Doa Sudah Berlimpah, Tapi Mengapa Pandemi Tak Kunjung Punah?

Sewaktu kuliah di Kairo saya pernah menyimak acara talkshow yang bintang tamunya adalah seorang perempuan Ateis. Sayang, dalam acara itu, sang pembawa acara tampak memaksakan pandangannya kepada bintang tamu. Sadar bahwa bintang tamunya seorang Ateis, dia bicara setegas mungkin bahwa Tuhan itu ada.

Tapi, tamu yang diundang tentu saja mengejek pandangan itu. Akhirnya dia bilang, “coba, kalau Tuhan itu benar ada, kamu minta agar Dia menurunkan uang dari langit sekarang juga. Bisakah dia melakukan itu? Saya ini menjadi Ateis karena dulu saya berkali-kali meminta kepada Tuhan, tapi permintaan saya tak kunjung dikabulkan.”

Alih-alih menjawab secara rasional, yang ada tamu itu malah diusir dari acara. Ya, di lingkungan orang Arab fenomena semacam ini beberapa kali saya jumpai. Agak lucu memang. Orang Ateis ini diundang. Tapi ketika dia mengutarakan pendapatnya, dia malah diusir. Tapi itulah yang terjadi.

Di masa krisis yang diakibatkan oleh pandemi seperti sekarang, pertanyaan yang sama boleh jadi mengemuka dengan redaksi yang berbeda. “Di dunia ini ada ratusan juta orang beriman yang berdoa kepada Tuhan agar wabah ini selesai. Tapi apa hasilnya? Sampai sekarang pandemi belum juga tuntas. Kalau Tuhan itu ada, kenapa Dia tidak mengabulkan doa hamba-hamba-Nya.”

Sekitar beberapa minggu yang lalu saya juga kebetulan menyimak postingan yang kurang lebih pesannya sama, “Ada puluhan ribu yang mati, ada puluhan ribu yang tidak kebagian rumah sakit, tapi tetap saja ada orang tak percaya bahwa Covid itu ada. Ada puluhan juta orang berdoa, tapi keadaan tak berubah. Tapi orang tetap percaya Tuhan itu ada.”

Memang, dalam tulisan tersebut, yang bersangkutan tidak secara terus terang menafikan keberadaan Tuhan. Tapi sindiran semacam itu barangkali ingin mengarah kesana. Apalagi yang menulis postingan ini, sejauh yang saya ikuti, adalah orang yang tulisan-tulisannya kerap merendahkan agama.

Anda yang sedang membaca tulisan ini, boleh jadi pernah menyimak pertanyaan, atau pernyataan semacam itu. “Kalau Tuhan itu ada, kenapa Dia tidak menjawab doa hamba-hamba-Nya? Doa kita sudah berlimpah. Tapi kenapa pandemi tidak kunjung punah?” Sebetulnya kesimpulan yang menafikan keberadaan Tuhan, gara-gara doa yang tidak terkabulkan, bisa dibantah dengan sangat mudah.

Kita bisa tanya balik kepada yang bersangkutan, “apakah keberadaan sesuatu itu bergantung pada tertunaikan tidaknya permohonan yang dipanjatkan kepada sesuatu itu?” Baiklah, saya ingin merubah pertanyaan ini dengan redaksi yang lebih jelas. “Apakah ada atau tidak adanya Tuhan itu bergantung pada terkabulkan atau tidaknya doa yang kita panjatkan?” Jawabannya,: tidak.

Kenapa bisa begitu? Saya ingin beri contoh yang sangat sederhana. Katakanlah di satu masa Anda mengajukan satu permohonan kepada isteri Anda. “Sayang, aku ingin nikah lagi. Please. Biar kamu dapet surga, izinkan aku ya!” Berpuluh-puluh kali Anda mengajukan permintaan itu. Tapi, namanya perempuan, tentu saja dia akan bersikeras menolak. Katakanlah bahwa isteri Anda tidak pernah menghiraukan permintaan itu.

Pertanyaannya sekarang, apakah tidak terkabulkannya keinginan yang Anda ajukan kepada isteri Anda itu bisa dijadikan alasan untuk menafikan keberadaan isteri Anda itu sendiri? Ya tentu saja tidak. Keberadaan isteri Anda tidak ada sangkut pautnya dengan terkabulkan atau tidaknya permohonan Anda.

Permohonan Anda terkabulkan atau tidak, isteri Anda ya tetap ada. Dengan ilustrasi tersebut, saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa selama ini Tuhan telah mengabaikan doa hamba-hamba-Nya. Juga tidak bermaksud untuk mempersamakan Tuhan dengan makhluk. Itu hanya sebatas ilustrasi saja.  

Poin inti yang hendak saya tekankan di sini ialah, ada atau tidaknya sesuatu yang kita sembah itu tidak bergantung pada terkabulkan atau tidaknya permohonan kita kepada Dzat yang kita sembah itu. Keberadaan sesuatu itu satu hal, terkabulkan atau tidaknya keinginan kita kepada sesuatu itu, itu hal yang lain lagi. Bukankah nalar yang sehat akan berkata begitu?

Coba, kalau menurut Anda pernyataan ini tidak logis, tolong jawab pertanyaan ini: apa bukti kalau keberadaan sesuatu itu bergantung pada terkabulkannya keinginan yang dipanjatkan kepada sesuatu itu, sehingga kalau dia tidak mengabulkan, maka dia menjadi tidak ada? Sampai kapanpun, saya kira, jawaban yang logis itu tidak akan pernah Anda temukan.

Sekarang mari kita timbang logika orang Ateis. “Kalau Tuhan ada”, kata mereka, “niscaya Dia akan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya. Tetapi faktanya dia tidak mengabulkan doa hamba-hamba-Nya. Maka kesimpulannya, dia tidak ada.” Ini kesimpulan mereka. Kalau kita kaitkan dengan konteks wabah, mungkin mereka akan berkata, “kalau Tuhan itu ada, dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya, maka niscaya wabah ini akan punah. Tetapi dia belum penuh. Berarti dia tidak ada.”

Dalam logika, silogisme semacam ini dikenal dengan dikenal dengan istilah silogisme eksepsionis (qiyâs istitsnâi). Kesimpulan dari silogisme ini hanya bisa kita terima kesahihannya kalau yang bersangkutan mampu menyuguhkan keterkaitan yang logis antara “keberadaan Tuhan” dengan “pengabulan doa”, atau “kepunahan wabah”. Karena, dalam proposisi tersebut, dia telah mengaitkan antara kedua hal itu. Kalau mengaitkan, berarti harus ada bukti yang logis di balik keterkaitannya.

Apakah Tuhan itu hanya bisa dikatakan ada kalau memang Dia mengabulkan doa hamba-hamba-Nya, sesuai dengan apa yang mereka minta? Kalau Anda berkata iya, maka konsekuensinya, setiap kali Anda mengajukan permintaan kepada seseorang, entah itu teman, pacar, orang tua, isteri, suami, dan lain-lainnya, kemudian keinginan Anda tidak terkabulkan oleh mereka, maka mereka harus Anda katakan tidak ada.

Tapi nyatanya kita tidak bisa berkesimpulan begitu. Kenapa? Ya karena keberadaan sesuatu tidak bergantung pada pengabulannya terhadap permintaan yang diajukan kepada dirinya. Kita menolak adanya keterkaitan antara dua hal itu. Yakni antara keberadaan Tuhan dengan pengabulan doa, ataupun dengan punahnya wabah. Dan kita meminta mereka untuk mengajukan dalil atas keterkaitan antara kedunya, kalau memang keterkaitan itu ada.  

Yang tidak kalah penting untuk kita ingat, pengabulan doa itu bisa dilakukan dengan beragam cara. Tidak harus persis sama dengan apa yang kita minta. Anda bisa bayangkan, betapa kacaunya dunia ini kalau setiap kali orang beriman meminta kepada Tuhan, kemudian Tuhan mengabulkan permintaannya persis sesuai dengan apa yang dia ajukan. Masih adakah orang miskin, cacat, kelaparan, terbunuh, terzalimi, terkhianati, sakit, dan berbagai macam penderitaan lainnya? Dan kalau hal-hal yang tampak menyengsarakan itu tidak ada, masih mungkinkah kita merasakan kenikmatan hidup yang sesungguhnya?

Bukankah kekayaan akan terasa membahagiakan ketika di sana ada kemiskinan? Bukankah kita akan merasakan nikmatnya hidup sehat dengan adanya orang-orang yang terpapar sakit? Kalau kita punya pasangan yang setia, bukankah kita akan merasakan nikmatnya kesetiaan itu setelah kita menyaksikan pahitnya pengkhianatan? Kita tidak akan merasakan dalamnya kenikmatan sesuatu kecuali dengan adanya hal lain yang bertentangan dengan sesuatu itu.

