Agama Bukan Fenomena Alam

Dalam tulisan sebelumnya telah penulis jelaskan bahwa tidak tepat jika kita memaknai agama sebagai sistem sosial, seperti definisi yang dikemukakan oleh Dennet. Jantung terdalam dari ajaran agama bukanlah pemikiran-pemikiran yang dikreasiakan oleh para pemeluknya, ataupun praktek-praktek yang terlihat oleh kasat mata, melainkan pesan-pesan dan aturan yang diyakini berasal dari Allah Swt. Istilah lebih ringkasnya ialah wahyu. Jantung terdalam dari hakikat agama itu berada pada wahyu, yang diyakini sebagai informasi ilahi. 

Kita katakan juga di sana bahwa agama tidaklah disebut agama kecuali memuat tiga hal. Satu, Tuhan, sebagai dzat yang disembah. Dua, hamba, sebagai penyembah. Dan yang ketiga ialah aturan, yang mengatur hubungan antara keduanya. Atas dasar itu, jika tidak ada sesuatu yang diyakini sebagai Tuhan, dan aturan yang berasal dari diri-Nya, maka sebagai konsekuensinya kita tidak dapat menamai sesuatu itu sebagai agama. Sekarang kita berlanjut pada pertanyaan selanjutnya, apakah agama dapat kita sebut sebagai fenomena alam, sehingga dengan begitu kita dapat mengamatinya dengan kaca mata sains? 

Tentu saja, Dennet, dan orang-orang Ateis pada umumnya, akan menjawab pertanyaan ini secara afirmatif. Bagi mereka, agama itu tidak lebih dari sekedar hasil pemikiran umat manusia semata. Dari kutipan yang telah kita sertakan dalam tulisan yang lalu, jelas terlihat bahwa Dennet memang memandang agama sebagai fenomena alam biasa. Yang jadi pertanyaan, apakah klaim itu tepat? Apa benar agama itu bisa kita katakan sebagai fenomena alam? Inilah yang akan kita jawab. 

Sebetulnya, jawaban untuk pertanyaan ini pada akhirnya akan menggiring kita kembali pada perdebatan tentang definisi agama itu sendiri. Apakah agama itu fenomena alam atau bukan, itu bergantung pada definisi agama itu sendiri. Jika Anda sepakat dengan paparan penulis sebelumnya, yang memandang agama sebagai aturan ilahi, atau aturan yang berasal dari Tuhan, yang ditujukan pada sosok-sosok yang bernalar sehat, rasanya tidak begitu sulit bagi kita untuk menafikan ketepatan klaim tersebut. 

Seperti yang telah penulis kemukakan di sana, bahwa agama dan keberagamaan adalah dua hal yang berbeda. Dan Dennet, sayangnya, tidak membedakan kedua hal itu. Agama itu aturan yang berasal dari Tuhan. Sementara keberagamaan ialah hasil pemahaman dan pengamalan umat beragama terhadap pesan-pesan yang berasal dari Tuhan itu. Jika Anda memandang agama sebagai pesan-pesan yang datang dari Tuhan, maka jelas dia bukan bagian dari fenomena alam. 

Ya, jika yang Anda maksud dengan agama itu ialah keberagamaan, dan keberagamaan itu sendiri merupakan sesuatu yang kasat dan terlihat, mungkin ketika itu Anda dapat memandang agama sebagai bagian dari fenomena alam. Atau katakanlah fenomena kemanusiaan. Tapi, sekali lagi, yang Anda duga sebagai agama itu pada hakikatnya bukanlah agama. Itu hanyalah pemahaman dan pengamalan seseorang atau kelompok terhadap agama, bukan agama itu sendiri. Dan itulah yang kita sebut dengan keberagamaan. 

Jika Anda sepakat dalam pembedaan dua hal ini, maka omong kosong belaka kalau ada orang yang melihat agama sebagai fenomena alamiah, dan mengkritiknya dengan metode penelitian yang diajukan oleh para ilmuwan. Pengalaman kewahyuan bukanlah sesuatu yang berada dalam jangkauan sains. Karena sosok yang menyampaikan wahyu itu sendiri bukanlah sosok yang keberadaannya dapat dibuktikan, maupun dinafikan oleh sains. Yang menyampaikan wahyu itu ialah wujud metafisik. Sementara sains hanya memberikan penjelasan tentang alam fisik. 

Dan karena itu memaksa sains untuk berbicara tentang sesuatu yang berada “di luar” lingkup kajiannya sama saja dengan memaksa seseorang untuk berbicara tentang sesuatu yang bukan bagian dari keahliannya. Jika wahyu diartikan sebagai informasi yang berasal dari Tuhan, dan Tuhan itu sendiri bukanlah wujud yang merupakan bagian dari alam, maka ketika itu agama tidak bisa didekati dengan metode ilmu-ilmu alam. Agama tidak bisa diuji kesahihannya dengan menggunakan metode sains, dengan alasan yang telah penulis kemukakan tadi. 

