Apa yang Diduga sebagai Sebab-Akibat Tidaklah Bersifat Pasti

Setiap hari kita bisa menyaksikan pisau yang bisa memotong, air yang bisa menghilangkan rasa haus, api yang bisa membakar, dan makanan yang bisa melahirkan rasa kenyang. Kemudian kita katakan bahwa yang satu adalah sebab bagi yang lain. Pisau menjadi sebab di balik terpotongnya sesuatu. Api menjadi sebab di balik lahirnya keterbakaran. Makanan menjadi sebab bagi hilangnya lapar, obat menjadi sebab bagi hilangnya penyakit, dan seterusnya.

Namun, pada kenyataannya, ada juga orang yang tangannya dipotong menggunakan pisau, tapi tidak terluka sama sekali. Ada orang yang dipukul tapi tidak merasa sakit. Ada orang sakit, dan meminum obat, tapi sakitnya tidak kunjung sembuh. Bahkan sebaliknya. Ada orang yang tidak mengonsumsi obat, padahal dia sakit, tapi penyakitnya bisa sembuh dengan cara-cara yang lain. Semua itu bisa kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari.

Menurut kebiasaan yang berlaku, api memang selalu membakar. Obat dapat menyembuhkan. Dan makanan bisa melahirkan rasa kenyang. Tapi, pada kenyataannya, kita juga menyaksikan “pengecualian-pengecualian” itu tadi. Ada orang-orang yang ketika badannya didekatkan dengan api, ternyata api itu tidak membakar. Sebagai pembaca al-Quran, tentunya Anda tahu kisah nabi Ibrahim yang diabadikan di dalam kitab suci umat Islam itu.

Alih-alih menghanguskan, api yang menyentuh jasad nabi Ibrahim itu justru melahirkan rasa dingin, atas dasar perintah Tuhan (Q. 21: 69). Jadi, kalau ada pertanyaan, apakah yang kita duga sebagai hubungan sebab-akibat itu bersifat pasti? Maka, menurut mazhab Ahlussunnah, jawabannya adalah tidak. Allah bisa saja menjadikan api tidak membakar, makanan tidak melahirkan rasa kenyang, dan senjata tajam seperti pisau tidak bisa memotong tangan.

Semua itu dimungkinkan terjadinya secara akal. Kalaupun dikatakan mustahil, itu hanya mustahil menurut kebiasaan, bukan mustahil menurut akal. Dan apa yang mustahil menurut kebiasaan itu mungkin menurut akal. Kenapa hubungan antara apa yang diduga sebagai sebab dan akibat itu tidak bersifat pasti? Karena mereka bukanlah makhluk-makhluk yang bisa memberikan pengaruh karena diri mereka sendiri, dan dengan kekuatan yang mereka miliki sendiri. Mereka adalah makhluk-makhluk yang senantiasa bergantung pada sesuatu yang lain.   

Hanya saja, berdasarkan kebiasaan yang ada—sekali lagi berdasarkan kebiasaan—di mana-mana api itu memang bisa membakar. Makanan bisa melahirkan rasa kenyang. Dan senjata tajam juga bisa memotong tangan. Saya menyebutkan ketiga hal ini sebagai contoh saja. Di luar sana tentunya banyak sekali kejadian-kejadian yang kita yakini terlahir dari adanya hubungan sebab dengan akibat.

Tapi, sekali lagi kita tekankan bahwa, apa yang kita duga sebagai sebab dan akibat itu hanya berdasarkan kebiasaan saja. Akal kita tidak memandang semua hubungan itu sebagai hubungan yang pasti. Ya, hubungan sebab dan akibatnya itu sendiri memang bersifat pasti. Di mana ada akibat, maka pastilah di sana ada sebab. Dan sesuatu tidak mungkin disebut sebagai sebab, kecuali di sana memang ada akibat. Ini hukum akal yang bersifat pasti.

Tapi bukan itu yang kita maksudkan di sini. Yang kita maksudkan di sini ialah apa yang diduga sebagai sebab bagi sesuatu, dan akibat dari sesuatu, seperti contoh-contoh yang saya sebutkan tadi itu. Api diduga menjadi sebab bagi lahirnya kebakaran. Makanan diduga sebagai sebab bagi lahirnya perasan kenyang. Pisau diduga sebagai sebab bagi keterpotongan sebuah barang, dan begitu seterusnya.

Ini semua adalah hubungan yang kita duga sebagai sebab dan akibat. Apakah hubungan mereka itu bersifat pasti? Tidak. Karena kalau bersifat pasti, niscaya kita tidak akan menyaksikan “pengecualian-pengecualian” tadi itu. Ketika api membakar, maka kita percaya—dan kepercayaan ini tidak bertentangan dengan akal sehat—bahwa di sana ada kekuatan lain yang menjadi sebab utama di balik keterbakaran sesuatu yang dibakar oleh api itu, yaitu Allah Swt, dengan kekuasaan yang dimiliki-Nya.

Ketika kita memotong sesuatu dengan pisau, kita percaya bahwa pisau itu tidak memotong dengan kekuatan dirinya sendiri. Karena kalau dia memotong dengan kekuatan dirinya sendiri, maka niscaya, setiap kali pisau itu digesekkan dengan sesuatu—katakanlah tangan misalnya—maka dia akan melahirkan dampak bagi sesuatu itu. Tapi nyatanya tidak selamanya begitu. Ada orang yang dipotong, tapi tangannya tidak terluka sama sekali. Itu sebagai bukti kecil, bahwa pisau tidak memberikan dampak karena dirinya sendiri, tetapi dia bergantung pada sesuatu yang lain, yaitu Allah Swt dengan kekuasaan yang dimiliki-Nya.

Inilah pandangan yang diterima secara luas oleh para ulama Ahlussunnah. Bahwa apa yang diduga sebagai sebab akibat itu bukan sesuatu yang bersifat pasti. Karena yang memberikan dampak sesungguhnya (al-Muattsir al-Haqîqi) hanyalah Allah Swt. Kalau kita meyakini bahwa masing-masing dari barang-barang yang kita sebutkan itu sebagai sesuatu yang memberikan dampak karena dirinya sendiri, lalu kita menafikan kekuasaan Allah, maka jelas yang mengimani pandangan ini sudah keluar dari lingkaran orang-orang beriman.  

Ketika Anda mendekatkan api dengan secarik kertas, kemudian terbakarlah kertas itu, akal kita akan meniscayakan keberadaan sebab. Dan kita menduga bahwa yang menjadi sebab itu adalah api. Apakah kita mengingkari status api sebagai sebab itu? Tidak, sama sekali tidak. Tapi, yang harus segera dicatat ialah, api yang kita katakan sebagai sebab itu hanya sebab secara lahiriah saja. Adapun pada hakikatnya, api itu tidak bisa memberikan dampak dengan dirinya sendiri. Sebab, sekali lagi, kalau api memberikan dampak dengan dirinya sendiri, niscaya dia akan mampu membakar selama-lamanya. Tapi nyatanya tidak begitu.

Sekarang kita hidup di masa pandemi. Banyak orang yang meninggal karena covid. Tapi Anda juga harus ingat, bahwa banyak juga orang terkena covid tapi dia tidak mati. Sebagai bukti bahwa covid tidaklah memberikan dampak karena dirinya sendiri. Kalau Anda penganut ajaran Sunni sejati, Anda tidak akan memandang Covid itu sebagai virus yang bisa memberikan dampak karena dirinya sendiri. Ya, saya boleh menyebut covid itu sebagai sebab. Tapi, sekali lagi, itu hanya sebab lahiriah saja. Bukan sebab dalam arti yang sesungguhnya. Yakni sebagai pencipta sesuatu yang tadinya tidak ada kemudian ada. Dan pandangan ini sejujurnya tidak bertentangan dengan sains sama sekali.

Karena sains sebenarnya hanya menjelaskan tentang sebab-sebab lahiriah saja. Dan kita tidak menolak itu. Sains mengatakan bahwa ini adalah sebab bagi ini, ini sebab bagi ini, itu menjadi sebab bagi ini, dan begitu seterusnya. Sebagai orang beriman, kitapun tidak menolak pandangan itu. Tapi apakah kenyataan tersebut dengan serta merta menafikan adanya sebab lain, yang bukan bagian dari alam? Sains tidak bisa berkata iya ataupun tidak. Karena, selama sebab itu bukan bagian dari alam, maka dia tidak punya otoritas untuk menetapkan keberadaan, maupun menafikan keberadaannya. Tapi agama dan filsafat memungkinkan—kalau enggan berkata mengharuskan—adanya sebab utama itu.    

Dengan keyakinan semacam ini, maka kita akan memandang mukjizat sebagai sesuatu yang mungkin terjadi. Dan memang akal kita pun memungkinkan hal itu terjadi. Sebagai kejadian yang luar biasa (khâriq lil ‘âdah), mukjizat bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan akal sehat kita. Dia hanya bertentangan dengan kebiasaan, tapi tidak bertentangan dengan hukum-hukum akal. Akal kita memungkinakan terjadinya kejadian-kejadian luar biasa itu. Apapun yang kita duga sebagai sebab dan akibat, itu hanya berdasarkan kebiasaan saja. Kebiasaanlah yang membuktikan kepada kita bahwa api itu bisa membakar, air itu bisa menghilangkan rasa haus, pisau itu bisa memotong, covid itu menyebabkan kematian, dan lain sebagainya.

Tapi apakah akal kita memastikan adanya hubungan antara kejadian-kejadian itu, sehingga kalau ada api, maka sudah pasti akan terjadi kebakaran, misalnya? Sama sekali tidak. Akal kita akan selalu memungkinkan terjadinya sesuatu yang berada di luar kebiasaan. Karena segala sesuatu hanya bisa terjadinya dengan adanya kekuasaan Tuhan. Dan keyakinan yang memandang kuasa Tuhan sebagai sebab utama tidaklah bertentangan dengan pandangan kita yang menyebut sesuatu tertentu sebagai sebab bagi sesuatu yang lainnya. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.

Bagikan di akun sosial media anda