Dan Para Pelaku Maksiat Pun Tetap Dipanggil sebagai Hamba

Saya pernah menyimak curhatan salah seorang perempuan yang meratapi nasib hidupnya. Dia bekerja sebagai bartender di sebuah diskotik. Tentu saja, dalam ajaran agama kita, apapun pekerjaan yang berkaitan dengan khamar adalah haram, baik yang memproduksinya, mengantarkannya, menyajikannya apalagi yang mengonsumsinya. Dan perempuan ini sadar bahwa apa yang dia lakukan adalah sebuah dosa besar. Tapi, secara terus terang dia mengatakan, bahwa hatinya sering menjerit dengan keadaan itu. Dia sendiri tidak mau menekuni pekerjaan tersebut. Tapi dia terpaksa, karena harus menghidupi keluarganya. Hatinya ingin bertaubat, tapi kesulitan masih menghimpit kehidupannya.

Kepadanya saya meyakinkan, bahwa orang yang meninggalkan perbuatan buruk dengan niatan yang baik, insya Allah akan mendapatkan hasil yang baik. Meskipun tidak secara instan. Dalam hidup, proses menuju hasil itu adalah hal yang niscaya. Tugas kita hanya memperbaiki diri. Soal hasil akhir sebaiknya kita serahkan kepada Tuhan kita sendiri. Pendek cerita, diapun bertekad untuk menempuh jalan itu. “Saya mau jualan kecil-kecilan saja, ustadz. Mudah-mudahan ada jalannya.” Tuturnya kepada saya. Saya yakin bahwa orang-orang seperti ini di luar sana cukup banyak. Orang-orang yang hidupnya bergelimang maksiat, tapi hatinya menjerit dan sangat merindukan taubat.

Kita tidak ingin memandang enteng perbuatan maksiat. Maksiat tetaplah maksiat, sebagai sesuatu yang dikecam dalam ajaran agama. Tetapi, pada saat yang bersamaan, kita juga harus sadar, bahwa tempat kita memohon dan bersandar hanya ada satu. Yaitu Allah Swt. Allah bukan hanya Tuhannya para awliya, tapi Dia juga Tuhan bagi orang-orang yang jauh dari tuntunan agama. Kalau kita merasa sebagai ahli maksiat, kita tidak perlu merasa minder, apalagi sampai putus asa. Karena Allah senantiasa membuka pintu pertaubatan bagi hamba-hamba-Nya.

Jangankan yang bermaksiat satu-dua kali, yang benar-benar berlebihan dalam berbuat maksiat saja Allah berikan kesempatan untuk kembali. Dalam al-Quran, Allah Swt berfirman:

 قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   

“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 39: 53)

Anda perhatikan di sana bahwa Allah menyebut orang-orang yang melampaui batas—sekali lagi melampaui batas, bukan hanya bermaksiat sekali dua kali—sebagai hamba-hamba-Nya. Panggilan yang sangat mesra. Dengan panggilan mesra itu, Allah meminta mereka untuk tidak berputus asa. Allah tentunya tahu, bahwa kita adalah makhluk yang lemah. Lemah dan mengendalikan hawa nafsu, juga lemah dalam menepis bisikan setan. Dan itulah yang menjerumuskan kita ke dalam perbuatan maksiat. Kendati begitu, Allah melarang kita untuk berputus asa. Kalau kita berputus asa, maka cukuplah kiranya itu menjadi bukti, bahwa selama ini telah menghambakan diri kepada amalan kita, bukan menghambakan diri kepada Allah Swt.

Bergantung pada amalan adalan pilihan sikap yang tercela. Hikmah pertama yang ditulis oleh Imam Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari menyebutkan, “di antara tanda-tanda kebergantungan pada amalan, ialah berkurangnya harapan ketika tersungkur dalam kemaksiatan.” Allah meminta kita untuk menjadi hamba, bukan menjadi manusia suci yang terbebas sepenuhnya dari segala macam dosa. Kalau berbuat dosa, kita harus bertaubat kepada Tuhan kita. Dan kalau kita berbuat taat, kita tidak boleh berbangga. Karena ketaatan yang kita lakukan itu sendiri adalah buah dari kemudahan yang telah diberikan oleh Allah Swt.

Baik dalam keadaan maksiat maupun taat, kita semua adalah hamba Allah. Dan karena itu kita tidak punya tempat untuk memohon dan kembali kecuali hanya kepada Allah. Ingat bahwa kemaksiatan yang mewariskan kehinaan di hadapan Tuhan itu lebih baik ketimbang ketaatan yang mewariskan kesombongan. Karena orang bermaksiat yang merendah di hadapan Tuhannya itu sudah merealisasikan kehambaaan di hadapan-Nya. Sementara orang taat yang sombong di hadapan Tuhannya, sesungguhnya dia telah bermaksiat dengan kemaksiatan yang besar, sekalipun secara lahiriah dia telah melakukan perbuatan yang benar.

Tentu akan lebih jika kita melakukan ketaatan, dan pada saat yang bersamaan ketaatan itu juga kita bingkai dengan kerendah-hatian. Namun, kalaulah kita sudah terlanjur jatuh dalam perbuatan maksiat, tidak sepatutnya kita berputus asa dari rahmat Tuhan kita. Dia masih memanggil kita sebagai hamba. Dan sebagai hamba, kita tidak punya tempat kembali kecuali Tuhan yang tak pernah menutup pintu-Nya untuk kita. Sayangnya kita sendiri yang tak mau mengetuk pintu itu. Karena kita terlalu bergantung pada amalan kita, bukan bergantung pada rahmat dan karunia Allah Swt. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda