Wujud Tuhan Bergantung Pada Hukum Kausalitas?

Hampir sebagian besar pembuktian rasional tentang keberadaan Tuhan, khususnya yang diajukan oleh para pemikir Muslim, berbasis pada hukum kausalitas. Yakni hukum yang menegaskan bahwa segala akibat pastilah bergantung kepada sebab. Alam itu, demikian para teolog mengawali argumen mereka, ada dari ketiadaan (hâdits). Dan segala sesuatu yang ada dari ketiadaan itu pasti ada yang mengadakan. Konklusi yang ditarik, alam itu ada yang mengadakan. Dan dialah Tuhan.

Di sini terlihat jelas bagaimana argumen tersebut mendasarkan konklusinya pada asas hukum kausalitas. Kesimpulan adanya yang mengadakan alam didasarkan pada alasan bahwa ia ada dari ketiadaan. Alam dipandang sebagai sebuah akibat, karena alam itu tadinya tiada, kemudian dia ada. Dan karena dia adalah akibat, maka asas hukum kausalitas meniscayakan adanya sebab, yang menjadikan dirinya ada. Dan sebab itulah yang diyakini sebagai Tuhan. Argumen yang sangat logis.  

Argumen yang kurang lebih sama juga diajukan oleh para filsuf. Alam itu mungkin (bisa jadi ada, bisa jadi tiada), segala sesuatu yang mungkin itu butuh kepada sebab. Kesimpulannya, alam butuh kepada sebab. Dan itulah Tuhan. Kita tidak ingin menguraikan rincian dari kedua argumen tersebut di dalam tulisan ini. Poin inti yang hendak kita tegaskan di sini ialah, masing-masing dari kedua argumen itu, dan argumen-argumen serupa lainnya, berbasis pada hukum kausalitas. Dan, sebagai manusia yang bernalar sehat, sulit bagi kita untuk mengingkari hukum itu.

Tapi, entah kenapa, kendati merasa sebagai manusia yang waras, orang Ateis tetap menafikan keberadaan sebab itu, tanpa mengajukan alasan yang logis sedikitpun. Mereka bersikukuh bahwa Tuhan hanyalah kreasi nalar manusia semata. Buktinya, kata mereka, dia sendiri bergantung pada hukum kausalitas. Kalau hukum kausalitas tidak ada, dan manusia tidak pernah terwujud, maka tuhan pun tidak ada. Karena tuhan adalah produk nalar manusia. Dia dia baru ada setelah adanya manusia.

Ringkas kata, ketika menyaksikan kaum beriman membuktikan keberadaan Tuhan dengan hukum kausalitas, mereka akan mendapatkan celah untuk berkesimpulan, bahwa keberadaan Tuhan memang tak lebih dari sekedar kreasi nalar manusia semata. Buktinya keberadaan Tuhan itu sendiri bergantung pada hukum kausalitas. Dan hukum kausalitas itu sendiri merupakan produk nalar manusia. Tidakkah itu menunjukkan bahwa keberadaan Tuhan bergantung pada pikiran manusia, dan wujudnya pun tidak lebih sekedar produk pemikiran manusia semata?

Sepintas, bantahan ini terlihat masuk akal. “Iya juga ya. Kan kausalitas itu terlahir dari pikiran manusia. Sementara keberadaan Tuhan bergantung pada hukum kausalitas. Kalau gitu berarti Tuhan bergantung pada pikiran manusia dong?!” Apakah Anda termasuk orang yang dihinggapi pertanyaan semacam ini? Tunggu dulu. Apa yang Anda duga masuk akal sesungguhnya tak berpijak pada cara berpikir yang rasional. Untuk membuktikannya, saya ingin mengajak Anda untuk mengamati ilustrasi sebagai berikut:

Di suatu pagi mertua saya menyediakan sarapan di atas meja makan. Ketika berniat mengambil nasi, secara tidak sengaja tangan saya menyenggol sebuh piring. Piring itu pun akhirnya jatuh mengenai kaki saya. Prak! Dan kaki saya pun langsung terasa sakit. Sedikit darah mengucur dari kaki itu. Selesai diusap menggunakan tisu, saya tetap melanjutkan niat saya untuk makan. Saya makan, dan saya pun kenyang.

Dapatkah Anda menentukan mana yang menjadi sebab dan akibat dalam ilustrasi tersebut? Ya, ketika piring mengenai kaki, rasa sakit itu otomatis langsung terlahir. Berhubung ada pengaruh yang diberikan piring, dan rasa sakit itu terlahir setelah piring itu terjatuh, maka akal saya menarik satu kesimpulan, bahwa piring itu adalah sebab, dan rasa sakit itu adalah akibat. Saya menarik kesimpulan itu bukan hanya karena yang satu terjadi setelah yang lain, tetapi memang karena di sana ada pengaruh yang diberikan oleh yang satu (piring) terhadap yang lain (kaki).

Selesai makan saya pun merasa kenyang. Karena saya merasa ada pengaruh yang diberikan oleh nasi, atas perasaan kenyang yang saya alami, maka dengan cara berpikir yang sama, akal saya pun menarik satu kesimpulan bahwa nasi itu adalah sebab, dan kenyang itu adalah akibat. Dan kita semua tahu bahwa konsep tentang sebab-akibat itu sendiri sesungguhnya hanya ada di dalam nalar belaka. Tidak ada di alam luar. Yang ada di alam luar itu ialah sesuatu yang kita yakini sebagai sebab dan akibat, tapi bukan konsep sebab-akibat itu sendiri.

Pertanyaan yang harus segera kita jawab sekarang ialah, “apakah keberadaan piring itu bergantung pada pandangan saya yang meyakininya sebagai sebab, sehingga kalau saya tidak meyakininya sebagai sebab, maka piring itu otomatis menjadi tiada?” Dengan pertanyaan lain, “di dalam nalar saya tertancap hukum kausalitas. Tetapi apakah wujud piring itu sendiri bergantung pada hukum itu, sehingga kalau dia tidak ada, maka piring pun menjadi tiada?

Kalau Anda perhatikan baik-baik, sesungguhnya dalam ilustrasi di atas terlihat jelas, bahwa keberadaan piring di alam luar itu tidaklah bergantung pada hukum sebab-akibat yang tertancap di dalam nalar. Saya meyakininya sebagai sebab atau tidak, piring itu sendiri tetaplah eksis pada dirinya sendiri. Karena piring yang berada di alam luar itu satu hal, pandangan kita yang meyakininya sebagai sebab itu adalah hal yang lain lagi.

Pandangan saya yang meyakini piring itu sebagai sebab bukanlah penentu bagi keberadaan piring itu sendiri. Atas dasar itu, pandangan kaum beriman yang meyakini Tuhan sebagai sebab juga bukanlah penentu bagi keberadaan Tuhan itu sendiri. Bukankah ini pandangan yang logis?

Penting dicatat, bahwa dalam ilustrasi ini, saya tidak bermaksud untuk mempersamakan tuhan dengan piring. Poin yang ingin saya tekankan di sini ialah, pandangan kita yang meyakini sesuatu sebagai sebab itu bukanlah penentu bagi keberadaan sesuatu itu sendiri. Lagipula, tidak ada orang beriman yang mengatakan bahwa keberadaan Tuhan itu bergantung pada hukum kausalitas, sehingga kalau hukum kausalitas tiada, maka wujud Tuhan pun menjadi tiada. Tidak ada teolog terdidik yang berpandangan begitu.

Yang mereka lakukan dengan argumen-argumen rasional itu ialah membuktikan keberadaan Tuhan dengan hukum kausalitas. Artinya hukum kausalitas itu hanya dijadikan sebagai jalan pembuktian, bukan penentu keberadaan.

Ada atau tiadanya Tuhan tidaklah bergantung pada ide yang dikreasikan oleh nalar manusia. Keberadaan Tuhan tidak bergantung pada hukum kausalitas. Tetapi apabila kita meyakini hukum kausalitas—dan sebagai manusia yang bernalar sehat kita tidak punya ruang untuk mengingkari hukum itu—maka pengakuan kita akan hukum tersebut pastilah akan membuat kita yakin akan keberadaan Tuhan.

Tapi itu bukan berarti bahwa hukum kausalitas menjadi penentu akan keberadaan Tuhan, atau keberadaan Tuhan kita katakan bergantung pada hukum kausalitas. Keyakinan saya yang memandang piring sebagai sebab bukanlah penentu akan ada atau tiadanya piring. Saya meyakininya sebagai sebab atau tidak, sekali lagi, piring itu ada, dan keberadaan-Nya tidak bergantung pada pandangan saya, yang meyakininya sebagai sebab.

“Loh tapi kan kita bisa meyakini keberadaan piring, karena piring bisa terlihat dengan jelas. Sementara Tuhan? Tuhan kan tidak jelas keberadaannya.” Kalau Anda mengajukan keberatan semacam ini, kita terpaksa harus kembali pada uraian dalam tulisan yang lalu. Dan di sana saya sudah membuktikan bahwa ada atau tiadanya sesuatu itu tidaklah bergantung pada mampu tidaknya pancaindera kita dalam mengakses sesuatu itu. Singkat kata, pancaindera kita pun bukanlah penentu bagi keberadaan sesuatu. 

Baiklah, untuk kembali memperjelas pandangan di atas. Saya ingin mengajukan contoh lain. Atau mari ulang kembali contoh yang pernah saya singgung dalam tulisan yang lalu. Yaitu terjatuhnya meja! Ketika sedang asyik membaca buku, saya misalnya mendengar suatu meja terjatuh. Posisi meja yang tadinya saya lihat berdiri tegak di samping lemari kita sudah tergeletak di atas lantai. Akal kita akan bilang, “berarti ada sebab dong!”

Meskipun indera saya tidak bisa mengakses sebab itu, tapi dengan pengakuan saya akan hukum kausalitas, saya yakin betul bahwa kejadian itu tidak terlahir tanpa adanya sebab. Sebab itu ada. Meksipun saya tidak bisa langsung melihatnya. Tetapi, dan ini yang menjadi pertanyaan penting kita, apakah keberadaan sebab yang tidak terlihat itu sendiri bergantung pada keyakinan saya yang memandangnya sebagai sebab? Ya tentu saja tidak. Saya meyakininya sebagai sebab atau tidak, dia tetap ada, dan keberadaannya tidak bergantung pada apa yang dipikirkan oleh nalar saya. Bukankah begitu?

Kalau Anda sepakat dengan jawaban ini, maka adanya argumen yang berbasis pada hukum kausalitas—dan dengan adanya hukum tersebut para teolog berakhir pada kesimpulan tentang adanya Tuhan—tidak bisa Anda jadikan alasan untuk mengatakan bahwa keberadaan Tuhan itu bergantung pada hukum kausalitas. Hukum kausalitas itu adalah satu ketetapan rasional yang dijadikan sebagai jalan pembuktian akan keberadaan Tuhan, tapi bukan penentu bagi keberadaan Tuhan itu sendiri.

Keyakinan kita yang menyebut sesuatu sebagai sebab bukan berarti bahwa sesuatu itu hanya bisa ada kalau kita meyakininya sebagai sebab, dan tiada kalau kita tidak meyakininya sebagai sebab. Karena keberadaan sesuatu di alam luar tidaklah bergantung pada konsep sebab-akibat yang tertancap di dalam nalar. Walhasil, kita tidak menggantungkan keberadaan Tuhan pada hukum kausalitas. Tapi adanya hukum kausalitas dapat menggiring kita untuk mengukuhkan keberadaan Tuhan. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb. 

Bagikan di akun sosial media anda