Mungkinkah Seorang Wali Mengetahui Kewalian Dirinya Sendiri?

Ada satu ungkapan populer di kalangan para pemerhati dunia tasawuf, bahwa tidak ada yang dapat mengetahui kewalian seorang wali kecuali seorang wali itu sendiri. Dalam bayangan sebagian orang, wali itu identik dengan orang-orang yang sering mengenakan baju putih, kemana-mana bawa tasbih, salatnya di masjid setiap hari, ditambah jenggot yang panjang dan sorban yang terurai. Padahal, kewalian tak ditentukan oleh hal-hal yang bersifat artifisial semacam itu.

Saya teringat ketika Syekh Yusri pernah bilang, bahwa beliau pernah menemukan seseorang, yang beliau yakini sebagai wali, padahal dia sendiri hanya seorang satpam (bawwab). Bagi orang lain mungkin dia dipandang sebagai orang biasa. Tapi mata batin para wali memandangnya sebagai orang yang istimewa. Hal itu bisa saja terjadi. 

Kalau Anda pergi ke jalan raya, pedagang-pedagang pinggiran yang bercucuran keringat demi menafkahi keluarganya itu boleh jadi punya maqam yang lebih tinggi di sisi Allah ketimbang apa yang kita duga. Petani-petani yang setiap hari pergi ke sawah. Penjual jamu yang mampir di depan rumah kita. Bahkan marbot masjid yang berpakaian lusuh pun boleh jadi dia seorang wali. Walhasil, kewalian adalah hal yang tersembunyi, yang sulit untuk diketahui kecuali oleh seorang wali itu sendiri.

Tapi, pertanyaannya, apa mungkin seorang wali mengetahui kewalian dirinya sendiri? Apa bisa seorang wali tahu bahwa dirinya itu adalah seorang wali? Dalam pandangan Syekh Yusri, hal itu sangat mungkin. Tetapi, meski begitu, pengetahuan mereka akan kewalian dirinya tidak serta merta membuat mereka berleha-leha dan hilang rasa takut akan siksaan Allah Swt. Karena, kalaupun mereka menyadari kewalian mereka sekarang, mereka belum tentu tahu dengan apa yang akan menimpa mereka di masa yang akan datang.

Ini sama dengan para sahabat yang oleh nabi diberikan kabar gembira sebagai calon penghuni sorga (dan jumlah mereka banyak), tapi mereka tetap istiqamah dalam menunaikan ketaatan kepada Allah Swt. Sayyidina Abu Bakar, sebagaimana dikutip oleh Syekh Yusri, pernah berkata, “kalau seandainya satu bagian kakiku ada di sorga, dan yang satunya lagi ada di luarnya, maka aku tidak merasa aman dari siksaan Allah Swt.”

Seorang khalifah yang diberi gelar sebagai al-Faruq, Sayyiduna Umar ibn Khatthab, juga pernah bilang, “kalau seandainya ada seorang penyeru memaklumatkan kepada semua manusia, bahwa mereka semua termasuk ahli sorga, kecuali satu orang, maka niscaya aku mengira bahwa dia adalah Umar.”

Ini ungkapan-ungkapan yang diutarakan oleh orang yang sudah dijamin masuk sorga oleh Nabi. Tetapi mengapa mereka menyampaikan ungkapan-ungkapan “ketakutan” semacam itu? Apakah itu artinya mereka mendustakan kabar gembira yang disampaikan oleh nabi? Tentu saja tidak. Tetapi, kata Syekh Yusri, ini disebabkan karena pengetahuan mereka sebagai orang yang dijamin masuk sorga itu hanya sebatas ketika Nabi memberi mereka kabar mereka saja. Maksudnya, ketika nabi mengabarkan mereka sebagai ahli sorga, yang mereka pahami—demikian Syekh Yusri memberikan penjelasan— nabi seolah-olah ingin mengatakan kepada mereka, bahwa kalau kalian istiqamah dengan keadaan seperti kalian sekarang ini, dan mati dalam keadaan seperti ini, maka kalian termasuk ahli sorga.

Jadi, pemberian kabar gembira yang mereka terima dari nabi tidak mereka pahami sebagai jaminan untuk masa yang akan datang. Bahkan mereka takut kalau mereka tidak bisa konsisten dalam keadaan yang dengannya mereka mendapatkan kabar gembira itu. Karena itulah mereka tetap tekun beribadah dan menunaikan perintah agama.   

Begitu juga halnya dengan seorang wali, yang mengetahui kewalian dirinya. Dia tahu bahwa dia adalah seorang wali sekarang. Tapi soal bagaimana akhir hidupnya nanti, dia belum tentu tahu. Atau kemungkinan besar memang tidak tahu. Dan karena itu, alih-alih bermalas-malasan dalam beribadah, para wali besar justru semakin terdorong untuk meningkatkan penghambaannya kepada Allah Swt, meskipun mereka sudah tahu bahwa mereka adalah seorang wali.

Pengetahuan seseorang tentang kewaliannya di saat sekarang tidak berarti berupa jaminan bahwa yang bersangkutan dapat konsisten dalam kewaliannya itu sampai masa yang akan datang. “Pengetahuan seseorang (tentang apa yang akan menimpa dirinya) di masa yang akan datang bukan bagian dari syarat kewalian.” Tutur beliau. Artinya, kewalian tidak mengharuskan seseorang tahu tentang masa depan dirinya.      

Dan, yang barangkali penting untuk penulis tambahkan, pengetahuan seorang wali tentang kewalian dirinya tidak serta merta menjadikan mereka merasa lebih baik dari manusia yang lain. Karena kesombongan adalah salah satu penghalang terkuat yang dapat menghalangi seseorang dari pintu kewalian. Sebaliknya, kerendah-hatian adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dan para wali adalah teladan dalam hal itu. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.

Bagikan di akun sosial media anda