Kisah al-Quran Bukan Bagian dari Sejarah?

Dalam salah satu tulisan sebelumnya saya sempat mengajukan kritik atas pandangan Dawkins, yang memandang kisah-kisah dalam kitab suci sebagai mitos. Saya katakan di sana bahwa Dawkins tidak menyuguhkan argumen rasional apapun untuk membuktikan kesahihan klaim tersebut. Kesimpulan yang dia tarik hanya berdasarkan imajinasi liarnya saja. Merasa bahwa al-Quran itu seperti kitab dongeng, maka dia simpulkanlah bahwa kisah-kisah yang termuat dalamnya juga merupakan bagian dari dongeng, dan bukan bagian dari sejarah.

Rasa miris mulai mengemuka ketika kita melihat bahwa diam-diam pernyataan itu juga diamini oleh sebagian para pengkaji Muslim. Meskipun kesimpulannya tidak seradikal Dawkins, yang menolak kesahihan kisah itu sama sekali. Salah satu dari mereka menyebutkan, bahwa kisah-kisah al-Quran disajikan hanya demi memberikan pelajaran (‘ibrah) bagi para pembacanya. Al-Quran, kata mereka, tidak bermaksud untuk menegaskan faktualitas dari kisah-kisah itu sendiri. Tapi yang terpenting dari kisah-kisah itu ialah pesan moralnya.   

Artinya, kalau ingin diperjelas, klaim mereka ini hendak menegaskan bahwa kisah-kisah yang termuat dalam al-Quran itu tidak bisa kita pastikan historisitasnya. Apakah ia benar-benar terjadi dalam sejarah atau tidak, kata mereka, al-Quran tidak menjelaskan itu. Dan memang kebenaran kisah-kisah itu sendiri, kata mereka, tidak bisa diverifikasi dengan menggunakan metode para ahli sejarah. Karena itu kita tidak dapat memastikan faktualitasnya.

Ya, mereka tidak secara terus terang menyebut kisah-kisah itu sebagai mitos. Tapi, ketika mengajukan klaim tersebut, tentu saja kita berhak untuk bertanya, lalu bagaimana pandangan Anda tentang kisah-kisah itu? Apakah dia benar-benar terjadi, sehingga dengan begitu dia menjadi bagian dari sejarah, atau tidak? Kita hanya dihadapkan pada dua pilihan itu. Saya berharap Anda tidak menangkis jawaban itu dengan berkilah, “oh, kalau urusan iman, saya percaya dengan kebenaran kisah-kisah itu. Tapi kalau merujuk kajian historis, saya tidak dapat memastikan kebenarannya.”

Kenapa saya keberatan dengan jawaban ini? Karena jawaban ini mengandaikan terjadinya kontradiksi dalam sudut pandang orang itu sendiri. Seolah-olah Anda tampil dengan dua kepribadian ganda. Kalau urusan iman, Anda membanarkan. Tapi dari sudut kajian historis, Anda tidak membenarkan. Sekarang saya tanya, keimanan Anda yang meyakini faktualitas cerita itu sendiri benar atau tidak? Kalau Anda katakan benar, maka sebagai konsekuensinya cerita itu juga benar, dan dia sesuai dengan kenyataan sejarah. Karena sebuah keimanan tidaklah dipandang sebagai keimanan yang sahih, kecuali kalau dia sesuai dengan kenyataan, dan bersandar pada dalil.

Tapi kalau Anda memandang keimanan Anda salah, dan Anda masih memeluk keyakinan itu, berarti Anda telah memeluk keimanan yang palsu. Walhasil, Iman dan sejarah bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Manakala Anda mempertentangkan keduanya, ketika itu kita hanya dihadapkan dengan dua pilihan. Pertama, Anda memandang keimanan Anda benar, dan hasil kajian Anda, yang menyangsikan faktualitas cerita itu, salah. Kedua, Anda memandang hasil kajian itu benar, dan keimanan Anda harus dikatakan salah. Karena dia bertentangan dengan kenyataan. Terlihat bahwa jawaban semacam ini meniscayakan adanya kontradiksi dalam sudut pandang orang itu sendiri.  

Baik, saya tidak akan berpanjang lebar mengkritik cara berpikir semacam itu. Persoalan inti yang hendak saya diskusikan dalam tulisan ini ialah, apakah narasi-narasi yang termuat dalam al-Quran itu bagian dari sejarah atau bukan? Pilihan yang ada di hadapan kita hanya ada dua. Pertama, dia merupakan bagian dari sejarah, dan karena itu dia tidak hanya sebatas mitos, ataupun cerita moral biasa, yang dikemukakan untuk memberikan pelajaran kepada para pembacanya. Kedua, dia bukan bagian dari sejarah. Dan ketika itu Anda bisa memandangnya sebagai cerita yang dikarang-karang, atau dongeng-dongeng yang memang dikemukakan untuk memberikan pelajaran.

Saya mengklaim kesahihan pandangan yang pertama. Bahwa apa yang dikisahkan al-Quran itu merupakan bagian dari sejarah masa lampau, dan dia benar-benar terjadi secara faktual. Untuk memulai argumennya, saya ingin mengajak Anda untuk merenungkan sebuah ilustrasi terlebih dulu.

Misalnya suatu waktu Anda bercerita di hadapan anak Anda tentang dua kisah berbeda tapi kedua-duanya dituturkan dengan tujuan yang sama. Tujuan Anda bercerita, katakanlah, untuk memberikan pelajaran moral kepada anak Anda. Cerita pertama itu benar-benar kisah nyata, sedangkan yang kedua hanyalah cerita yang Anda karang-karang sendiri, dan tidak sesuai dengan fakta yang ada. Pertanyaan saya, manakah yang lebih sempurna dari penuturan kedua cerita itu?

Jelas, cerita yang berbasis fakta itu lebih sempurna, sekaligus lebih berdampak ketimbang cerita yang cuma sebatas karangan, yang tidak ada wujudnya di alam kenyataan. Tidak begitu sulit bagi kita untuk menyetujui hal itu. Dalam urusan menonton film saja, kisah-kisah yang dinarasikan berdasarkan kejadian nyata itu lebih kuat dampak yang diberikannya ketimbang kisah-kisah yang cuma sebatas karangan semata. Menonton drakor yang cuma kisah fiksi saja kita bisa menangis, apalagi kalau kisah yang diceritakan itu benar-benar kisah nyata yang terjadi secara dramatis.

Lagipula, kalau Anda bercerita tentang suatu keadaan, dan keadaan itu bertentangan dengan kenyataan, maka ketika itu Anda dinilai telah berbohong. Misalnya tetangga Anda meninggal karena covid. Lalu, Anda ceritakan kepada anak Anda, bahwa tetangga Anda itu meninggal gara-gara durhaka sama suaminya. “Itulah balasan bagi orang yang durhaka, nak. Makanya kamu jangan durhaka sama ibu!” Saya yakin niatan Anda itu baik. Yakni demi memberikan pelajaran moral kepada yang bersangkutan, bahwa sebagai anak kita harus berbakti sama orang tua. Kalau tidak, maka itulah balasannya.

Tapi, masalahnya, cerita itu sendiri bertentangan dengan kenyataan. Dan karena itu Anda dinilai telah melakukan kebohongan. Karena apa yang Anda ceritakan sendiri bertentangan dengan kenyataan. Ya, Anda punya niatan baik. Tapi kebohongan tetaplah kebohongan. Apakah Anda memandang perbuatan semacam ini sebagai perbuatan yang mulia? Kalaupun Anda berkata iya, tapi bukankah cerita yang disajikan berdasarkan kisah nyata itu lebih baik, lebih sempurna, dan lebih berdampak ketimbang kisah yang dibuat-buat semata?

Kalau anak Anda tahu, bahwa Anda sudah berbohong, kemungkinan besar dia pun tidak menghiraukan lagi pesan penting di balik kisah yang dia terima itu. “Ya karena isinya juga cuma bohongan, kok! Pelajaran apa yang saya dapat dari kisah yang bohong?” Mungkin dia akan berkata begitu.

Nah, sekarang tiba saatnya kita kembali bertanya, lantas bagaimana pandangan Anda tentang kisah-kisah yang termuat di dalam al-Quran itu? Apakah kisah-kisah itu sesuai dengan kenyataan sejarah atau tidak? Kalau Anda katakan sesuai, berarti runtuhlah sudah klaim Anda, yang mengatakan bahwa kisah-kisah itu bukan bagian dari sejarah. Tapi kalau Anda katakan tidak sesuai, maka Anda telah menisbatkan kebohongan kepada Tuhan, karena memandang kisah-kisah yang diwahyukannya itu tidak sesuai dengan kenyataan. Dan memang kita hanya akan dihadapkan pada dua pilihan itu.

Kalau Anda meyakini kebenaran kisah-kisah itu, berarti dia sesuai dengan kenyataan. Dan kalau sesuai dengan kenyataan, berarti dia menjadi bagian dari sejarah. Tapi kalau tidak, berarti Anda telah menisbatkan kebohongan kepada Tuhan, karena kisah-kisah yang diwahyukannya Anda katakan tidak sesuai dengan kenyataan. Dapatkah kita menerima pandangan yang terakhir ini?

Penting diingat bahwa pandangan kita yang meyakini al-Quran sebagai wahyu Tuhan bukanlah keimanan yang bersifat dogmatis. Klaim bahwa al-Quran adalah wahyu Tuhan adalah klaim sahih yang dapat dibuktikan dengan argumen-argumen rasional. Kita perlu diskusi secara terpisah untuk memaparkan bukti-bukti rasional itu. Dan kalau al-Quran itu terbukti sebagai firman Tuhan, maka tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali mengimani kebenaran semua kisah-kisahnya.

Jadi pembuktian akan kebenaran kisah-kisah dalam al-Quran bukan ditempuh dengan menggunakan metodologi sejarah. Karena al-Quran memang bukan kitab sejarah. Pembuktian akan kebenaran kisah-kisah itu harus dilakukan dengan membuktikan keilahian al-Quran itu sendiri. Kalau terbukti bahwa al-Quran ini berasal dari Tuhan, maka benarlah semua isinya. Lalu apa bukti kalau al-Quran itu merupakan firman Tuhan? Untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan, kita perlu menguraikan hal ini dalam tulisan lain secara berdiri sendiri. Yang jelas, banyak ulama Muslim sudah melakukan upaya pembutkian itu.

Dalam tulisan yang lalu saya sudah mengemukakan secuil dari bukti-bukti rasional itu. Saya katakan di sana bahwa Nabi Muhammad, sebagaimana dicatat dalam sejarah, tidak pernah melakukan kebohongan, dan beliau dikenal sebagai pribadi yang memiliki keluhuran budi pekerti. Di samping itu, beliau juga dikenal sebagai nabi yang ummi, alias tidak melakukan kegiatan membaca dan menulis. Tapi, meski begitu, kitab suci yang disampaikan memuat banyak sekali kisah-kisah masa lampau, panduan moral, aturan hidup, dasar-dasar keyakinan. Padahal dari mana beliau bisa mempelajari semua itu? Baca tulis tidak, berguru tidak. Sudah begitu orangnya tidak pernah berbohong pula. 

Kitab suci itu bahkan berisikan tantangan kepada manusia dan jin agar mereka membuat kitab serupa. Dan sampai detik ini tidak ada satu pun dari mereka yang dapat menandingi tantangan itu. Sisi kebahasaan al-Quran telah membuat para pakar bahasa Arab berdecak kagum. Kesaksian mereka sendiri menunjukkan, bahwa bahasa al-Quran ini adalah bahasa Arab yang tidak biasa. Sangat indah, sangat dalam dan tak akan pernah tertandingi oleh karangan manusia.  

Tampaknya tak ada kitab suci di dunia ini yang mampu melahirkan berton-ton kitab tafsir selain al-Quran. Sudah tidak terhitung berapa banyak buku yang mengulas tentang makna-makna, keistimewaan dan hal-hal yang mengagumkan dari kitab suci itu. Jangan dikira bahwa klaim yang menyebut al-Quran sebagai mukjizat hanya omong kosong yang diwariskan secara turun temurun. Tidak. Kalau Anda meminta para sarjana Muslim untuk membuktikan kemukjizatan itu, mereka sudah siap tampil dengan berjilid-jilid buku, dengan setumpuk argumen yang mereka punya.

Dan kalau al-Quran terbukti sebagai mukjizat, maka kita tidak layak memperlakukannya sebagai kitab sejarah biasa, yang kebenaran isinya hanya bisa kita pastikan dengan metode pembuktian para sejarawan. Al-Quran bukan kitab sejarah. Tapi kandungannya berisikan sejarah. Dia bukan karangan manusia, berdasarkan kesaksian dari al-Quran itu sendiri, juga berdasarkan argumen-argumen rasional yang kita miliki, yang tidak semuanya bisa kita dedahkan di tempat yang terbatas ini.

Dan kalau Anda menerima al-Quran itu sebagai firman Tuhan, maka, sekali lagi, sebagai konsekuensi logisnya Anda harus menerima kebenaran semua isi kitab suci itu. Dan memandang semua kisah yang disampaikannya sebagai kisah yang benar-benar nyata, dan pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Karena dia berasal dari Tuhan. Tidak mungkin Tuhan berbohong kepada hamba-hamba-Nya dengan menyampaikan kisah A, misalnya, sementara kisah itu sendiri tidak pernah terjadi. Dan bertentangan dengan fakta yang ada. Kesempurnaan Tuhan bertentangan dengan kemungkinan itu.

Anda boleh berkesimpulan bahwa kisah-kisah itu adalah kisah-kisah moral, dalam arti bahwa di balik penuturan narasinya ada pesan-pesan moral yang ingin ditujukan kepada para pembaca. Tapi, pada akhirnya Anda akan dihadapkan dengan pertanyaan tadi, lalu kisah-kisah itu sendiri benar-benar terjadi atau tidak? Kalau Anda katakan iya, berarti Anda sepakat dengan kita. Bahwa kisah al-Quran itu adalah bagian dari sejarah. Tapi kalau tidak, berarti, sekali lagi, Anda telah menisbatkan kekurangan pada kitab suci itu, karena dia telah menarasikan kejadian yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Pada akhirnya, pilihan yang memandang kisah-kisah al-Quran sebagai kenyataan sejarah, yang benar-benar terjadi secara faktual, karena dia berasal dari Tuhan, jauh lebih logis ketimbang sikap yang meragukan apalagi menafikan kebenarannya. Status al-Quran sebagai wahyu Tuhan dengan sendirinya membenarkan semua hal yang diceritakan oleh al-Quran itu sendiri. Dan kalau kita memandang al-Quran sebagai kitab yang benar, maka kisah-kisah yang termuat di dalamnya pun sudah pasti benar, dan sesuai dengan kenyataan. Karena ia sesuai dengan kenyataan, maka dari situlah kita dapat menarik banyak pelajaran. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda