Kalau Warisan, Memang Kenapa?

Dalam tulisan sebelumnya sudah kita tegaskan bahwa kita tidak menolak fakta bahwa ada sebagian orang yang beragama karena warisan. Kita juga tidak menolak fakta bahwa masing-masing agama memiliki pertentangan antara yang satu dengan yang lain. Tapi, kita menolak jika pertentangan antar agama-agama itu dijadikan alasan untuk menafikan kesahihan agama itu sendiri. Karena benar salahnya suatu agama itu tidak ditentukan oleh keyakinan para pemeluknya, juga pertentangan antara keyakinan-keyakinan itu.

Bisa jadi ada orang yang meyakini agama yang diwarisinya sebagai agama yang benar, tapi menurut bukt-bukti yang tersaji agama itu ternyata salah. Hal yang sama juga berlaku sebaliknya. Boleh jadi ada orang yang meyakini agamanya sebagai agama yang salah. Tapi argumentasi yang tersaji mampu membuktikan bahwa agama itu memang benar. Walhasil, sahih tidaknya suatu agama tidak ditentukan oleh pengakuan para pemeluknya, juga tidak ditentukan oleh warisan keyakinan yang dia terima.

Tidak ada keterkaitan sama sekali antara keadaan seseorang mewarisi satu keyakinan tertentu dengan benar tidaknya keyakinan itu sendiri. Sayangnya Dawkins memandang adanya keterkaitan antara dua hal itu. Yakni keterkaitan antara keadaan seseorang mewarisi satu agama, dengan benar tidaknya agama yang dia warisi itu sendiri. Mari kita simak apa yang dikatakan Dawkins dalam memandangnya adanya keterkaitan antara dua hal itu.

“Jika salah satu dari mereka benar (maksudnya agama-agama yang bertentangan satu sama lain itu), mengapa itu harus menjadi keyakinan yang kebetulan kamu warisi di negara tempat kamu dilahirkan? Kamu tidak harus terlalu sarkastik untuk berpikir seperti ini: “Bukankah luar biasa bahwa hampir setiap anak mengikuti agama yang sama dengan orang tua mereka, dan itu selalu kebetulan merupakan agama yang benar.”

Anda perhatikan sekali lagi, bahwa di sini Dawkins tidak bisa membedakan apa yang dianggap benar dengan kebenaran itu sendiri. Padahal keduanya jelas berbeda. Sebagaimana telah kita terangkan sebelumnya, apa yang orang anggap benar belum tentu benar. Sebagaimana apa yang orang anggap salah juga belum tentu salah. Ini satu pernyataan yang saya kira tidak sulit untuk kita sepakati.

Dawkins, seperti terlihat dalam kutipan di atas, mengaitkan antara kebenaran sebuah agama dengan keadaan kita mewarisi agama yang kita yakini benar itu. Padahal apakah keduanya memiliki keterkaitan? Oh sama sekali tidak. Kalau ingin diperjelas, Dawkins sebenarnya ingin bertanya begini: “Eh, agama-agama itu kan saling bertentangan. Terus kalau kamu meyakini salah satunya benar, kenapa yang benar itu harus kamu warisi dari tempat kamu dilahirkan?”

Tentu saja, kalau kita dihadapkan dengan pertanyaan ini, kita bisa bertanya balik: loh memang kenapa kalau agama yang benar ini saya warisi dari lingkungan saya? Toh saya tidak menggantungkan kebenaran agama saya pada keterwarisan itu sendiri. Saya tidak memandang agama saya benar karena ia terwariskan oleh lingkungan saya. Saya meyakini kebenaran agama saya, karena dalil-dalil yang tersedia menunjukkan kebenaran agama itu.

Kalau Anda tidak setuju, mari kita diskusikan dalil-dalil itu. Tapi jangan mengait-ngaitkan antara kebenaran sesuatu dengan asal muasal dari sesuatu itu. Kalau Anda melakukan hal itu, maka Anda telah terjatuh dalam kesesatan berpikir. Inilah yang disebut genetic fallacy. Satu model kekeliruan berpikir yang terjadi manakala seseorang mengaitkan benar salahnya sebuah pemikiran dengan asal muasal dari pikiran itu.

Dan, melalui kutipan di atas, jelas terlihat bahwa Dawkins telah terjebak dalam sesat pikir yang satu ini. Dia mengait-ngaitkan antara kebenaran suatu agama dengan asal muasal dari agama itu. Padahal, kalau agama yang diklaim benar itu berasal dari warisan, lalu masalahnya apa? Apa ada keterkaitan logis antara kebenaran dengan keterwarisan? Jelas tidak ada. Orang bisa mewarisi satu agama dari lingkungan tertentu, dan dia meyakini kebenaran agama yang dia warisi itu.

Tapi, apakah agama yang dia yakini benar itu benar dalam dirinya sendiri? Ya belum tentu. Yang diyakini benar belum tentu benar. Karena kebenaran tak bergantung pada keyakinan, melainkan bergantung pada pembuktian. Dengan kata lain, benar tidaknya suatu agama ditentukan oleh dalil-dalil yang melatarinya, bukan hanya sebatas klaim dan pengakuan saja.

Dawkins sebenarnya tidak akan mengajukan pertanyaan di atas, kalau dia memahami kaidah-kaidah logika dengan baik. Akan lebih terlihat logis kalau dia bertanya, “kalau memang salah satu dari agama itu ada yang benar, lantas apa bukti dari kebenaran itu?” Pertanyaan ini lebih logis dari pertanyaan sebelumnya. Harusnya dia bertanya begitu, bukan malah mengaitkan kebenaran sebuah agama dengan keterwarisan agama itu sendiri.

Pendek kata, Dawkins hendak mengaitkan antara dua dua hal yang sesungguhnya tidak memiliki keterkaitan sama sekali. Kalau ingin mempertanyakan klaim kebenaran suatu pandangan, harusnya kita meminta dalil dan bukti. Apa bukti kalau agama Anda itu benar. Bukan malah bertanya, kenapa Anda mewarisi agama itu? Karena memang tidak ada hubungan antara keduanya.

Bagaimana kalau kemudian yang bersangkutan tidak bisa menyuguhkan dalil dan bukti? Apakah dengan begitu kita bisa memandang agamanya sebagai agama yang salah, hanya karena dia tidak bisa menyuguhkan bukti-bukti akan kebenaran agamanya? Jawabannya tidak. Ketidakmampuan seseorang dalam menyuguhkan bukti tidak sama dengan ketiadaan bukti itu sendiri. Bisa jadi bukti yang sahih itu ada, tapi dia tidak mampu mengutarakannya.

Dalam konteks ini, berlakulah satu kaidah dalam Ilmu Debat yang menyebutkan bahwa “kebatilan sebuah dalil tidak berkonsekuensi pada kebatilan akan madlûl-nya (baca: kesimpulannya) Karena boleh jadi kebenaran dari kesimpulan itu dibuktikan melalui dalil yang lain. Tapi kalau dalilnya sudah terbukti benar, maka kesimpulannya juga pasti benar.

Dan kalau kita ingin klaim kebenaran agama kita terbukti benar, maka tidak ada jalan lain bagi kita kecuali menyuguhkan dalil yang benar. Bukan hanya sebatas mendaku bahwa apa yang kita warisi dari leluhur kita adalah keyakinan yang benar. Karena apa yang kita yakini benar tidak selamanya benar, sampai kemudian kebenaran itu dibuktikan dengan dalil-dalil yang benar. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.

Bagikan di akun sosial media anda