Kritik Argumen Kosmologis dan Bantahannya

Dalam tulisan sebelumnya telah penulis kemukakan bahwa sebagian besar argumen-argumen rasional yang dikemukakan oleh para teolog, dalam konteks membuktikan keberadaan Tuhan, itu berbasis pada hukum kausalitas. Yakni hukum yang menyatakan bahwa setiap akibat pastilah bergantung kepada sebab. Pengalaman sehari-hari menunjukkan bahwa sesuatu yang tadinya tidak ada, kemudia ada, selalu ada sebab di balik keberadaannya. Tidak ada sesuatu yang mungkin ada, mungkin tiada, kemudian dia mengadakan dirinya sendiri.

Atas dasar itu, alam semesta pun kita yakini memiliki sebab. Karena alam itu tadinya tiada, kemudian ada. Dan segala sesuatu yang ada dari ketiadaan pasti ada sebab yang mengadakan. Dan itulah Tuhan. Inilah yang dimaksud dengan argumen kosmologis itu. Dalam buku-buku kalam klasik lebih sering disebut dengan istilah “dalil al-huduts” (argumen kebaruan). Untuk lebih memperjelas, kita dapat meringkas argumen yang sering digunakan oleh para teolog ini ke dalam bangunan silogisme sebagai berikut: 

Premis minor: Alam semesta itu ada dari ketiadaan

Premis mayor: Segala sesuatu yang ada dari ketiadaan itu ada yang mengadakan 

Konklusi: Alam semesta itu ada yang mengadakan 

Seperti yang kita lihat, konklusi dari argumen di atas tidak secara sarih menyatakan bahwa yang menjadi sebab utama itu adalah Tuhan. Argumen tersebut hanya menyimpulkan bahwa keberadaan alam ini memiliki sebab, yang mengadakannya dari ketiadaan. Tapi apakah yang menjadi sebab itu Tuhan atau bukan, tidak diungkapkam secara jelas oleh argumen itu. Lantas mengapa kita menyebut sebab utama itu sebagai Tuhan? Apa landasannya? Penulis sudah mengemukakan jawaban untuk pertanyaan ini dalam buku “Hal-hal yang Membingungkan Seputar Tuhan”. Anda bisa merujuk buku itu jika Anda mau.

Baru-baru ini saya membaca buku yang ditulis oleh Michael Martin yang berjudul “Atheism: A Philosophical Justification.” Dalam buku tersebut, Martin mengkritik argumen kosmologis. Dan memandangnya sebagai argumen yang tidak berguna untuk membuktikan keberadaan Sang pencipta. Benarkah begitu? Sebelum mengajukan bantahan, mari kita lihat terlebih dulu apa yang dikatakan Martin di dalam buku itu. Seteleh mengemukakan rumusan argumen kosmologis—meskipun dengan penggambaran yang tidak sepenuhnya tepat—Martin kemudian menulis: 

“Perhaps the major problem with this version of the argument is that even if it is successful in demonstrating a first cause, this first cause is not necessarily God. A first cause need not have the properties usually associated with God. For example, a first cause need not have great, let alone infinite, knowledge or goodness. A first cause could be an evil being or the universe itself. In itself this problem makes the argument quite useless as support for the view that God exists. However, it has at least one other equally serious problem.” ( hlm. 97)

(Mungkin yang menjadi masalah utama dengan versi argumen ini adalah bahwa meskipun berhasil menunjukkan penyebab pertama, penyebab pertama ini belum tentu Tuhan. Penyebab pertama tidak perlu memiliki sifat yang biasanya dikaitkan dengan Tuhan. Misalnya, penyebab pertama tidak perlu memiliki pengetahuan atau kebaikan yang besar, apalagi tak terbatas. Penyebab pertama bisa menjadi makhluk jahat atau alam semesta itu sendiri. Dengan sendirinya masalah ini membuat argumen menjadi tidak berguna sebagai pendukung pandangan bahwa Tuhan itu ada)

Yang dikatakan Martin ini barangkali benar. Karena dalam bangunan argumen tersebut memang tidak disebut kata Tuhan. Dan konklusi dari argumen itu juga tidak secara sarih menyebut nama Tuhan. Tetapi, jika kita sepakat bahwa alam itu memiliki sebab—seperti yang kita lihat dalam konklusi dari argumen di atas—maka pada tahap selanjutnya sangat wajar kalau kita bertanya, “lantas siapa yang menjadi sebab itu?” 

Ketika itu kita hanya dihadapkan pada dua pilihan, yaitu alam dan sesuatu yang berbeda dengan alam. Sesuatu yang mengadakan alam semesta dari ketiadaan itu bisa jadi alam, atau sesuatu yang berbeda dengan alam. Adakah pilihan ketiga? Tidak ada. Pilihan yang tersedia hanya dua itu saja. Kalau kita memandang sebab itu sebagai bagian dari alam, maka pandangan tersebut dapat berkonskeuensi pada kemustahilan. Karena, menurut hukum kausalitas, sesuatu tidak mungkin menjadi sebab bagi dirinya sendiri. 

Ketika Anda mengatakan bahwa A adalah sebab bagi A, itu sama dengan pernyataan bahwa A itu tidak ada, karena dia disebabkan, tapi dia juga ada, karena dia menjadi sebab. Sementara ada dan ketiadaan tidak pernah terhimpun menjadi dalam satu subjek secara bersamaan. Karena keduanya kontradiktif. Dan dua hal yang kontradiktif, seperti kata para logikawan, tidak mungkin saling terhimpun, juga tidak mungkin saling terangkat. Dalam kehidupan sehari-hari pun tidak ada sesuatu yang menjadi sebab bagi dirinya sendiri. Karena memang hal itu tidak akan pernah terjadi.  

Boleh jadi yang menjadi sebab itu adalah salah satu bagian dari alam. Salah satu bagian dari alam menjadi sebab bagi bagian-bagian yang lain. Ini juga mustahil, karena selama sesuatu yang menjadi sebab bagi alam itu termasuk sesuatu yang mungkin (contingent), maka dia juga akan menjadi akibat dari sebab yang lain. Karena sesuatu yang mungkin senantiasa butuh sebab dalam keberadaannya. Kalau dia yang menjadi penyebab utama dari seluruh bagian alam, berarti dia akan menjadi sebab bagi sebab-sebab yang menyebabkan dirinya. Dan itu juga mustahil. 

Jika rasionalitas menggiring kita pada kesimpulan bahwa yang menjadi sebab itu bukan alam, juga bukan bagian tertentu dari alam, maka pilihan yang tersisa hanya ada satu. Bahwa yang menjadi sebab di balik keterlahiran alam semesta itu adalah sesuatu yang berbeda dengan alam. Karena alam ini berupa materi, maka yang menjadi sebab bagi kelahiran alam semsesta pastilah bersifat non-materi. Karena apa yang kita saksikan di alam semesta itu senantiasa bergantung kepada yang lain, maka pastilah yang menciptakan alam terbebas dari segala macam kebergantungan. 

Pada akhirnya, nalar kita tidak akan merasa puas jika tidak tahu tentang siapa sesungguhnya yang menjadi sebab itu? Kaum materialis akan menjawab, bahwa yang menjadi sebab itu adalah materi. Sementara kaum beragama menjawab, bahwa yang menjadi sebab utama itu adalah Tuhan. Tinggal kita pilih saja, mana yang lebih masuk di antara kedua pandangan itu. Apakah materi yang tak mampu berbicara, melihat, mendengar, dan lemah tak berdaya layak dijadikan sebagai sebab utama dari keberadaan alam semesta yang teramat dahsyat dan mengagumkan ini? Atau kita menyebut sebab utama itu sebagai Tuhan yang Maha mendengar, Maha melihat, Maha hidup, Maha kuasa, dan menyandang seluruh sifat kesempurnaan, seperti yang dipaparkan dalam ajaran agama, dan sesuai dengan akal sehat kita?

Semakin dahsyat suatu ciptaan, semakin dahysat pulalah sesuatu yang menciptakan. Kreasi yang agung tak mungkin dilahirkan oleh sosok yang cacat. Dengan melihat hal-hal yang menakjubkan dari alam semesta, sangat logis kalau nalar kita berkesimpulan bahwa yang menciptakan alam semesta itu pastilah sosok yang maha segala-galanya, dan dia berbeda dengan sesuatu yang diciptakannya. Kalau yang bersangkutan sepakat dengan hal ini, tapi enggan menyebut nama Tuhan, maka perbedaan kita dengannya hanya perbedaan dalam soal nama saja. Dan kalau kita menyebut sebab utama sebagai Tuhan, maka penyebutan itu tidaklah bertentangan dengan kesimpulan di atas. Justru dia memperjelas dan menguatkannya. 

Tapi bagaimana sifat-sifat Tuhan yang Anda sebutkan itu? Bagaimana cara kita mengenal-Nya? Seperti apa hubungan Dia dengan hamba-hamba-Nya? Di sini akal kita tidak akan bisa menjawab, dengan jawaban yang memuaskan. Dan persis pada titik inilah agama datang untuk mengisi kekosongan, yang tidak bisa diisi oleh akal itu. Agama menjelaskan bahwa Tuhan, yang oleh akal dijadikan sebagai sebab utama, itu memiliki sifat ini, itu dan ini. Hubunganya dengan hamba itu begini, begitu dan begini.Semuanya dijelaskan dengan penjelasan yang masuk akal. 

Tidak ada konsep ketuhanan dalam Islam yang bertentangan dengan hukum-hukum akal. Akal kita memastikan keberadaan-Nya. Sementara Islam datang untuk menjelaskan nama dan sifat-sifat-Nya. Kendati demikian, keduanya sepakat bahwa Tuhan itu ada, Dia berbeda dengan alam, tidak berwaktu, tidak bertempat, Maha kuasa, Maha mengetahui, Maha berkehendak, dan lain-lain. Argumen kosmologis memang tidak menjelaskan semua itu. Tapi penalaran rasional lebih lanjut dapat menggiring kita pada kesimpulan itu. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda