Karena Saling Bertentangan, Maka Semua Agama Tidak Ada yang Benar?

Pada umumnya, agama yang dianut seseorang adalah agama yang diwariskan oleh orang tua dan lingkungan sekitarnya. Kita tidak ingin menolak fakta itu. Faktanya memang banyak kaum beragama yang beragama karena warisan, bukan melalui pencarian. Tetapi, ketika menjelang dewasa, manusia punya kebebasan dalam memilih. Dia diberikan akal, hati dan pancaindera untuk menentukan mana yang benar di antara agama-agama yang beragam itu. Juga kebebasan dalam memilih apa yang dia anggap benar.

Sekian banyak orang yang hidup di lingkungan agama A, tapi ketika dewasa, dia sadar bahwa agama itu salah, dan kemudian diapun berpindah ke agama lain. Yang hidup di lingkungan Kristen bisa menjadi Muslim. Yang tadinya Muslim bisa menjadi Kristen. Atau bahkan menjadi Ateis. Itu fenomena yang lazim kita jumpai dalam kehidupan kita. Karena itu, tidak sepenuhnya tepat kalau ada yang bilang bahwa agama itu hanyalah warisan leluhur belaka. Karena faktanya ada juga orang-orang yang memilih agama tertentu atas dasar pencarian yang dia tempuh.

Dan yang tidak kalah penting untuk kita catat ialah, keyakinan kita akan kebenaran suatu agama yang kita warisi dari lingkungan tertentu tidak serta merta menjadi bukti dari kebenaran agama itu sendiri. Kita harus bisa membedakan antara apa yang orang anggap benar, dengan kebenaran dalam dirinya sendiri. Itu dua hal yang berbeda. Apa yang orang anggap benar belum tentu benar. Sebagaimana apa yang orang anggap salah juga belum tentu sepenuhnya salah.

Misalnya si A hidup di lingkungan Kristen. Dan dia yakin betul bahwa agama yang dipeluknya adalah agama yang benar. Tetapi, apakah yang dia anggap benar itu benar dalam dirinya sendiri? Belum tentu. Benar atau tidaknya suatu keyakinan itu masih butuh pembuktikan. Bagaimana caranya membuktikannya? Cara membuktikannya ialah dengan membangun dalil dan argumentasi. Tapi bagaimana caranya membangun argumentasi itu?

Di sinilah Ilmu Debat dan Ilmu Logika berperan. Untuk mengtahui lebih jauh tentang tatacara membangun argumentasi, Anda bisa baca tiga buku penulis, yaitu Ilmu Mantik, Logical Fallacy dan Ilmu Debat. Ketiga buku ini dapat menyuguhkan jawaban untuk pertanyaan tersebut. Kalau Anda masih bingung dalam menentukan salah dan benarnya suatu pernyataan, buku kedua menyajikan uraian tentang hal itu. Karena keterbatasan ruang, penulis tidak ingin menguraikannya di sini.

Yang jelas, untuk sekarang saya kira kita bisa dengan mudah bersepakat, bahwa apa yang dianggap benar belum tentu benar. Sebagaimana apa yang diyakini salah juga belum tentu salah. Karena untuk membuktikan benar salahnya suatu pandangan itu harus ada dalil, bukan hanya sebatas pengakuan belaka. Ya, untuk meyakini benarnya suatu pandangan terkadang orang tidak perlu dengan dalil. Tapi manakala Anda mengklaim bahwa apa yang Anda anggap benar itu benar, ketika itu mau tidak mau Anda harus bisa membuktikannya dengan dalil. Kalau tidak, klaim Anda hanya akan menjadi omong kosong belaka.  

Mari kita kembali pada persoalan inti, yang akan menjadi titik fokus dari kritik yang tersaji dalam tulisan ini. Kita menerima fakta bahwa ada sebagian orang yang beragama karena warisan. Dan kita juga menerima fakta bahwa sebagian orang yang dibesarkan dalam lingkungan agama tertentu memercayai kebenaran dari agama yang mereka anut itu. Padahal, masing-masing dari agama yang mereka peluk itu sendiri memiliki sisi-sisi pertentangannya.

Sebagai contoh, Islam mengusung monoteisme (tauhid) yang ketat. Sementara Kristen meyakini doktrin trinitas, yang masih memberi ruang akan adanya keberbilangan Tuhan. Apakah tauhid dan trinitas itu bertentangan? Kalau Anda mau tahu jawabannya, Anda bisa baca tulisan ini. Penulis mengklaim bahwa keduanya bertentangan, dan tidak akan pernah bisa didamaikan. Tapi itu persoalan lain, yang tidak akan kita diskusikan di sini. Anggaplah keduanya tidak bertentangan. Tapi konsep ketuhanan Islam jelas bertentangan dengan konsep ketuhanan umat agama lain. Dan kita mengakui adanya pertentangan itu.

Tapi, pertanyaannya, apakah pertentangan antar agama-agama itu dapat dijadikan alasan untuk membuktikan benar-salahnya agama-agama itu sendiri? Yang mempelajari logika dan filsafat ilmu dengan penuh percaya diri akan berkata tidak. Tapi Dawkins akan berkata iya. Dia memandang bahwa pertentangan agama dapat dijadikan alasan untuk menetapkan ketidak-sahihan agama itu sendiri. Dan karena agama-agama itu saling bertentangan, maka dia tariklah satu kesimpulan, bahwa semua agama-agama itu tidak ada yang bisa dikatakan benar. Logiskah kesimpulan semacam ini? Mari kita cermati pernyataan Dawkins terlebih dulu:

“Saya sudah mengembangkan pemikiran ketika saya berusia sekitar sembilan tahun bahwa, jika saya dilahirkan dari orangtua Viking, maka saya akan sangat beirman pada Odin dan Thor. Jika saya dilahirkan di Yunani Kuno, saya akan menyembah Zeus dan Aphrodite. Di zaman modern, jika saya dilahirkan di Pakistan atau Mesir, saya akan percaya bahwa Yesus hanyalah seorang nabi, bukan Anak Tuhan seperti yang diajarkan oleh para pendeta kristen. Jika saya dilahirkan dari orangtua Yahudi, saya masih akan menunggu Mesias, juru selamat yang telah lama dijanjikan, alih-alih percaya bahwa Yesus adalah Mesias seperti yang diajarkan oleh sekolah Kristen saya. Orang-orang yang tumbuh besar di negara-negara berbeda meniru orangtua mereka dan percaya pada tuhan atau dewa-dewa di negara mereka sendiri. Keyakinan-keyakinan ini berkontradiksi satu sama lain, sehingga mereka semua tidak bisa benar.” (Outgrowing God, hlm. 11)

Anda perhatikan baris terakhir dari kutipan yang penulis sertakan di atas. Bagi yang mempelajari dasar-dasar Ilmu Logika, tak begitu sulit untuk mendeteksi kecacatan berpikir Dawkins yang satu ini. Dalam logika kita mengenal hukum kontradiksi. Yakni hukum yang menyatakan bahwa dua hal yang kontradiktif itu tidak mungkin saling terhimpun, juga tidak mungkin saling terangkat. Maka dari itu, salah satu dari keduanya harus ada yang benar. Tidak mungkin Anda mengatakan semuanya salah. Juga tidak mungkin semuanya dikatakan benar. Salah satunya harus ada yang benar. Dan kalau sudah ada yang terbukti benar, maka yang lain sudah pasti salah. Begitulah cara hukum kontradiksi bekerja.

Contoh sangat sederhana. Satu pernyataan menyebutkan bahwa “Dawkins itu mati.” Pernyataan lain mengatakan, bahwa “Dawkins itu hidup.” Ini adalah dua pernyataan yang berkontradiksi satu sama lain. Baik. Pertanyaannya, mungkinkah pernyataan ini benar dua-duanya? Tidak mungkin. Tidak mungkin Anda mengatakan bahwa Dawkins itu mati dan hidup sekaligus. Nalar sehat kita tidak bisa mencerna kontradiksi semacam itu. Tapi keduanya juga tidak mungkin salah. Karena kalau keduanya Anda katakan salah, itu artinya Dawkins tidak hidup, juga tidak mati. Lalu apa kalau begitu? Kita hanya dihadapkan pada dua pilihan itu saja. Dan karena itu salah satu dari keduanya harus ada yang benar.

Kalau Dawkins hidup, berarti dia tidak mati. Dan kalau dia mati, berarti dia tidak hidup. Salah satu dari dua proposisi yang kontradiktif harus ada yang benar. Bukan malah disalahkan semuanya, hanya karena mereka kontradiktif satu sama lain. Karena itu, ketika Dawkins berpandangan bahwa keyakinan-keyakinan umat beragama itu saling berkontradiksi satu sama lain, maka penalaran yang logis harusnya berakhir pada kesimpulan bahwa salah satu dari agama itu pasti ada yang benar. Tapi Dawkins malah menarik kesimpulan, bahwa “mereka semua tidak bisa benar”.

Di sini terlihat jelas bahwa Dawkins tidak paham dengan hukum kontradiksi itu sendiri. Dan memang, sepanjang pengetahuan penulis, kebanyakan dari orang Ateis tidak mampu berpikir secara logis. Kalau mereka mampu, niscaya mereka akan meyakini keberadaan Tuhan. Adanya pertentangan antar agama-agama bukanlah alasan untuk menafikan kesahihan agama itu sendiri. Justru sebaliknya, manakala terbukti bahwa ada kontradiksi antar agama-agama itu, maka salah satu di antaranya sudah pasti ada yang benar. Dan kebenaran itu sendiri tetap butuh pada pembuktian, bukan sebatas pengakuan dan keyakinan bahwa dia itu benar. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.

Bagikan di akun sosial media anda