Benarkah Tidak Ada Ayat al-Quran yang Mengatakan Allah Ada?

Beberapa hari yang lalu beredar potongan video kiai Said yang mengatakan bahwa “tidak ada ayat al-Quran yang menerangkan Allah itu ada.” Berbagai respon pun bermunculan. Dari mulai yang membela sampai yang menghina. Sebetulnya, kiai Said, dalam pengamatan penulis, berbicara bukan dalam konteks menafikan keberadaan Tuhan. Tapi dalam konteks menyampaikan pesan penting kepada para audiensnya, bahwa dalam beragama, bersandar pada al-Quran saja tidaklah cukup. 

Kenapa begitu? Ya buktinya selama ini kita memercayai keberadaan Allah. Sementara keterangan tentang Allah ada itu sendiri tidak tertera di dalam al-Quran. Jadi, ungkapan beliau perlu kita pahami dalam konteks itu. Tapi, yang jadi pertanyaan kita sekarang ialah, apakah yang dikatakan oleh kiai Said itu benar? Benarkah tidak ada dalil dalam al-Quran yang menyebut Allah Swt ada? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya ingin berikan permisalan sederhana kepada para pembaca. 

Anggaplah, suatu waktu, misalnya, saya berkata kepada Anda, “tidak ada seorang perempuan pun di dalam rumah ini kecuali isteri saya.” Selesai kalimat ini saya ucapkan, saya pun mengucapkan kalimat lain lagi, “Isteri saya pergi ke dapur untuk mengaduk semangkuk bubur.” Terakhir, saya mengutarakan ungkapan ini, “asal Anda tahu ya, saya tidak pernah melihat ada sosok yang paling rajin di dunia ini selain isteri saya. Isteri saya adalah sosok paling rajin yang pernah saya jumpai di dunia ini.”

Kalau Anda perhatikan, dari semua rangkaian kalimat itu, tidak ada satu kalimat pun yang menyatakan bahwa “isteri saya ada.” Bukankah begitu? Dengan kalimat-kalimat itu, saya tidak mengatakan secara jelas dan terang benderang bahwa “isteri saya itu ada.” Tidak ada kalimat itu di sana. Tetapi, dan ini pertanyaan pentingnya, apakah hanya karena tidak adanya ungkapan “isteri saya ada” itu lantas kalimat-kalimat itu tidak menetapkan keberadaan isteri saya?

Saya harap Anda memahami pertanyaan ini dengan baik. Dalam rangkaian kalimat-kalimat di atas, saya tidak secara eksplisit mengatakan bahwa “isteri saya ada”. Tidak ada kalimat itu di sana. Tapi, dengan mengatakan “tidak ada seorang pun di dalam rumah ini kecuali isteri saya”, ungkapan itu sendiri sebenarnya sudah menetapkan keberadaan isteri saya. Meskipun saya tidak menyertakan kata “ada”. Karena kalau tidak ada, lalu apa maknanya pengecualian yang termaktub dalam kalimat itu? 

Dalam kalimat kedua juga begitu. Kalau saya berkata, “isteri saya sedang mengaduk bubur”, apakah saya masih perlu berkata kepada Anda bahwa isteri saya ada, sementara ungkapan itu sendiri secara jelas menetapkan keberadaan isteri saya, sebagai sosok yang mengaduk bubur itu? Dan apakah hanya karena tidak adanya pernyataan “isteri saya ada”, lantas Anda dapat berkesimpulan bahwa saya tidak menetapkan keberadaan isteri saya?  

Dalam ungkapan ketiga saya juga tidak menyatakan bahwa “isteri saya ada.” Tetapi, tanpa menyertakan kata itu pun, redaksi kalimatnya sudah jelas menyatakan bahwa “tidak ada sosok yang rajin di dunia ini kecuali isteri saya.” Apa dengan ungkapan ini saya masih perlu mengatakan bahwa isteri saya itu ada, sementara kalimat itu sendiri tegas menetapkan keberadaan isteri saya, sebagai sosok yang saya klaim paling rajin sedunia? Bukankah pengecualian itu sendiri menetapkan keberadaan, sekalipun kata “ada” itu tidak dicantumkan secara terang-terangan? Nah, sampai di sini, saya harap apa yang saya maksud sudah tergambar dengan jelas. 

