Keretakkan Rumah Tangga dan Tawaran Solusinya

Jika Anda termasuk orang yang punya pandangan bahwa kebahagiaan dalam berumah tangga itu dapat ditentukan dengan kecantikan, ketampanan, harta, jabatan, kemewahan, kedudukan sosial, keturunan, dan yang sejenisnya, saya harap, setelah membaca tulisan ini, Anda menimbang ulang kesahihan pandangan itu. Sebagai orang yang sudah menikah, sedikit banyak saya sudah paham dengan pahit manisnya hidup berumah tangga. Dan, melalui tulisan ini, saya ingin membagikan secuil renungan tentang hal itu. Barangkali ini bisa dijadikan bekal pelajaran, baik bagi yang belum maupun yang sudah menikah. 

Sebelum menikah, tepatnya sewaktu masih remaja, harus saya akui, bahwa pada mulanya saya punya pandangan seperti orang kebanyakan itu; yang memandang kebahagiaan dengan hal-hal yang bersifat artifisial, seperti yang tadi saya sebutkan. Tak perlu saya ulang kembali. Tapi, setelah menikah, saya ingin menegaskan dengan setegas-tegasnya bahwa cara pandang seperti itu benar-benar keliru. Saya tidak ingin membuktikan letak kekeliruannya di mana. Itu perlu tulisan lain secara terpisah. Yang jelas, untuk sementara, dari pengalaman yang saya dapat, saya sudah sadar betul dengan kekeliruan pandangan itu.

Baiklah, saya ingin sebutkan sedikit alasan tentang kekeliruan itu. Persoalan rumah tangga itu banyak. Tapi, kalau kita ajukan pertanyaan, apa sih akar dari semua persoalan itu? Ini jawaban saya. Menurut saya, sebab keretakkan rumah tangga yang paling utama ada satu. Yaitu ketika masing-masing dari suami dan isteri tidak sadar dengan hak dan kewajibannya sendiri-sendiri. Untuk lebih memperjelas, saya ingin berikan permisalan yang lebih konkret.

Dalam kehidupan rumah tangga, suami itu adalah pemimpin. Dan isteri adalah makmum (yang dipimpin). Kalau dibalik, maka akan kacau. Suami punya tanggungjawab untuk membimbing dan meluruskan isterinya. Dan isteri seharusnya mendengar dan mentaati apa yang dikatakan oleh suaminya, selama itu maslahat untuk kehidupan mereka berdua. Kalau suami nggak sadar dengan tugas dan peranannya, ditambah isteri tidak tahu dengan kewajiban pokoknya, maka dari situlah keretakkan itu bermula.

Saya sering mengibaratkan keduanya seperti pendaki gunung. Apa sih yang Anda harapkan ketika mendaki sebuah gunung? Saya kira jawabannya sudah bisa ditebak. Pendaki itu ingin sampai ke puncak. Dan di sanalah dia bisa menikmati keindahan yang dia impi-impikan selama masa perjalanan. Apa yang Anda butuhkan ketika mendaki? Paling tidak ada tiga. Satu, peta perjalanan. Dua, bekal. Dan yang ketiga ialah konsistensi dan kekompakkan.

Kalau Anda tidak punya peta perjalanan, tidak punya bekal—termasuk bekal kekuatan fisik—ditambah tidak ada teman, atau ada teman, tapi tidak kompak, jangan harap Anda bisa sampai ke puncak. Berumah tangga juga begitu. Yang barangkali jadi pertanyaan ialah, bagaimana kita menganalogikan ketiga hal tadi dalam kehidupan rumah tangga? Apa yang harus kita jadikan sebagai peta perjalanan? Apa yang perlu kita jadikan sebagai bekal? Dan apa yang dimaksud dengan kekompakkan?

Nah, masing-masing orang, saya kira, akan mengemukakan jawaban yang berbeda-beda tentang hal ini. Tapi, sebagai orang beragama, mau tidak mau kita harus menjadikan agama kita sebagai panduan hidup. Apakah Anda ingat sabda nabi yang menganjurkan umatnya untuk memilih pasangan yang kuat sisi agamanya, ketimbang pertimbangan-pertimbangan lain, seperti kecantikan, keturunan, dan lain semacamnya? Terus terang, saya ingin sekali menyadarkan semua orang, terutama yang belum menikah, bahwa apa yang dikatakan nabi itu sungguh benar.

Saya memerlukan banyak lembaran kertas untuk membeberkan kisah-kisah kehidupan rumah tangga yang membuktikan kebenaran nasihat nabi itu. Pokoknya, kalau Anda mau berumah tangga dengan bahagia, cari orang yang matang pengamalan agamanya. Cari orang yang bagus akhlaknya. Peta perjalanan itu adalah agama. Dalam berumah tangga, perselisihan antar pasangan itu hampir mustahil dihindari. Sekuat apapun Anda berupaya untuk tidak menimbulkan perselisihan, saya kira upaya Anda hanya akan berakhir dengan kegagalan. Perselisihan itu pasti ada. Tapi, kalau masing-masing hanya mengikuti ego dan pendapat pribadinya, tidak akan selesai.

Yang ada perselisihan itu bisa menjadi benih-benih keretakkan. Dan itu sering terjadi. Sekian banyak orang yang gagal berumah tangga gara-gara pertengkaran sepele. Itu karena mereka tidak konsisten dalam menjadikan agama sebagai panduan hidup bersama. Karena itu masing-masing pasangan harus punya keteguhan komitmen, kemana kita akan merujuk, ketika kita ingin menyelesaikan perselisihan kita? Siapa yang berhak untuk memberi kata putus? Jawaban yang paling tepat adalah agama (agama yang saya maksud tentunya agama Islam). Dan, harap diingat, yang seharusnya menjelaskan pandangan agama, sebagai panduan hidup berumah tangga, itu adalah imam, yang dalam hal ini adalah suami. Suami harus tahu panduan agama dalam berumah tangga. Agar ketika terjadi persoalan, dia bisa mencari penyelesaiannya dari ajaran agama yang dianutnya.

Kalau terbukti suami bersalah, dia harus berani meminta maaf, dan belajar dari kesalahannya. Tapi kalau sebaliknya, isteri terbukti tersalah, maka isteri juga harus terbuka mengakui kesalahannya, dan bersedia dibimbing untuk menjadi lebih baik oleh suaminya. Harusnya memang begitu. Kalau suami tidak tahu agama, istri nggak tahu adab, lalu masing-masing dari mereka hidup seenaknya, dan menyelesaikan persoalan dengan mengikuti hawa nafsunya, ya sudah, tidak akan ada keharmonisan dalam rumah tangga itu. Yang sering bikin rumah tangga retak itu, imma suami yang nggak ngerti agama, atau ngerti tapi tidak mengamalkan. Atau isteri yang tidak taat, dan nggak beradab kepada suaminya.

Di sinilah agama berperan sangat penting. Agama menyediakan penjelasan yang komplit tentang pembagian hak dan kewajiban suami isteri itu. Kalau Anda setuju dengan pandangan penulis di atas, bahwa sebab keretakkan rumah tangga itu ialah terabaikannya hak dan kewajiban kedua pasangan, sementara agama sudah menyediakan penjelasan yang memadai tentang hal itu, maka menjadikan agama sebagai panduan adalah keharusan yang tidak bisa ditolak. Itu kalau kita mau hidup harmonis. Kalau saja kedua pasangan itu benar-benar memahami, mengamalkan, dan menjadikan agama sebagai panduan hidupnya, ya salam, saya tidak bisa membayangkan kenikmatan macam apa yang akan diperoleh oleh kedua pasangan itu.

Selanjutnya kita berbicara tujuan. Saya katakan tadi bahwa sebagaimana pendaki punya tujuan untuk sampai ke puncak, dan menikmati keindahan alam di sana, maka berumah tangga juga harus punya tujuan, dan juga bekal untuk sampai pada tujuan itu. Apa yang jadi bekalnya? Keimanan. Saya tidak menafikan pentingnya harta demi memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga. Harta itu penting. Tempat tinggal itu penting. Kendaraan itu penting. Semua yang Anda miliki itu penting, selama ia dibutuhkan demi keutuhan hidup rumah tangga.

Tapi ingat, harta yang tidak dibalut dengan keimanan hanya akan mewariskan rasa tamak dan pelit. Alih-alih membahagiakan, harta yang demikian bahkan bisa menjadi pemicu keretakan. Semua yang saya sebutkan tadi itu penting. Tapi itu bukan yang terpenting. Anda harus bedakan dua hal ini dengan baik. Yang terpenting itu ialah akhlak dan keimanan. Semakin kokoh keimanan Anda, semakin mudahlah Anda menemukan kebahagiaan dalam berumah tangga. Semakin bagus akhlak Anda berdua, tak ada yang sulit bagi Anda untuk mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya.

Itu bekalnya. Lalu apa tujuannya? Tujuannya adalah mencapai keridaan Allah Swt. Kalau Anda mau hidup harmonis, Anda berdua harus punya tujuan yang sama. Dan, lagi-lagi, untuk menentukan tujuan yang tepat, mau tidak mau Anda harus merujuk pada apa yang dikatakan oleh agama kita itu sendiri. Untuk apa sih kita hidup? Jawaban agama, kita hidup untuk beribadah kepada Allah. Dan tujuan hidup kita ialah mencari keridaan Allah, dengan melakukan amal kebaikan yang sebanyak-banyaknya. Dan memberikan manfaat kepada hamba-hamba Allah dengan seluas-luasnya. Di sini masing-masing pasangan harus saling dukung mendukung tentang hal apapun yang bisa mengantarkan mereka menuju tujuan itu.

Dan yang terakhir ialah konsistensi kekompakkan. Poin yang terakhir ini saya kira sangat masuk akal. Nggak mungkin kita bisa sampai tujuan kalau kita sendiri tidak kompak. Yang satu ingin ke selatan, yang satu lagi ingin menuju ke arah Timur. Dan masing-masing tidak ada yang mau mengalah. Gara-gara mementingkan ego dan pendapatnya sendiri-sendiri. Ya sudah, pisahlah akhirnya di tengah jalan. Naudzubillâh. Peta yang Anda pegang, dan bekal yang telah Anda persiapkan, itu menjadi tidak berarti, kalau kita tidak bisa kompak selama perjalanan.

Dan semua yang saya sebutkan ini bisa terwujud dengan mudah kalau masing-masing dari kedua pasangan benar-benar teguh dalam mengamalkan ajaran agamanya. Persis, inilah nasihat yang saya terima sebelum saya menikah dari sejumlah orang. Dan sekarang saya sudah membuktikan kebenarannya. Bahwa agama itu benar-benar penting. Kalau Anda mau hidup bahagia dalam berumah tangga, pada akhirnya saya tidak punya jawaban lain kecuali jawaban yang sudah disampaikan nabi empat belas abad yang lalu. Pilih yang kuat agamanya, bagus akhlaknya. Agama mengajarkan tanggungjawab, belas kasihan, kepedulian, keikhlasan, kejujuran, kesabaran, etika, tatakrama, dan banyak hal yang kita butuhkan selama berumah tangga.

Kalau tidak percaya, saya berikan Anda kesempatan untuk menjawab pertanyaan yang satu ini. Setiap kali menjumpai orang yang kehidupan rumah tangganya retak, dan terjadi perselisihan hebat antara kedua pasangan, coba Anda renungkan dengan baik pertanyaan yang satu ini: “kalau seandainya kedua pasangan ini benar-benar memahami, mengamalkan, dan menghayati ajaran agamanya, mungkinkah perselisihan dan pertengkaran itu muncul? Mungkinkah hal semacam ini terjadi? Tanyakan kepada diri Anda, mungkinkan persoalan ini terjadi, kalau ajaran agama itu benar-benar mereka hayati?

Pasti tidak mungkin. Saya berkali-kali merenungkan pertanyaan ini, dan jawabannya memang tidak mungkin. Kalau saja kedua pasangan itu teguh dalam menjadikan agama sebagai panduan hidupnya, persoalan-persoalan yang kerap memicu keretakkan rumah tangga itu tidak akan mudah terjadi. Harusnya kita sadar, bahwa yang membuat kita sengsara selama ini ialah jauhnya kehidupan kita dari tuntunan agama. Kalau mau bahagia, ikuti apa yang dikatakan agama. Suami belajar, isteri mendengar. Suami menjelaskan, isteri menuruti. Dari situlah Anda akan menemukan kebahagiaan. Dan dengan itulah perselisihan Anda berdua bisa terselesaikan. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.

Bagikan di akun sosial media anda