Kisah Para Nabi Hanya Sebatas Mitos?

Ada dua orang laki-laki datang menghampiri Anda. Laki-laki pertama bercerita tentang pengalaman pahitnya dalam hal putus cinta. Sedangkan laki-laki yang kedua menceritakan kejadian horor terkait pocong yang dia lihat di pinggiran sawah. Kebetulan, sebelum mereka berdua datang, Anda sendiri sudah akrab betul dengan kedua laki-laki itu. Laki-laki pertama, dalam pandangan Anda, adalah laki-laki yang jujur. 25 tahun lebih Anda berteman dengan dia, tidak pernah sekalipun Anda mendapati dia berbohong, atau melakukan perbuatan-perbuatan yang kurang pantas. Laki-laki itu, di mata Anda, benar-benar orang baik dalam arti yang sesungguhnya. Sulit bagi Anda untuk menemukan orang sebaik dia.

Konsekuensinya, ketika dia menceritakan sesuatu, tidak mudah pula bagi Anda untuk mengingkari kebenaran sesuatu yang dia ceritakan itu. Bahkan kemungkinan besar Anda akan langsung percaya begitu saja. Kenapa bisa begitu? Karena dia tidak pernah berbohong. Dan rekam jejak kehidupannya menunjukkan bahwa dia adalah orang baik-baik. Bukan hanya orang yang rajin beribadah, tapi memang dia benar-benar orang yang memiliki akhlak baik. Dan, kalaupun kemungkinan berbohong itu ada, rasanya sangat kecil sekali. Mengingat kejujuran dan keluruhan budi pekerti yang dimilikinya. 

Tapi bagaimana dengan laki-laki yang kedua? Apakah Anda memiliki kepercayaan yang sama kepada dirinya, seperti halnya kepercayaan Anda kepada laki-laki pertama? Laki-laki kedua ini, katakanlah, seorang penipu. Atau dia bukan penipu. Tapi, beberapa kali, meski tidak terlalu sering, dia pernah menipu dan membohongi Anda. Dari mulai yang paling remeh temeh sampai persoalan yang paling serius. Memang dia tidak sering berbohong. Tapi Anda pernah mendapati dia berbohong. Ketika yang bersangkutan menarasikan suatu cerita, atau pengalaman, bukankah ketika itu tingkat kepercayaan Anda kepadanya akan berbeda dengan kepercayaan Anda kepada orang pertama? Jelas, tak diragukan lagi. Jejak kebohongan dan perangai buruk yang ditampilkan oleh seseorang seringkali menjadi pemicu untuk lahirnya keraguan dan ketidak-percayaan.

Mungkin beberapa di antara Anda sudah ada yang bisa menebak ke mana saya akan melangkah setelah menegaskan poin di atas itu. Ya, kali ini saya ingin berbicara tentang kebenaran informasi yang disampaikan oleh nabi. Sejarah telah menginformasikan ada seorang manusia bernama Muhammad Saw. Tak ada yang bisa meragukan informasi ini. Ini adalah informasi yang bersifat mutawatir. Beliau mengaku sebagai nabi, dan dalam perjalanan dakwahnya, beliau juga menampilkan sejumlah mukjizat, sebagai bukti akan kenabiannya. Mukjizat terbesarnya adalah al-Quran. Di dalam al-Quran ada cacatan tentang kehidupan orang-orang di masa lampau.

Dia bercerita tentang kisah para nabi seperti nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Isa, Maryam, Luqman al-Hakim, Ashabul Kahfi, Dzulqarnain, dan kisah manusia-manusia agung lainnya, Dia juga bercerita tentang kisah Fir’aun, Bani Israel, dan episode-episode penting dalam kehidupan mereka. Padahal, sebagaimana tercatat dalam sejarah itu sendiri, beliau sendiri tidak pernah belajar kepada siapapun, dan dalam sejarah hidupnya beliau tidak pernah berbohong sekalipun.

Kalau ada yang keberatan dengan fakta ini, dan meyakini bahwa nabi pernah berbohong—sungguh beliau tersucikan dari sifat itu—atau beliau terbukti pernah mempelajari dengan tekun kitab-kitab suci umat terdahulu, yang mengisahkan perjalanan hidup manusia-manusia agung itu, kita persilakan yang bersangkutan untuk melansir satu riwayat sahih yang dapat membuktikan kebenaran klaim tersebut. Faktanya sampai sekarang tidak ada yang bisa melakukan itu.

Riwayat-riwayat yang sahih justru menegaskan sebaliknya. Bahwa beliau adalah orang yang memiliki keluhuran budi pekerti. Bahkan pujian itu termaktub dalam kitab suci itu sendiri. Sebagaimana beliau juga tidak pernah belajar kepada siapapun. Tapi mampu mendatangkan satu kitab yang, sampai detik ini tak mampu ditandingi oleh manusia manapun. Tak ada alasan yang lebih logis bagi kita, kecuali dengan menarik kesimpulan, bahwa kitab itu bukan karangan manusia, tapi dia berasal dari Allah Swt.

Ketika orang yang tidak pernah berbohong ini menyampaikan informasi, apakah kita punya alasan yang logis untuk mendustakan informasi yang disampaikannya? Sekali lagi, kalau pun ada kemungkinan untuk berbohong, itu pasti sangat sangat kecil sekali. Kalau enggan berkata mustahil. Di sisi lain, Nabi Muhammad Saw ini, melalui dalil-dalil yang rasional, dapat dibuktikan bahwa beliau adalah seorang nabi, bukan sekedar manusia biasa layaknya kita. Wahyu yang diterimanya sampai sekarang masih bisa kita baca.

Wahyu itu datang dengan sebuah tantangan kepada jin dan manusia, agar mereka mendatangkan satu kitab yang semisal dengan dirinya. Dan ternyata tidak ada yang bisa. Jangankan satu kitab, satu surat yang semisal saja tidak ada yang bisa. Pertanyannya, tidakkah ini menjadi salah satu bukti, bahwa apa yang disampaikannya bukan berupa karangan dirinya sendiri? Kalaupun kitab itu adalah buah dari pemikirannya, pernahkan Anda menyaksikan karangan seorang manusia, yang berani mengajukan tantangan sehebat itu, lalu tidak ada satu manusia pun yang mampu menandinginya?

Bagi yang ingin berkata ada, kita persilakan yang bersangkutan untuk menyebut karangan semacam itu. Sekarang, kalau Anda tanya para pakar Bahasa Arab di manapun di belahan dunia ini, apakah sudah ada orang yang mampu menjawab tantangan al-Quran itu? Dengan penuh percaya diri, mereka akan berkata: tidak ada. Kalau pun ada, mereka sudah pasti akan mengumumkannya. Kita tidak ingin berbicara panjang lebar tentang bukti-bukti keilahian al-Quran.

Yang ingin kita tekankan di sini ialah, kalau kita, melalui argumen-argumen yang logis, sampai pada kesimpulan bahwa al-Quran adalah firman Tuhan, maka sebagai konsekuensinya, mau tidak mau, nalar yang logis mengharuskan kita untuk percaya dengan kebenaran semua hal yang termuat dalam kitab suci itu. Inilah yang menjadi alasan kenapa kita percaya dengan semua kisah yang termuat dalam al-Quran.

Semua kisah-kisah itu akan menjadi bagian dari sejarah, dan bukan hanya sebatas mitos ataupun cerita khayalan, kalau al-Quran yang memuat kisah-kisah tersebut, terbukti sebagai wahyu yang berasal dari Tuhan. Kalau kita berhasil membuktikan itu—dan apa yang kita paparkan di atas hanyalah secuil dari bukti-bukti itu—maka semua cerita yang termuat dalam al-Quran adalah benar. Dan dia sesuai dengan fakta, bukan hanya sebagai mitos belaka. Apalagi dia disampaikan kepada seorang nabi yang jujur, yang dalam sejarah kehidupannya tidak pernah melakukan kebohongan.

Tapi Dawkins akan datang menginterupsi keyakinan itu, dan tetap memandangnya sebagai sebuah mitos. Narasi tentang para nabi yang termuat dalam kitab suci itu, menurut Dawkins, termasuk mitos. Jika kitab suci yang dia maksud adalah al-Kitab, atau kitab-kitab suci yang lain, kita tidak ingin mengajukan bantahan tentang hal itu. Biarlah orang Kristen sendiri yang menolak tuduhan tersebut.

Tetapi apabila yang dia maksud dengan kitab suci itu ialah al-Quran, maka pandangan itu jelas akan kita tolak, dan kita berhak untuk meminta bukti kepada yang bersangkutan atas klaim yang diutarakannya. Apa bukti yang bisa Anda paparkan untuk membuktikan bahwa kisah tentang nabi-nabi dalam al-Quran itu hanya sebatas mitos? Sayang, dalam bukunya, Dawkins tidak memaparkan bukti-bukti itu. Dan inilah yang sering kita sayangkan dari orang-orang Ateis. Mereka mudah mengajukan klaim, tapi kesulitan ketika diminta untuk mengajukan dalil.

Tuhan nggak ada, nabi nggak ada, wahyu nggak ada, malaikat nggak ada, cerita tentang nabi adalah mitos, dan lain-lain. Ini adalah omongan-omongan kosong mereka yang barangkali cukup sering kita dengar. Tapi coba Anda tanya mereka, Anda punya bukti yang rasional untuk membuktikan klaim-klaim itu atau tidak? Saya yakin tidak. Dan, saya harap Anda mencatat poin ini dengan baik, setiap pernyataan yang tak bersandar pada dalil itu tak lebih dari sekedar omong kosong, sampai kemudian yang bersangkutan mengajukan dalil itu.

Sekarang mari kita simak terlebih dulu apa yang dikatakan Dawkins terkait narasi-narasi para nabi yang menurutnya tergolong sebagai mitos itu.

