Tarjih Bila Murajjih

Untuk memahami istilah ini, mari kita bayangkan sebuah timbangan yang memiliki dua sisi. Dan dua sisi dari timbangan itu berada dalam posisi yang setara. Yang satu tidak lebih berat dari yang lain. Sisi yang satu kita simbolkan dengan huruf A, dan sisi yang lainnya kita simbolkan dengan huruf B. A dan B berada dalam posisi setara. Namun, lima menit kemudian, sisi yang A menjadi lebih berat dari yang B. Yang A turun ke bawah, sementara yang B tetap dalam posisi semula.

Pertanyaannya, adakah sebab di balik itu? Dengan akal yang sehat, kita pasti akan berkata iya. Tidak mungkin kedua sisi timbangan yang tadinya bersifat setara, kemudian yang satu menjadi lebih berat dari yang lain, tanpa adanya sebab yang menjadi pemberat itu sendiri. Inilah yang disebut dengan istilah tarjîh bila murajjih itu. Secara kebahasaan, kata tarjîh itu bermakna “pemberatan” atau “penguatan”. Bila artinya “tanpa.” Murajjih artinya “pemberat”, atau “penguat.”

Dengan demikian, secara harfiah, istilah tarjîh bila murajjih dapat kita artikan sebagai “pemberatan tanpa adanya pemberat”, atau “penguatan tanpa adanya penguat”. Apakah ini mungkin terjadi? Akal yang sehat akan sulit mengiyakan pertanyaan ini. Ini jelas mustahil. Ketika ada dua sisi yang tadinya setara, kemudian yang satu menjadi terberatkan dari yang lainnya, maka akal sehat kita akan menuntut adanya sebab. Apa sebab di balik terberatkannya sisi yang satu dari sisi yang lainnya itu?

Sekarang mari kita bayangkan alam semesta ini sebagai sesuatu yang memiliki kedua sisi itu tadi. Sisi keadaan dan sisi ketiadaan. Kita katakan bahwa alam semesta itu memilik kedua sisi tersebut, karena alam itu bisa jadi ada, bisa jadi tiada. Dia mungkin ada, juga mungkin tiada. Dikatakan harus ada, tidak. Dikatakan harus tiada, juga tidak. Lalu apa? Ya dia bisa ada, bisa tiada. Ya, sekarang alam semesta ini sudah ada. Tapi, sebelum dia ada, keadaan dan ketiadaannya bersifat setara.

Alam semesta ini mungkin ada, mungkin tiada. Kita bisa bayangkan keadaan dan ketiadaan itu seperti dua sisi timbangan tadi. Lalu, manakala sisi keadaan ini terberatkan dari ketiadaan, sehingga alam menjadi ada, maka pastilah, menurut akal yang sehat, di sana ada sebab yang menjadikannya ada. Tapi apa yang menjadi sebab itu? Tidak mungkin yang menjadi sebab itu adalah dirinya sendiri. Karena, lagi-lagi, menurut akal yang sehat, sesuatu tidak mungkin menjadi sebab, tapi dalam saat yang sama dia juga menjadi akibat.

Apa mungkin, misalnya, saya menjadi sebab bagi kelahiran diri saya sendiri? Kalau sekarang Anda duduk di hadapan televisi, apa mungkin televisi yang di hadapan Anda itu juga menjadi sebab bagi dirinya sendiri? Tentu saja tidak. Tidak ada cerita sesuatu yang menjadi sebab bagi dirinya sendiri. Yang ada ialah, segala sesuatu yang tadianya tidak ada kemudian ada itu disebabkan oleh sesuatu yang lain. Ini yang masuk akal. Karena keberadaan alam semesta ini butuh kepada sebab, sementara dia tidak bisa menjadi sebab bagi dirinya sendiri, maka pastilah sebab itu berupa wujud lain selain alam semesta.

Agama mengatakan bahwa wujud yang menjadi sebab di balik keberadaan alam semesta ini ialah Tuhan. Mungkin ada yang bertanya, tapi kan Tuhan tidak bisa dilihat dan dibuktikan dengan mata telanjang? Ya, tapi akal kita mengharuskan keberadaannya. Indra kita tidak bisa menangkap. Tapi akal kita mampu memastikan keberadaannya. Karena kalau tidak, maka itu artinya kita akan mengamini terjadinya sesuatu yang menjadi sebab bagi dirinya sendiri. Dan itu mustahil. Akal sehat kita sulit sekali menerima pandangan itu.

Lagipula, kalaupun Tuhan itu tidak bisa dilihat oleh pancaindera, kita harus sadar bahwa sesuatu yang tidak bisa terawang oleh pancaindera itu bukan berarti tidak ada. Anggaplah Anda bersikukuh bahwa sesuatu baru bisa dikatakan ada kalau bisa dibuktikan keberadaannya melalui pancaindera. Pernyataannya, apakah Anda bisa membuktikan keberadaan pikiran Anda, yang mengingkari keberadaan Tuhan itu, dengan pancaindera juga? Tidak bisa. Tapi bukankah Anda meyakini keberadaanya? Pancaindera hanyalah salah satu sumber pengetahuan, tapi bukan satu-satunya.

Tuhan adalah wujud yang metafisik (berada “di balik” alam fisik). Karena itu, untuk membuktikannya, kita tidak bisa bersandar pada pancaindera yang jangkauannya hanya terbatas pada alam fisik. Yang metafisik harus dibuktikan melalui hukum metafisik. Yang dalam hal ini ialah hukum kausalitas (hukum sebab-akibat). Pernahkah Anda melihat makhluk bernama sebab-akibat? Tidak pernah. Hukum sebab-akibat itu tidak bisa dibuktikan keberadaannya oleh pancaindera dan mata telanjang kita. Tapi dia diakui keberadaannya oleh akal kita. Dengan demikian, hukum sebab-akibat adalah hukum metafisik, yang bisa kita gunakan untuk membuktikan keberadaan Tuhan, yang juga bersifat metafisik.

Hukum kausalitas menyatakan, bahwa segala akibat, pastilah bergantung pada sebab. Segala sesuatu yang tadinya tidak ada, kemudian ada, maka pastilah ada sebab yang menjadikannya ada. Alam ini adalah akibat. Dan karena itu ia pasti bergantung pada sebuah sebab. Tuhan lah yang menjadi sebab itu. Kalau Anda mengatakan alam ini tiba-tiba ada dengan sendirinya, tanpa ada sebab apa-apa, maka itulah yang disebut dengan istilah tarjîh bila murajjih (pemberatan tanpa adanya pemberat). Anda memberatkan sisi keadaan, tapi Anda sendiri mengingkarinya adanya sebab di balik pemberatan itu. Ketika itu, Anda telah menyalahi nalar sehat Anda. Dan agama datang sebagai penyalamat. Dengan mengatakan bahwa alam semesta ini memang dicipta. Dan pencipta itu ialah Allah Swt. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda