Keterkaitan-keterkaitan yang Tidak Logis

Dalam buku Breaking The Spell, Daniel Dennett menulis:

“Banyak orang Kristen, Yahudi dan Muslim sezaman bersikeras bahwa Tuhan, atau Allah, karena maha mengetahui, tidak memerlukan sesuatu seperti organ inderawi dan, karena kekal, tidak bertindak secara langsung. Ini mengherankan, karena banyak di antara mereka terus berdoa kepada Tuhan, berharap bahwa Tuhan akan menjawab doa mereka esok hari, mengekspresikan syukur kepada Tuhan karena menciptakan semesta, dan menggunakan ungkapan seperti “apa yang Tuhan ingin kita lakukan” dan “Tuhan mengampuni”—tidakan-tindakan yang tampaknya berlawanan dnegan keyakinan mereka bahwa Tuhan sama sekali tidak antropomorfis.” (Breaking The Spell, hlm 8-9).

Dalam keyakinan umat beragama (terkhusus kaum Muslim), Tuhan memang tidak diyakini sebagai sosok yang memiliki organ inderawi. Dengan kata lain, Dzat Tuhan bukanlah sesuatu yang tersusun dari bagian-bagian layaknya makhluk. Dan memang akal sehat kita sendiri tidak dapat menerima persamaan antara yang dicipta dengan yang mencipta. Perbedaan itu harus ada. Jika para makhluk memiliki organ inderawi—dan kepemilikan itu meniscayakan kebutuhan mereka akan organ-organ tersebut—maka yang menciptakan seluruh makhluk pastilah terbebas dari kekurangan itu. 

Kenapa saya katakan memiliki organ inderawi itu sebuah kekurangan, karena pada faktanya setiap makhluk yang memiliki organ-organ inderawi itu pasti butuh kepada organ-organ yang membentuk satu kesatuan dirinya itu. Dan kebutuhan adalah cerminan dari kekurangan. Saya, misalnya, punya tangan, kepala, kaki, dan organ-organ tubuh yang lain. Dengan demikian, saya adalah makhluk yang tersusun. Dan segala sesuatu yang tersusun pastilah butuh kepada bagian-bagian yang menyusun dirinya itu. 

Kalau Tuhan dikatakan memiliki organ-organ inderawi, berarti Tuhan pun termasuk Dzat yang tersusun. Dan sesuatu yang tersusun, seperti kita katakan tadi, pastilah terikat dengan kebutuhan dan ketergantungan. Dengan demikian, kalau Tuhan tersusun dari organ-organ inderawi, maka Tuhan akan menjadi sosok yang butuh kepada bagian-bagian yang membentuk dirinya. Dan kalau sudah butuh maka dia tidak lagi dinamai sebagai Tuhan, tetapi sudah menjadi makhluk. Karena hanya makhluklah yang dimungkinkan untuk memiliki ketergantungan itu. 

Di sisi lain, jika Tuhan diyakini memiliki organ-organ inderawi—maha suci Dia dari penyifatan semacam itu—maka hal itu dapat berkonsekuensi pada kebaruan dirinya (hudûts ad-dzât). Karena setiap organ adalah substansi. Dan setiap substansi pasti memiliki aksiden. Dan setiap aksiden pasti mengalami perubahan. Dengan demikian, kalau Tuhan diyakini sebagai sosok yang memiliki organ-organ inderawi, maka pada akhirnya kita akan meyakini Tuhan sebagai sosok yang dapat mengalami perubahan (hâdits). Dan itu mustahil. 

Sulit bagi akal kita untuk meyakini sesuatu sebagai Tuhan, tapi dalam saat yang sama juga diyakini sebagai sesuatu yang dapat mengalami perubahan. Karena perubahan meniscayakan kebutuhan, sementara ketuhanan tidak memungkinkan adanya kebutuhan itu. Jadi, kalau ditanya kenapa Tuhan tidak memiliki organ-organ inderawi? Jawabannya karena wujudnya sendiri memang tidak memungkinkan hal itu terjadi. Dan nalar sehat kita sendiri akan sulit menerima keyakinan semacam itu. Karena keyakinan tersebut dapat berkonsekuensi pada kemustahilan. 

Sementara, kalau kita perhatikan kutipan di atas, Dennett tampaknya menjadikan kemahatahuan Tuhan sebagai alasannya. Dennett mengira bahwa orang beriman menafikan adanya kebutuhan Dzat Tuhan akan organ-organ inderawi karena kita meyakininya sebagai Dzat yang Maha mengetahui. Padahal antara keduanya tidak ada keterkaitan yang logis sama sekali. Betul kita meyakini Tuhan sebagai Dzat yang Maha tahu. Tapi kemahatahuan Tuhan bukanlah alasan yang logis di balik penafian akan adanya organ-organ inderawi itu. Tuhan tidak memiliki organ inderawi, sekali lagi, karena memang wujud-Nya sendiri yang tidak memungkinkan hal itu.  

Jadi, Dennett keliru ketika memandang ada keterkaitan antara keyakinan akan kemahatahuan Tuhan dengan keyakinan bahwa Dia tidak tersusun dari bagian-bagian. Sebagaimana dia juga keliru ketika memandang adanya pertentangan antara keyakinan akan kekekalan Tuhan dengan keyakinan bahwa Dia bertindak secara langsung terhadap makhluk-makhluk-Nya. Kalaulah betul ada pertentangan—sehingga pertentangan itu membuat dia terheran-heran—kita patut bertanya, di mana sesungguhnya letak pertentangan itu? 

Ya, setiap hari kaum beriman berdoa, dan mereka berharap, sekaligus percaya, bahwa Tuhan mengabulkan doa-doa mereka. Mereka pun percaya bahwa Tuhan terlibat langsung dalam mengatur kehidupan mereka. Bumi yang berotasi, angin yang berhembus, daun yang bergerak, tanaman yang tumbuh, bunga yang layu, kulit yang mulai mengkerut, wajah yang mulai menua, dan peristiwa-peristiwa alam lainnya, semua itu mereka yakini sebagai kejadian-kejadian yang tak mungkin terlahir tanpa adanya kehendak dan kuasa Tuhan. 

Apabila ada api membakar, dan makanan melahirkan rasa kenyang, mereka tidak menolak bahwa api itu menjadi sebab, dan kebakaran itu menjadi akibat. Makanan menjadi sebab, dan rasa kenyang menjadi akibat. Mereka tidak menolak penjelasan sains yang menguraikan sebab-sebab di balik setiap kejadian yang mereka alami itu. Hanya saja, lubuk hati terdalam mereka percaya, bahwa semua sebab-sebab itu tidaklah memberikan dampak karena dirinya sendiri. Karena di sana ada kekuatan tertinggi, yang atas kuasa-Nyalah segala peristiwa itu bisa benar-benar terjadi. 

Di sisi lain, dengan keyakinan semacam itu, mereka pun percaya bahwa Tuhan adalah Dzat yang Maha kekal, juga Dzat yang tidak memiliki awal. Pertanyaannya, adakah pertentangan antara dua keyakinan itu? Setahu saya tidak ada. Sangat mungkin kita meyakini Tuhan sebagai sosok yang Maha kekal, dan pada saat yang sama kita sendiri meyakininya terlibat secara langsung dalam mengatur dan mengendalikan alam. Dengan kata lain, meyakini Tuhan sebagai sosok yang Maha kekal dan tidak berawal tidak lantas mengharuskan kita untuk menafikan adanya keterlibatan Tuhan dalam mengatur makhluk-makhluk-Nya. Dan ini sama sekali tidak mengherankan. 

Yang patut dirasa mengherankan itu justru cara berpikir Dennet, yang telah menampilkan keterkaitan-keterkaitan yang tidak logis itu. Keyakinan akan kemahatahuan Tuhan dia jadikan sebagai alasan di balik keyakinan bahwa Tuhan tidak memiliki organ-organ. Padahal antara keduanya tidak ada keterkaitan sama sekali. Yang membuat kita yakin akan ketidaktersusunan dzat Tuhan bukanlah kemahatauan dirinya, melainkan karena keniscayaan wujudnya itu sendiri. 

Keyakinan yang memandang Tuhan sebagai sosok yang kekal dia pandang bertentangan dengan keyakinan bahwa Dia bertindak secara langsung dalam mengatur makhluk-makhluk-Nya. Padahal di mana coba sisi pertentangannya? Saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa dalam mengatur alam semesta, pastilah Tuhan itu mengaturnya secara langsung, tanpa menggunakan sebuah perantara. Yang ingin saya katakan, kalaupun Tuhan itu diyakini mengintervensi langsung keberadaan makhluk-makhkuk-Nya, keyakinan tersebut tidaklah bertentangan dengan kekekalan Tuhan itu sendiri. 

Keyakinan akan kekekalan Tuhan hanya ingin mengatakan bahwa wujud Tuhan itu tidak memiliki akhir. Apabila Dia diyakini sebagai Dzat yang Maha awal, maka itu artinya kita menafikan adanya keberawalan bagi Tuhan. Dan kita memang meyakini hal itu. Argumen-argumen rasional yang meyakinkan menggiring kita pada kesimpulan bahwa Tuhan itu tidak memiliki awal dan akhir. Tapi, apakah keyakinan tersebut mengharuskan kita untuk percaya, bahwa Tuhan tidak terlibat langsung dalam mengatur makhluk-makhluk-Nya? Saya tidak melihat adanya keterkaitan yang logis antara kedua hal itu. 

Keyakinan akan kekekalan, dan juga ketidakberawalan Tuhan, sekali lagi, tidak lantas menafikan adanya intervensi Tuhan secara langsung terhadap makhluk-makhluk-Nya. Sebagaimana keyakinan akan kemahatahuan Tuhan bukanlah alasan untuk menafikan adanya ketersusunan di dalam dirinya. Karena faktanya tidak ada keterkaitan yang logis sama sekali antara hal-hal yang dikait-kaitkan oleh Daniel Dennett itu. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.

Bagikan di akun sosial media anda