“Abraham adalah Patriark asal orang-orang Yahudi dan pendiri tiga agama monoteistik utama di dunia saat ini—Yudaisme, Kristen, dan Islam. Tetapi apakah dia benar-benar ada? Seperti halnya Achilles dan Hercules, seperti Robin Hood dan King Arthur, sedih untuk diketahui, dan tidak ada alasan positif untuk berpikir dia benar-benar ada.” (hlm. 54)

Di halaman lain, dia juga menulis:

“Kisah-kisah tentang Adam dan Hawa, dan tentang Nuh dan tabutnya, bukanlah sejarah, dan tidak ada teolog terdidik yang berpikir demikian. Seperti kisah yang tak terhitung jumlahnya dari seluruh dunia, mereka dalah “mitos”. Tidak ada yang salah dengan mitos. Beberapa indah dan sebagian besar menarik, tetapi itu bukan sejarah. Sayangnya, banyak orang yang tidak berpendidikan, terutama di Amerika dan dunia Islam, berpikir demikian.” (hlm. 63)

Sebetulnya, yang lebih patut untuk kita sayangkan ialah klaim dia sendiri, yang tak bersandar pada bukti sama sekali. Dia mengatakan bahwa kisah-kisah semacam itu hanyalah mitos. Artinya cerita-cerita itu tidak benar-benar terjadi secara faktual; cuma sebatas cerita yang dikarang oleh orang-orang terdahulu saja. Tapi, sebagai seorang ilmuwan yang terdidik, mestinya dia bicara klaim satu paket dengan buktinya. Apa bukti kalau kisah-kisah itu hanya sebatas mitos? Dia tidak mengajukan bukti itu.

Barangkali, dia sampai pada kesimpulan itu karena, menurutnya, kisah yang termuat dalam kitab suci itu sama dengan kisah-kisah yang termuat dalam kitab-kitab dongeng. Jelas, kalau dugaan ini benar, dia telah bertitik-tolak dari sudut pandang yang salah. Menganalogikan informasi kitab suci seperti al-Quran, dengan kitab dongeng, atau hatta kitab-kitab sejarah sekalipun, adalah penganalogian yang cacat. Dan akal sehat kita sudah cukup untuk menangkap kecacatan semacam itu. Kalau Anda meragukan al-Quran sebagai wahyu Tuhan, dan karena itu Anda mempersamakannya dengan kitab-kitab lain, ingat, para sarjana Muslim terdidik sudah siap berhadapan dengan Anda.

Sebagai seorang sarjana yang baik, harusnya Dawkins menelaah terlebih dulu argumen-argumen yang mengukuhkan kemukjizatan al-Quran itu. Kalau Anda berhasil meruntuhkan argumen-argumen tersebut, barulah Anda tarik kesimpulan itu. Adapun langsung menyimpulkan isinya sebagai mitos, tanpa menyertakan bukti sama sekali, barangkali inilah sesungguhnya cerminan dari sikap yang tak terdidik itu. Memandang kisah Ibrahim, Nuh, Dawud, dan nabi-nabi yang lain sama dengan kisah-kisah Hercules, Archilles dan semacamnya, jelas bukan kesimpulan yang tepat. Karena keduanya pun termuat dalam sumber yang berbeda.

Kalau cerita tentang Ibrahim, Adam, Nuh dan lain-lainnya itu termuat dalam buku-buku dongeng, kemungkinan besar kita akan setuju dengan pandangan Dawkins. Tak ada masalah juga kalau dia menyebut kisah-kisah itu sebagai mitos, selama itu termaktub dalam kitab-kitab dongeng. Tapi, faktanya tidak begitu. Kisah tentang para nabi itu termuat dalam al-Quran. Satu kitab yang sampai detik ini tak bisa ditandingi oleh manusia manapun. Yang menyampaikannya adalah sosok nabi yang jujur, dalam sejarah hidupnya tidak pernah berbohong. Adilkah kalau Anda mempersamakan kitab semacam ini dengan kitab-kitab sejarah biasa pada umumnya?

Tapi kalau Dawkins, dan orang-orang Ateis pada umumnya, bersikukuh untuk memandang kisah para nabi itu sebagai mitos, harusnya mereka mulai belajar untuk tidak asal bicara. Buktikan saja kalau itu benar-benar mitos. Para sarjana Muslim sudah banyak yang memaparkan bukti tentang kemukjizatan al-Quran, dari berbagai aspeknya. Dan kalau al-Quran ini diterima sebagai mukjizat, maka dia dapat menjadi bukti bagi kenabiaan nabi Muhammad Saw. Dan jika nabi Muhammad Saw terbukti sebagai nabi, maka semua yang dia beritakan adalah benar, termasuk kisah para nabi itu. Beginilah para teolog terdidik berkesimpulan. Berbeda halnya dengan orang-orang Ateis, yang kalau bicara hanya dengan menggunakan khayalan. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.

Bagikan di akun sosial media anda