Makna Subhanahu Wata’ala

Setiap kali selesai menyebut nama Allah, kita biasa menyusulnya dengan ucapan subhânahû wata’âlâ, yang terjemahan harfiahnya ialah “Maha suci Dia dan Maha tinggi.” Yang menjadi pertanyaan selanjutnya ialah, apa yang dimaksud dengan Maha suci dan Maha tinggi itu? Dalam satu kesempatan, pertanyaan ini sempat saya ajukan kepada sejumlah santri. Sayangnya, sebagian besar mereka tidak tahu. Barangkali beberapa di antara pembaca juga ada yang belum tahu tentang makna terdalam dari kalimat itu. Dari sinilah kiranya ungkapan ini penting untuk kita perjelas.

Lantas apa sih makna dari ungkapan itu? Mari kita mulai dengan kata subhânahu terlebih dulu. Kata tersebut, seperti yang kita singgung tadi, bermakna “Maha suci Dia.” Kata subhânah ialah kata yang dimaksudkan untuk menyucikan Allah dari berbagai macam kekurangan. Dan inilah yang dikenal dengan istilah tanzîh dalam doktrin teologi Islam. Apakah Allah butuh pada penyucian kita? Tentu saja tidak. Manusia menyucikan-Nya atau tidak, Dia tetaplah suci karena diri-Nya sendiri.

Allah, dalam keyakinan umat Muslim, adalah Dzat yang menyandang seluruh sifat keagungan (jalâl), keindahan (jamâl) dan kesempurnaan (kamâl). Segala yang terlintas dalam benak kita tidak akan mampu menggambarkan Allah sebagaimana adanya. Dalam bentangan sejarah, Tuhan digambarkan dengan berbagai macam gambaran. Ada kelompok-kelompok yang meyakini Allah sebagai jasad (jism)—kita berlindung kepada-Nya dari keyakinan semacam itu. Ada kelompok-kelompok yang meyakini Allah sebagai sosok yang bertempat, berwaktu, dan memiliki aktivitas layaknya makhluk.

Bahkan ada kelompok yang meyakini Allah dan makhluk adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Allah adalah makhluk dan makhluk adalah Allah. Semua ini adalah keyakinan yang menyimpang, karena semuanya berkonsekuensi pada penisbatan akan adanya kekurangan kepada Allah Swt. Allah Maha suci dari semua itu. Dalam arti bahwa Dzat dan sifat Allah Swt terbebas dari berbagai macam kekurangan dan berbagai macam bayangan yang dimiliki oleh makhluk-makhluk-Nya. Dia suci dari berbagai macam kekurangan. Sebagaimana dia suci dari gambaran-gambaran manusia yang menyimpang tentang diri-Nya.

Dengan ungkapan subhânahu tadi, maka kita menafikan segala hal yang tidak layak bagi Allah. Meskipun, pada saat yang bersamaan harus kita tegaskan bahwa Allah tidak butuh dengan penyucian kita itu. Dengan menyebut Allah Maha suci, maka itu artinya kita menafikan segala sesuatu yang tidak layak, tidak pantas, dan tidak wajar untuk Tuhan kita. Kita menolak keyakinan yang memandang Allah sebagai sosok yang bertempat, berwaktu, apalagi yang meyakininya sebagai tubuh (jism).

Kita menolak keyakinan yang memandang Tuhan itu satu dengan tiga hipostasis/pribadi, seperti yang kita jumpai dalam keyakinan orang-orang Kristen. Karena keyakinan tersebut tidak pernah diajarkan oleh para nabi. Di samping ia juga berkonsekuensi pada keberbilangan Tuhan. Dan keberbilangan pun berkonsekuensi pada kekurangan. Kita ingin menyucikan Allah, dalam batas kemampuan kita, dari keyakinan-keyakinan yang tidak masuk akal dan tidak layak itu. Allah Maha suci dari itu semua. Inilah makna yang dimaksud dengan ungkapan subhânahu itu.

Sedangkan kata wata’âla, seperti yang telah kita singgung tadi, bermakna “dan Maha tinggi.” Tetapi apa “ketinggian” yang dimaksud dalam ungkapan tersebut? Apakah itu artinya Allah berada di ketinggian lima ratus ribu kaki, misalnya? Apakah ketinggian itu menunjukkan bahwa Allah ada di langit, atau bersemayam—dalam arti duduk—di atas Arsy, seperti dalam dugaan sebagian kalangan? Atau apa? Dalam keyakinan Ahlussunnah, Allah Swt adalah Dzat yang tidak bertempat. Karena keberadaan sesuatu di dalam tempat meniscayakan kebutuhan sesuatu itu kepada apa yang dia tempati.

Sesuatu yang ditempati itu adalah makhluk, yang ada dari ketiadaan. Sementara Allah adalah pencipta seluruh makhluk, yang keberadaan-Nya tidak didahului oleh ketiadaan. Dia ada sebelum semua makhluk ada. Kalau Dia bertempat pada sebuah makhluk, katakanlah langit, misalnya, atau ‘Arsy, lantas di mana Dia sebelum makhluk itu tercipta? Nalar yang jernih akan sulit menerima keyakinan yang menetapkan kebertempatan Tuhan itu.

Dari sini kita bisa paham, bahwa pertanyaan “di mana Allah”, yang kerap diajukan oleh sebagian kalangan, itu pertanyaan yang kurang tepat. Karena pertanyaan yang diawali dengan kata “di mana” itu biasanya ditujukan kepada sesuatu yang bertempat, sementara Allah Swt bukan sesuatu yang bergantung pada tempat. Bagaimana mungkin kita menanyakan kebertempatan sesuatu, sementara sesuatu yang kita tanyakan itu sendiri tidak menerima kebertempatan itu?

Lalu apa yang dimaksud dengan ketinggian? Allah maha tinggi, dalam arti hakikat wujud-Nya tidak terjangkau oleh nalar siapapun di dunia ini. Dia Maha tinggi dengan derajat dan kedudukan-Nya. Sehingga Dia tidak tunduk kepada sesuatu. Sementara segala sesuatu tunduk kepada diri-Nya. Tak ada dzat yang keindahan, kesempurnaan dan keagungan-Nya melampaui Allah Swt. Kita semua adalah makhluk yang dihimpit oleh berbagai macam kekurangan.

Kita semua adalah makhluk yang hina dan rendah. Karena keberadaan hidup kita, dan semua makhluk yang ada di alam semesta ini, senantiasa bergantung pada sesuatu yang lain. Sementara Allah Maha tinggi. Dia tidak butuh kepada apapun. Kedudukan-Nya melampaui semua makhluk. Karena Dia adalah Sang Khaliq, yang telah menciptakan kita, dan menciptakan segala sesuatu yang terhampar di alam semesta. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.

Bagikan di akun sosial media anda