Buktikan Dulu, Baru Bilang Tidak Ada

Pada prinsipnya, siapapun yang mengajukan sebuah klaim, dan dia mengakui kebenaran klaim tersebut, maka dia bertanggungjawab untuk menyuguhkan bukti atas kebenaran klaimnya sendiri. Inilah salah satu kaidah emas yang patut dipatuhi oleh siapa saja yang ingin berdebat secara akademis. Apabila Anda menukil, demikian para ulama menegaskan, maka sampaikanlah penukilan yang sahih. Dan apabila Anda mengklaim, maka buktikanlah klaim Anda dengan dalil.

Misalnya, sebagai orang beriman, saya mengklaim bahwa Tuhan itu ada. Dan saya mengklaim bahwa keyakinan tersebut adalah keyakinan yang benar. Tetapi apa buktinya? Mau tidak mau, ketika terlibat dalam sebuah diskusi, katakanlah dengan orang Ateis, misalnya, maka saya bertanggungjawab untuk membuktikan kebenaran klaim itu, dengan argumen-argumen yang saya miliki. Kalau tidak, maka klaim tersebut akan menjadi omong kosong belaka.

Saya juga tidak boleh menggeser beban pembuktian kepada lawan bicara. Misalnya saya bilang kepada lawan bicara saya, “coba Anda buktikan kalau Tuhan itu tidak ada. Kalau Anda tidak bisa, berarti klaim saya, yang menyatakan keberadaan Tuhan, itu benar.” Ini namanya burden of proof fallacy, atau sesat pikir beban pembuktikan.

Kekeliruan berpikir semacam ini terjadi manakala Anda membenarkan klaim Anda, berdasarkan ketidakmampuan lawan bicara untuk membuktikan kebenaran klaimnya, yang bertentangan dengan klaim Anda. “Anda kan tidak bisa membuktikan ketiadaan Tuhan. Kalau tidak bisa, berarti Tuhan itu ada!” Kalau Anda mengutarkan pernyataan semacam ini, maka Anda telah terjatuh dalam kesesatan berpikir.

Beban pembuktian itu ada di pundak orang yang punya klaim. Manakala dia menggeser beban pembuktikan itu kepada orang lain, maka itu artinya dia telah lari dari tanggungjawab. Pertanyaan penting yang harus segera kita jawab ialah, apakah kita, sebagai orang beriman, lari dari beban pembuktian itu? Sama sekali tidak.

Kalau orang Ateis meminta kita dalil akan keberadaan Tuhan, alih-alih menggeser beban pembuktian itu, ada ratusan buku yang bisa kita rujuk untuk menyuguhkan dalil-dalil itu. Para teolog tak pernah kekurangan amunisi untuk memaparkan dalil-dalil itu. Masalahnya orang Ateis tidak mau membaca. Bahkan mereka sering ngeles. Di antara metode ngeles mereka yang paling sering kita jumpai ialah burden of proof fallacy ini.

Kalau mereka kita tanya, apa bukti kalau Tuhan itu tiada? Mereka akan jawab, “loh, harusnya Anda dong yang membuktikan. Bukan kami. Kan Anda yang mengklaim keberadaan Tuhan. Sekarang apa buktinya kalau Tuhan itu ada? Kalau Anda menggeser beban pembuktian kepada kami, ya itu namanya fallacy.”

Betul, kalau kita menggeser beban pembuktian itu kepada Anda, maka kita telah terjatuh dalam kesesatan berpikir. Tapi, manakala kita sudah menyuguhkan bukti-bukti itu dengan baik, tentu saja ketika itu kita berhak untuk meminta bukti dari klaim Anda. Apa bukti kalau Tuhan itu tidak ada? Harap diingat bahwa pertanyaan ini kita ajukan setelah kita menyuguhkan bukti-bukti kita sendiri, yang kita jadikan pijakan untuk membuktikan keberadaan Tuhan, bukan dalam konteks menggeser beban pembuktian. Dan ini bukan fallacy.

Meminta dalil atas klaim lawan bicara, setelah kita mengemukakan dalil untuk klaim kita sendiri, itu sama sekali bukan fallacy. Dan kalau orang Ateis menuduh kita telah menggeser beban pembuktian, padahal kita sendiri sudah memaparkan bukti-bukti itu, maka Anda perlu tahu, bahwa itulah senjata terakhir mereka ketika nalar mereka sudah tidak lagi bernyawa.  

Tanpa mereka minta, kaum beriman akan menyuguhkan bukti-bukti itu dengan kepala tegak. Dan mereka mau mengkritik, kita pun sudah siap dengan jawaban-jawabannya. Masalahnya cuma satu, mereka mau berpikir logis atau tidak? Kalau mereka tiba-tiba mengatakan Tuhan tiada, tanpa menyuguhkan bukti apa-apa, justru klaim mereka itulah yang patut kita pertanyakan. Karena mereka sudah bicara tanpa bukti.

Dan sebenarnya ini pula yang dilakukan oleh Dawkins. Dalam buku The God Delusion, memang Dawkins memaparkan sejumlah alasan yang dia jadikan pijakan untuk menafikan keberadaan Tuhan. Tapi, hemat penulis, alasan itu tidaklah cukup untuk disebut sebagai argumen. Kalau cuma sekedar memaparkan alasan, sepertinya anak sekolah dasar pun mampu melakukan hal itu. Yang kita minta tentu bukan hanya sebatas alasan, tapi alasan yang benar-benar logis, kokoh dan konsisten dengan kesimpulan yang dia tarik.

Dalam buku itu dia hanya ngelantur sana sini dengan teori evolusi. Tanpa dia sadar bahwa teori evolusi itu sendiri, kalaupun diterima, tidak bisa dijadikan alasan yang logis untuk menafikan keberadaan Tuhan. Kenapa bisa begitu? Kita akan diskusikan persoalan ini dalam tulisan lain secara terpisah. Insya Allah. Sekarang mari kita simak apa yang dikatakan Dawkins dalam bukunya yang berjudul Outgrowing God terlebih dulu. Dawkins menulis:

“Ketika orang mengatakan dirinya ateis, mereka tidak bermaksud bahwa mereka dapat membuktikan bahwa tidak ada tuhan. Sebenarnya, tidak mungkin membuktikan bahwa ada sesuatu yang tidak ada.”

Penulis terdorong untuk mengomentari tiga baris dari pernyataan Dawkins ini terlebih dulu, sebelum menyertakan sekaligus mengomentari kutipan lain, yang masih punya keterkaitan dengan kutipan itu. Kita terima pernyataannya yang menyebutkan bahwa ketika mengaku sebagai ateis, orang ateis tidak bermaksud untuk membuktikan bahwa tuhan itu benar-benar tidak ada.

Tetapi kita bertanya, lantas, kalau dia tidak dapat membuktikan ketiadaan Tuhan, kenapa mereka bisa berakhir dengan kesimpulan itu? Yang suka menarik kesimpulan tanpa dalil dan argumentasi hanyalah orang-orang dogmatis yang bertaklid buta kepada para leluhurnya. Apakah Dawkins termasuk orang ateis semacam itu? Bagaimana mungkin Anda berkesimpulan bahwa tuhan tidak ada, sementara Anda sendiri tidak mampu menyuguhkan bukti-buktinya?

Kalau mau jadi manusia rasional sejati, buktikan dulu dong, baru bilang tidak ada. Selama ini orang-orang Ateis dikenal kritis terhadap dogma-dogma agama. Tapi sayang, mereka sendiri sudah terjebak ke dalam cara berpikir dogmatik. Mereka menafikan keberadaan sesuatu, sementara mereka sendiri tidak punya alasan yang logis untuk menafikan keberadaan sesuatu itu. Bukankah klaim kosong semacam ini merupakan cerminan dari dogmatisme yang nyata?

Dalam hemat penulis, orang Ateis itu sebenarnya bukan cuma tidak bermaksud untuk membuktikan ketiadaan Tuhan, tetapi mereka memang tidak mampu, dan tidak akan pernah mampu menyuguhkan bukti-bukti yang logis untuk menafikan keberadaan Tuhan. Kalau mereka bilang tuhan itu tidak ada, ya itu cuma keinginan mereka aja. Memang tampaknya mereka ingin Tuhan itu tiada, meskipun dengan kesimpulan itu mereka harus mengkhianati nalar sehat mereka sendiri.

Dawkins bilang bahwa kita tidak mungkin membuktikan keberadaan sesuatu yang tidak ada. Betul. Memang kita tidak mungkin membuktikan keberadaan sesuatu yang sudah terbukti tiada. Atau dia tidak dimungkinkan untuk ada. Tapi, masalahnya, apakah wujud Tuhan termasuk sesuatu yang tidak dimungkinkan untuk ada itu? Dan apakah Dawkins sudah memaparkan bukti-bukti yang logis dan sahih bahwa Tuhan itu benar-benar tiada? Jawabannya belum.   

Kita tidak meminta Dawkins, dan orang-orang Ateis lainnya, untuk membuktikan adanya sesuatu yang tidak ada, kalau memang dia tidak dimungkinkan untuk ada menurut akal sehat kita. Karena sebagai manusia yang bernalar yang sehat, keberadaan dan ketidaan adalah dua hal kontradiktif. Tidak mungkin ada sesuatu yang mustahil ada, tapi dalam saat yang sama juga kita katakan ada.

Masalahnya, akal kita memungkinkan keberadaan Tuhan itu, bahkan meniscayakan keberadaan-Nya. Sebagai sebab utama di balik keterlahiran alam semesta. Dan kita meminta orang Ateis untuk menyuguhkan bukti, kalau Dia memang tiada. Bisakah mereka menyuguhkan bukti itu? Teis sudah memaparkan bukti-bukti akan keberadaan-Nya. Mereka bisa atau tidak?

Di sisi lain, ketika Dawkins mengatakan tidak mungkin kita membuktikan ada sesuatu yang tidak ada, sementara Dia sendiri belum membuktikan ketiadaannya, maka dia sesungguhnya telah menarik konklusi, yang harusnya dia buktikan dengan argumen, ke dalam premis yang dia bangun. Ini namanya fallacy of begging the question, atau mushâdarah alal mathlûb, kalau meminjam istilah para teolog Muslim. Yakni satu kekeliruan berpikir yang terjadi manakala Anda menarik konklusi ke dalam premis, sementara konklusi itu sendiri belum Anda buktikan kesahihannya.

Itu sama seperti kasus dua orang yang tengah mendiskusikan satu pertanyaan, “apakah Islam agama yang benar atau bukan?” Tiba-tiba, belum menyajikan argumen apa-apa, salah satu dari keduanya bilang, “kita tidak mungkin membenarkan agama yang sesat seperti Islam.” Anda tahu masalahnya di mana? Ya, Anda belum membuktikan letak kesesatan Islam, tapi Anda sudah menyimpulkannya sebagai agama yang sesat. Jelas ini merupakan cara berpikir yang keliru.

Dan Dawkins telah terjebak dalam kekeliruan itu. Dia belum menyajikan bukti-bukti yang sahih tentang ketiadaan Tuhan, tapi dengan enaknya dia bilang bahwa kita tidak mungkin membuktikan ada sesuatu yang tidak ada. Masalahnya apa bukti kalau Tuhan itu tidak ada? Ingat ya, tidak cuma sebatas memaparkan bukti. Tapi kita ingin pemaparan bukti yang logis.

Kalau Anda membaca karya-karya para sarjana Muslim, dan bertanya kepada mereka tentang dalil-dalil keberadaan Tuhan, Anda akan menjumpai ratusan buku, kalau enggan berkata ribuan, yang mengulas tentang dalil-dalil itu. Dan semuanya bisa dipertanggungjawabkan secara rasional. Satu argumen terpatahkan, mereka akan tampil dengan argumen-argumen yang lain.  

Lantas bagaimana dengan orang Ateis? Pernahkah Anda menjumpai satu buku saja yang ditulis oleh orang Ateis, yang berisikan argumen-argumen logis tentang ketiadaan Tuhan, misalnya? Saya tidak yakin mereka akan mampu. Kalaupun ada yang mampu, kita persilakan mereka untuk menyuguhkan bukti-bukti itu. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.

Bagikan di akun sosial media anda