Ateisme dan Kebodohan

Apakah orang Ateis bisa kita sebut sebagai orang bodoh? Sebetulnya pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan benar setelah kita dudukkan terlebih dulu makna dari kata bodoh itu sendiri. Apa sih bodoh itu? Kalau kita merujuk pada penjelasan para sarjana Muslim, orang bodoh itu adalah orang yang tidak tahu. Atau, orang yang tidak tahu kalau dia tidak tahu. Kebodohan pertama sering disebut dengan istilah jahl basith, yakni kebodohan yang simpel.

Sedangkan yang kedua biasa kita kenal dengan istilah jahl murakkab, atau kebodohan yang kompleks. Dikatakan kompleks karena orang yang kedua ini bukan hanya sebatas tidak tahu. Tapi juga tidak tahu kalau dia tidak tahu, sehingga pada akhirnya dia merasa sok tahu tentang apa yang tidak dia tahu.

Menurut pengetahuan orang yang bernalar sehat, segala akibat pastilah bergantung kepada sebab. Ini pengetahuan yang hampir sulit diingkari oleh manusia-manusia yang berakal. Kalau kita percaya dengan hukum ini—dan kepercayaan terhadap hukum ini merupakan konsekuensi dari kesehatan nalar kita—maka seharusnya kita juga percaya bahwa di balik keberadaan alam semesta ini pastilah ada sebab. Dan yang menjadi sebab itu pastilah bukan alam. Tetapi sesuatu yang lain yang berbeda dengan alam. Alam ini tadinya tidak ada, kemudian dia ada. Lantas siapa yang mengadakan? Tentu, akal yang sehat akan mengajukan pertanyaan semacam itu.

Tapi itu tidak berlaku bagi orang Ateis. Orang Ateis akan menolak keberadaan sebab itu. Menurutnya, alam itu muncul dengan sendirinya sendiri. Tidak ada sebab lain yang diyakini berperan dalam keterciptaan alam. Yang menjadi sebabnya adalah dirinya sendiri. Dan karena itu mereka menolak keberadaan Tuhan. Masalahnya, dalam kehidupan sehari-hari, nalar sehat kita sulit sekali mengamini cara pandang semacam ini. Masing-masing benda dan makhluk hidup yang ada di sekeliling kita, itu tidak ada yang bisa menjadi sebab bagi dirinya sendiri. Mereka adalah sesuatu yang senantiasa bergantung pada sesuatu yang lain.

Bayangkan sekarang Anda duduk di atas kursi. Lalu Anda bertanya kepada orang yang duduk di samping Anda, “siapa yang buat kursi ini?”. Tiba-tiba dia menjawab, “kursi ini tidak ada yang buat. Dia telah ada dengan dirinya sendiri.” Sudikah Anda memandang waras orang yang memiliki cara berpikir semacam ini? Jangankan benda seukuran kursi, benda kecil sebesar jarum saja kita yakini keberadaan pembuatnya, sekalipun pembuatnya tidak pernah kita lihat. Dan tak pernah kita buktikan keberadaannya dengan pancaindera kita. Kursi itu tadinya tidak ada, kemudian dia ada. Dan ketika ada, otomatis akal kita memastikan adanya sebab di balik keberadaannya.  

Alam semesta pun demikian. Apapun yang ada di dalam semesta ini adalah sesuatu yang bisa jadi ada, bisa jadi tiada. Lantas, ketika dia sudah ada, apakah dia benar-benar butuh kepada sebab? Bagi orang yang nalar sehatnya sudah terhenti, mereka akan menjawab tidak. Dia muncul sekonyong-konyong. Dia muncul secara tiba-tiba, dengan dirinya sendiri. Tapi, yang nalar sehatnya masih terawat, dia akan kesulitan menerima pandangan itu. Baginya, sebab itu pasti ada. Dan sebab itu pastilah bukan bagian dari alam, melainkan sesuatu yang berbeda dengan alam. Dan itulah Tuhan yang disebut dalam bahasa agama.

Logiskah pandangan ini? Sungguh, saya tak dapat membayangkan adanya nalar sehat yang dapat menolak pandangan semacam ini. Jika ada yang ingin menggugat kelogisannya, kami persilakan yang bersangkutan untuk menyampaikan gugatan itu. Sesungguhnya kalau Anda renungkan dengan seksama, Ateisme itu tak lebih dari sekedar bentuk keidiotan dalam berpikir. Hanya orang-orang bernalar sakit yang memandang adanya akibat dengan mengesampingkan sebab, lalu dia jadikan sesuatu sebagai sebab bagi dirinya sendiri.  

Kembali pada pertanyaan di atas, apakah orang Ateis bisa kita sebut sebagai orang bodoh? Kalau merujuk pada pengertian di atas, kita tidak dihadapkan dengan pilihan lain, kecuali berkata iya. Kenapa bisa begitu? Karena mereka tidak tahu. Bahkan mereka tidak tahu kalau mereka tidak tahu. Sudah tidak tahu, tapi merasa paling tahu. Bahkan sok tahu. Mereka menafikan keberadaan Tuhan dengan nalar yang cacat. Sementara kaum beriman membuktikan keberadaan Tuhan dengan argumen yang benar-benar kokoh dan kuat. Yang bodoh dan idiot itu sebenarnya mereka, bukan kita.

Tapi kan mereka itu ada juga yang pintar-pintar? Ada yang bergelar doktor, menjabat sebagai guru besar, filsuf, ilmuwan, ahli ini, itu dan ini. Banyaklah pokoknya. Ya, memang kita tidak memungkiri itu. Kita bisa mengatakan mereka pintar dalam bidang keilmuannya, dan tahu tentang apa yang ditekuninya. Tapi, ketika berbicara tentang asal muasal kemunculan alam semesta, berbicara tentang Tuhan, yang menjadi sebab di balik keterlahiran itu, yang mereka tunjukkan memang hanya kebodohan demi kebodohan.

Sampai sekarang, kalau Anda tantang orang Ateis untuk menyajikan argumen rasional tentang ketiadaan Tuhan—kalau memang Tuhan itu benar-benar tiada—mereka tidak akan mampu menyuguhkan jawaban itu. Paling jauh mereka hanya mengemas kebodohan itu dengan bahasa-bahasa ilmiah yang dapat memusingkan lawan bicara. Tapi, pada intinya, sejak dulu sampai sekarang, orang Ateis direkatkan oleh satu ikatan, yaitu mengingkari sebab utama di balik kelahiran alam semesta. Dan kita tidak melihat hal itu, kecuali sebagai cerminan dari kebodohan yang nyata.

Bagikan di akun sosial media anda