Ada yang Tidak Masuk Akal dalam Agama?

Sepanjang saya menjadi Muslim, saya belum pernah menemukan ajaran pokok Islam yang bertentangan dengan akal sehat saya. Pandangan saya ini mungkin bisa salah. Tapi, jika ada yang ingin membuktikan kesalahannya, kita persilakan para pembaca untuk membuktikan kesalahan itu. Buktikan bahwa dalam Islam ada ajaran pokok yang tidak masuk akal, karena dia bertentangan dengan hukum-hukum akal. Tentu saja, Anda tidak akan pernah mampu membuktikan itu, kecuali setelah Anda paham dengan apa yang dimaksud dengan hukum-hukum akal itu sendiri.

Apa sih hukum-hukum akal itu? Di samping kiri saya sekarang ada dua buah buku, dan di sebelah kanannya ada segelas air kopi. Menurut akal yang sehat, sesuatu yang saya sebut sebagai kopi tidak mungkin saya sebut sebagai gelas. Kopi adalah kopi, gelas adalah gelas. Buku adalah buku. Laptop adalah laptop. Kalau ada yang berkata sebaliknya, dengan menyebut kopi sebagai gelas, atau menyebut buku sebagai laptop, maka dia telah menyalahi hukum akal. Karena hukum akal menyatakan, bahwa sesuatu itu adalah dirinya sendiri.

A adalah A. Dan B adalah B. Tidak bisa Anda mencampuradukkan keduanya. Bukankah semua manusia yang bernalar sehat mengamini pandangan ini? Inilah yang dimaksud dengan hukum identitas (law of identity/qânûn al-huwiyyah). Hukum yang menyatakan bahwa sesuatu itu adalah dirinya sendiri. Tak akan ada manusia yang mengingkari hukum ini, kecuali orang gila, dan orang-orang yang mengalami masalah dengan kesehatan nalarnya.

Ketika saya mengatakan A adalah A, maka sebagai konsekuensinya tidak mungkin saya mengatakan sesuatu itu sebagai A, tapi dia juga bukan A. Dari sini muncullah hukum non-kontradiksi (law of non-contradiction/qânûn ‘adam at-tanâqudh), yang menyatakan bahwa dua hal yang bertentangan itu tidak mungkin saling terhimpun, juga tidak mungkin saling terangkat. Ini juga termasuk hukum akal yang penting untuk kita sepakati bersama.

Tetapi, sebagaimana telah saya singgung dalam tulisan yang lalu, kontradiksi itu sendiri memiliki syarat dan kaidah-kaidahnya. Bukan hanya karena dua pernyataan berbeda, lantas keduanya kita katakan kontradiktif. Dan karena itu keduanya kita katakan bertentangan dengan hukum akal. Cara berpikir yang logis harusnya menghindarkan kita dari kekeliruan semacam ini. Di antara kekeliruan sebagian orang, kalau ada dua pernyataan, atau lebih, yang kontradiktif, maka semuanya menjadi tidak benar.

Padahal, pilihan yang logis harusnya menyimpulkan, bahwa apabila ada dua pernyataan yang kontradiktif, maka salah satu di antaranya sudah pasti benar, dan yang lain bisa dipastikan salah. Beginilah hukum non-kontradiksi bekerja. Kalau kontradiksi itu sudah memenuhi syarat-syaratnya. Karena dua hal yang kontradiktif itu tidak mungkin saling terhimpun, juga tidak mungkin saling terangkat, maka dari sini terlahirlah hukum ketiga, yaitu hukum kemungkinan ketiga yang terangkat (law of excluded middle/qânûn at-tsâlits al-marf’û).

“Markicot ada”, “markicot tidak ada.” Ini adalah dua pernyataan yang kontradiktif, tidak mungkin keduanya sama-sama benar, juga tidak mungkin kedua-duanya sama-sama salah. Jika yang satu benar, maka yang lain salah. Dan jika yang lain salah, maka yang satu benar. Tidak ada kemungkinan ketiga di antara dua pernyataan yang kontradiktif. Inilah yang dimaksud dengan hukum yang terakhir kali disebut itu.

Masing-masing dari hukum identitas, hukum non-kontradiksi, dan hukum kemungkinan ketiga yang terangkat, ialah landasan dari bangunan pemikiran kita. Tidak sah kita berpikir, kalau kita mengabaikan ketiga hukum ini. Itulah alasan mengapa uraian tentang ketiganya sering kita jumpai dalam permulaan buku-buku logika. Dan itulah yang kita maksud dengan hukum-hukum akal.

Pertanyaannya sekarang, adakah ajaran pokok agama Islam, dari mulai ketuhanan (ilâhiyyât), kenabian (nubuwwât), dan hal-hal ghaib (sam’iyyât), yang bertentangan dengan ketiga hukum akal itu? Berdasarkan yang saya amati, tidak ada. Yang sering kita jumpai adalah keyakinan tentang hal-hal yang berada dalam jangkauan akal, tapi bukan berarti dia bertentangan dengan hukum akal. Akal kita memungkinkan keberadaannya. Tapi dia tidak mampu menjelaskan sepenuhnya, karena itu berada di luar jangkauannya.

Jadi kita harus bisa membedakan antara sesuatu yang berada di luar jangkauan akal, dan karena itu ia tidak bisa dijelaskan sepenuhnya oleh akal. Dengan sesuatu yang tidak masuk akal, karena dia bertentangan dengan hukum akal. Saya mengklaim bahwa dalam Islam tidak ada ajaran pokok yang tidak masuk akal, karena bertentangan dengan hukum akal itu. Yang ada justru sebaliknya. Islam datang dengan ajaran yang masuk akal, tentang hal-hal yang tidak selamanya bisa dijelaskan oleh akal.

Apa contoh sesuatu yang berada di luar jangkauan akal itu? Semua hal ghaib yang keberadaannya kita percayai melalui wahyu. Seperti hari akhir, sorga, neraka, timbangan amal, syafa’at, azab kubur, malaikat, dan hal-hal ghaib lainnya. Itu semua termasuk sesuatu yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan akal, karena memang dia berada di luar jangkauan akal.

Anda tidak bisa, misalnya, menjelaskan kenikmatan surga, atau menggambarkan kepedihan neraka, dan kegentingan hari kiamat, atau menjelaskan ciri-ciri malaikat, hanya dengan mengandalkan akal saja. Karena memang hal-hal ghaib semacam itu berada di luar jangkauan akal. Sebagaimana keberadaannya juga berada di luar jangkauan pancaindera. Dan karena itu kita hanya bisa merujuk pada penjelasan wahyu.

Kalau wahyu yang menginformasikan keberadaannya (seperti al-Quran) itu terbukti benar, maka kita dapat memastikan keberadaannya. Tapi kalau wahyu tidak menginformasikan keberadaannya, maka kita pun tidak dapat memastikan keberadaannya, hanya bersandar pada akal kita semata. Kenapa? Karena, sekali lagi, hal-hal semacam itu berada di luar jangkauan akal. Tapi, meski demikian, keyakinan akan hal tersebut tidaklah bertentangan dengan hukum akal. Bahkan sebaliknya, akal kita justru memungkinkan keberadaannya.

Jadi Anda harus membedakan dengan cermat antara sesuatu yang memang berada di luar jangakuan akal, dan karena itu ia tidak bisa dijelaskan oleh akal. Dengan sesuatu yang benar-benar bertentangan dengan hukum akal. Itu jelas dua hal yang berbeda. Apakah keyakinan kita akan keberadaan malaikat, jin, setan, sorga, neraka dan semacamnya itu berkonsekuensi pada kemustahilan? Sama sekali tidak. Apabila ada yang mengklaim bahwa keyakinan tentang hal-hal ghaib semacam itu bertentangan dengan hukum akal, kita persilakan yang bersangkutan untuk mengajukan alasan.

Begitu juga halnya dengan kejadian-kejadian luar biasa yang dialami oleh para nabi dan orang-orang pilihan. Tongkat membelah lautan, jasad yang tidak terbakar oleh api, ditelan ikan paus tapi tidak mati, tongkat yang berubah menjadi ular, tidur ratusan tahun, dan kejadian-kejadian luar biasa lainnya, itu tidaklah bertentangan dengan hukum akal. Ya, boleh jadi kita memandangnya sebagai sesuatu yang mustahil. Tapi, kemustahilan itu hanya berdasarkan kebiasaan saja, sementara akal kita tetap memungkinkan keberadaannya.

Artinya akal kita tetap memungkinkan terjadinya peristiwa semacam itu. Tapi berhubung kita tidak terbiasa menyaksikannya, maka kita memandangnya sebagai sesuatu yang mustahil. Dan kemustahilan itu, sekali lagi, hanya berdasarkan kebiasaan saja, bukan mustahil menurut akal. Dalam agama (Islam), tidak ada sesuatu yang mustahil menurut akal, dan bertentangan dengan hukum akal, lalu dikatakan terjadi, dan yang bertentangan dengan hukum akal itu harus kita imani. Tidak ada ajaran semacam itu.

Dari bangunan konsep ketuhanan, Islam menyuguhkan konsepsi tauhid yang tegas dan jelas. Tidak ada ajaran mempertuhan manusia, apapun itu alasannya. Ketuhanan hanya milik Allah. Dia itu Esa, tidak berbilang, tidak bergantung kepada makhluk, dan kepada-Nya lah bergantung semua makhluk. Dia memiliki seluruh sifat kesempurnaan, keagungan dan keindahan. Dan mustahil baginya seluruh sifat yang mengandung kekurangan, atau berkonsekuensi pada kekurangan. Karena kekurangan hanya layak disandang oleh makhluk. Tapi tidak untuk Sang khaliq.

Ajaran kenabiaannya juga tidak ada yang bertentangan dengan hukum akal. Hal-hal ghaib yang disampaikan melalui wahyu, juga tidak ada yang bertentangan dengan hukum akal. Semuanya masuk akal, dalam arti bahwa akal kita tidak memandang mustahil keberadaannya. Tidak berhenti sampai di situ. Dalam Islam, Anda tidak diwajibkan beragama, kalau Anda tidak berakal. Bahkan keimanan Anda sendiri tidak akan diterima, kalau Anda beriman hanya sebatas ikut-ikutan (taqlid), dan enggan menggunakan akal. Dalam kitab suci, bertaburan ayat-ayat yang mendorong umat manusia untuk menggunakan akalnya.  

Terlalu banyak bukti yang dapat kita paparkan, bahwa ajaran Islam benar-benar menjunjung tinggi akal, dan karena itu di antara ajaran-ajarannya tidak ada yang bertentangan dengan hukum-hukum akal. Ya, saya tidak mengingkari adanya pendapat para ulama yang kadang-kadang terlihat tidak masuk akal. Tetapi pendapat ulama itu satu hal, ajaran pokok agama itu sendiri adalah hal yang lain lagi. Islam menjadikan akal sebagai jalan untuk beriman. Karena itu tidak mungkin dia menuntut kita beriman, tentang sesuatu yang keberadaannya sendiri bertentangan dengan hukum-hukum akal. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.   

Bagikan di akun sosial media anda