Pernyataan kiai Said yang mengatakan bahwa tidak ada ayat al-Quran yang menyebut Allah ada, dengan redaksi “Allah itu ada”, itu memang benar. Memang tidak ada ungkapan secara eksplisit dalam al-Quran yang menyatakan, misalnya, bahwa “Allah maujud (Allah ada)”, atau “Allah wajibul wujud.” Atau “Allah muttashif bi shifat al-wujud” (Allah itu disifati dengan sifat wujud), dan ungkapan-ungkapan sejenisnya. Memang tidak ada kalimat-kalimat semacam itu. Tapi, kita harus ingat, bahwa untuk menetapkan keberadan sesuatu, atau untuk menyatakan sesuatu itu ada, kata “ada” itu tidak selamanya harus disertakan secara eksplisit. 

Dalam al-Quran, Allah dengan tegas berfirman: “Ketahuilah, bahwasanya tiada Tuhan selain Allah…” (QS. Muhammad [47]: 19). Dengan menafikan segala macam Tuhan, lalu menetapkan Allah, maka itu pun sudah cukup untuk dijadikan bukti, bahwa al-Quran memuat ayat yang menetapkan keberadaan Allah. Tanpa secara ekspilisit menyebut “Allah itu ada”, ungkapan itu sendiri sudah dengan jelas mengatakan bahwa tidak ada yang layak menjadi Tuhan kecuali Allah. Dengan mengatakan kecuali Allah, berarti Allah itu ada. Kalau tidak, lantas apa gunanya pengecualian itu? 

Allah mengatakan bahwa Dia adalah pencipta segala sesuatu (QS. Az-Zumar [39]: 62). Tanpa harus menyebutkan bahwa Dia ada, ayat itu sendiri sudah dapat dijadikan bukti, bahwa al-Quran menetapkan keberadaan Allah. Dengan adanya ungkapan itu, al-Quran tidak perlu lagi berkata bahwa “Allah itu ada.” Karena ungkapan itu sendiri sudah menetapkan keberadaan Tuhan, dengan menyebutnya sebagai pencipta segala makhluk. Tentu di luar sana masih banyak ayat-ayat lain yang menetapkan keberadaan Tuhan itu. 

Karena itu saya agak terheran-heran, kalau dikatakan bahwa tidak ada ayat al-Quran yang mengatakan bahwa Allah itu ada. Mungkin, dalam bayangan kiai Said, untuk mengatakan sesuatu ada, itu harus dengan pernyataan yang tegas dan jelas bahwa “sesuatu itu ada.” Kalau saya ingin, misalnya, mengatakan bahwa buku itu ada, maka kata ada itu harus saya sertakan secara eksplisit di dalam kalimat. Kalau saya cuma bilang, “buku itu di atas meja”, maka, kalau kita mengikuti logika kiai Said, ungkapan tersebut tidak menetapkan keberadaan buku.

Padahal ungkapan itu jelas menetapkan keberadaan buku, yang saya katakan berada di atas meja. Kalau saya berkata, “buku di atas meja”, meskipun tidak secara jelas menyebut kata “ada”, ungkapan itu sendiri sejujurnya sudah memuat makna “keadaan” itu. Karena dengan mengatakan “buku di atas meja” itu artinya saya ingin mengatakan bahwa buku itu “ada” di atas meja. Kata ada itu, tanpa disertakan pun, sudah termuat di dalam kalimat itu. 

Jadi, apakah ada dalil dari al-Quran yang mengatakan Allah ada? Ya jelas banyak. Penting untuk kita ingat, kalau tolak ukur apakah al-Quran menetapkan keberadaan sesuatu itu harus dengan menyertakan kata “ada”, maka dengan logika yang sama kita bisa berkesimpulan, bahwa al-Quran tidak pernah mengatakan Nabi Muhammad ada, sorga ada, neraka ada, hari akhirat ada, dan lain-lain. Coba Anda cek satu persatu ayat al-Quran yang menyebut mereka ada, dengan kata “wujud”, atau “maujud”, misalnya. Adakah ayat-ayat itu?

Jelas tidak ada. Tapi, apakah hanya karena tidak adanya ungkapan yang disertai kata ada itu lantas kita bisa berkesimpulan bahwa tidak ada dalil al-Quran yang mengatakan nabi Muhammad ada, sorga ada, neraka ada, dan hal-hal lain yang kita yakini keberadaannya? Ya jelas tidak. Ayat al-Quran yang menetapkan keberadaan malaikat, sorga, nereka, hari akhirat, dan lain-lainnya itu jelas banyak. Meskipun ayat-ayat itu tidak secara tegas mengatribusikan kata “wujud” kepada mereka. 

Kalau kita amati secara lebih cermat lagi, pernyataan kiai Said ini dapat melahirkan persoalan yang lain lagi. Kalau dikatakan tidak ada ayat al-Quran yang mengatakan Allah itu ada, maka itu artinya keyakinan kita tentang adanya Allah, atau keyakinan kita tentang sifat wujud yang dimiliki oleh Allah, itu tidak punya dasar dari al-Quran. Sifat wujud yang kita imani dalam rangkaian sifat dua puluh itu, jika kita mengikuti cara berpikir kiai Said, tidak ada dasarnya dalam al-Quran. 

Keyakinan tentang sifat wujud yang dimiliki oleh Allah itu hanya kesimpulan rasional saja. Al-Qurannya sendiri tidak menetapkan adanya sifat itu. Masalahnya, kalau begitu, kita telah menyifati Allah dengan sifat yang tidak Dia sebutkan sendiri di dalam kitab sucinya! Kalau kita mengikuti logika kiai Said, maka keberadaan sorga, neraka, hari akhir, setan, iblis, malaikat dan lain-lain, juga tidak ada landasannya dalam al-Quran. Tidak ada ayat al-Quran yang mengatakan bahwa mereka semua itu ada, kalau kita mengikuti cara berpikir kiai Said. Dengan alasan bahwa al-Quran tidak mengatribusikan kata “wujud” kepada mereka. 

Yang menjadi pertanyaan kita sekarang, apakah bisa kita mengimani sifat tertentu yang berlaku bagi Tuhan, sementara Tuhan sendiri tidak pernah menyatakan sifat itu? Dengan pertanyaan lain, bolehkah kita melekatkan satu sifat tertentu kepada Tuhan, sementara keterangan tentang sifat itu sendiri tidak tertera di dalam al-Quran, sebagai wahyu yang telah Dia turunkan? Setahu saya, pandangan yang dianut oleh mayoritas teolog Sunni menafikan kebolehan itu. Bagi mereka, mengatribusikan sifat dan nama tertentu kepada Allah itu harus ada dasarnya melalui wahyu. 

Betul, keberadaan Tuhan dapat dibuktikan dengan argumen-argumen yang rasional. Tapi memberlakukan sifat tertentu kepada Tuhan—kecuali sifat-sifat yang menurut para ulama boleh ditetapkan meski hanya berlandaskan penalaran rasional—menurut sebagian ulama Sunni, itu harus memiliki landasan dalilnya dari al-Quran. Itulah yang saya tahu dari pandangan para teolog. Imam Asy’ari pun termasuk tokoh yang, dalam pengetahuan saya, tidak memperbolehkan pemberlakuan sifat ataupun nama tertentu bagi Allah, kecuali landasannya ada di dalam wahyu.

Jadi ketika beliau memasukkan sifat wujud ke dalam salah satu sifat yang wajib diimani, (tentunya ini kalau terbukti benar bahwa beliau memasukkannya sebagai sifat. Karena keterangan yang kita temukan justru beliau memandang wujud itu sebagai ‘ainul maujud, dan dengan begitu “wujud” bukanlah sifat dalam arti yang sesungguhnya. Dan memasukkannya sebagai sifat hanya min bab at-tasamuh saja), pastinya beliau memiliki landasannya dalam al-Quran. Semua sifat dua puluh ada landasannya dalam al-Quran, kok sifat wujud bisa nggak ada?

Karena itu, hemat saya, keliru kalau dikatakan tidak ada ayat al-Quran yang mengatakan Allah itu ada. Ayat al-Quran yang menetapkan keberadaan Allah itu banyak. Dan sifat “ada” itu sendiri tidak mungkin diberlakukan kepada Allah kecuali kalau ada landasannya di dalam al-Quran. Karena sifat-sifat Allah itu bersifat tawqifi (meskipun tentunya ini juga masih memunculkan perbedaan pendapat di kalangan para ulama). Sementara, kalau kita mengikuti logika yang digunakan kiai Said, keyakinan tentang sifat “ada” (wujud), yang termaktub dalam rangkaian sifat dua puluh itu, nggak ada dasarnya dalam al-Quran. 

Dapatkah kita menerima pandangan itu? Betapapun, kiai Said mengemukakan pandangan itu dalam menegaskan ketidakcukupan kita dalam bersandar hanya kepada al-Quran. Akan kacau kalau kita beragama hanya bersandar pada al-Quran saja. Begitulah kira-kira inti pikiran yang ingin disampaikan oleh yang mulia kiai Said. 

Karena selain al-Quran juga ada sumber ajaran Islam yang lain, yaitu sunnah. Dan untuk memahami keduanya kita tidak cukup hanya bersandar pada terjemahan saja, tetapi kita juga perlu mendalami sekian banyak disiplin keilmuan Islam lain sebagai alat untuk memahaminya. Hanya saja, dalam hemat penulis, dalam menegaskan pandangan itu, kiai Said telah memberikan contoh yang kurang tepat. Meskipun pesan intinya dapat kita terima. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda