itu, banyaknya gambaran manusia tentang Tuhan tidak bisa dijadikan alasan untuk mengatakan bahwa Tuhan itu banyak. Apalagi Tuhan dikatakan tidak ada, hanya karena gambaran mereka yang berbeda-beda. Karena ada atau tidak adanya sesuatu, juga beragam atau tidaknya sesuatu, itu tidak bergantung pada gambaran dan keyakinan manusia tentang sesuatu itu.

Kecuali kalau kita beranggapan bahwa Tuhan itu hanya ada dalam nalar, dan tidak ada di luar pikiran manusia. Tapi, masalahnya, klaim tersebut tetap membutuhkan bukti. Orang-orang Ateis yang berpandangan demikian harus menyuguhkan bukti. Apa bukti kalau Tuhan itu hanya produk pikiran manusia saja, dan tidak benar-benar eksis di luar pikiran mereka? Sayang, orang Ateis, termasuk Dawkins, tidak pernah mampu menyuguhkan argumen yang logis tentang hal itu. Dan kalau ada, saya sangat menunggu penjelasan mereka. Dan kita bisa dengan mudah meluluh-lantahkannya. Tidak ada yang sulit untuk melenyapkan pikiran yang cacat. Pikiran yang cacat akan lenyap dengan dirinya sendiri, selama manusia berupaya untuk meningkatkan kewarasan nalarnya.  

Di sisi lain, kalau kita meyakini Tuhan sebagai produk nalar manusia semata, kita akan kesulitan dalam menjelaskan kemunculan alam semesta. Seperti yang akan kita lihat dalam uraian nanti, mengatakan alam semesta ada, padahal sebelumnya tidak ada, tanpa adanya sebab, adalah pernyataan konyol yang bertentangan dengan nalar sehat. Segala akibat pastilah butuh kepada sebab. Dan kalau kita sepakat dengan hukum itu, maka kemunculan alam semesta inipun butuh kepada sebab.

Tetapi yang jadi sebab itu apa? Kalau jawabannya alam, jelas itu tidak mungkin. Karena manusia yang bernalar sehat tidak akan mungkin berkata bahwa ada sesuatu yang menjadi sebab bagi dirinya sendiri. Agama bilang bahwa yang menjadi sebab itu ialah Tuhan. Bukankah pandangan semacam ini lebih logis, ketimbang pandangan yang menafikan sebab itu?

Kita bisa menguraikan persoalan ini lebih rinci dalam tulisan lain secara terpisah. Untuk sekarang kita bisa dengan penuh percaya diri mengatakan bahwa Tuhan itu ada, dan Dia menjadi sebab di balik kelahiran alam semesta. Kalau kita menyepakati itu, maka konsekuensinya Tuhan bukanlah sesuatu yang berada dalam nalar belaka, tetapi Dia adalah sesuatu yang eksis di luar pikiran manusia. Dan kalau kita menyepakati hal ini, maka banyaknya gambaran manusia tentang Tuhan, jelas bukanlah alasan yang masuk akal untuk menetapkan banyaknya wujud Tuhan itu sendiri. Kita tidak punya alasan yang logis untuk mengatakan Tuhan itu banyak, hanya karena banyaknya gambaran manusia tentang diri-Nya.

Setiap kali berjumpa dengan orang Ateis yang mengatakan di dunia ini ada banyak Tuhan, dan karena itu kita tidak perlu memercayainya sama sekali, Anda bisa menggunakan bantahan seperti itu. Katakan kepadanya, tolonglah bersikap cerdas, bedakan antara gambaran manusia tentang sesuatu di dalam nalar, dengan keberadaan sesuatu itu sendiri di alam luar. Sebagai orang waras, kita tidak bisa mencampuradukkan dua hal itu. Anda akan sering menjumpai pernyataan di atas dari orang-orang Ateis. Dan ini juga sebetulnya pernyataan yang disampaikan oleh Dawkins. Pada permulaan buku Outgrowing God, Dawkins menulis:

“Apakah kamu percaya Tuhan? Tuhan yang Mana? Ribuan tuhan atau dewa telah disembah di seluruh dunia, sepanjang sejarah. Kaum politeis percaya pada banyak dewa pada saat yang bersamaan (theos adalah bahasa Yunani untuk “tuhan” dan poly adalah bahasa Yunani untuk “banyak”). Wotan (atau Odin) adalah dewa utama orang Viking. Dewa Viking lainnya adalah Baldr(dewa keindahan), Thor (dewa petir dengan palu perkasa) dan putrinya, Thord. Ada beberapa dewi seperti Snotra (dewi kebijaksanaan), Frigg (dewi keibuan) dan Ran (dewi laut).” (Lihat Outgrowing God, hlm. 4)

Setelah itu dia mengabsen satu persatu nama-nama Tuhan yang pernah dikenal dalam sejarah umat manusia. Hanya untuk mengatakan bahwa Tuhan itu banyak. Dan dia tidak pernah percaya dengan semua tuhan-tuhan itu. Baiklah. Kita hormati ketidak-percayaan dia. Tapi, yang harus diiingat, ketidak-percayaan seorang manusia tentang sesuatu bukanlah alasan untuk menafikan wujud sesuatu itu sendiri.

Melalui kutipan tersebut, Dawkins sebenarnya sudah menyimpan satu asumsi keliru. Bahwa apa yang diyakini oleh manusia sebagai tuhan adalah Tuhan itu sendiri. Padahal tidak. Kenapa demikian? Lagi-lagi kita kembali pada jawaban semula. Bahwa gambaran dan keyakinan manusia tentang sesuatu itu satu hal. Wujud dari sesuatu yang diyakini dan digambarkan oleh manusia itu hal yang lain lagi. Karena itu, keragaman gambaran manusia tentang Tuhan bukanlah alasan yang logis untuk menegaskan banyaknya Tuhan itu sendiri, ataupun menafikan keberadaan-Nya.

Dawkins, dan orang-orang Ateis pada umumnya, tidak mampu membedakan antara apa yang diyakini oleh manusia sebagai Tuhan, dengan Tuhan itu sendiri, yang keberadaan dan ketiadaan-Nya (kalaulah Dia harus dikatakan tiada) tidak bergantung pada pikiran dan keyakinan manusia. Keyakinan manusia beragam atau tidak, Tuhan tetaplah wujud yang satu. Kenapa Tuhan harus satu? Beberapa alasan logisnya sudah saya kemukakan dalam tulisan yang lain. Lagipula, kalau keyakinan akan satu Tuhan itu lebih mudah, kenapa kita harus meyakini Tuhan yang banyak?

Dan, kalau kita kebingungan dalam memahami Tuhan yang satu itu, Islam datang untuk menjelaskan. Penjelasan tentang sifat-sifat Tuhan yang satu itu ada dalam al-Quran dan Sunnah. Tugas kita hanya menelaah saja. Gampang, bukan? Akal kita menerima keberadaan Tuhan, dan agama datang untuk memperjelasnya. Baik akal maupun agama, kedua-duanya berakhir pada satu kesimpulan yang sama, bahwa yang benar-benar Tuhan itu harusnya hanya ada satu. Tapi manusia, dengan keterbatasan nalarnya, berbeda-beda dalam memahami yang satu itu.  

Jadi, yang sesungguhnya banyak itu bukan wujud Tuhan, tapi keyakinan dan gambaran manusia tentang Tuhan. Hanya orang-orang yang bernalar cermat yang bisa membedakan kedua hal itu. Bagi orang-orang yang miskin rasionalitas seperti Dawkins, dan orang-orang Ateis pada umumnya, keyakinan manusia tentang Tuhan adalah Tuhan itu sendiri. Sehingga, karena keyakinan manusia tentang Tuhan itu banyak, maka disimpulkanlah bahwa Tuhan itu juga banyak. Padahal, keyakinan manusia tentang Tuhan itu satu hal, Tuhan yang dipikirkan manusia, yang berada “di luar” pikirannya, itu jelas hal yang lain lagi.

Mungkin akan ada yang berkata, ilustrasi Anda kurang tepat. Tadi Anda memberi contoh api. Gambaran kita tentang api bukanlah api itu sendiri. Saya sepakat dengan itu. Tapi Tuhan kan berbeda dengan api? Bagaimana Anda menjelaskan itu? Baik. Saya sepakat dengan Anda bahwa Tuhan itu berbeda dengan api. Dan memang, dengan contoh tersebut, saya tidak bermaksud untuk mempersamakan Tuhan dengan api. Tapi Anda harus ingat, bahwa kedua-duanya adalah sesuatu yang berwujud. Dan wujud keduanya berada di luar pikiran manusia.

Melalui ilustrasi tersebut, saya hanya ingin menegaskan bahwa apa yang digambarkan oleh manusia di dalam nalar itu tidak bisa dijadikan alasan untuk membuktikan keberadaan maupun ketiadaan sesuatu di alam luar. Karena gambaran kita itu satu hal, dan sesuatu yang kita gambarkan, yang berada di luar pikiran kita, itu hal yang lain lagi. Bukankah ini pernyataan yang logis?

Kalau orang Ateis tadi bersikukuh untuk menafikan keberadaan Tuhan, dengan alasannya banyaknya gambaran manusia tentang diri-Nya, tentu saja dia harus menjelaskan apa keterkaitan yang logis antara keragaman gambaran manusia tentang sesuatu, dengan tiadanya sesuatu itu sendiri di luar pikiran manusia? Dengan pertanyaan lain, apa wajhul mulâzamah (sisi keterkaitan) antara banyaknya gambaran di dalam nalar dengan ketiadaan sesuatu di alam luar? Saya berani menjamin, bahwa mereka tidak akan mampu menyuguhkan penjelasan yang logis tentang hal itu. Kalau ada, saya persilakan Anda untuk mengemukakannya.    

Anda bisa lihat sendiri, bahwa untuk membantah pandangan orang Ateis, kita hanya cukup menggunakan rasionalitas saja dalam berpikir. Ateisme dan rasionalitas adalah dua sisi yang tidak akan pernah berjumpa. Memilih jadi Ateis berarti memilih untuk mengorbankan nalar yang sehat. Sementara memegang teguh rasionalitas sudah pasti akan mengantarkan Anda menuju keteguhan iman. Agama tidak datang dengan ajaran yang bertentangan dengan hukum akal. Justru dia menguatkan, bahkan mengurangi kebingungan-kebingungan. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.    

Bagikan di akun sosial media anda