Karena itu, sangat wajar kalau Tuhan tidak mengabulkan doa sesuai dengan yang diminta oleh hamba-hamba-Nya. Kadangkala sesuai, kadangkala tidak. Tidak apa-apa. Tuhan lebih tahu apa yang masalahat bagi hamba-hamba-Nya. Dan dalam kehidupan sehari-hari pun kita bisa menerima pengabulan harapan semacam itu.

Anak Anda yang masih kecil minta dibelikan Ipad. Dan, menurut Anda, barang itu belum layak untuk dimiliki oleh anak sepantaran dia. Akhirnya tidak Anda kasih. Padahal Anda sangat mampu membeli barang itu. Tapi Anda menahan karena punya pertimbangan yang lebih maslahat untuk anak Anda. Dan sang anak boleh jadi tidak tahu dengan alasan utama di balik putusan orang tuanya. Yang dia tahu, orang tuanya itu tega, pelit, dan tidak sayang. Padahal justru itulah kasih sayang yang sesungguhnya.  

Tuhan yang Maha kuasa pasti punya lebih banyak cara dalam mengabulkan doa hamba-hamba-Nya. Lagipula, kalau Tuhan itu harus “tunduk” pada permohonan kita, ya itu namanya bukan Tuhan. “Coba, kalau Tuhan ada, minta Dia agar menurunkan uang dari langit. Kalau tidak bisa, berarti Tuhan Anda itu tidak ada.”

Tanpa Anda sadari, dengan mengajukan tantangan semacam itu, Anda tidak sedang meminta orang untuk berdoa kepada Tuhan. Tapi Anda meminta dia untuk berdoa kepada seorang pembantu, yang punya kewajiban untuk menuruti semua keinginan majikannya, dengan cara yang dia mau, dan pada waktu yang dia inginkan. Kita tidak mungkin menyebut sesuatu yang dapat dipaksa itu sebagai Tuhan. Karena dengan keterpaksaan, maka gugurlah sudah ketuhanannya.

Pandemi memang belum selesai. Padahal ribuan orang sudah berdoa agar dia segera usai. Apakah itu artinya Tuhan tidak mengabulkan permintaan kita? Dia mengabulkan, tapi dengan cara-Nya sendiri. Baiklah. Barangkali Anda tidak terima dengan jawaban semacam ini. Sekarang anggaplah Tuhan tidak mengabulkan permintaan hamba-hamba-Nya, dengan alasan bahwa apa yang diminta oleh hamba-hamba-Nya tidak terealisasi sebagaimana mestinya.  

Lantas apakah Anda punya alasan yang logis untuk menafikan keberadaan-Nya, hanya karena Dia tidak mengabulkan doa? Ingat, Anda mengatakan “Dia tidak mengabulkan doa”, dengan makna pengabulan menurut pemahaman Anda. Karena Anda mengira bahwa pengabulan doa itu harus persis seperti apa yang diminta oleh hamba. Sementara akal sehat kita memungkinkan adanya pengabulan dengan cara-cara yang lain.

Kalaupun Anda bersikukuh dengan pandangan itu, paling jauh Anda hanya bisa berkesimpulan bahwa Tuhan—Maha suci Dia dari sifat semacam ini—tidak peduli dengan hamba-hamba-Nya. Tapi tidak peduli bukan berarti tidak ada bukan? Ketidak-pedulian tidak sama dengan ketiadaan. Jadi, kalaupun Anda menyebut tuhan tidak peduli—kita berlindung kepada Allah dari keyakinan semacam itu—Anda tidak punya alasan yang logis untuk menafikan keberadaan dirinya sendiri.

Kekasih yang baik bukanlah sosok yang senantiasa menuruti semua keinginan yang dikasihinya. Tetapi kekasih yang baik adalah dia yang selalu memberikan pilihan terbaik untuk orang yang dicintai-Nya, sekalipun dia tidak suka. Jika kita memercayai sesuatu sebagai Tuhan, maka seharusnya sesuatu yang kita percayai sebagai Tuhan haruslah terbebas dari berbagai macam kekurangan. Dan ketidak-pedulian adalah cerminan dan kekurangan itu.

Kita percaya—dan kepercayaan ini tidak bertentangan dengan akal sehat—bahwa Tuhan telah memberikan pilihan terbaik untuk kehidupan kita. Sayangnya kita seringkali lupa, bahkan mengabaikan kebaikan itu, karena keterbatasan dan kebodohan kita. Sekarang boleh jadi kebaikan itu belum tampak dengan nyata. Tapi tidak ada salahnya jika kita berbaik sangka. Selama sangkaan yang baik itu diterima oleh nalar sehat kita. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.

Bagikan di akun sosial media anda