Tuhan Saja Menyebabkan Dirinya Sendiri, Kenapa Alam Tidak?

Fakta kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa segala sesuatu yang tadinya tidak ada, kemudian ada, itu pasti ada sebab di balik keberadaannya. Jika kita masih memiliki nalar yang sehat, tidak begitu sulit bagi kita untuk mengamini kenyataan itu. Akal kita tidak dapat memungkinkan adanya sesuatu yang mungkin ada, mungkin tiada, lalu dia mampu mengadakan dirinya sendiri. Ketidakmampuan akal kita untuk mengamini hal itu, antara lain, karena akal kita percaya pada hukum kausalitas, yang menyatakan bahwa segala akibat pastilah bergantung kepada sebab. Dan yang menjadi sebab itu pastilah sesuatu yang lain, bukan sesuatu yang disebabkan itu sendiri.  

Laptop, mouse, meja, gelas, piring, buku, dan semua barang yang ada di sekitar saya sekarang, dan juga benda-benda yang ada di sekeliling Anda, itu adalah sesuatu yang ada, tapi keberadaannya bergantung kepada sesuatu yang lain. Makhluk-makhluk hidup yang ada di sekeliling kita juga demikian. Mereka ada, dan keberadaannya senantiasa bergantung kepada yang lain. Dapat dibayangkan seperti apa ekspresi keheranan kita, kalau ada orang bilang bahwa mouse, laptop, gelas dan barang-barang yang tadi saya sebut itu mengadakan dirinya sendiri. Kita sepakat bahwa barang-barang itu tadinya tidak ada. Dan kemudian mereka ada di hadapan kita. Pertanyaannya, menurut akal sehat, mungkinkah mereka mengadakan dirinya sendiri, tanpa adanya sebab lain selain mereka?

Saya merasa tidak perlu untuk menjawab pertanyaan semacam ini. Karena sesuatu yang sudah jelas sebenarnya tak perlu diperjelas. Kecuali bagi orang-orang yang kurang bernalar waras. Dan, celakanya, di dunia ini kita menyaksikan orang-orang kurang bernalar waras itu. Sebagai konsekuensinya, mau tidak mau kita sesuatu yang sudah jelas itu pun harus tetap kita perjelas. Sampai di sini saya kira kita bisa sepakat, bahwa baik hukum akal, maupun kenyataan di alam luar, itu tidak memungkinkan adanya sesuatu yang mungkin yang menjadi sebab bagi dirinya sendiri. Karena itu, kalau kita menetapkan adanya sebab di balik keberadaan alam semesta—dan alam semesta itu sendiri termasuk sesuatu yang mungkin, dalam arti bahwa dia bisa jadi ada, bisa jadi tiada—maka pastilah sebab itu merupakan wujud yang lain selain dirinya. Dan dialah Allah Swt. 

Tapi, dengan menyimak kesimpulan semacam itu, orang Ateis mungkin akan berkilah, “Loh Anda mengatakan bahwa tidak mungkin ada sesuatu yang menjadi sebab bagi dirinya sendiri. Lantas, kalau begitu, siapa yang menyebabkan keberadaan Tuhan? Kenapa Tuhan Anda yakini sebagai sosok yang menyebabkan dirinya sendiri, sementara Anda sendiri menolak kemungkinan adanya sesuatu yang menjadi sebab bagi dirinya sendiri itu?”. Izinkan saya bertanya sejenak, Apakah Anda pernah menyimak pertanyaan semacam itu? Saya kira, bagi yang mengamati percakapan orang-orang Ateis, pertanyaan semacam ini tampaknya sudah tidak asing lagi. Dalam buku Breaking The Spell, misalnya, Daniel Dennet, juga pernah mengajukan pertanyaan serupa. Mari kita lihat apa yang dikatakan oleh tokoh gerakan ateisme baru itu dalam kutipan sebagai berikut:

“Argumen Kosmologis, pada bentuknya yang paling sederhana, menyatakan bahwa, karena segala sesuatu pasti memiliki sebab, semesta pasti memiliki sebab—yakni Tuhan—segera tak lagi menjadi sederhana. Sebagian pihak menyanggah premis itu, karena fisika kuantum mengajarkan kita (atau tidak?) bahwa tidak semua yang terjadi perlu memiliki sebab. Lainnya lebih suka menerima premis itu lalu bertanya: Apa yang menyebabkan Tuhan? Jawaban bahwa Tuhan itu sendiri menyebabkan dirinya sendiri (entah bagaimana) lantas mendorong sanggahan: Jika sesuatu bisa menyebabkan dirinya sendiri, mengapa semesta ini sebagai keseluruhan tidak menyebabkan dirinya sendiri pula?” (Breaking The Spell, hlm. 245)  

Seperti Anda lihat di sini, Dennet mengajukan pertanyaan yang cukup sering kita jumpai dari orang-orang Ateis. Apa, atau siapa, yang menyebabkan keberadaan Tuhan? Pertanyaan ini, kalau kita amati secara seksama, sejujurnya menyimpan suatu kontradiksi, karena dia memungkinkan keterciptaan sesuatu yang dia tidak sendiri tidak dapat menerima keterciptaan. Atau mengandaikan adanya ketergantungan bagi sesuatu yang dia sendiri terbebas dari berbagai macam ketergantungan. Atau keterciptaan bagi sesuatu yang dia sendiri tidak dapat menerima keterciptaan. Bagaimana mungkin Anda memberlakukan sesuatu kepada sesuatu, sementara sesuatu itu sendiri tidak dapat menerima pemberlakuan sesuatu itu?   

Di sisi lain, pertanyaan ini juga biasanya berlandaskan pada satu asumsi yang keliru, bahwa segala sesuatu, atau segala sesuatu yang berwujud, itu pasti memiliki sebab. Dan karena Tuhan itu sesuatu yang berwujud, maka mereka pun punya alasan untuk menanyakan sebab di balik keberadaannya. Padahal, hukum kausalitas sendiri tidak pernah menyatakan diktum itu. Yang dikatakan oleh hukum kausalitas ialah, segala akibat pasti bergantung kepada sebab. Atau, segala sesuatu yang mungkin itu butuh kepada sebab. Berhubung Tuhan bukan sebuah akibat, juga tidak termasuk sesuatu yang mungkin, maka tidak relevan bagi kita untuk menanyakan sebab di balik keberadaannya. 

Mengasumsikan Tuhan sebagai sesuatu yang mungkin—dan dengan begitu kita bisa menanyakan sebab di balik keberadaannya—akan menggiring kita pada regresi yang tidak berakhir. Dan itu mustahil. Apa bukti kalau regresi yang tidak berakhir itu mustahil secara akal? Penulis sudah memaparkannya dalam tiga episode di channel ini. Jika regresi yang tak berakhir itu terbukti mustahil secara akal, maka wujud Tuhan dengan sendirinya menjadi niscaya secara akal. Dan karena itulah para teolog menyebut Tuhan sebagai wâjibul wujûd. Karena tanpa keberadaannya, silsilah sebab-akibat itu tidak akan berakhir. Sementara ketidakberakhiran silsilah sebab-akibat adalah sesuatu yang mustahil. Bukankah ketika itu pilihan untuk mengimani keberadaan Tuhan, sebagai wujud yang niscaya, jauh lebih logis ketimbang pandangan yang menafikan keberadaan-Nya?

Hal lain yang tidak kalah penting untuk dicatat ialah, Dennet keliru dalam menduga jawaban di balik pertanyaan yang dia ajukan itu. Dia mengira bahwa jika dihadapkan pada pertanyaan di atas, orang beriman akan menjawab, bahwa Tuhan menyebabkan dirinya sendiri. Dan dari kekeliruan ini dia pun mengajukan pertanyaan lain, yang juga tidak kalah keliru. Kata Dennet, “kalau Tuhan saja bisa menyebabkan dirinya sendiri, kenapa alam tidak bisa?”. Sebetulnya, bagi yang mempelajari dasar-dasar Ilmu Kalam, pertanyaan ini tidak begitu sulit untuk dijawab. Sejak awal sebenarnya pertanyaan ini sudah keliru. Di mana letak kekeliruannya? Dia mempersamakan wujud Tuhan, yang bersifat niscaya—dan keniscayaannya dapat kita buktikan dengan argumen-argumen rasional—dengan wujud makhluk yang bersifat mungkin (contingent). Jelas, menyamakan keduanya adalah cerminan dari kecacatan nalar. 

Mungkin dia akan bertanya, memangnya kenapa wujud Tuhan harus dikatakan niscaya? Kita katakan kepadanya, bahwa wujud Tuhan dikatakan niscaya, karena Dialah yang menjadi sebab utama di balik keterlahiran alam semesta. Karena dia menjadi sebab utama, maka wujudnya tidak mungkin bergantung pada wujud yang lain. Sebab kalau dia bergantung, maka dia tidak menjadi sebab utama lagi. Selanjutnya dia akan bertanya lagi, memangnya kenapa harus ada wujud yang pertama, yang Anda katakan niscaya itu? Jawabannya, karena kalau tidak ada sebab pertama, yang bersifat niscaya, maka sebagai konsekuensinya akan terjadi regeresi yang tidak berujung, atau tasalsul, yang sudah kita buktikan kemustahilannya itu.  

Kalau yang bersangkutan sepakat akan kemustahilan tasalsul, atau regresi yang tidak berujung, maka wujud pertama itu otomatis menjadi wujud yang niscaya. Dan wujudnya pastilah tidak bergantung kepada wujud yang lain. Dan itulah yang kita yakini sebagai Tuhan. Dan kalau Anda sepakat bahwa wujud yang pertama itu bersifat niscaya, dan wujudnya tidak bergantung pada wujud yang lain, maka sebagai konsekuensi logisnya kita tidak dapat mempersamakan wujud yang niscaya itu dengan wujud yang mungkin. Wujud alam semesta adalah wujud yang mungkin. Dalam arti bahwa dia bisa jadi ada, bisa jadi tiada. Dia menerima keadaan, juga menerima ketiadaan. Artinya, dikatakan niscaya ada, tidak. Dikatakan mustahil ada, juga tidak. Kita sudah berulang-ulang menyampaikan hal itu. 

Dan, kalau Anda cermati dengan seksama, menyatakan wujud alam semesta sebagai wujud yang mungkin itu benar-benar selaras dengan akal sehat, juga sesuai dengan kenyataan yang ada. Faktanya menunjukkan bahwa wujud yang ada di alam semesta ini senantiasa bergantung kepada wujud yang lain. Kalau dia ada, maka akal kita pasti menanyakan sebab di balik keberadaannya. Dan kalau dia tiada, setelah ada, maka akal kita juga pasti akan menanyakan sebabnya. 

Lah tapi kenapa Tuhan bisa menyebabkan dirinya sendiri? Ingat, kaum beriman tidak pernah mengatakan Tuhan menyebabkan ataupun mengadakan dirinya sendiri. Sebab kata “menyebabkan”, atau mengadakan, itu hanya berlaku bagi sesuatu yang tadinya tidak ada, kemudian ada. Coba Anda perhatikan. Ketika saya bilang, misalnya, “makanan menyebabkan lahirnya perasaan kenyang”. Dengan menyatakan ungkapan itu, maka saya hendak berkata bahwa makanan itu menjadi sebab, dan kenyang menjadi akibat. Sebelum makanan masuk, rasa kenyang itu sendiri ada atau tidak? Jelas, dia tidak ada. Dia tidak ada, kemudian ada. Dan karena itulah kita bisa mengatakan bahwa keberadaannya pasti disebabkan oleh yang lain, yang dalam hal ini adalah makanan. 

“Guru mengadakan rapat di area kelas.” Apa yang dimaksud dengan kata “mengadakan” dalam kalimat itu? Ya, mengadakan itu artinya menjadikan sesuatu berwujud setelah sebelumnya tidak. Tadinya rapat itu kan tidak ada, kemudian ada. Siapa yang mengadakannya? Ya guru. Jelas bukan? Jadi istilah “menyebabkan”, atau “mengadakan”, itu hanya relevan ditujukan kepada sesuatu yang mungkin, seperti alam semesta, bukan kepada wujud Tuhan yang bersifat niscaya. Dan para teolog tidak pernah menyatakan bahwa Tuhan menyebabkan dirinya sendiri, ataupun mengadakan dirinya sendiri. Kaum beriman yang terdidik tidak mungkin mengutarakan pernyataan itu. 

Karena mereka tidak pernah memandang Tuhan sebagai sesuatu yang tadinya tidak ada, kemudian ada, sehingga dengan begitu dapat dikatakan bahwa dia telah menyebabkan dirinya sendiri. Lalu apa yang mereka katakan? Yang mereka katakan ialah, Tuhan itu ada dengan dirinya sendiri, bukan menyebabkan dirinya sendiri. Dalam arti bahwa Tuhan itu ada, dan keberadaan-Nya tidak bergantung kepada wujud yang lain. Tidak seperti halnya makhluk yang memiliki ketergantungan itu. Dan akal sehat kita pun pada akhirnya pasti sepakat, bahwa yang sesuatu yang dicipta pastilah tidak akan sama dengan sesuatu yang menciptakannya. 

Tuhan tidak bergantung kepada yang lain, karena, sekali lagi, dia menjadi sebab utama di balik keterlahiran alam semesta. Karena Dia menjadi sebab utama, maka keberadaannya pastilah bersifat niscaya. Dan karena Dia bersifat niscaya, maka tidak relevan bagi kita untuk menanyakan sebab di balik keberadaannya. Karena sesuatu yang disebabkan hanyalah sesuatu yang mungkin. Mengatakan sesuatu ada dengan dirinya sendiri tidaklah sama dengan mengatakan sesuatu itu menjadi sebab bagi dirinya sendiri. Kita tidak memandang Tuhan sebagai sesuatu yang menyebabkan dirinya sendiri, karena penalaran yang rasional menggiring kita pada kesimpulan bahwa wujud Tuhan bukanlah wujud yang didahului oleh ketiadaan.

Tetapi kita meyakini Tuhan sebagai sesuatu yang ada karena dirinya sendiri. Atau ada dengan dirinya sendiri. Dalam arti bahwa wujud-Nya tidak bergantung kepada wujud yang lain. Karena kalau dia bergantung kepada yang lain, maka dia tidak menjadi Tuhan lagi. Sampai kapanpun, akal kita tidak akan pernah mampu untuk membayangkan adanya silsilah sebab-akibat yang tidak berakhir. Dan kalau kita sepakat bahwa silsilah yang tidak berakhir itu mustahil, maka sangat logis kalau kita mempercayai keberadaan sebab utama, yang kepadanya bergantung segala sesuatu. Tapi dia sendiri tidak bergantung kepada sesuatu. Dan dialah Allah Swt. Dialah wujud yang niscaya, yang dengan keniscayaan wujud-Nya, maka Dia tidak memiliki ketergantungan kepada wujud-wujud lainnya. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.

Bagikan di akun sosial media anda