Tidak Percaya Pencipta, Tapi Tidak Mengaku sebagai Ateis?

Kalau ada orang yang secara terus terang mengaku tidak percaya kepada Tuhan, sebagai pencipta alam semesta, maka kita dapat memastikan dengan tegas bahwa orang itu ialah orang Ateis. Kalau dia tidak mau mengaku, kemungkinan besar itu cuma sebatas akal-akalan dia aja. Demi menyembunyikan identitasnya. Tidak heran, karena pada faktanya, orang Ateis di Indonesia memang bermental penakut. Nggak ada yang berani mengemukakan keyakinannya secara terbuka. Juga tidak ada di antara mereka yang mampu mengkritik argumen kaum beriman dengan kritikan yang cerdas, rasional dan mendalam. Mereka lebih banyak menyebar provokasi ketimbang membangun argumentasi. Karena mereka sadar, bahwa kalau beradu argumen dengan kaum beriman, mereka sudah pasti kalah. Dan tentunya mereka tidak akan mau mempermalukan diri sendiri.

Siapa sih sungguhnya orang Ateis itu? Dengan pertanyaan lain, kapan sih sebenarnya seseorang bisa kita sebut sebagai Ateis? Pertanyaan ini kiranya penting untuk dijawab, karena belakangan ini saya lihat ada orang Ateis yang pandai berkilah. Dia tidak mengaku sebagai Ateis, tapi rekam jejak tulisan-tulisannya jelas mempromosikan ateisme. Pada akhirnya, dia pun mengaburkan makna Ateisme itu sendiri. Lantas siapa itu Ateis? Saya kira jawabannya sangat sederhana, dan hampir sebagian besar orang sudah tahu jawaban itu. Ateis adalah orang yang tidak percaya Tuhan. Atau tidak bertuhan. Dan ateisme itu sendiri ialah paham yang tidak memercayai, menolak atau mengingkari keberadaan Tuhan. 

Dari sini muncul satu pertanyaan, siapa yang Anda maksud dengan Tuhan dalam pengertian itu? Tuhan yang kita maksud ialah Tuhan pencipta alam semesta, suatu wujud yang niscaya ada, dan keberadaan-Nya tidak bergantung pada pikiran manusia. Atas dasar itu, kalau seseorang tidak percaya dengan keberadaan Tuhan, sebagai pencipta alam semesta, yang keberadaan-Nya tidak bergantung pada pikiran, keyakinan maupun kesadaran manusia, dan hati dia sendiri mantap dengan pengingkaran itu, maka jelas dia adalah orang Ateis. Tidak ada keraguan dalam hal itu. Sekalipun dia berkilah dengan seribu satu jurus. Jadi, Ateis adalah orang yang tidak percaya kepada Tuhan, sebagai kreator alam semesta, yang wujudnya niscaya, dan tidak bergantung pada pikiran manusia. 

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana kalau orang tidak percaya dengan gambaran tertentu tentang Tuhan? Dia, misalnya, percaya dengan wujud Tuhan, sebagai pencipta alam semesta yang wujudnya bersifat niscaya itu. Tapi dia tidak percaya dengan gambaran tertentu tentang Tuhan. Apakah orang semacam ini bisa kita sebut sebagai Ateis? Kalau mengacu pada pengertian di atas, jawabannya jelas tidak. Karena gambaran tentang Tuhan bukanlah wujud Tuhan itu sendiri. Wujud Tuhan itu satu hal, apa yang diyakini dan digambarkan manusia tentang Tuhan itu hal yang lain lagi. Sayangnya, orang Ateis kadang tidak bisa membedakan dua hal itu. Yakni membedakan antara gambaran, atau keyakinan, manusia tentang Tuhan, dengan Tuhan yang eksistensinya terbebas dari pikiran dan keyakinan manusia. 

Saya sering menyinggung kekeliruan mereka yang satu ini. Dan untuk membuktikan kekeliruannya, kita tidak perlu berpikir panjang. Anda, misalnya, punya gambaran tertentu tentang api. Tapi apakah gambaran Anda tentang api itu adalah api itu sendiri? Ya jelas nggak dong. Api dan gambaran tentang api adalah dua hal yang berbeda. Anda punya keyakinan tertentu tentang sorga. Tapi apakah keyakinan Anda tentang sorga adalah sorga itu sendiri? Nggak juga. Banyak sekali contoh yang dapat kita kemukakan untuk membedakan dua hal itu. Tentu dengan permisalan ini saya tidak bermaksud untuk mempersamakan wujud Tuhan dengan wujud makhluk yang lain. Yang ingin saya katakan ialah, gambaran dan keyakinan kita tentang sesuatu bukanlah sesuatu itu sendiri. Dan saya kira itu pernyataan yang sangat logis.

Sepanjang sejarah, manusia memang punya gambaran yang beragam tentang Tuhan. Tetapi apakah itu artinya wujud Tuhan itu sendiri banyak, seiring dengan banyaknya gambaran manusia tentang Tuhan itu? Kalau Anda sepakat dengan poin yang saya sebutkan di atas, jawabannya jelas tidak. Karena gambaran tentang sesuatu itu satu hal. Wujud sesuatu yang kita gambarkan, yang berada di luar pikiran kita, itu hal yang lain lagi. Sejak pertama kali alam tercipta, sampai detik ini, wujud Tuhan tetap wujud yang satu. Tetapi gambaran manusia tentang Tuhan memang tidak pernah tunggal. Lantas, pertanyaannya, kalau saya mengingkari gambaran tertentu tentang Tuhan, apakah dengan begitu saya menjadi Ateis? Harap diingat, bahwa Tuhan yang kita maksud dalam definisi di atas adalah Tuhan yang wujud-Nya tidak bergantung pada pikiran dan kesadaran manusia. Tuhan yang kita maksud adalah Tuhan sebagai pencipta alam semesta. 

Kalau kita merujuk pada definisi itu, maka jawabannya sudah jelas, bahwa kalau ada orang yang mengingkari gambaran tertentu tentang Tuhan, maka dia tidak bisa disebut Ateis. Karena mengingkari gambaran tertentu tentang Tuhan itu tidak identik dengan mengingkari wujud Tuhan itu sendiri. Saya, sebagai Muslim, misalnya, tidak percaya dengan konsep trinitas, sebagai konsep ketuhanan yang dianut oleh mayoritas umat Kristiani. Tapi apakah dengan begitu saya menjadi Ateis? Sekali lagi, berdasarkan definisi di atas, jawabannya jelas tidak. Orang Kristen juga tidak percaya dengan konsep ketuhanan orang Islam. Tapi apakah dengan begitu mereka kita sebut sebagai Ateis? Nggak juga. Karena yang kita maksud dengan Ateis ialah orang yang tidak percaya Tuhan, sebagai pencipta alam semesta, yang wujud-Nya tidak bergantung pada pikiran maupun kesadaran manusia. 

Dengan logika yang kurang lebih sama, kalau ada orang yang mengaku percaya Tuhan, tapi Tuhan yang dia maksud sendiri hanyalah Tuhan sebagai ide, atau sebagai sesuatu yang hadir dalam kesadaran manusia, tapi mengingkari keberadaan Tuhan sebagai pencipta alam semesta, yang wujud-Nya di luar pikiran manusia, maka dia tetap kita katakan Ateis. Tapi kalau dia memercayai wujud Tuhan yang berada di luar pikiran manusia itu, maka dia bukan Ateis. Kalau ada orang yang mengaku tidak percaya pada keberadaan sang pencipta, tapi dia sendiri tidak mengaku sebagai Ateis, saya kira ada dua kemungkinan di sana. Satu, dia keliru dalam memaknai kata Ateis dan kata Tuhan itu sendiri. Dua, memang dia sedang berusaha untuk menutupi identitas aslinya, karena takut mendapatkan stigma negatif dari orang-orang sekitarnya. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda