Menikah Lagi, Bagian dari Sunnah Nabi?

Apa sih yang mendorong seseorang untuk menikah lagi? Jawabannya bisa beragam. Namun, sebab yang paling umum, paling tidak, ada dua. Satu, ketidakpuasan atas pasangan. Dua, dorongan nafsu yang tidak bisa dikendalikan. Kalau ada orang yang menikah lagi dengan alasan mengikuti sunnah nabi, percayalah, bahwa itu cuma akal-akalan dia aja untuk menutupi hasrat hawa nafsunya. Dorongan utamanya tetap hawa nafsu. Agar tidak terlihat, maka dikemaslah dengan bungkus-bungkus agama.

Kalau orang berniat mengikuti tuntunan sunnah nabi, harusnya dia sadar, bahwa kesetiaanpun merupakan bagian dari sunnah nabi. Nabi tidak pernah menikah dengan perempuan lain, selama 25 tahun rumah tangga dengan ibunda Khadijah. Tidakkah ini menunjukkan kesetiaan? Dan bukankah kesetiaan sendiri merupakan bagian dari sunnah nabi? Harap jangan lupa, bahwa kepedulian, tanggungjawab, keadilan, rasa empati, dan kasih sayang juga bagian dari sunnah nabi.

Menghindarkan diri dari hal-hal yang merugikan juga bagian dari sunnah nabi. Pertanyaannya, ketika Anda berniat untuk menikah lagi, kemudian Anda tidak mempedulikan perasaan isteri Anda, mengabaikan kemampuan Anda dalam berlaku adil, dan tidak berempati atas perasaan wanita, belum lagi dengan benih-benih kebencian yang akan muncul dalam tubuh kelurga, apakah Anda meyakini ini sebagai bagian dari sunnah nabi juga?

Pertanyaan saya, nabi yang mana? Nabi Muhammad Saw tidak pernah mengajarkan nilai-nilai semacam itu. Dengan memilih untuk menikah lagi, maka Anda telah memberikan ruang kehancuran untuk keluarga Anda. Perlahan-lahan akan muncul ketidak-harmonisan, kesedihan, bahkan kebencian dan perasaan-perasaan yang mengganggu kenyamanan. Ujung-ujungnya kehidupan rumah tangga yang dibangun sejak lama akan lenyap tak tersisa. Kalaupun masih ada, itu hanya puing-puingnya saja. Apa ini sunnah nabi yang Anda maksud?

Malu. Harusnya kita malu kalau harus membungkus syahwat Anda dengan membawa-bawa kemuliaan sunnah nabi. Bohong kalau Anda ingin mengikuti sunnah nabi. Kalaupun dikatakan mengikuti sunnah, Anda telah mengikuti satu sunnah—itupun dengan pemaknaan yang keliru—dengan mengabaikan banyak sunnah nabi yang lain. Asal Anda tahu, banyak orang yang kehidupan rumah tangganya berantakan, anaknya terbengkalai, pendidikannya tidak terurus, rumah tangga anaknya jadi tidak jelas, sengketa setiap hari, gara-gara keinginan sang kepala keluarga untuk menikah lagi itu.

Sebagai Muslim, saya tidak bermaksud untuk mengharamkan poligami. Betapapun, poligami itu dibolehkan. Saya tidak mengingkari kebolehan itu. Tapi untuk siapa, dalam keadaan seperti apa, lalu Anda sendiri mampu atau tidak? Kalau Anda sendiri tidak mampu berlaku adil, tidak mempertimbangkan resiko baik dan buruknya, padahal Anda sudah punya isteri yang layak, lalu menikah hanya karena ingin menuruti hawa nafsu belaka, itu namanya bukan sunnah nabi. Lalu apa? Ya itu namanya pelampiasan syahwat. Halal nggak? Ya halal. Tapi ingat, menghindarkan diri dan keluarga dari kemungkinan-kemungkinan buruk itu jauh lebih baik ketimbang Anda menuruti hawa nafsu Anda sendiri.  

Harusnya, sebagai orang dewasa, Anda belajar mengendalikan syahwat itu, dengan mencukupkan diri pada isteri yang pertama. Selama dia sudah menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Kalaupun tidak, selama masih bisa bertahan, ya pertahankan saja. Karena kesetiaan dan kesabaran itu juga bagian dari sunnah nabi. Bukan malah menurutinya, sambil membawa-bawa sunnah nabi. Sungguh, saya tidak bisa menahan malu, ketika ada orang yang ingin melampiaskan nafsu, lalu dia tutup-tutupi pelampiasan itu dengan membawa-bawa sunnah nabi.

Anda pelajari dong, nabi itu poligami dengan siapa, dan motifnya apa. Jangan cuma lihat banyak isterinya aja. Nabi tidak menikahi perempuan, kecuali setelah mendapatkan wahyu dari Allah, dan demi kemaslahatan dakwah Islam. Artinya nabi tidak menikah untuk kepentingan dirinya sendiri. Lalu Anda? Anda menikah untuk kemaslahatan siapa? Untuk kemasalahatan hawa nafsu Anda, yang tidak mampu Anda kendalikan itu. Pada dasarnya, orang-orang yang poligami dengan dorongan nafsu itu adalah orang-orang yang lemah. Mereka adalah manusia-manusia yang tidak puas dengan pemberian Allah Swt.  

Mereka tidak berpikir apa dampak negatif dari pilihan itu. Ingat, Anda punya anak yang sudah menjadikan Anda sebagai teladan hidup. Pilihan hidup Anda akan ditiru oleh anak-anak Anda sendiri. Dengan menikah lagi, apakah Anda merasa telah memberikan keteladanan yang baik untuk anak keturunan Anda? Kalau anak Anda dipoligami, atau melakukan poligami, kemudian rumah tangganya berantakkan, apakah Anda rela dengan kenyataan itu? Kalau poligami itu ternyata dapat melahirkan dampak negatif, dan melahirkan kebencian di dalam rumah tangga, apa Anda masih bersikukukh memandang poligami sebagai sunnah nabi?

Dan apakah Anda tidak malu dengan pandangan itu? Sekali lagi, kita tidak ingin mengharamkan poligami. Kita hanya ingin agar para lelaki merujuk pada akal sehat dan nuraninya masing-masing. Poligami itu bisa memberikan dampak buruk. Ketika agama membolehkan, dia tidak dibolehkan kecuali dalam keadaan darurat, yang dilatari oleh alasan-alasan yang masuk akal. Jadi poligami itu bukan ajang pelampiasan nafsu. Tapi dia hanyalah salah satu tawaran solusi manakala problem kehidupan rumah tangga Anda mengalami jalan buntu.

Ketika isteri Anda sudah mampu melayani Anda dengan baik, taat kepada Anda sebagaimana mestinya, tidak selingkuh dengan pria lain, dan dia mampu melayani Anda dengan baik, kemudian Anda memilih untuk berpoligami, harusnya Anda malu, kalau memandang perbuatan itu sebagai sunnah nabi. Nabi mengajarkan kesetiaan, rasa empati dan kasih sayang. Nabi tidak suka dengan kebencian, dan sudah pasti akan menganjurkan umatnya untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk.

Masihkah Anda memandang poligami sebagai sebuah kesunnahan, padahal dia tidak lebih dari sekedar pelampiasan nafsu belaka? Apa Anda tidak merasa sayang kepada isteri Anda? Apa Anda tega melihat hatinya terluka? Apa Anda tidak peduli dengan masa depan rumah tangga anak-anak Anda? Apa Anda tidak malu dengan nabi, yang namanya Anda bawa-bawa demi melampiaskan hawa nafsu Anda sendiri. Kalau mau melampiaskan nafsu, dengan cara yang halal, silakan. Itu pilihan Anda.

Tapi ingat, pilihan yang terlahir dari dorongan hawa nafsu, seringkali melahirkan keburukan demi keburukan. Dan ini sudah terbukti. Banyak orang yang keluarganya hancur gara-gara hasrat ingin menikah lagi itu. Saya masih ingat dengan nasihat Syekh Yusri, bahwa untuk zaman sekarang, yang dianjurkan itu hidup monogomi (hidup dengan satu pasagan), bukan poligami. Karena poligami, khususnya di zaman sekarang, dapat menimbulkan dampak-dampak yang buruk.

Anda harus ingat, bahwa nabi senantiasa menghindari hal-hal yang buruk. Kalau terbukti bahwa poligami itu dapat berdampak buruk, seharusnya Anda ikuti sunnah nabi itu. Dengan cara menahan diri, dan cukup dengan satu isteri. Saya sudah merasa cukup dengan satu isteri. Tapi kita tidak bisa menolak satu fakta, bahwa di luar sana ada orang-orang yang menjadi budak dari hawa nafsunya sendiri. Barangkali, para pelaku poligami adalah bagian dari mereka-mereka itu. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.

Bagikan di akun sosial media anda