Benarkah Ada Kontradiksi Di dalam Kitab Suci?

Sebelum pertanyaan ini dijawab, pertama-tama harus saya tegaskan terlebih dulu bahwa kitab suci yang saya maksud dalam tulisan ini hanyalah al-Quran. Apakah ada kontradiksi dalam kitab suci umat agama lain? Saya tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan itu. Karena saya tidak memandang adanya kitab suci yang benar, kecuali al-Quran, dan kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi terdahulu. Lalu apakah ada kontradiksi di dalam al-Quran? Tentu saja, orang Ateis, yang kadang tidak paham dengan isi kitab suci itu, akan berkata iya. Di dalam al-Quran terdapat banyak kontradiksi.

Dan mereka tidak mau beriman dengan kitab suci, dengan alasan bahwa di dalamnya memuat banyak kontradiksi. Sayang, mereka-mereka yang berpandangan seperti ini, di samping tidak memahami tafsir al-Quran, juga tidak paham dengan rincian hukum kontradiksi itu sendiri. Bagi orang yang mempelajari Ilmu Logika dengan baik, kontradiksi itu bukan cuma soal perbedaan antara kedua proposisi. Bukan berarti kalau ada dua pernyataan yang terlihat bertentangan, lantas kemudian disimpulkanlah bahwa keduanya kontradiktif. Dan karena itu kita tolak semuanya, dengan alasan adanya kontradiksi itu.

Kalau ada yang berpandangan seperti ini, pasti dia tidak paham dengan hukum kontradiksi itu sendiri. Untuk melahirkan satu kontradiksi, ada sejumlah syarat yang harus diperhatikan, bukan hanya sebatas perbedaan dan pertentangan. Saya harap di antara Anda tidak ada yang mengira bahwa uraian kontradiksi itu adalah kreasi para ulama Muslim semata, demi menghindari adanya tuduhan kontradiksi di dalam kitab suci mereka. Kaidah-kaidah kontradiksi yang akan kita paparkan di sini murni berasal dari akal sehat. Kalau Anda tidak percaya, saya ingin ajak Anda untuk menelaah sedikit demi sedikit tentang syarat-syarat itu.

Pertama-tama kita perlu definisikan istilah kontradiksi itu terlebih dulu. Apa itu kontradiksi? kontradiksi ialah “perbedaan antara dua proposisi dalam positif dan negatif, sehingga kebenaran proposisi yang satu meniscayakan kesalahan proposisi yang lain, karena dirinya sendiri.” Dari definisi yang singkat ini bisa kita katakan bahwa kontradiksi itu hanya bisa terjadi dalam proposisi, bukan kata tunggal. Kemudian keduanya harus berbeda dalam kualitasnya (positif-negatif). Dan yang tidak kalah penting untuk dicatat ialah, kebenaran proposisi yang satu, meniscayakan kesalahan proposisi yang lain, yang kontradiktif dengannya itu.

Artinya, kalau proposisi yang satu benar, maka kontradiksinya bisa dipastikan salah. Karena dua pernyataan yang kontradiktif itu, demikian kata para logikawan, tidak mungkin saling terhimpun juga tidak mungkin saling terangkat (lâ yajtami’ân wala yartafi’ân). Saya tidak ingin memerinci definisi ini lebih jauh. Bagi Anda yang tertarik, Anda bisa langsung mengakses penjelasan penulis di dalam buku Ilmu Mantik.

Kini tiba saatnya kita membuktikan, bahwa untuk melahirkan kontradiksi, para logikawan memberlakukan sejumlah syarat. Dua pernyataan itu, kata mereka, baru bisa dikatakan kontradiktif kalau menyatu dalam delapan aspek, dan berbeda dalam satu atau dua aspek.

Kesatuan yang dimaksud ialah kesatuan dalam [1] subjek [2] predikat [3] waktu [4] tempat [5] relasi [6] syarat [7] keseluruhan dan sebagian [8] potensi dan aksi. Adapun perbedaan yang dimaksud ialah perbedaan dalam kualitas, yakni positif dan negatif. Apabila proposisinya termasuk proposisi yang disertai kuantor, seperti kata “seluruh” dan “sebagian”, maka para logikawan memberlakukan syarat lain, yaitu perbedaan dalam kuantitasnya. Sekarang mari kita buktikan, apakah syarat-syarat yang mereka berlakukan ini mengada-ngada, atau dia senafas dengan akal sehat kita?

Satu pernyataan menyebutkan bahwa “Parto datang ke dalam kelas.” Lalu ada ungkapan lain menyatakan bahwa “Sule tidak datang ke dalam kelas.” Kalau Anda perhatikan, dua pernyataan ini saling bertentangan satu sama lain. Yang satu bilang “datang ke dalam kelas”, sementara yang lain bilang “tidak datang ke dalam kelas.” Tapi, sayangnya, dua ungkapan tersebut bicara tentang dua subjek yang berbeda. Akal sehat kita tidak akan memandang dua pernyataan ini sebagai dua pernyataan yang kontradiktif. Kenapa? Karena subjek yang dimaksud jelas berbeda.

Dari sini sangat masuk akal ketika para logikawan memberlakukan syarat, bahwa dua pernyataan baru dikatakan kontradiktif kalau keduanya menyatu dalam subjeknya. Kalau subjeknya berbeda, maka kontradiksi tidak akan terjadi. Bukankah ini syarat yang logis? Baik, untuk selanjutnya, di samping menyatu dari sudut subjek, kontradiksi juga bisa terjadi kalau dua pernyataan yang dimaksud menyatu juga dalam predikatnya. Kalau predikatnya berbeda, maka kontradiksi pun tidak akan terjadi di sana.

Satu pernyataan menyebutkan bahwa “Sukimin seorang sarjana.” Pernyataan lain menyebutkan bahwa “Sukimin bukan seorang petani.” Anda lihat di sini bahwa kedua proposisi tersebut menyinggung subjek yang sama, yaitu Sukimin. Tapi apakah keduanya bisa kita katakan kontradiktif? Jelas tidak. Kenapa? Karena keduanya menyebut predikat yang berbeda. Memang keduanya berbeda dalam kualitasnya (yang satu positif, dan yang lain negatif). Tetapi karena predikatnya berbeda, maka kontradiksi itupun menjadi tiada.

Begitu juga halnya dengan kesatuan waktu dan tempat. Coba bandingkan dua pernyataan ini. “Rahma ada di dalam kelas.” Dengan pernyataan, “Rahma tidak ada di dalam rumah.” Kata “ada” dan “tiada” memang bertentangan. Tetapi apakah pernyataan tersebut kontradiktif, hanya karena menyertakan kata “ada” dan “tiada”? Biarkan nalar sehat Anda yang menjawab. Selama nalar Anda masih sehat, Anda akan berkata tidak. Kenapa tidak? Karena keduanya berkaitan dengan tempat yang berbeda.

“Ali tidur (kemarin). Dengan pernyataan, “Ali tidak tidur (sekarang)”. Apakah Anda memandang dua pernyataan ini sebagai pernyataan yang kontradiktif? Lagi-lagi tidak. Meskipun di sana ada kata “tidur” dan “tidak tidur”, tetapi karena keduanya berkaitan dengan waktu yang berbeda, maka keduanya pun menjadi tidak kontradiktif. Uraian mengenai syarat-syarat yang lain, bisa Anda baca uraian dalam buku penulis.

Poin penting yang hendak saya tekankan di sini ialah, untuk menyimpulkan satu ayat kontradiktif dengan ayat yang lain itu perlu analasis yang benar-benar jeli, sekaligus memerhatikan kaidah-kaidah yang telah kita paparkan tadi. Bukan berarti kalau dua ayat terlihat bertentangan, lantas kemudian keduanya kita katakan kontradiktif. Dan karena itu layak kita ragukan semuanya! Ini bukanlah cerminan dari sikap akademik yang terdidik.  

Sekarang kita kembali pada pertanyaan di atas, adakah kontradiksi dalam al-Quran? Menurut saya harus dibedakan antara ayat-ayat yang secara lahiriah terlihat kontradiktif, dan ayat-ayat yang benar-benar kontradiktif. Bagi kalangan tertentu, yang masih awam dalam pembacaan kitab suci, ayat-ayat yang secara lahiriah terlihat kontradiktif itu pasti ada, bahkan mungkin terlihat banyak. Tapi apakah dia benar-benar kontradiktif? Saya harap, orang Ateis, atau siapapun yang memiliki pandangan serupa, mematuhi panduan di atas.

Tidak fair jika kita menghukumi sesuatu dengan sesuatu, sementara kita sendiri tidak paham dengan sesuatu yang hendak kita berlakukan pada sesuatu itu. Anda ingin mengatakan kitab suci menyimpan banyak kontradiksi, tapi Anda sendiri tidak paham dengan kaidah penafsiran kitab suci, juga tidak paham dengan kaidah-kaidah penting dalam hukum kontradiksi itu sendiri. Kalau ini terjadi, maka yang seharusnya Anda ragukan bukan kitab suci yang Anda baca, tetapi justru pemahaman Anda, yang tidak mencerminkan sikap seorang sarjana. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.  

Bagikan di akun sosial media anda