Tapi Kan Tuhan Tidak Bisa Dilihat?

Setelah menyuguhkan bukti-bukti rasional tentang keberadaan Tuhan, dan Anda akan berhadapan dengan ratusan jilid buku yang memaparkan bukti-bukti itu, orang Ateis mungkin akan bilang, “Baik, saya terima argumen-argumen Anda. Tapi mana? Mana wujud yang Anda sebut sebagai Tuhan itu? Dia tidak terlihat, dan tidak terjangkau dengan panca indera. Sains pun tidak bisa membuktikan keberadaan-Nya. Lantas bagaimana saya bisa percaya?”

Yang mengajukan pertanyaan ini mungkin pura-pura lupa, bahwa ketidak-mampuan pancaindera dalam kita mengakses sesuatu bukanlah alasan yang logis untuk menafikan keberadaan sesuatu itu. Karena ada atau tidaknya sesuatu tidaklah ditentukan dengan mampu tidaknya pancaindera kita dalam mengakses sesuatu itu. Apa contohnya? Banyak sekali.

Saya mendengar suara meja terjatuh di dalam rumah saya. Setelah saya lihat, ternyata tidak ada siapa-siapa. Tapi meja yang saya lihat sudah berubah posisi dari posisi sebelumnya. Tadinya berdiri, sekarang malah tergeletak. Saya tidak melihat siapa yang menjatuhkan meja itu. Pancaindera saya tidak mampu mengakses keberadaannya. Tapi mungkinkah kejadian itu terlahir tanpa adanya sebab? Akal sehat kita akan sulit mengiyakan pertanyaan ini.

Kendati pancaindera saya tidak melihat wujud sebab itu, tapi dengan akal yang sehat saya yakin, bahwa terjatuhnya meja itu pastilah melibatkan adanya sebab. Entah itu angin, manusia, jin atau apa saja. Yang penting sebab itu ada. Dan yang menjadi sebab itu bukanlah meja itu sendiri. Ini sebagai bukti kecil, bahwa ketidakmampuan pancaindera kita dalam mengakses sesuatu tidak merta bisa dijadikan alasan untuk menafikan keberadaan sesuatu itu.  

Laptop yang saya gunakan untuk menulis ini sudah pasti ada yang buat. Saya perlu melepas nalar sehat saya untuk mengatakan bahwa laptop ini ada dengan dirinya sendiri, tanpa ada pembuat sama sekali. Dan karena alasan itu pula nalar sehat saya tak mampu menerima pandangan orang-orang Ateis, yang memandang alam ini terlahir sekonyong-konyong, tanpa adanya sebab apapun di luar dirinya.

Kalau barang kecil seperti laptop saja kita yakini keberadaan pembuatnya, apalagi alam semesta yang benar-benar dahsyat dan luas seperti ini. Sayangnya, sampai detik ini pancaindera saya tidak pernah melihat, mendengar, maupun meraba wujud pembuat laptop itu. Saya pun tidak tahu dia ada di mana sekarang. Kalau Anda memandang pancaindera Anda itu sebagai penentu ada atau tiadanya sesuatu, maka, jika Anda konsisten dengan pandangan itu, Anda pun harus menafikan keberadaan pembuat laptop itu. Sebagaimana Anda menafikan adanya sebab di balik keterjatuhan meja tadi.

Dengan alasan bahwa keberadaannya tidak dapat dijangkau oleh pancaindera. Bukankah Anda menafikan keberadaan Tuhan, karena Dia tak dapat dijangkau oleh pancaindera Anda? Lantas mungkin tidak Anda menafikan keberadaan sebab di balik terahirnya sesuatu, seperti halnya kejadian tadi, hanya karena keberadaanya juga tak terjangkau oleh pancaindera Anda? Di sinilah nalar yang sehat dapat terbedakan dari nalar yang cacat.

Kalau ada orang yang bilang bahwa alam ini lahir sekonyong-konyong, tanpa adanya sebab, hanya karena ia tidak terlihat, sudah sepatutnya kita meragukan kesehatan nalarnya. Saya tidak bermaksud untuk mempersamakan Tuhan dengan pembuat laptop, ataupun orang yang menjatuhkan meja. Permisalan ini hanya saya angkat untuk menegaskan poin di atas, bahwa, sekali lagi, ketidakmampuan pancaindera kita dalam membuktikan keberadaan sesuatu bukanlah alasan yang logis untuk membuktian ketiadaan sesuatu itu.

Pembuat laptop itu ada, sekalipun keberadaannya tidak bisa dibuktikan oleh pancaindera kita. Lalu atas dasar apa saya meyakini keberadaannya? Saya meyakini keberadaannya, karena saya menyaksikan jejak hasil karyanya, yaitu laptop yang ada di hadapan saya. Kalau laptop ini tidak ada, mungkin saya pun tidak akan percaya dengan keberadaan pembuat itu.

Dengan logika yang kurang lebih sama, Tuhan kita yakini keberadaan-Nya, meskipun tidak terjangkau oleh pancaindera, karena kita menyaksikan alam semesta, sebagai maha karya-Nya. Alam ini dapat dijadikan bukti akan keberadaan Tuhan, berdasarkan asas hukum kausalitas, yang tidak meyakini adanya akibat, kecuali dengan adanya sebab.

Alam semesta ini tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri, karena pada faktanya kita sendiri tidak pernah menyaksikan sesuatu yang dapat mengadakan dirinya sendiri. Sesuatu yang tadinya tidak ada, kemudian ada, maka pastilah ada sebab yang menjadikannya ada. Begitulah cara kaum beriman berpikir. Bukankah ini pandangan yang sangat logis?

Baiklah, kalau Anda bersikukuh untuk tidak mengamini keberadaan sesuatu, kecuali kalau dia bisa dibuktikan dengan pancaindera, saya ingin bertanya, pandangan Anda yang mengatakan bahwa “Tuhan tidak ada” itu sendiri bisa diakses oleh pancaindera atau tidak? Anda tidak bisa melihat pandangan itu, seperti halnya Anda melihat teko, gelas, dan piring. Sebagaimana Anda juga tidak bisa membuktikan keberadaan pandangan itu di dalam ruangan laboraturium.  

Tapi, meski demikian, bukankah Anda sendiri meyakini keberadaannya? Lagipula, kalau kita jujur dengan diri kita masing-masing, pancaindera itu adalah sarana pengetahuan yang seringkali menampilkan tipuan. Jeruk yang saya makan dalam keadaan sakit sangat berbeda rasanya dengan jeruk yang saya makan di waktu sehat. Sambal yang dihidangkan oleh mertua saya akan terasa nikmat kalau disandingkan dengan makanan lain.

Adapun kalau dia dihidangkan secara berdiri sendiri, saya tidak dapat merasakan kenikmatan itu. Matahari yang menerangi bumi selalu saya lihat dalam bentuk yang kecil. Bintang gemintang hanya terlihat seperti lampu. Padahal, ukuran sesungguhnya jauh lebih besar berkali-kali lipat dari apa yang saya lihat. Kayu yang dimasukkan ke dalam kolam terlihat bengkok. Padahal kenyataannya tidak begitu. Semua itu adalah bukti, bahwa pancaindera tak dapat dijadikan sebagai pijakan untuk menentukan apakah sesuatu itu ada atau tiada.

Ada atau tiadanya sesuatu tidak bergantung pada kemampuan pancaindera kita. Itu yang perlu kita sepakati bersama. Sekian banyak sesuatu yang tidak kita lihat, dan tidak kita tahu, tetapi dia ada pada dirinya sendiri. Karena ada atau tidaknya sesuatu tidak bergantung pada tahu tidaknya kita tentang sesuatu itu. Karena itu, meskipun Tuhan tidak mampu dijangkau oleh pancaindera, tetapi ketidakmampuan itu bukanlah alasan yang logis untuk menafikan keberadaan-Nya.

Kalau Anda ingin menafikan keberadaan Tuhan, dan Anda berharap agar penafian itu dipandang rasional, mau tidak mau Anda harus membuktikannya berdasarkan hukum-hukum akal itu sendiri. Pertanyaannya, adakah hukum akal yang dapat dijadikan sandaran untuk menafikan keberadaan Tuhan? Jika ada yang menjawab pertanyaan ini secara afirmatif, kita persilakan yang bersangkutan untuk mengajukan penjelasan.

Yang jelas, ketidakmampuan pancaindera manusia untuk mengakses keberadaan Tuhan bukanlah alasan yang logis untuk menafikan keberadaannya. Sangat konyol orang yang berpandangan bahwa Tuhan tidak ada, karena keberadaannya tidak bisa dibuktikan melalui alat-alat modern, misalnya. Atau yang bersangkutan menerawang ke luar angkasa, dan dia tidak menemukan Tuhan di area sana. Lalu setelah itu disimpulkanlah, bahwa Tuhan tidak ada. Hanya nalar yang sakit yang dapat menarik kesimpulan semacam itu.  

Sumbangsih sains bagi kehidupan umat manusia tidak bisa kita nafikan. Tapi, sains punya ruang lingkup kajian yang terbatas. Dia punya otoritas untuk berbicara tentang alam. Tapi, dia tidak punya alasan yang logis untuk membuktikan, ataupun menafikan, ada atau tiadanya sesuatu yang berbeda dengan alam, kecuali dengan melibatkan hukum-hukum akal.  

Pancaindera kita memang terbatas. Dan karena itu sangat tidak adil kalau kita memintanya untuk berbicara tentang sesuatu yang tidak terbatas. Kenapa kita katakan Tuhan tidak memiliki batas? Karena keterbatasan itu hanya disandang oleh makhluk. Yang menciptakan semua makhluk maka haruslah terbebas dari keterbatasan itu.

Karena ia terbebas dari keterbatasan, dan juga kebutuhan, maka Tuhan pastilah bukan sesuatu yang bertempat. Karena kalau Dia bertempat, maka Dia akan butuh pada sesuatu yang Dia jadikan sebagai tempat itu. Dan kalau sudah butuh, maka gugurlah sudah ketuhanannya.

Karena itu, pertanyaan “di mana Tuhan?” sesungguhnya bukanlah pertanyaan yang logis. Karena pertanyaan di mana biasanya diajukan untuk sesuatu yang bertempat. Sementara Tuhan adalah wujud yang terbebas dari kebertempatan itu. Tuhan ada sebelum segala sesuatu ada. Dan Dialah yang menjadi sebab utama di balik keterlahiran alam semesta. Keberadaan-Nya memang tak dapat dibuktikan dengan pancaindera. Tapi akal sehat kita tak pernah memandang mustahil, bahkan meniscayakan keberadaan-Nya. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.

Bagikan di akun sosial media anda