Masihkah Anda Mengharapkan Kekayaan?

Hampir sebagian besar orang, kalau ditanya apakah mau jadi orang kaya atau tidak, kemungkinan besar mereka akan segera menganggukkan kepala. Bahkan penganggukkan itu mungkin dilakukan dengan penuh semangat. “Ya, aku mau jadi orang kaya!”

Pertanyaan selanjutnya akan segera muncul, “kenapa Anda mau jadi orang kaya?” Di sini, mereka akan mengajukan jawaban yang berbeda-beda. Yang punya kecintaan berlebih terhadap dunia akan menjawab, “karena dengan kekayaan aku bisa bersenang-senang, dan membeli semua hal yang aku inginkan.”

Kekayaan, bagi kelompok pertama ini, dapat menjadi pemuas keinginan. Tak pelak lagi, manakala keinginan terwujud, orang akan merasakan kesenangan. Meskipun kesenangan itu seringkali berujung dengan kebosanan.

Yang punya jiwa sosial tinggi akan mengajukan jawaban berbeda lagi. Kemungkinan besar dia akan menjawab, “aku ingin jadi orang kaya, karena dengan kekayaan, aku bisa membantu banyak orang. Bisa membangun sekolah, masjid, rumah sakit, perusahaan-perusahaan, dan aku bisa memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat manusia.”

Orang-orang semacam ini memang ada. Tapi, masalahnya, ketika diberikan kekayaan, mereka-mereka ini kadang berbalik arah. Yang tadinya berniat membantu dan berbagi malah menimbun harta kekayaan untuk kepentingan dirinya sendiri. Diakui atau tidak, orang-orang seperti ini memang ada. Jika Anda merupakan salah satu di antara mereka, dan Anda tidak merasa malu, berarti ada yang tidak beres dengan kepribadian Anda.

Kalau tiba-tiba Tuhan melenyapkan kekayaan itu, lalu membuat Anda tiba-tiba terpuruk, Anda jangan salahkan siapa-siapa. Salahkan diri Anda sendiri, yang tidak mampu mensyukuri kekayaan itu dengan baik. Dan kisah orang-orang semacam ini juga ada dalam dunia keseharian kita. Ketika miskin dia ingat Tuhan, tapi ketika diberikan keluasan harta dia hanya mengingat kepentingan dirinya sendiri.

Karena mungkin kekayaan itu buruk bagi dirinya, maka dicabutlah kekayaan itu. Dan dikembalikanlah dia seperti sedia kala. Mending kalau cuma kekayaannya yang diambil. Kadang orang-orang semacam ini mendapatkan “kutukan langit”, dan hidup miskin semiskin-miskinnya. Gara-gara dia lupa dengan janji-janjinya sendiri.

Saya yakin, tak akan ada orang yang ingin mengalami hal itu. Tapi, kalaupun terjadi, kesalahan itu tentunya berpulang pada orangnya. Dan sangat masuk akal jika Tuhan kembali mencabut kekayaan itu, apalagi jika pilihan itu benar-benar maslahat untuk dirinya.

Sekarang, kalau Anda diberikan tawaran kembali, apakah Anda mau jadi orang kaya, kira-kira apa jawaban Anda? Sebelum dijawab, Anda harus ingat, bahwa di dunia ini ada orang-orang yang kemaslahatan dirinya ada dalam kekayaan. Tapi ada juga orang-orang yang kemaslahatan dirinya ada dalam keterbatasan (untuk tidak menyebut kemiskinan).

Ada orang-orang yang ketika diberikan kekayaan, dia tetap ingat kepada Tuhannya, dan rajin mengulurkan tangan kepada hamba-hamba-Nya yang lain. Ya, orang-orang seperti ini ada. Dan inilah yang kita maksud dengan kelompok pertama tadi itu. Yakni orang-orang yang kemaslahatan dirinya ada dalam kekayaan.

Juga, ada orang-orang yang ketika ditakdirkan hidup terbatas, justru keterbatasannya itulah yang menjadikannya sebagai orang yang baik dan taat. Dan inilah yang kita maksud dengan kelompok kedua tadi. Yakni orang-orang yang kemaslahatan dirinya ada dalam keterbatasan.

Tapi, kebalikan dari dua kelompok ini juga ada, kalau enggan berkata banyak. Dikasih kekayaan malah lupa. Dikasih keterbatasan malah tidak bersyukur. Jadi, masing-masing dari keterbatasan dan kekayaan itu sebenarnya bisa membuah masalahat sekaligus mafsadat. Tergantung siapa penerimanya.

Masalahnya, kita ini termasuk yang mana? Nafsu kita akan segera menjawab, “aku! Aku bisa memikul kekayaan itu. Kalau aku diberikan kekayaan, aku akan melakukan ini, itu dan ini.” Padahal kita sendiri tidak bisa menjamin kalau kita bisa menunaikan janji itu. Fakta yang terlihat justru sebaliknya. Ketika diberikan harta, orang seringkali menjadi lupa. Kecuali kalau yang bersangkutan memiliki keimanan yang kuat.

Tapi kalau iman sudah lemah, kekayaan pun pada akhirnya seringkali menjadi fitnah, yang bisa memalingkan kita dari jalan kebaikan. Mari kita jujur dengan diri kita masing-masing, bahwa kita tidak pernah tahu apa yang maslahat untuk diri kita sendiri. Betapapun kita yakin bahwa kekayaan itu maslahat untuk diri kita, pada akhirnya kita tidak bisa memberikan jaminan yang pasti.

Siapa tahu, kekayaan itu justru bisa berakibat buruk bagi kehidupan kita. Ya, kita tidak menginginkan hal itu. Tapi, hawa nafsu yang tak terkendali seringkali menjerumuskan manusia pada jurang penyesalan yang tidak dia sukai. Sebagaimana Anda tidak tahu apakah kekayaan itu maslahat bagi Anda atau tidak, Anda juga tidak tahu pasti, apakah kemiskinan dan keterbatasan itu maslahat untuk Anda atau tidak.

Sekian banyak orang yang hidup miskin, tapi dia selalu mengeluh kepada Tuhannya. Dan keluhan itupun pada akhirnya menjadi sebab bagi kesengsaraan kehidupannya. Jadi, mau jadi miskin ataupun jadi orang kaya, sebenarnya kita sama-sama punya potensi untung dan celaka. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Jadi kaya belum tentu membuat Anda bahagia. Jadi miskin juga belum tentu membuat Anda sengsara.

Lantas, bagaimana seharusnya kita berharap? Sebenarnya itu terserah Anda. Anda berharap jadi orang kaya, boleh. Memimpikan apapun hukumnya boleh. Dalam kondisi tertentu, impian semacam itu bahkan boleh jadi harus. Tapi, ada pilihan yang jauh lebih selamat ketimbang harapan itu. Serahkan semuanya kepada Allah. Karena Dialah yang lebih tahu apa yang masalahat untuk kita dan mana yang tidak.

Apa sih artinya kekayaan, kalau dia dapat menyengsarakan kita di hari kemudian? Apa sih artinya kekayaan, kalau dia sendiri tidak menjamin kebahagiaan dan ketenangan? Kaya atau tidaknya seseorang itu sebenarnya tidak ditentukan oleh harta, tapi ditentukan dengan kepuasan dia dengan apa yang dia terima dari Tuhannya. Orang yang punya kekayaan 50 milyar, kalau dalam hatinya masih bercokol banyak keinginan, pada hakikatnya dia adalah orang fakir. Karena dia senantiasa butuh kepada sesuatu.

Tapi orang yang berpenghasilan terbatas, kalau dia menyikapi keterbatasan itu dengan rasa puas, sambil terus meningkatkan upaya, pada hakikatnya dialah orang kaya yang akan mudah mendapatkan kebahagiaan itu. Mungkin ada yang bertanya, kalau kita menyerahkan segala putusannya kepada Allah, apakah itu artinya kita tidak boleh bermimpi jadi orang kaya, dan kita tidak diperbolehkan, atau tidak dianjurkan, untuk mewujudkan impian itu? Sebenarnya nggak gitu juga.

Orang bisa saja pasrah pada ketetapan Tuhannya, tapi dia sendiri punya cita-cita yang tinggi, agar Tuhan mentakdirkannya sebagai orang kaya. Singkat kata, upaya dan kepasrahan itu tidak perlu dipertentangkan. Karena kepasrahan itu soal hati. Yang diminta untuk pasrah itu adalah hati Anda. Adapun fisik, biarkan dia tetap berusaha. Sungguh nikmat kehidupan orang yang hatinya pasrah kepada Tuhan, tapi fisik dan tenaganya tetap berupaya untuk mewujudkan apa yang dia inginkan.

Kalau Anda mau jadi orang kaya, gapailah mimpi itu. Tapi ingat, jangan sampai kekayaan itu masuk ke dalam hati Anda. Dan, kalau bisa, capailah mimpi itu setelah Anda yakin dan sadar, bahwa Anda tidak termasuk orang yang dapat dikuasai oleh hawa nafsunya sendiri. Ketika kekayaan sudah didapat, Anda harus selalu ingat, bahwa dia tidak datang dari ruang yang hampa.

Ada yang memberi, dan kita harus berterima kasih kepada yang memberi itu. Kalau tidak, berarti kita tidak tahu diri. Boleh jadi Tuhan menahan kekayaan dari diri Anda, karena Anda belum siap untuk menerima itu, sehingga kalau kekayaan itu diberikan, maka yang terjadi dia bisa menjadi fitnah yang memalingkan Anda dari Tuhan.

Boleh jadi Tuhan menghilangkan kemiskinan dari kehidupan Anda, agar Anda bersyukur kepada-Nya, dan mau membantu hamba-hamba-Nya yang lain. Karena dunia ini hanyalah titipan. Dan tidaklah pantas bagi kita untuk berburu titipan seseorang, kalau kita sendiri tidak mampu menjaga titipan itu dengan baik. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb

Bagikan di akun sosial media anda