Cinta Dunia, Untuk Apa?

Beberapa hari yang lalu saya sempat bersilaturahim ke kediaman salah seorang guru saya. Tak begitu lama kami melangsungkan pembicaraan. Namun, kendati singkat, guru saya menyampaikan satu pesan penting. Di tengah obrolan beliau bilang, “Saya ini”, tuturnya, “sudah tidak memikirkan dunia lagi. Yang saya pikirkan sekarang hanyalah bekal saya di akhirat nanti.” Sebagai orang yang sudah sepuh, guru saya—semoga Allah memanjangkan usianya—barangkali sadar betul, bahwa dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Dan persinggahan yang sesungguhnya hanya ada di alam sana.

Menimpali nasihat tersebut, saya bilang kepada beliau, “saya sendiri, pak”, kata saya, “meskipun masih muda, sekarang saya sudah memikirkan itu. Memang saya masih muda. Tapi terus terang, ingat akan kematian itu bisa menjadi motivasi terbesar bagi saya untuk konsisten dalam berbuat baik.” Salah satunya tentu dalam berkarya. Saya sadar bahwa pada waktunya saya akan mati. Tapi apa yang bisa saya tinggalkan? Ya ilmu. Mewariskan ilmu, dalam hemat saya, jauh lebih mulia ketimbang mewariskan tumpukan harta.

Pandangan semacam ini terlahir dari penghayatan saya akan agama saya sendiri. Agamalah yang senantiasa mengingkatkan, bahwa kelak kita akan meninggalkan dunia ini. Dunia ini hanya sementara. Dan dunia ini tak lebih dari sekedar senda gurau belaka. Karena akan ditinggalkan, maka dunia sebenarnya tidak perlu dikejar. Maksud tidak dikejar bukan berarti kita bertapa dalam masjid tiap hari, sampai lupa dengan pekerjaan. Lalu setelah itu memasrahkan nasib sepenuhnya kepada Tuhan.

Maksudnya ialah, dunia tidak perlu dikejar dengan hati. Dan sebisa mungkin kita tidak memberi dia ruang untuk masuk ke dalam hati. Dia cukup dicari, dan diperoleh, oleh tenaga dan fisik kita, sebagai bagian dari penghambaan kita kepada Allah Swt. Tapi tidak harus masuk ke dalam relung terdalam dari sisi batin kita; hati kita, jiwa kita. Karena kalau dunia sudah masuk ke dalam hati, maka keburukan demi keburukan akan mudah terjadi.

Malapetaka kemanusiaan yang terjadi sepanjang sejarah hampir semuanya disebabkan oleh rasa cinta yang berlebih kepada dunia. Harta, kedudukan, popularitas, pasangan, tanah, kekayaan, dan lain semacamnya, adalah hal-hal yang selama ini sering kita perebutkan itu. Dan semua itu bisa dijadikan bahan sengketa dan pertengkaran manakala mereka sudah menyelimuti hati dan perasaan. Sifat-sifat tidak terpuji seperti kikir, tamak, iri, dendam, tidak puas dengan ketetapan Tuhan, dan sejenisnya juga muncul dari rasa cinta berlebih kepada dunia itu.

Nafsu mendorong kita untuk cinta kepada dunia. Lalu agama datang untuk mendidik dan mengendalikan hawa nafsu itu. Kalau dibiarkan tanpa dididik, maka kita akan hidup layaknya binatang. Agama bilang, kamu boleh memiliki dunia. Bahkan kalau perlu raihlah sebanyak-banyaknya. Tapi jangan sampai dia masuk ke dalam hati kamu. Karena kalau sudah masuk, kamu sendiri yang akan menanggung resiko buruknya. Dan aku tidak mau itu. Aku ingin kamu bahagia dengan dunia itu. Baik sekarang maupun di masa yang akan datang.

Ketika Anda dikarunia kelebihan harta, ingat, harta itu hanyalah titipan, bukan barang yang bisa Anda gunakan sesuai dengan kemauan. Barangkali Allah memberi kita harta lebih karena di baliknya ada titipan untuk orang-orang yang tidak mampu. Jangan ditelan semua. Sisihkan, walau sedikit, untuk orang-orang yang membutuhkan bantuan. Dengan begitu, Anda akan terhindar dari perasaan tamak, yang kalau saja ia bercokol di dalam hati, maka Anda akan menelan akibat buruknya sendiri.

Untuk apa sih kita mencintai sesuatu yang akan hilang? Tatap semua kekayaan dan harta kepemilikan Anda, dengan segala bentuknya. Lalu bayangkan kalau di keesokan hari Anda terkubur di bawah tanah. Adakah yang Anda nikmati dari semua harya kekayaan itu? Adakah yang Anda bawa? Dan adakah orang-orang yang mengeluk-elukkan nama Anda, dengan harta yang Anda tinggalkan, ketika ajal sudah datang menjemput Anda? Apa sih yang tersisa dari itu semua? Tidak ada. Semuanya hilang. Dan semuanya akan kita tinggalkan, untuk menjemput keabadiaan yang Tuhan janjikan.  

Selama ini kita telah banyak memikirkan hal-hal yang tidak berguna. Dunia dipikirkan, sementara kita tahu bahwa kelak dia akan berakhir dengan kemusnahan. Yang seharusnya layak dipikirkan ialah akhirat. Dunia itu harusnya dijadikan sebagai jalan untuk menjemput kenikmatan abadi. Dan itu tidak ada sekarang, melainkan Tuhan janjikan di masa yang akan datang. Saya kadang merasa aneh dengan orang-orang yang saban hari, pikiran dan hatinya hanya disibukkan dengan urusan dunia itu.

Kalau dunia itu dijadikan jalan untuk ibadah, memberikan manfaat kepada banyak orang, itu bagus. Karena pada dasarnya, dengan motif semacam itu, Anda tidak sedang mengejar dunia untuk dunia. Tapi Anda sedang mengejar akhirat dengan menjadikan dunia sebagai perantara. Yang kadang membuat kita miris itu justru orang-orang yang tahu bahwa dunia itu akan berakhir, dan kenikmatannya bersifat sementara. Tapi meski begitu dia kejar habis-habisan. Ketika sudah dapat, dia simpan dunia itu rapat-rapat.

Lebih miris lagi kalau ada orang bertengkar keras karena urusan dunia. Bertengkar gara-gara urusan uang, kendaraan, tempat tinggal, tanah, jabatan, dan lain-lain. Ingat, kalau besok mati, Anda tidak akan membawa semua itu. Yang akan Anda bahwa hanyalah amal kebaikan Anda. Yang tidak terhitung sebagai amal saleh, akan terbuang secara sia-sia. Memang nikmat sih punya dunia itu. Tapi itu sementara. Ketika apa yang diharapkan terwujud, kenikmatan itu akan hilang dengan sendirinya. Bahkan seringkali berujung dengan perasaan bosan.

Pada waktunya, setiap manusia akan memiliki titik jenuh. Kalau Anda mengira bahwa orang-orang yang berlimpah harta dan jabatan itu bahagia, karena harta yang mereka miliki, percayalah, bahwa tanpa keimanan yang kokoh, pada akhirnya mereka akan jenuh dengan semua itu. Hati mereka akan kering, dan ketika itulah mereka akan terus merasa kurang dan kurang. Hasrat duniawi tidak akan memiliki akhir. Sementara kehidupan kita sudah pasti akan berkahir. Lantas mana yang mau kita pilih, dunia yang sudah pasti berakhir, atau alam akhir yang berisikan kenikmatan tiada akhir? 

Bagikan di akun sosial media anda