Mengapa Saya Tidak Tertarik untuk Menjadi Ateis?

Kalau pertanyaan ini diajukan ketika saya masih duduk di bangku SMP ataupun SMA, jangankan untuk menjawab, mendengarnya saja mungkin saya sudah terheran-heran. “Kenapa kamu nggak jadi orang Ateis aja?” Kalau ada yang bertanya begini, paling saya akan bertanya, “emang Ateis itu artinya apa?” Lalu dijawab, “Ateis itu artinya orang yang tidak percaya Tuhan.”

Saya akan menjawab balik, “loh, buat apa saya mengingkari keberadaan Tuhan? Berdasarkan apa yang saya pelajari di Pesantren, dan merujuk pada apa yang diajarkan oleh orang tua saya, Tuhan itu ada. Nggak usah pake bukti. Tuhan itu memang ada. Dan kita diminta untuk percaya. Saya kira itulah jawaban yang akan saya ajukan kalau pertanyaan ini saya terima sebelum saya benar-benar dewasa.

Dan, tampaknya, masih banyak juga orang Muslim yang beriman dengan cara seperti itu. Beriman dengan cara ikut-ikutan. Kalau ditanya dalil, mereka akan mendadak kebingungan. Kita bisa menyebut iman semacam ini sebagai “iman warisan”, bukan iman yang tertancap kokoh melalui proses pencarian yang matang. Kepada orang-orang semacam ini, saya ingin berpesan, segeralah pelajari dasar-dasar agama Anda dengan matang.

Karena kepercayaan yang hanya berlandaskan pada tradisi dan imitasi (ikut-ikutan) itu akan goyah dengan mudah. Sekali diterpa keraguan, maka dia akan runtuh secara perlahan-lahan. Dan kalau sudah runtuh, maka remuklah sudah agama Anda. Karena keimanan adalah salah satu aspek terpenting dalam beragama, yang apabila salah satu dasarnya hilang, maka keberagamaan Anda tidak akan diterima oleh yang Maha kuasa. Itu kalau kita beriman hanya dengan warisan.   

Lain cerita dengan keimanan yang berbasis pada dalil dan argumentasi. Seirbu satu filsuf datang untuk meragukan keimanan Anda, selama Anda punya argumen yang kokoh untuk mempertahankan keimanan tersebut, maka keimanan tidak akan mudah goyah. Masalahnya, berapa banyak Muslim yang punya kekokohan iman semacam ini? Tidak ada jalan lain untuk memperkokoh keimanan itu kecuali dengan mempelajari ilmu yang membahas tentang dasar-dasar keimanan itu sendiri. 

Di sinilah pentingnya ilmu kalam. Ketika mempelajari ilmu kalam, saya memiliki kesempatan untuk menguji semua kepercayaan yang pernah saya terima itu. Apa bukti kalau Tuhan itu ada? Apa bukti kalau Nabi Muhammad Saw itu adalah seorang nabi, dan al-Quran yang diwahyukan kepadanya merupakan kitab suci? Apa bukti kalau malaikat, setan, jin itu benar-benar ada? Dia kan tidak bisa terlihat? Bagaimana Anda bisa membukitkan keberadaannya?

Berbekal argumen-argumen yang dipaparkan oleh para teolog Muslim, Alhamdulillah sekarang saya sudah tidak kebingungan lagi dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Iman yang tadinya berasal dari warisan itu kini sudah tumbuh sebagai iman yang berbasis pada penalaran. Iman semacam ini, percayalah, tidak akan mudah goyah. Apalagi kalau sudah diselimuti perasaan cinta yang mendalam.

Sesuatu yang kita cinta tak akan mudah musnah hanya dengan permainan kata. Ketika melihat orang-orang Ateis, kita sebenarnya patut mengasihani mereka. Saya ingin sekali membantu mereka menemukan jalan kebenaran. Tapi apa mau dikata. Sejauh ini saya belum menemukan Ateis yang benar-benar jujur dalam mencari kebenaran itu. Yang paling banyak saya temui adalah Ateis-ateis provokatif, yang tampaknya memang sejak awal sudah berniat untuk mengingkari Tuhan.

Pokoknya, bagi mereka, Tuhan itu harus tidak ada. Terlepas apakah pilihan ini rasional atau tidak, sebagai manusia yang sudah kehilangan akal sehat, itu tidak penting bagi mereka. Bukti-bukti rasional tentang keberadan Tuhan sudah banyak dipaparkan oleh para teolog sepanjang sejarah. Tapi tetap saja mereka tidak menghiraukan itu. Mereka mencari sekian banyak cara untuk membuktikan kelemahan argumen-argumen itu. Tanpa sadar sedikitpun bahwa klaim mereka sendiri tidak punya landasan yang logis sama sekali. 

Kalau sekarang saya ditanya, kenapa tidak menjadi ateis, terus terang, sampai detik ini, nalar sehat saya tidak pernah mampu untuk menerima ajaran itu. Alih-alih terusik dengan gagasan mereka, yang ada malah sebaliknya. Saya seringkali menjumpai kecacatan berpikir dalam alur pemikiran mereka. Kita butuh banyak waktu untuk mengupas kecacatan berpikir itu satu persatu.

Tapi Anda bisa buktikan sendiri. Kalau Anda berjumpa dengan orang Ateis, beri mereka kesempatan untuk membuktikan ketiadaan Tuhan dengan argumen-argumen yang logis. Tanyakan kepada mereka, argumen logis apa yang bisa Anda kemukakan untuk membuktikan bahwa Tuhan itu benar-benar tiada?

Saya berani menjamin, bahwa mereka tidak akan bisa melakukan itu. Mereka hanya akan tampil dengan kecacatan demi kecacatan. Kalau cara berpikirnya saja sudah cacat, bagaimana mungkin saya berani menggadaikan nalar yang sudah sehat? Sebetulnya, kalau saja mereka jujur dengan nalar sehat mereka, tidak ada alasan logis untuk menolak keberadaan Tuhan. Yang ada malah sebaliknya, terlalu banyak alasan logis untuk menerima keberadaan Tuhan. Karena itu, memilih untuk jadi Ateis, hemat saya, sama saja dengan mengorbankan nalar sehat itu sendiri.

Saya mau kasih contoh yang paling sederhana. Anda tahu kue donat? Pasti tahulah. Menurut Anda, kue donat yang terancang sedemikian rapi dan rasanya enak itu ada yang buat atau nggak? Kayanya hanya orang gila yang akan menggelengkan kepala. Di mana-mana orang yang bernalar sehat akan bilang, bahwa kalau ada sesuatu tidak ada, kemudian ada, pastilah di sana ada sebab yang menjadikannya ada.

Bagaimana sekarang kalau ada seorang profesor, ahli sains, sekaligus tokoh ternama yang dikagumi oleh banyak orang, datang ke sebuah supermarket, kemudian bilang sama penjaga kasir, “mba, mohon maaf, menurut saya, donat ini tidak ada yang buat. Dia ada dengan dirinya sendiri.” Kira-kira apa komentar Anda tentang orang itu? Gila! Otak sehatmu dibuang di mana? Bisa-bisanya kamu bilang barang kaya begini menciptakan dirinya sendiri. Ingat loh, ini cuma sekedar donat. Apalagi alam semesta yang terbentang sedemikian luas.

Apa masuk akal kalau dikatakan bahwa alam ini muncul dengan dirinya sendiri? Orang Ateis akan mengiyakan pertanyaan ini. Tapi nalar yang sehat akan tegas menafikan kemungkinan itu. Kita kembali ke donat. Meskipun kita tidak pernah bertemu dengan pembuat donat, nalar yang sehat mengharuskan kita untuk percaya, bahwa donat yang tadinya tidak ada kemudian ada itu sudah pasti ada yang buat. Tidak mungkin dia muncul dengan dirinya sendiri.

“Loh, sebentar, kok Anda bisa-bisanya mempersamakan alam semesta dengan donat sih?” Kita jawab, bahwa kita memang punya alasan yang logis untuk mempersamakan keduanya. Donat, dan semua yang ada di alam semesta ini adalah sesuatu yang berwujud. Mereka berwujud, dan wujud mereka bergantung kepada sesuatu yang lain. Bukankah begitu? Mereka pun sama-sama bisa ada, bisa tiada.

Coba Anda sebutkan apa saja yang ada di alam semesta ini. Lalu Anda tanya kepada akal sehat Anda, apakah dia harus ada? Tidak. Dia tidak harus ada. Apakah dia harus tiada? Nggak juga. Berarti apa? Berarti dia bisa ada, bisa tiada. Dan kalau ada, pastilah di sana ada sebabnya. Sesederhana itu logika orang beriman. Mereka percaya bahwa alam ini diciptakan oleh Tuhan. Karena ia didahului oleh ketiadaan. Maksudnya didahului oleh ketiadaan, alam itu tadinya tidak ada, kemudian ada. Sangat logis dong kalau ada yang bilang bahwa keterlahiran alam itu ada sebabnya?

Orang Ateis menafikan sebab itu. Persis seperti seperti seorang profesor yang memandang donat tadi sebagai sesuatu mengadakan dirinya sendiri. Meski bergelar profesor, tetap saja kita akan memandang jawabannya sebagai jawaban yang gila. Memang ini pikiran yang gila. Dan, sebagai manusia yang bernalar sehat, saya enggan untuk memeluk pikiran gila semacam itu. Akal sehat kita terlalu mahal untuk digadaikan kepada pikiran yang cacat. Inilah salah satu alasan saya kenapa masih teguh pendirian sebagai orang beriman, dan sama sekali tidak tertarik untuk jadi Ateis.     

Alasan selanjutnya, saya melihat bahwa ateisme itu tidak memberikan manfaat apa-apa bagi kehidupan kita. Coba Anda pikirkan baik-baik, apa sih manfaat jadi Ateis itu? Apa manfaat dari pandangan yang menafikan keberadaan Tuhan itu? Apa gunanya kita menafikan keberadaan Tuhan? Bagi saya tidak ada. Orang Ateis mungkin akan bilang, “sains!” Ateisme itu tidak percaya Tuhan, tapi dia percaya kepada sains. Dan Ateisme mengajak orang untuk sungguh-sungguh dalam mendalami sains. Bukankah itu bisa membawa kemajuan?

Baik, mari kita sepakati pernyataan itu. Betul, sains itu bisa membawa manfaat dan kemajuan. Kita sepakat dengan hal itu. Tapi apakah Anda bermaksud untuk mempersamakan sains dengan ateisme? Ingat ya, ilmuwan-ilmuwan yang religius itu banyak. Bahkan mereka lebih banyak ketimbang ilmuwan yang Ateis. Kalau sekiranya sains itu mendorong orang untuk menjadi Ateis, karena dirinya sendiri, niscaya kita tidak akan pernah menemukan orang beriman yang merangkap sebagai ilmuwan. Sains itu ilmu yang membahas tentang fenomena alam. Sementara Ateisme adalah paham yang tidak percaya dengan keberadaan Tuhan. Di mana letak persamaannya, bambang?   

Sains itu tidak mendorong orang untuk menjadi Ateis. Sains itu hanya bertugas menjelaskan fenomena alam. Dia tidak punya urusan, dan tidak punya wewenang, untuk menentukan ada atau tiadanya sesuatu yang berada di luar alam. Mengatakan Tuhan ada, tidak. Mengatakan Tuhan tiada, juga tidak. Begitulah sikap sains yang sesungguhnya. Kenapa bisa begitu? Karena Tuhan bukan bagian dari alam. Sedangkan ruang lingkup kajian sains hanya sebatas membahas tentang gejala-gejala alam. Karena itu, kalau ada orang yang memilih untuk jadi Ateis, dengan alasan sains, maka sesungguhnya dia tidak paham dengan tugas utama dari sains itu sendiri. Itu cuma akal-akalan dia aja untuk menutupi kecacatan nalar berpikirnya.

Kita sepakat bahwa sains bisa membawa manfaat. Tapi bagaimana dengan ateisme? Manfaat apa yang bisa dia berikan kepada peradaban umat manusia? Mungkin akan ada yang menjawab, bahwa dengan ateisme kita bisa hidup lebih bebas, dan tidak terkekang oleh banyak aturan. Lain cerita kalau kita beragama. Agama memiliki banyak aturan. Dan kita menjadi tidak bebas dengan banyaknya aturan-aturan itu.

Sebetulnya, jawaban semacam ini bukan terlahir dari nalar yang sehat, melainkan terlahir dari dorongan hawa nafsu. Ya, yang mereka janjikan ialah kebebasan, tapi isinya hanyalah kerusakan demi kerusakan. Barangkali, kebebasan yang mereka maksud ialah kebebasan melakukan hubungan badan di luar nikah, meminum minuman keras, mengonsumsi obat-obatan, terbebas dari aturan beribadah, bicara semaunya, bertindak sebebas-bebasnya, tidak ada istilah haram, dan pada akhirnya mereka ingin mengajak kita untuk hidup layaknya binatang.

Tuntunan yang diberikan agama justru bertujuan untuk memuliakan dan meninggikan derajat Anda. Agama memberikan aturan demi kemaslahatan hidup umat manusia, bukan untuk mengekang kebebasan mereka. Kita merasa terkekang, karena kita sendiri dikekang oleh hawa nafsu kita. Bukan karena adanya aturan dalam agama. Betul, agama menetapkan sejumlah kewajiban, dan memberlakukan sejumlah larangan. Tapi, kalaupun terasa berat, semua itu tak akan sebanding dan kemaslahatan yang akan kita dapat. Juga tidak akan sebanding dengan kebahagiaan yang Tuhan janjikan di alam akhirat. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda