Tuhan Ada, Apa Maksudnya?

Apakah Tuhan itu ada? Orang beriman akan dengan tegas menjawab, “ya, Dia ada.” Tapi apakah ada bukti-buktinya? Sudah ada ratusan buku yang ditulis untuk memaparkan bukti-bukti itu. Lengkap dengan kritik dan bantahan atas kritiknya. Jika ada yang menafikan bukti-bukti rasional itu, ada beberapa kemungkinan. Yang bersangkutan tidak pernah membaca dan tidak tahu. Atau dia tahu tapi pura-pura tidak tahu. Atau dia tahu tapi pengetahuannya kurang mendalam. Semua itu mungkin terjadi. Yang jelas, jika mereka meminta argumen, argumen itu sudah tersaji secara berlimpah.   

Melalui argumen-argumen itu kita berakhir pada kesimpulan bahwa Tuhan itu ada. Ada dalam arti yang sesungguhnya. Bukan hanya sebatas produk nalar manusia semata. Tuhan itu ada. Dan keberadaannya tidak bergantung pada pikiran manusia. Tapi—dan ini pertanyaan yang tidak kalah penting—apa maksud dari ungkapan “Tuhan ada” itu? Apakah keberadaan Tuhan sama dengan keberadaan makhluk? Kapan sesuatu benar-benar bisa dikatakan ada? Apa tolak ukurnya? Orang beriman sendiri kadang keliru dalam menjawab pertanyaan ini. 

Mungkin ada yang bilang, bahwa sesuatu itu bisa dikatakan ada kalau bisa dijangkau oleh pancaindera. Tapi, jawaban ini sesungguhnya kurang begitu memuaskan. Karena dia hanya menjadikan pancaindera sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Dalam tulisan yang lalu, saya sudah buktikan sedikit, bahwa pandangan itu tidak benar (jawaban lebih rinci bisa Anda temukan dalam buku Logical Fallacy). Pancaindera bukanlah satu-satunya sumber pengetahuan. Contohnya juga sudah saya kemukakan di sana. Tidak perlu saya ulang kembali dalam tulisan ini.

Poinnya, kalau terbukti bahwa pancaindera bukan satu-satunya sumber pengetahuan, maka pandangan yang menjadikan pancaindera sebagai tolak ukur ada atau tiadanya sesuatu dengan sendirinya menjadi tertolak. Lalu, kalau bukan pancaindera, lantas apa? Apa yang menjadi tolak ukur keberadaan sesuatu itu? Para teolog Muslim menjawab, bahwa sesuatu yang ada itu ialah sesuatu yang memiliki realisasi (tahaqquq) di alam luar (maksudnya di luar pikiran manusia). 

Tapi, pertanyaan selanjutnya sudah menunggu untuk dijawab ialah, kapan sesuatu bisa dikatakan memiliki realisasi? Nah, di sini saya kira kita perlu memberikan jawaban dengan setegas-tegasnya. Sesuatu itu dapat dikatakan memiliki realisasi di alam luar kalau dia mampu melahirkan dampak. Coba Anda pergi ke dapur. Lalu ambil sebelah pisau. Dan potonglah buah-buahan tertentu dengan menggunakan pisau itu. Apa yang terjadi? Ya, buah-buahan itu akan terbelah. Dan keterbelahan buah itu adalah dampak yang diberikan pisau. 

Karena pisau itu bisa memberikan dampak, dan dampaknya jelas terbukti nyata di alam luar, maka dengan penuh yakin saya bisa berkata, bahwa pisau itu benar-benar ada. Terlepas apakah dia bisa dijangkau oleh pancaindera atau tidak. Kenapa dia dikatakan ada? Karena dia memiliki realisasi. Dalam arti bahwa keberadaannya bisa melahirkan dampak. Adakah yang bisa meragukan keberadaan pisau? Pastinya, memercayai keberadaan pisau bukanlah perkara yang sulit. Bendanya ada, dan terlihat oleh mata kita. 

Baik, saya ingin beri contoh yang lain. Apakah Anda pernah melihat pesawat terbang? Rasanya mudah bagi kita untuk melihat benda itu. Apakah Anda meyakini keberadaan pesawat itu? Oh ya, tentu saja. Tetapi, apakah Anda pernah berjumpa dengan pembuatnya? Apakah pancaindera Anda pernah menjangkau pembuat pesawat itu? Dan apakah Anda punya alasan logis untuk menafikan keberadaan pembuatnya, hanya karena keberadannya belum terjangkau oleh pancaindera Anda?  

Saya sendiri, sampai detik ini, belum pernah melihat wujud sosok pembuat pesawat itu. Tapi, bukankah kita semua yakin bahwa pesawat itu sendiri pasti ada yang buat, sekalipun yang buat itu tidak dapat kita lihat? Saya kira, orang yang bernalar sehat tak akan ragu-ragu untuk mengiyakan pertanyaan ini. Segala sesuatu yang tadinya tidak ada, kemudian ada, pastilah akal kita memastikan keberadaan sebabnya. Terlepas apakah sebab itu bisa dijangkau oleh pancaindera atau tidak. 

Menarik untuk dijawab, dari mana saya bisa yakin bahwa yang buat pesawat itu benar-benar ada, padahal pancaindera saya sendiri belum pernah menjangkaunya? Ya, pembuat pesawat itu dipastikan keberadaannya oleh akal kita. Ketika akal kita melihat pesawat itu sebagai dampak, maka ditariklah satu kesimpulan bahwa di balik keberadaannya pastilah ada sebuah sebab. Apakah sebab itu ada? Ya, jelas ada. Kenapa dia dikatakan ada? Karena dia mampu melahirkan dampak, dan dampaknya sendiri terbukti keberadaannya dengan jelas. 

Jadi, sesuatu itu bisa dikatakan ada, dengan makna keberadaan yang sesungguhnya di alam luar, kalau dia dapat memberikan atau melahirkan dampak. Dengan dampak yang dihasilkan oleh sesuatu, maka yakinlah kita dengan sebab yang ada di balik sesuatu itu. Soal apakah sebab itu bisa dijangkau oleh pancaindera atau tidak, itu soal lain. Dan pancaindera sendiri bukanlah penentu bagi ada dan tiadanya sesuatu. 

Nah, sekarang, kita melihat dengan mata kepala kita sendiri, bahwa alam semesta ini benar-benar ada. Dan kita sepakat bahwa pancaindera dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pengetahuan (ingat, salah satu, bukan satu-satunya). Tapi, nalar sehat kita tentu saja bertanya-tanya, dari mana alam semesta ini berasal? Bagaimana dia muncul? Siapa yang menjadi sebab utama di balik keberadaannya? 

Pertanyaan ini sah diajukan, karena pada faktanya, dalam kehidupan sehari-hari pun, kita tidak pernah melihat ada sesuatu yang tadinya tidak ada, kemudian ada, lalu dia mengadakan dirinya sendiri. Kalau ada yang memungkinkan, tolong beri kami satu saja bukti, bahwa ada sesuatu di alam semesta ini yang mampu menjadi sebab bagi dirinya sendiri.

Apakah ada? Apakah ada sesuatu yang mungkin ada, mungkin tiada, kemudian dia mengadakan dirinya sendiri, tanpa bergantung kepada sebab apapun di luar dirinya? Hampir sebagian besar ilmuwan sepakat bahwa alam semesta ini memiliki permulaan. Konon, seperti yang dikatakan oleh para ilmuwan sendiri, alam semesta ini bermula dari sebuah ledakan besar. Dari apa yang mereka sebut sebagai singularitas. 

Sekarang kita bertanya, singularitas itu sendiri ada atau tidak? Jelas, mereka akan menjawab ada. Tapi, apakah dia mungkin tiada? Tentu saja. Singularitas yang menjadi titik awal dari ledakan besar itu adalah sesuatu yang bisa jadi ada, bisa jadi tiada. Dikatakan harus ada, tidak. Dikatakan harus tiada, juga tidak. Lalu apa? Ya dia bisa ada, bisa tiada. Dan menurut akal yang sehat, sesuatu yang keberadaannya bukan karena dirinya sendiri itu pasti bergantung kepada sebab selain dirinya. 

Nah, kaum beriman mengklaim bahwa yang menjadi sebab utama itu adalah Tuhan. Bukankah ini pandangan yang logis, ketimbang pandangan yang menafikan sebab seperti halnya pandangan kaum Ateis? Kalau Anda menafikan sebab itu, perumpaan Anda mirip dengan orang-orang yang memandang seekor kucing melahirkan dirinya sendiri, centong muncul dengan dirinya sendiri, kalau suatu ketika ada kebakaran, kebakaran itu juga, menurut Anda, terjadi karena dirinya sendiri.

Kalau kejadian sehari-hari saja kita pertanyakan sebabnya, lantas kenapa kalau berkaitan dengan kemunculan alam semesta Anda nafikan keberadaan sebab itu? Adakah pembenar logisnya? Kita patut terheran-heran dengan sikap orang-orang Ateis yang menafikan sebab di balik kemunculan alam semesta itu. Sebagaimana kita patut terheran-heran juga kalau mereka memandang bahwa yang menjadi sebab itu adalah alam semesta itu sendiri. Mereka tidak pernah punya alasan yang logis untuk menafikan sebab itu. 

Jadi, apakah Tuhan benar-benar ada? Ya, dia ada. Kenapa Dia dikatakan ada? Karena Dia mampu melahirkan dampak. Setiap dampak pastilah memiliki sebab. Dan karena dampak itu ada, maka sebabnya juga dapat kita pastikan ada. Karena tanpa keberadaannya, dampak itu tidak akan pernah ada. Dan dialah Allah Swt. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.

Bagikan di akun sosial media anda