Dia Tidak Sama dengan “Teko Angkasa”

Sesuatu yang berwujud, menurut penalaran logika yang sehat, hanya memiliki dua kemungkinan. Satu, dia ada, dan keberadaannya tidak bergantung pada sesuatu yang lain. Dua, dia ada, dan keberadaannya sangat bergantung pada keberadaan sesuatu yang lain. Dan akal kita tidak menolak keberadaan dua-duanya. Anda perhatikan pulpen, meja, piring, sendok, kucing, ayam, kebo, dan termasuk diri Anda sendiri. Tak ada yang bisa menolak bahwa itu semua adalah sesuatu yang berwujud. Tetapi, yang harus segera dicatat, mereka semua bukan sesuatu yang bisa ada karena dirinya sendiri, tapi mereka bergantung pada keberadaan sesuatu yang lain.

Kucing yang Anda lihat itu tidak mungkin terlahir kecuali kalau ada ibu dan bapaknya. Sendok yang Anda gunakan untuk makan itu juga tidak mungkin ada kecuali ada yang buat. Begitu juga dengan piring, gelas, keramik, meja, lemari, dan semua hal yang berada di alam semesta ini, masuk ke dalam kategori wujud kedua yang saya sebutkan tadi. Yakni sesuatu yang berwujud, dan wujudnya bergantung pada sesuatu yang lain. Anda juga bisa menyebut wujud yang kedua ini sebagai wujud yang mungkin (mumkinul wujûd). Dikatakan demikian karena memang dia mungkin ada, juga mungkin tiada; bisa jadi ada, bisa jadi tiada. Akal kita memungkinkan keberadaannya, juga memungkinkan ketiadaannya.

Artinya, dikatakan harus ada, tidak. Dikatakan harus tiada, juga tidak. Lalu apa? Alam dan beserta isinya itu bisa jadi ada, bisa jadi tiada. Dan itulah yang kita maksud dengan wujud yang mungkin, atau mumkinul wujûd itu. Paham sampai di sini? Oke. Lanjut. Sekarang coba Anda bayangkan sebuah teko porselen berkeliling mengitari matahari. Mungkin terlihat aneh. Teko macam apa itu?! Contoh ini sengaja saya ambil karena punya relevansi dengan kritik yang ingin kita ajukan kepada Dawkins. Sudah, jangan banyak komentar, bayangkan saja dulu. Ada sebuah teko angkasa mengelilingi matahari.

Kalau membayangkan hal ini agak terasa susah, coba Anda bayangkan seorang peri kecil nan mungil. Peri itu cantik, dan kecantikannya mengalahkan wanita manapun di muka bumi ini. Kulitnya sehalus sutera, matanya berkilau layaknya berlian. Pokoknya ini peri yang benar-benar cantik dan tidak ada duanya. Mungkin Anda akan berkata, “ah, mustahil ada makhluk semacam itu! Betul, saya sepakat dengan Anda. Baik teko angkasa maupun peri tadi itu adalah hal yang mustahil. Tapi mustahil menurut apa? Apakah itu mustahil menurut akal, sehingga akal kita tidak memungkinkan keberadaannya?

Sebentar. Sebelum dijawab, saya harus perjelas terlebih dulu apa yang disebut mustahil menurut akal itu. Yang kita maksud dengan mustahil ialah sesuatu yang tidak menerima keadaan, atau tidak dimungkinkan untuk ada, karena dirinya sendiri.  Artinya, sesuatu yang dikatakan mustahil ini sudah pasti tidak ada, dan akal kita sama sekali tidak memungkinkan keberadaannya. Apa contohnya? Anggap sekarang Anda mengenakan sehelai kain sarung dengan mereka tertentu. Lima menit kemudian Anda kebelet pengen pipis. Dilepaslah sarung itu, lalu Anda letakkan dia di atas meja. Apa yang terjadi? Ya sudah. Yang terjadi ialah sarung itu tergeletak di atas meja.

Pertanyaannya, apa mungkin sarung itu berada di atas meja, tapi pada saat yang bersamaan dia juga terletak di bawah kursi? Ingat, sarungnya satu, tapi dia berada di dua tempat. Kalau akal Anda masih sehat, dengan segera Anda akan berkata: tidak mungkin! Itu mustahil! Nah, sekarang saya tanya, apa yang Anda maksud dengan kata mustahil itu? Anda mengatakan bahwa keberadaan sesuatu dalam dua tempat secara bersamaan itu adalah yang mustahil secara akal, karena memang akal kita tidak akan pernah mampu untuk memungkinkan terjadinya hal itu. Dan di alam luar pun hal itu tidak akan pernah terjadi. Ini namanya mustahil. Mustahil menurut apa? Mustahil menurut akal.

Tapi, yang harus segera dicatat, di sini Anda harus bisa membedakan antara sesuatu yang mustahil secara akal, dengan mustahil menurut kebiasaan. Itu dua hal yang berbeda. Apa yang tergolong mustahil menurut kebiasaan sebenarnya masih dimungkinkan keberadaannya menurut akal. Keberadaan satu sarung pada dua tempat sekaligus itu mustahil secara akal. Akal sehat mana yang bisa menerima keberadaan sesuatu di satu tempat, tapi pada saat yang sama sesuatu itu juga ada di tempat lain. Ya itu jelas mustahil.

Laptop yang saya gunakan ini terbilang berat. Lantas apakah saya bisa mengatakannya sebagai sesuatu yang tidak berat? Ya jelas nggak dong. Dua hal yang kontradiktif itu mustahil terhimpun, juga mustahil kedua-duanya terangkat. Begitu kata para logikawan. Ini namanya mustahil secara akal (mustahil ‘aqli). Apakah akal kita memungkinkan terjadinya hal itu? Sama sekali tidak.

Sekarang bagaimana kalau saya tanya, mungkinkah kain sarung yang Anda pakai itu melayang terbang berkenala ke luar angkasa sambil mengelilingi pusat tata surya kita? Ingat, sarung loh. Mungkin nggak itu ada sarung kaya begitu? Apakah akal kita, sekali lagi akal, bukan kebiasaan—memungkinkan terjadinya hal itu?

Nah, di sinilah pentingnya membedakan antara yang mungkin dengan mustahil itu. Dan ini hanya dipelajari dalam ilmu kalam. Pembahasan tentang wajib, mungkin dan mustahil, dengan segala bagian beserta ketentuannya itu hanya ada dalam buku-buku kalam. Saya sebenarnya sudah menjelaskan ini dalam tulisan lain. Penjelasan tentang hal ini bisa Anda baca, antara lain, dalam dua buku penulis. Yaitu buku HYM Seputar Tuhan dan buku Ilmu Maqulat. Tapi tidak apa-apa. Untuk keperluan kritik, kita ulang sedikit lagi di tempat ini.

Bagaimanapun, terbangnya sarung itu adalah sesuatu yang mungkin secara akal. Tapi dia dianggap mustahil menurut kebiasaan (mustahil ‘adi). Ingat, menurut kebiasaan. Dan yang mustahil menurut kebiasaan itu masih mungkin terjadi menurut akal (mumkin ‘aqli). Banyak sekali contoh yang bisa kita kemukakan untuk menjelaskan hal ini.  

Sekarang bagaimana dengan teko porselen yang mengelilingi matahari tadi? Apakah itu mungkin? Oh jelas itu sangat mungkin. Bukankah akal kita memungkinkan terjadinya hal itu? Masalahnya ada orang-orang yang tidak bisa membedakan dengan cermat antara sesuatu yang mustahil secara akal, dengan mustahil menurut kebiasaan. Dan mereka kadang berkesimpulan secara keliru, dengan memandang bahwa yang mustahil menurut kebiasaan itu dianggap mustahil juga menurut akal. Padahal tidak begitu.

Menurut kebiasaan, memang tidak ada cerita sarung ataupun teko yang berputar mengelilingi matahari. Tapi akal kita memungkinkan terjadinya hal itu. Dan sesuatu yang mungkin tidak bisa kita persamakan dengan sesuatu yang mustahil. Sebagaimana keduanya juga tidak dipersamakan dengan sesuatu yang wajib/niscaya. Yang wajib itu wajib, yang mungkin itu mungkin, dan yang mustahil itu mustahil. Anda tidak mempersamakan ketiganya.  

Sekarang mari kita lihat sesat pikir Dawkins ketika dia mengutarakan penolakannya tentang keberadaan Tuhan. Dalam tulisan yang lalu sudah kita katakan bahwa klaim tentang ketiadaan Tuhan itu harusnya didukung oleh bukti-bukti. Kalau tidak, maka dia tidak lebih sebagai omong kosong belaka. Tapi Dawkins berkilah, bahwa ketiadaan Tuhan itu tidak memerlukan bukti. Juga tidak bisa dibantah dengan argumentasi. Kenapa bisa begitu? Mari kita simak alasannya dalam kutipan sebagai berikut:

“Kita tidak secara positif mengetahui bahwa tidak ada tuhan, sama seperti kita tidak dapat membuktikan bahwa tidak ada peri atau bidadari kecil atau elf atau hobgolin atau leprechaun atau unicorn merah muda; sama seperti kita tidak dapat membuktikan bahwa Sinterklas atau Kelinci Paskah atau Peri Gigi tidak ada. Ada satu miliar hal yang bisa kamu bayangkan dan tidak ada yang bisa membantahnya.”

Selanjutnya dia mengutip perkataan filsuf ternama, Bertrand Russell, “Filsuf Bertrand Russel mengemukakan maksudnya dengan ilustrasi yang jelas. Jika saya memberi tahumu, katanya, bahwa ada teko porselen yang mengorbit mengelilingi matahari, kamu tidak dapat membantah klaim saya. Tetapi kegagalan untuk membuktikan sesuatu bukanlah alasan yang baik untuk memercayainya.” (Outgrowing God, hlm. 15) 

Seperti yang Anda lihat, dalam kutipan tersebut Dawkins mempersamakan Tuhan dengan peri, bidadari kecil, unicorn, hobgolin, dan lain-lain. Sebenarnya dia ingin mengatakan bahwa sebagaimana hal-hal yang dia sebutkan itu tidak ada, maka tuhan juga begitu. Dan kita, menurut Dakwins, tidak perlu bukti untuk membuktikan ketiadaannya. Sebagaimana kita juga tidak perlu bukti untuk meniadakan hal-hal yang telah dia sebutkan itu.

Lagi-lagi, di sini Dawkins kurang cermat dalam membuat analogi. Analoginya jelas keliru, karena dia telah mempersamakan dua hal yang status ontologisnya jelas berbeda. Yang satu wujud niscaya, yang lain wujud yang mungkin. Dalam arti dia bisa jadi ada, bisa jadi tiada. Wujud Tuhan itu bukan sesuatu yang bergantung pada sesuatu yang lain. Karena kalau dia bergantung pada yang lain, maka namanya bukan Tuhan lagi, tetapi sudah menjadi makhluk, sama seperti kita.

Para teolog Muslim menyebutnya dengan istilah wâjibul wujûd (wujud yang niscaya). Kenapa dia dikatakan niscaya? Karena Dialah yang menjadi sebab utama di balik keterlahiran alam semesta. Loh tapi siapa yang menciptakan Dia? Saya sudah jawab di mana letak kekeliruan pertanyaan ini dalam buku HYM Seputar Tuhan. Karena itu tidak perlu saya ulang.

Yang jelas, di sini ingin kita katakan bahwa mempersamakan wujud Tuhan dengan peri, teko, dan sejenisnya, yang diklaim tidak ada, jelas merupakan analogi yang kurang tepat, kalau enggan berkata cacat. Karena wujud peri, teko, unicorn, dan sebagainya, adalah sesuatu yang dimungkinkan secara akal. Meskipun dia bisa dikatakan mustahil ada menurut kebiasaan. Sementara wujud Tuhan adalah wujud yang niscaya, yang menurut akal sehat dia harus ada, dan keberadaan-Nya tidak bergantung pada wujud yang lain.

Kalau dia bergantung pada yang lain, dan yang lain itu sendiri bergantung pada yang lain, sampai seterusnya demikian, maka akan terlahir sebuah regresi yang tak berujung, atau tasalsul. Dan tasalsul itu juga mustahil. Mustahil menurut siapa? Menurut akal yang sehat. Dan Anda bisa simak uraian tentang kemustahilan tasalsul itu dalam paparan penulis di sini. Bagi yang ingin menolak kemustahilan tasalsul, atau regresi yang tak berujung itu, kami persilakan untuk menyuguhkan bantahan. Dan kalau ia terbukti mustahil menurut akal, maka sebagai konsekuensinya mau tidak mau kita harus mengimani keberadaan Tuhan.

Mempersamakan wujud yang niscaya dengan wujud yang bisa jadi ada, bisa jadi tiada, adalah cerminan dari kecacatan berpikir. Para teolog Muslim menyebutnya dengan istilah qalbul haqaiq (pemutar balikan hakikat). Dan ini terjadi manakala seseorang menjadikan yang mungkin sebagai mustahil, atau menjadikan sesuatu yang mustahil sebagai yang mungkin. Atau menjadikan keduanya sebagai sesuatu yang wajib. Atau memandang yang wajib sebagai salah satu dari keduanya. Sulit bagi nalar sehat kita menerima pencampuradukkan itu. 

Di sisi lain, perlu penulis tambahkan juga bahwa ada atau tiadanya peri dan teko itu adalah klaim yang bisa dibantah. Kata siapa tidak bisa dibantah? Kata Dawkins iya. Tapi menurut akal yang sehat pernyataan tersebut adalah pernyataan yang mungkin benar, mungkin salah. Dan karena itu dia bisa dibantah. Untuk membuktikan ketiadaan peri, ya kita merujuk ke alam luar. Apakah peri itu benar-benar tiada? Kalau di alam luar terbukti tiada, ya berarti dia tiada. Dan klaim tersebut bisa kita terima kebenarannya. Tapi kalau ternyata dia ada, dan akal kita memungkinkan keberadaannya, maka klaim tersebut menjadi tertolak. Dan ketika itu kita bisa menyalahkannya. Sesederhana itu.

Masalahnya cuma satu, Dawkins dan orang-orang Ateis lainnya, tidak mau menerima entitas atau wujud yang bersifat niscaya itu. Bagi dia segala sesuatu itu bersifat mungkin. Tidak ada itu yang namanya sebab pertama, yang tidak disebabkan oleh yang lain. Meksipun dia sendiri tidak menyuguhkan bukti yang logis tentang ketiadaan sebab pertama itu. Tapi, kalau kita terima pandangan ini, kita akan dihadapkan pada satu pilihan yang cukup serius. Kita akan mengamini terjadinya regresi yang tidak berujung (tasalsul) itu. Dan menurut penalaran yang sehat regresi yang tidak berujung itu jelas mustahil.   

Dawkins, dan juga orang-orang Ateis pada umumnya, tampaknya memang tidak mampu membuktikan ketiadaan Tuhan. Karena dia tidak mampu, akhirnya Dia persamakanlah wujud Tuhan itu dengan sesuatu yang mustahil ada menurut kebiasaan, meskipun Dia dimungkinkan secara akal. Tepatkah analogi semacam ini? Kalau Anda menekuni ilmu filsafat dengan baik, sekali lagi saya tegaskan, bahwa analogi yang dia kemukakan adalah sebuah kekeliruan yang besar. Dari sini saya harap pembaca mulai sadar, tentang mengapa kita harus mempelajari filsafat dan ilmu kalam itu.

Para teolog ingin mengajak kita berpikir secara rasional. Dan mereka tampil di hadapan kita dengan argumen-argumen yang rasional itu. Sementara Dawkins dan orang-orang Ateis mengajak kita untuk menjadi manusia-manusia yang memiliki kecacatan nalar. Pertanyaannya, masih haruskah kita menyetujui pandangan mereka, kalau dengan mengamini pandangan tersebut kita harus menggadaikan kesehatan nalar kita sendiri? Hanya kegilaan yang akan berkata iya. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.

Bagikan di akun sosial media anda