Mengapa Dhamir untuk Lafaz Allah Sering Disebut dalam Bentuk Mudzakkar?

Pertanyaan ini kerap diajukan oleh beberapa orang. Mereka bertanya, kenapa dhamir yang digunakan oleh al-Quran untuk merujuk pada lafaz Allah itu berupa dhamir mudzakkar, dengan menggunakan dhamir huwa? Kenapa tidak hiya? Apakah itu artinya Allah laki-laki? Demikian tanya mereka. Agak berlebihan lagi kalau ada yang berpandangan bahwa penggunaan dhamir mudzakkar yang merujuk pada kata “Allah” itu dikait-kaitkan dengan isu gender. Terlalu jauh saya kira untuk menarik persoalan ke arah itu.

Tapi, pertanyaannya sekali lagi, kenapa dhamir yang merujuk pada lafaz Allah itu selalu dalam bentuk dhamir mudzakkar? Kepada yang mengajukan pertanyaan ini, saya harap Anda bisa membedakan antara bentuk suatu lafaz, dengan apa yang dimaksud oleh lafaz itu. Kaitannya dengan lafaz Allah, kita harus bisa membedakan antara Dzat Allah, atau wujud Allah, dengan lafaz Allah itu sendiri, yang menunjuk pada Dzat itu. Sebagai sebuah Dzat, kita semua bisa sepakat, bahwa Allah itu tidak diserupai oleh makhluk. 

Ayat al-Qurannya tegas menyatakan, “Dia tidak diserupai oleh sesuatu apapun.” (QS. 42: 11). Dia bukan laki-laki, juga bukan perempuan. Karena itu, Dzat Allah tidak dapat disifati dengan kelaki-lakian maupun keperempuanan. Jangankan Allah, malaikat saja tidak terdiri dari laki dan perempuan. Apalagi Allah, yang secara tegas dinyatakan dalam al-Quran bahwa Dia tidak diserupai oleh apapun dari makhluk-Nya. Jangankan yang serupa dengan Allah, yang menyerupai yang serupa dengan Allah saja (kalaulah yang serupa itu diasumsikan keberadaannya) itu tidak ada! 

Jadi, kalau Anda bertanya, apakah Dzat Allah berwujud laki-laki atau perempuan? Maka jawabannya jelas, Dzat Allah—sekali lagi Dzat Allah, bukan lafaz Allah—itu tidak dapat disifati dengan kelaki-lakian maupun keperempuanan. Dan pertanyaan yang Anda ajukan di atas ialah seputar lafaz Allah, bukan Dzat Allah. Lafazh Allah itu, sebagai sebuah lafaz, mudzakkar atau muannats? Jawabannya jelas, lafaz Allah itu mudzakkar. Kenapa mudzakkar? Ya karena dia tidak memiliki tanda-tanda ke-muannats-an (‘alâmat at-ta’nîts).

Ciri lafaz muannats itu, antara lain, dibubuhi oleh ta marbuthah. Apakah ta marbuthah itu kita temukan dalam lafaz Allah? Jelas tidak ada. Karena itulah lafaz Allah disebut mudzakkar. Dan orang-orang Arab sepakat untuk memandang lafaz Allah itu sebagai lafaz mudzakkar, bukan muannats. Harap diingat, menyebut suatu lafaz sebagai lafaz mudzakkar, itu tidak otomatis menyebut sesuatu yang ditunjuk oleh lafaz itu sebagai laki-laki. 

Begitu juga, kalau kita menyebut suatu lafaz sebagai lafaz muannats, bukan berarti bahwa apa yang ditunjuk oleh lafaz itu sudah pasti seorang perempuan. Inilah sesungguhnya asumsi keliru yang hinggap di benak penanya itu. Dia mengasumsikan bahwa kalau ada suatu lafaz disebut mudzakkar, maka sosok yang ditunjuk oleh lafaz itu sudah pasti laki-laki. Padahal kenyataannya tidak begitu.

Banyak sekali lafaz-lafaz yang kita jumpai sebagai mudzakkar, tapi apa yang ditunjuk oleh lafaz itu sendiri tidak berjenis kelamin. Kata “malak”, misalnya, yang merupakan bentuk tunggal dari kata malâikat, itu adalah kata yang berbentuk mudzakkar. Tetapi apakah itu artinya sosok yang ditunjuk oleh kalimat itu berupa laki-laki? Tentu saja tidak. Karena menyebut suatu kata sebagai mudzakkar bukan berarti sosok yang ditunjuknya sudah pasti berjenis kelamian laki-laki. 

Kata “kitab”, “qalam”, “masjid”, “maktab”, dan kata-kata semacamnya, itu mudzakkar atau muannats? Jelas, itu semua adalah lafaz mudzakkar. Tapi apakah itu artinya mereka semua berjenis kelamin laki-laki? Tentu saja tidak. Apa pernah Anda menjumpai pulpen laki-laki, kitab laki-laki, atau meja berjenis kelamin laki-laki, hanya karena mereka semua disebut sebagai lafaz mudzakkar?

Jadi, yang perlu kita luruskan ialah, menyebut suatu lafaz sebagai mudazakkar itu tidak otomatis menjadikan sosok yang ditunjuk oleh lafaz itu sebagai laki-laki! Karena status mudzakkar dan muannats-nya suatu lafaz itu satu hal, berkelamin atau tidaknya sosok yang ditunjuk oleh lafaz itu, itu hal yang lain lagi. Tidak ada keterkaitan yang bersifat pasti antara kedua hal itu. 

Yang mengajukan pertanyaan di atas tampaknya menyamakan antara pertanyaan seputar lafaz Allah, yang memang dipandang sebagai lafaz mudzakkar, dengan Dzat, atau wujud, yang ditunjuk oleh lafaz Allah itu sendiri, yang tidak dapat dikatakan sebagai laki-laki maupun perempuan. Padahal keduanya jelas berbeda. Lagipula, menyebut lafaz Allah sebagai mudzakkar itu hanya soal teknis kebahasaan saja. Tidak ada sangkut pautnya dengan berkelamin atau tidaknya sosok yang ditunjuk oleh lafaz itu. 

Dan, ketika kita menyebut lafaz Allah sebagai lafaz mudzakkar, dan dhamir yang digunakan untuk merujuk pada lafaz Allah itu berupa dhamir mudzakkar, itu memang beralasan. Karena lafaz Allah sendiri adalah lafaz yang tidak memiliki tanda-tanda ke-muannats-an. Di samping itu orang Arab juga sepakat untuk memandang lafaz itu sebagai lafaz mudzakkar. Jadi ini hanya soal teknis kebahasaan saja. Orang Arab mengkategorikan lafaz itu hanya ke dalam dua bagian, yaitu mudzakkar dan muannats. Tidak ada pilihan ketiga. 

Dan mereka menjadikan lafaz Allah itu sebagai lafaz mudzakkar. Dan dengan menyebut suatu lafaz sebagai mudzakkartidak berarti bahwa sosok yang ditunjuk oleh lafaz itu pasti berjenis kelamian laki-laki. Sebagaimana kalau ada kata yang terkategorikan muannats bukan berarti sosok yang ditunjuk oleh lafaz itu sudah pasti berjenis kelamin perempuan. Karena status mudzakkar dan muannats-nya suatu lafaz itu satu hal, berkelamin atau tidaknya sosok yang ditunjuk oleh suatu lafaz itu hal yang lain lagi. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda