Memang Dia Tidak Tunduk Pada Pengalaman Manusia

Argumen kosmologis berakhir pada kesimpulan bahwa alam semesta ini ada yang mengadakan, seperti yang sudah kita paparkan dalam tulisan yang lalu. Dan, pada tahap selanjutnya para teolog menegaskan bahwa yang mengadakan alam semesta itu sendiri tidak diadakan oleh sesuatu yang lain. Dia adalah wujud yang niscaya (wâjibul wujûd), yang ada karena dirinya sendiri. Pertanyaannya, kenapa wujud pertama itu harus dikatakan niscaya? 

Jawabannya, dia dikatakan niscaya karena tanpa keberadaannya, maka kita akan mengamini adanya silsilah sebab-akibat yang tidak berakhir. Atau regresi yang tidak berakhir (tasalsul). Dan itu mustahil. Tapi apa bukti kalau regresi yang tak berakhir itu mustahil? Baik, insya Allah kita akan buktikan sisi kemustahilan itu dalam tulisan lain secara terpisah, dengan bukti-bukti yang rasional dan meyakinkan. 

Untuk sementara, kita anggap saja dulu itu mustahil. Dan kalau itu terbukti, maka memandang wujud penyebab pertama sebagai wujud yang niscaya adalah pilihan yang sangat masuk akal. Karena hanya dengan keniscayaan wujudnya lah silsilah sebab-akibat dapat itu berakhir. Jadi, wujud Tuhan adalah wujud yang niscaya menurut akal kita, karena akal kita sendiri tidak dapat menerima regresi yang tak berakhir itu. 

Apakah wujud Tuhan merupakan bagian dari alam? Jelas, jika kita memandang Tuhan sebagai wujud yang niscaya, sementara wujud alam semesta kita pandang sebagai wujud yang mungkin—yang keberadaannya senantiasa bergantung kepada yang lain—maka sebagai jawaban logisnya kita harus berkata tidak. Tuhan tidak termasuk bagian dari alam. Karena Dia tidak termasuk bagian dari alam, maka wujud-Nya tidak dapat kita persamakan dengan apapun yang berada dalam lingkaran alam. Dan karena itu pula wujud Tuhan bukanlah wujud yang tunduk pada pengalaman manusia. 

Dan saya kira ini pandangan yang sangat logis. Karena wujud Tuhan bukan bagian dari alam, maka secara otomatis keberadaannya tidak dapat dibuktikan dengan pengalaman. Sayangnya, Michael Martin kurang begitu cermat dalam menyadari hal ini. Dia mengasumsikan Tuhan itu sebagai sesuatu yang bersifat inderawi, dan tunduk pada pengalaman manusia. Dan karena dalam pengalaman sehari-hari kita tidak menyaksikan adanya penyebab utama, yang tidak bisa disebabkan itu, maka dia simpulkanlah bahwa Tuhan itu tidak ada. 

Kenapa tidak ada? Karena berdasarkan pengalaman—sekali lagi berdasarkan pengalaman—tidak ada yang namanya penyebab yang tak disebabkan itu. Yang ada, setiap akibat yang kita jumpai selalu memiliki sebab. Dan yang menjadi sebab itu sendiri kadang menjadi akibat dari sebab yang lain. Walhasil, Martin menafikan keberadaan Tuhan, sebagai penyebab pertama yang tak disebabkan, dengan alasan bahwa penyebab dengan kekhususan semacam itu tidak pernah kita temukan dalam pengalaman sehari-hari kita. 

Padahal kita semua tahu, bahwa pengalaman manusia itu sendiri bukanlah penentu bagi ada atau tiadanya sesuatu. Menafikan sesuatu yang berada di luar jangkauan pengalaman inderawi manusia, dengan alasan ketiadaan sesuatu itu di dalam pengalaman mereka, jelas merupakan kesimpulan yang tidak masuk akal. Dan sayangnya Martin berakhir dengan kesimpulan yang tidak masuk akal itu. Mari kita lihat apa yang dia tulis, sebagai kritik lanjutannya atas argumen kosmologis.

“The argument assumes that there cannot be an infinite sequence of causes, but it is unclear why this should be so. Experience does not reveal causal sequences that have a first cause, a cause that is not caused. So the idea that there can be no infinite sequences and that there must be a first cause, a cause without a cause, finds no support in experience. This is not to say that experience indicates an infinite sequence of causes. Rather, the presumption of the existence of a first cause seems to be a non-empirical assumption that some people see as obvious or self-evident.” (hlm. 97)

“Argumen tersebut (maksudnya argumen kosmologis. pen) mengasumsikan bahwa tidak mungkin ada urutan penyebab yang tidak terbatas, tetapi tidak jelas mengapa hal ini harus terjadi. Pengalaman tidak mengungkapkan urutan sebab akibat yang memiliki penyebab pertama, penyebab yang tidak disebabkan. Jadi gagasan bahwa tidak ada urutan tak terbatas dan bahwa pasti ada penyebab pertama, penyebab tanpa penyebab, tidak mendapat dukungan dalam pengalaman. Ini bukan untuk mengatakan bahwa pengalaman menunjukkan urutan penyebab yang tak terbatas. Sebaliknya, anggapan adanya penyebab pertama tampaknya merupakan asumsi non-empiris yang dilihat oleh sebagian orang sebagai sesuatu yang jelas atau terbukti dengan sendirinya.”

Dalam kritikan sebelumnya ia memandang argumen kosmologis sebagai argumen yang tidak berguna, dengan alasan bahwa argumen tersebut tidak menetapkan kesimpulan, bahwa yang menjadi penyebab utama itu adalah Tuhan. Jika Martin menggunakan logika serupa, harusnya dia juga berkesimpulan bahwa argumen kosmologis itu tidak menetapkan adanya penyebab yang tidak disebabkan oleh yang lain. Argumen kosmologis hanya menyimpulkan bahwa alam semesta ini memiliki sebab, yang mengadakannya dari ketiadaan. Tetapi apakah sebab itu sendiri disebabkan oleh sesuatu yang lain atau tidak, argumen ini tidak menjelaskannya.

Tetapi, bukti-bukti rasional yang sahih dan kuat menunjukkan bahwa apabila penyebab ini disebabkan oleh sebab yang lain, dan yang lain itu juga disebabkan oleh yang lain, sampai seterusnya, maka di sana akan terjadi regresi yang tidak berujung, atau tasalsul. Dan itu mustahil. Yang penting untuk dicatat ialah, kemustahilan regresi yang tak berujung itu sendiri dapat dibuktikan dengan bukti-bukti rasional yang meyakinkan, seperti yang akan kita lihat dalam tulisan nanti. Martin tampaknya tidak pernah membaca buku-buku para teolog Muslim yang memaparkan bukti-bukti yang kuat tentang kemustahilan tasalsul itu. 

Karena itu pula dia mengatakan bahwa tidak begitu jelas kenapa regresi yang tidak berujung itu harus terjadi. Padahal, kalau kita membaca buku-buku para sarjana Muslim, mustahilnya regresi yang tak berujung itu adalah sesuatu yang jelas, yang berbasis pada argumen-argumen rasional yang kokoh. Sayangnya dia tidak tahu. Dan, mirisnya, ketidak-tahuan dia tentang sesuatu dia jadikan alasan untuk menetapkan ketidakjelasan dari sesuatu itu! 

Martin juga sudah memamerkan satu kekeliruan berpikir yang cukup fatal, yaitu ketika dia mengatakan bahwa keberadaan penyebab pertama yang tak disebabkan oleh yang lain itu tidak didukung oleh pengalaman. Dan karena itu dia menafikan keberadaannya. 

Kita katakan bahwa sejak awal memang penyebab pertama itu bukan bagian dari alam, sehingga sangat wajar kalau keberadaannya tidak dapat dibuktikan oleh pengalaman manusia. Penyebab pertama itu adalah wujud metafisik yang berbeda dengan alam. Karena kalau kita memandangnya sebagai sesuatu yang berwujud fisik, dan dia merupakan bagian dari alam, sementara Dia sendiri harusnya menjadi sebab utama dari seluruh alam, maka akan terlahirlah kemustahilan-kemustahilan yang telah kita paparkan dalam tulisan yang lalu itu.

Jika kita sepakat dengan kemustahilan regresi yang tidak berujung (tasalsul), maka sebagai konsekuensi logisnya kita harus percaya dengan adanya penyebab pertama yang tidak disebabkan itu. Lain cerita kalau Martin, dan orang-orang Ateis pada umumnya, dapat membuktikan dengan argumen-argumen yang logis bahwa regresi yang tak berujung itu adalah sesuatu yang mungkin. Tapi, pertanyaannya, apakah dia bisa melakukan itu, dengan merujuk pada pengalaman manusia itu sendiri?

Pengalaman memang menunjukkan bahwa tidak ada penyebab yang tidak disebabkan. Tapi, ketiadaan sebab yang tak disebabkan dalam pengalaman bukanlah alasan yang logis untuk menafikan keberadaan sebab itu sendiri. Karena pengalaman manusia, seperti yang kita katakan tadi, bukanlah penentu bagi ada dan tiadanya sesuatu. Martin mungkin lupa bahwa pengalaman manusia sepanjang sejarah justru menunjukkan bahwa segala sesuatu yang ada dari ketiadaan itu pasti memiliki sebab. Tidak ada sesuatu yang tadinya tiada, kemudian ada, lalu tidak ada sebab yang mengadakannya.

Jika pengalaman sehari-hari kita menunjukkan bahwa setiap akibat butuh kepada sebab, tidakkah itu cukup untuk dijadikan bukti bahwa alam semesta ini pun butuh kepada sebab, karena dia merupakan sebuah akibat? Menurut pengalaman, sesuatu yang ada dari ketidaan itu pasti ada yang mengadakan. Tidakkah itu dapat menjadi bukti, bahwa alam semesta pun ada yang mengadakan, karena dia juga ada dari ketiadaan? Walhasil, alih-alih menafikan keberadaan Tuhan, pengalaman inderawi manusia justru dapat dijadikan landasan untuk membuktikan keberadaan-Nya, melalui hukum sebab-akibat itu tadi. 

Dan silsilah sebab-akibat itu sendiri pastilah berakhir pada satu sebab yang tidak disebabkan oleh sesuatu yang lain. Karena kalau dia disebabkan oleh yang lain, dan yang lain itu juga disebabkan oleh yang lain, sampai tidak ada ujungnya, maka akan terlahirlah tasalsul itu. Dan itu mustahil. Jika regresi yang tak berujung itu terbukti mustahil secara akal, maka kita bisa dengan tegas mengatakan, bahwa keyakinan akan keberadaan sebab pertama yang tak disebabkan, yang kemudian kita sebut sebagai Tuhan, itu adalah keyakinan yang sangat rasional. Dan agama tidaklah datang kecuali untuk mengukuhkan rasionalitas itu. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.

Bagikan di akun sosial media anda