Kaburnya Makna Agama dalam Pandangan Dennett

Buku Breaking The Spell yang ditulis oleh Daniel Dennett bertujuan untuk membaca agama sebagai sebuah fenomena alam. Dalam buku itu, Dennett ingin memposisikan agama sebagai sebuah fenomena kemanusiaan alami, dan dengan begitu kita pun dapat membacanya, dan juga melakukan kritik terhadapnya, dengan sudut pandang ilmu-ilmu alam (sains). Salahkah cara pembacaan seperti itu? Sebelum dijawab, mari kita lihat terlebih dulu apa yang dikatakan Dennett tentang agama. Apa itu agama? Ini pertanyaan penting yang harus dudukkan terlebih dulu. Karena salah atau tidaknya cara pembacaan seseorang terhadap agama itu bergantung pada tepat atau tidaknya definisi yang bersangkutan dalam merumuskan hakikat agama itu sendiri. 

Menurut Dennett, agama ialah “sistem sosial yang mana para pengikutnya bersumpah untuk percaya pada satu atau lebih agen supranatural yang mereka cari berkatnya.” (hlm. 8). Bagi Dennett, agama itu bukan sesuatu yang bersifat ghaib. “Saya bisa bermaksud bahwa agama itu merupakan suatu hal yang alami (natural), bukan suatu hal yang gaib (supranatural), yang mana agama merupakan fenomena manusiawi yang tersusun atas peristiwa, organisme, objek, struktur, pola, dan semacamnya, yang mematuhi hukum fisika atau bilogi, sehingga tidak melibatkan keajaiban.” (hlm. 25). Pertanyaannya, apakah definisi Dennett itu sudah tepat? Mari kita uji bersama-sama. 

Untuk menguji tepat atau tidaknya suatu definisi kita perlu menggunakan pisau analisis Ilmu Logika. Dalam logika kita mengenal satu ketentuan, bahwa definisi itu harus mampu menghimpun sekaligus mampu mencegah (jami’ mani). Dalam definisi kita mengenal ada yang disebut genus (jins), yang menjelaskan separuh hakikat dari sesuatu yang didefinisikan, sekaligus menjelaskan jenis dari sesuatu itu. Dan ada differentia (fashl), yang menjelaskan separuh hakikatnya yang lain, yang berfungsi sebagai pembeda. 

Apakah definisi yang diajukan Dennett sudah memenuhi kriteria itu? Pada bagian pertama definisi, Dennett mencantumkan frase “sistem sosial”. Dengan demikian, sistem sosial dalam definisi Dennett dapat kita posisikan sebagai genus(jins) bagi agama. Tetapi apakah genus dari definisi ini sudah tepat? Hemat penulis, ini keliru. Karena frase “sistem sosial” tidak menjelaskan separuh hakikat terdalam dari agama itu sendiri. Sementara genus, seperti kata para logikawan, itu harus menjadi bagian dari hakikat dari sesuatu yang didefinisikan. 

Di sini kita harus mengajukan satu pertanyaan, kalau kita merujuk pada realitas di alam luar, agama itu kira-kira sejenis apa? Hemat saya, agama itu sejenis aturan. Aturan di sini tentu mencakup sistem keyakinan, moral, dan juga tuntunan hidup. Agama itu adalah aturan. Kalaulah kata “sistem” yang Dennett sebutkan dimaksudkan sebagai aturan, mungkin kita dapat menerima itu. Tapi aturan apa yang dia maksud? Di sini, saya kira, Dennett punya pandangan yang bertolak belakang dengan pandangan para pakar. Jika kata “sistem” itu dimaksudkan sebagai aturan, maka aturan yang dimaksud oleh Dennett ialah “aturan sosial.” Mengingat bahwa dia menyebut kata “sosial” dalam definisi itu. 

Lalu apa yang dimaksud dengan aturan sosial itu? Mungkin, maksudnya, agama itu semacam sistem pemikiran, atau kesepakatan-kesepakatan, atau katakanlah aturan, yang dibentuk oleh suatu masyarakat. Jadi agama itu bukan berasal dari Tuhan, tapi hasil dari pemikiran manusia itu sendiri. Mengingkat posisi Dennett sebagai tokoh Ateis, tampaknya wajar jika dia punya pandangan seperti itu. Jika ini yang dia maksud, maka di sini, hemat penulis, Dennett sudah keliru. Barangkali dia tidak dapat membedakan antara agama, sebagai sesuatu yang diyakini berasal dari Tuhan, dengan pemahaman dan pengamalan orang terhadap agama, yang pastinya melibatkan pemikiran manusia.  

Padahal keduanya jelas berbeda. Para ulama Muslim biasanya membedakan antara apa yang disebut sebagai “dîn” (agama), dengan “tadayyun” (keberagamaan). Yang dimaksud dengan “dîn” ialah aturan yang berasal dari Tuhan. Sedangkan keberagamaan ialah hasil pemahaman dan pengamalan manusia terhadap apa yang berasal dari Tuhan itu. Nah, dalam definisi tersebut, Dennett tampaknya tidak menghiraukan perbedaan antara kedua hal ini. Kita tidak memungkiri adanya aturan-aturan tertentu yang diberlakukan oleh suatu komunitas masyarakat, atau kalangan tertentu dari masyarakat, dan mereka mendasarkan aturan itu pada doktrin-doktrin keagamaan.

Tetapi apakah itu yang disebut agama, dalam arti yang sesungguhnya? Saya kira, jantung terdalam dari ajaran agama bukanlah sesuatu yang tampak secara lahiriah itu. Hemat saya, inti dari ajaran agama ialah pesan-pesan, atau aturan, yang diyakini berasal dari Tuhan. Dan kalau kita sepakat dengan poin ini, maka frase pertama yang perlu kita masukkan ke dalam definisi agama itu ialah “aturan ilahi.” Agama itu ialah aturan yang (diyakini) berasal dari Tuhan, yang diberlakukan untuk sosok-sosok yang bernalar sehat. Inilah definisi yang banyak dirujuk oleh para pakar. Dan frase itu, hemat saya, mampu menjelaskan hakikat terdalam dari agama. 

Jika dikatakan sebagai sistem sosial, seperti definisi yang diajukan Dennett, maka agama akan kehilangan sisi terpenting dari jantung utama ajarannya, yaitu keimanan kepada Tuhan. Memang, dalam rangkaian fase selanjutnya, Dennett menyertakan poin keimanan pada apa yang dia sebut sebagai “agen supranatural” itu. Tapi, jika kita mengikuti kaidah pembangunan definisi yang dibakukan dalam buku-buku logika, di mana definisi itu harus memuat genus dan differentia, dan yang pertama harus dirangkai sebelum yang kedua, dan genus itu sendiri harus menjadi bagian dari hakikat kata yang didefinisikan, maka definisi yang diajukan Dennett ini kurang begitu tepat.

Kalau frase “sistem sosial” diartikan sebagai aturan yang dihasilkan oleh individu-individu yang tergabung dalam sebuah masyarakat, Dennett telah keliru dalam merumuskan genus dalam definisi itu. Karena agama tidak terlahir dari kesepakatan para pemeluknya. Ya, kita tidak menolak adanya doktrin-doktrin agama yang dilahirkan oleh ijtihad para pemeluknya. Memang tidak semua ajaran agama itu berasal dari Tuhan. Dalam agama biasanya kita mengenal pembedaan antara ajaran fundamental dengan ajaran partikular. Dan yang partikular ini biasanya banyak melibatkan ijtihad manusia. 

Tapi, betapapun beragamnya ijtihad itu, apa yang dikemukakan oleh masing-masing individu bukanlah inti utama dari ajaran agama itu sendiri. Karena pada akhirnya, dalam memunculkan pendapat-pendapat itu, mereka merujuk pada pesan-pesan yang diklaim berasal dari Tuhan. Dan pesan-pesan itulah yang menjadi inti dari ajaran agama. Itulah yang kita yakini sebagai wahyu. Dengan menyertakan kata “aturan”, pada bagian pembuka definisi, maka tentunya ketika itu agama sama dengan aturan-aturan manusia yang lain. Tapi dengan menyertakan frase “yang berasal dari Tuhan”, atau “yang bersifat ketuhanan”, maka ketika itu dia menjadi terbedakan dari aturan-aturan yang lain. 

Dengan demikian, aturan itu menjadi genus, dan frase “yang berasal dari Tuhan, dan diperuntukkan bagi sosok-sosok yang bernalar sehat”, dapat kita posisikan sebagai pembeda (fashl), antara agama dengan aturan-aturan manusia yang lain. Kika kita merujuk pada definisi yang terakhir ini, maka agama tidaklah dinamai agama kecuali dia memuat aturan, kemudian aturan itu diyakini berasal dari Tuhan, dan terakhir ada sosok yang menghambakan diri kepada Tuhan itu. Jika salah satu dari ketiga unsur ini hilang, maka dia tidak dapat kita sebut sebagai agama. 

Namun, jika kita merujuk pada definisi Dennett, agama diperlakukan sama dengan sistem-sistem kemasyarakatan yang lain, seperti halnya undang-undang yang dirumuskan oleh pemerintah, aturan yang diberlakukan dalam sebuah komunitas, maupun kesepakatan-kesepakatan yang terlahir dari interaksi antar individu-individu masyarakat. Hanya saja, bedanya, jika kita merujuk pada definisi Dennett, sistem sosial yang disebut sebagai agama ini “para pemeluknya bersumpah untuk percaya pada satu atau lebih agen supranatural yang mereka cari berkatnya.” 

Memang, dengan menyertakan definisi ini, agama menjadi terbedakan dari sistem-sistem sosial yang lain. Tetapi, dengan menyertakan “sistem sosial” pada bagian pembuka definisi, dan yang mengawali definisi itu biasanya diposisikan sebagai genus, dan genus itu sendiri harus menjelaskan separuh hakikat dari apa yang didefinisikan, yang dalam hal ini adalah agama, dengan menyertakan frase tersebut dia sebetulnya sudah keliru, karena frase “sistem sosial” itu tidak menjelaskan hakikat dari agama itu sendiri. Akan tetapi, kalau kita ganti “sistem sosial” itu dengan “aturan ilahi”, misalnya, atau “aturan yang berasal dari Tuhan”, maka frase yang terakhir disebut itu kiranya dapat menjelaskan separuh dari hakikat agama itu.

Karena agama tidaklah dinamai agama kecuali dia berupa aturan yang diyakini berasal Tuhan, dan aturan itu sendiri hanya diberlakukan bagi makhluk-makhluk yang bernalar sehat. Dan perlu kita tegaskan sekali lagi bahwa agama dan keberagamaan adalah dua hal yang berbeda. Keberagamaan adalah hasil pemahaman dan pengamalan seseorang, atau suatu kelompok, terhadap agama (dan kadang dia juga dimasukkan sebagai agama dalam arti metaforik). Sedangkan agama itu sendiri adalah aturan yang diyakini berasal dari Tuhan. Jika aturan itu tidak diyakini berasal dari Tuhan, maka dengan sendirinya dia tidak lagi menjadi agama. Karena penjelasan tentang hakikat agama meniscayakan adanya aturan ilahi itu. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.  

Bagikan di akun sosial media anda