Apakah Orang Agnostik Termasuk Orang Kafir?

Percayakah Anda dengan keberadaan Tuhan? Orang Ateis akan menjawab: tidak. Saya tidak percaya. Penolakan orang Ateis atas keberadaan Tuhan adalah penolakan yang tegas dan jelas. Meskipun ada di antara mereka yang kerap menyembunyikan pengingkaran itu secara diam-diam. Pertanyaannya, bisakah mereka disebut sebagai orang beriman? Jelas tidak bisa. Wong mereka sendiri tidak mengaku beriman, kok. Bagaimana mungkin kita mengatribusikan sesuatu kepada orang yang tidak mengakui sesuatu itu sendiri?

Tapi, selain orang Ateis ini, ada lagi satu kelompok yang sering disebut sebagai agnostik. Siapa itu agnostik? Bagi yang belum tahu, istilah tersebut merujuk pada orang-orang yang memilih untuk tidak tahu menahu tentang soal ketuhanan. Jadi, kalau mereka ditanya, apakah Anda percaya dengan keberadaan Tuhan? Mereka akan menjawab, “saya tidak tahu.” Artinya, mengatakan Tuhan ada, tidak. Bilang Tuhan tiada, juga tidak. Lalu bagaimana? Ya pokoknya tidak tahu.

Karena itu, dalam buku-buku berbahasa Arab, orang agnostik ini sering disebut dengan istilah la adriyyun. Dari kata “la adri”, yang berarti “saya tidak tahu”. Muncul pertanyaan, bagaimana Islam memandang orang-orang semacam ini? Mereka ini beriman atau kafir? Tentu saja, sebelum mendapatkan jawaban yang memuaskan terkait pertanyaan itu, kita perlu mempertegas terlebih dulu, siapa itu orang beriman, dan siapa itu orang kafir? Penalaran yang logis mengharuskan kita untuk memperjelas istilah-istilah itu terlebih dulu.

Istilah iman, dalam akidah Islam, sering dimaknai sebagai “pembenaran yang bersifat pasti, yang sesuai dengan kenyataan, dan terlahir dari adanya dalil.” Anda perhatikan definisi ini dengan baik. Iman yang sahih, yang menjadikan seseorang benar-benar beriman, itu mengharuskan adanya tiga hal. Pertama, kepastian. Kedua, kesesuaian apa yang diyakini dengan kenyataan. Dan yang ketiga ialah dalil. Terhimpun ketiga hal ini, barulah satu keyakinan bisa disebut sebagai iman. Dan keimanan itu sahih.

Sekarang kita lihat, bagaimana dengan sikap orang-orang agnostik terhadap dasar-dasar keimanan, seperti iman kepada Allah, hari akhir, nabi-nabi, kitab suci dan lain-lain itu? Jawabannya jelas, mereka tidak meyakini dasar-dasar keimanan itu secara pasti. Kalau mereka mengatakan Tuhan itu ada, maka mereka tidak menjadi agnostik lagi. Tapi sudah menjadi teis (orang yang bertuhan).

Tapi, kalau mereka memercayai keberadaan Tuhan, apakah lantas mereka bisa dikatakan beriman, dalam arti yang telah kita sebutkan tadi? Belum tentu. Kalau keimanan mereka cuma 30 persen, misalnya, jelas itu tidak bisa dipandang sebagai keimanan. Dan yang bersangkutan tentunya tidak bisa disebut sebagai mu’min. Karena orang baru bisa dikatakan beriman (mu’min) kalau dia meyakini dan membenarkan semua ajaran yang dibawa oleh nabi. Kemudian pembenaran dia bersifat pasti. Dan dia mempunyai dalil, yang membuktikan bahwa keyakinan tersebut sesuai dengan kenyataan yang ada. Sampai di sini jelas? Saya kira jelas.

Lalu siapa itu orang kafir? Orang kafir ialah orang yang mendustakan ajaran-ajaran pokok yang dibawa oleh nabi, seperti dasar-dasar keimanan itu tadi. Kalau ada orang percaya Tuhan, tapi tidak percaya nabi, atau mengingkari kitab suci, maka dia tidak bisa disebut sebagai mu’min. Percaya Tuhan, percaya nabi, tapi tidak percaya malaikat, sama saja; dia juga kafir. Bukan orang beriman. Karena keimanan meniscayakan pembenaran atas semua—sekali lagi semua—ajaran-ajaran pokok itu. Seperti iman kepada Allah, malaikat, nabi, kitab suci, dan seterusnya. Satu saja diingkari, maka yang bersangkutan keluar dari lingkaran orang-orang beriman. 

Lantas bagaimana dengan kalangan agnostik? Apakah mereka bisa disebut sebagai orang kafir? Kalau kita merujuk pada pengertian tersebut, jelas, mereka adalah orang kafir. Sebetulnya bukan cuma orang agnostik. Siapapun yang mengingkari salah satu dari dasar-dasar keimanan, maka dia adalah orang kafir. Orang yang percaya kepada Tuhan, tapi tidak percaya dengan nabi dan kitab suci, seperti kaum deis (dalam bahasa Arab disebut dengan istilah rubûbiyyûn), itu bukan orang beriman. Karena dasar-dasar keimanan—atau yang lebih kita kenal dengan istilah rukun iman—itu ibarat satu paket. Mengingkari yang satu dianggap mengingkari yang lain.  

Politeis (yang meyakini banyak tuhan) juga bukan orang beriman. Karena apa yang mereka yakini tentang Tuhan berbeda dengan yang diajarkan oleh para nabi. Orang Yahudi dan Kristen yang menolak kenabian nabi Muhammad itu bukan orang beriman. Karena al-Quran sendiri secara jelas menyebut orang-orang yang membeda-bedaka para nabi itu sebagai orang kafir (QS. 4: 151). Kalaupun mereka dikatakan beriman, itu hanya iman dalam pengertian kebahasaan saja, bukan iman dalam arti yang disepakati oleh para ulama Muslim tadi.  

Sampai di sini saya kira jelas, bahwa apapun nama kelompoknya, kalau dia tidak percaya pada salah satu, sebagian atau semua ajaran-ajaran pokok yang dibawa oleh nabi, maka dia adalah orang kafir. Dan orang agnostik masuk dalam kelompok itu. Karena mereka tidak meyakini dasar-dasar keimanan secara pasti.

Tapi, selain penjelasan di atas, kita perlu memerhatikan aspek lain yang kadang luput dari perhatian sebagian orang. Orang itu baru bisa menjadi kafir kalau sudah sampai kepadanya dakwah (maksudnya ajakan untuk beriman). Kemudian dia sendiri mampu mencerna dakwah itu dengan baik. Kalau tidak bisa mencerna, seperti orang yang kehilangan akalnya, maka dia tidak diwajibkan untuk beriman. Dan terakhir, dakwah yang sampai kepadanya itu harus disampaikan dengan gambaran yang benar.

Kalau setelah itu dia menolak, padahal semuanya sudah tergambar dengan jelas, atau dia bermalas-malasan, lalu menolak dengan kesombongan, sambil memandang persoalan keimanan itu sebagai persoalan yang tidak penting, sementara dia sendiri mampu melakukan pencarian itu, maka ketika itulah dia bisa disebut sebagai orang kafir.

Jadi, kalau orang agnostik yang ada di hadapan saya ini tidak memastikan keberadaan Tuhan dan dasar-dasar keimanan yang lain, misalnya. Sementara dia sendiri sudah mendapatkan ajakan untuk beriman. Kemudian ajakan itu disampaikan dengan argumen-argumen yang rasional dan memuaskan. Dia dia bisa mencerna ajakan itu dengan baik. Tapi dia menolak untuk beriman, padahal dia tahu itu benar, maka jelas, ketika itu dia adalah orang kafir.

Adapun kalau dia terlahir dari keluarga agnostik, atau keluarga non-Muslim secara umum, kemudian ketika dia dewasa dia mulai mencari kebenaran dengan segala upaya yang dia miliki, dan dia melakukan pencarian itu dengan tulus dan jujur, tiba-tiba di pertengahan jalan, misalnya, dia mati. Orang yang masih dalam proses pencarian semacam ini tidak tergolong sebagai orang kafir di mata Allah.

Meskipun mungkin dia dipandang kafir oleh manusia. Karena dia tidak mengingkari. Tapi masih dalam proses mencari. Hal yang sama juga berlaku bagi orang-orang non-Muslim yang masih dalam proses pencarian itu. Sangat adil bukan? Kalau belum ketemu, ya terus aja mencari. Tapi yang jujur. Dan kalau kebenaran sudah tampak, sebagai konsekuensi dari pencarian yang jujur Anda tidak boleh menolak.

 Jika Anda yang sedang membaca artikel ini termasuk kelompok di atas, saya ingin membantu Anda untuk melakukan pencarian itu. Untuk mengimani keberadaan Tuhan, Anda cukup memasang nalar yang sehat, dengan hati yang benar-benar terbuka. Kalau terbukti bahwa keimanan akan keberadaan Tuhan sesuai dengan akal sehat, Anda harus berani mengakui kebenaran itu, dan Anda wajib beriman.

Tapi kalau tidak, maka teruslah mencari. Percayalah bahwa pencarian yang jujur akan mengantarkan Anda pada jalan yang benar. Meski tidak sekarang, mudah-mudahan itu terjadi di masa yang akan datang. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.    

Bagikan di akun sosial media anda