Ya, Anda bisa mencermati keberagamaan, sebagai bagian dari fenomena kemanusiaan, melalui kacamata sains. Kalaulah Anda tertarik untuk melakukan itu. Tapi, harap diingat, bahwa dengan cara seperti itu, Anda tidak akan pernah mampu menyentuh sisi terdalam dari ajaran agama. Yang Anda sentuh hanyalah sisi-sisi permukaan dari agama saja, bukan hakikat dari agama itu sendiri. 

Jadi, apakah agama merupakan bagian dari fenomena alam, dan karena itu dia bisa diuji dengan menggunakan metode ilmu-ilmu alam? Barangkali kita bisa sepakat dengan Dennett, bahwa, sekali lagi, jika yang dimaksud dengan agama itu ialah “pengalaman, kepercayaan, praktik, teks, artefak, lembaga, konflik, dan sejarah keagamaan Homo Sapiens, maka ini”, demikian Dennett menegaskan pandangannya, “adalah katalog tebal tentang fenomena alam yang tidak diragukan.” “Secara psikologis”, lanjut Dennet, “halusinasi karena obat-obatan dan kecanduan karena agama sama-sama bisa dikaji oleh ilmuwan saraf dan psikolog.” (hlm. 29)

Tapi, lagi-lagi kita katakan bahwa yang Dennett katakan sebagai agama ini sebetulnya bukan hakikat terdalam dari ajaran agama itu sendiri. Yang dia katakan sebagai agama itu ialah fenomena keberagamaan yang terlahir dari pemahaman, pengamalan dan penghayatan yang bersangkutan terhadap ajaran agama yang dianutnya. Bukan agama sebagai pesan-pesan yang berasal dari Tuhan. Dan kesimpulan ini sebenarnya terlahir karena sejak awal Dennett sendiri sudah keliru dalam memaknai hakikat agama itu. Kesimpulan yang keliru memang sering terlahir dari konsepsi yang tidak tepat. 

Di bagian tulisannya yang lain, Dennet tampaknya tidak dapat memungkiri bahwa “mungkin ada ranah yang dikuasai oleh agama—wilayah aktivitas manusia yang tidak dapat dijangkau oleh sains—tapi itu bukan berarti sains tidak dapat atau tidak boleh mempelajari fakta tersebut.” (hlm. 30) Ini penggalan kalimat yang, menurut saya, agak lucu. Kalau memang terbukti bahwa ada sisi-sisi agama yang tidak dapat dijangkau oleh sains, seperti yang dia katakan sendiri, lantas apa gunanya sains memasuki wilayah yang tidak dapat dijangkaunya itu? 

Ya kalau soal boleh sih tentu saja boleh. Tapi, pada akhirnya, kesimpulan-kesimpulan yang akan dilahirkan oleh sains dalam memandang agama adalah kesimpulan spekulatif yang mudah kita sangsikan kesahihannya. Kenapa? Ya karena dia membahas tentang sesuatu yang bukan berada dalam wilayah lingkup kajiannya. Apa yang akan Anda katakan kalau ada seorang penjual sayuran di pinggiran jalan ingin berbicara tentang persoalan politik global beserta solusi-solusinya?

Apakah Anda akan yakin dengan kesimpulan-kesimpulan yang ditariknya? Apakah Anda memandang sikap semacam itu sebagai sikap yang bijak, yang mencerminkan kearifan seorang ilmuwan? Tentu saja tidak. Begitu juga halnya kalau sains “dipaksa” untuk berbicara tentang sesuatu yang berada di luar jangkauannya. Kata Dennet, “saya tidak sedang menyarankan agar sains berusaha melakukan apa yang dilakukan agama, tapi sains harus mempelajari, secara ilmiah, apa yang dilakukan agama.” (hlm. 30) 

Saya tidak membayangkan betapa lucunya kalau ada orang bilang, “saya tidak sedang menyarankan penjual sayur untuk berusaha melakukan apa yang telah dilakukan oleh para politisi. Tapi para tukang sayur harus berusaha, dalam kapasitasnya sebagai tukang sayur, untuk bicara tentang politik sesuai dengan kapasitasnya.” Kelucuan yang sama sebetulnya dapat kita jumpai pada orang-orang yang memaksa sains untuk berbicara tentang sesuatu yang berada di luar bidang kajiannya. Jika ada orang yang menolak keberadaan Tuhan, atau mencampakkan agama, atas nama sains, maka sesungguhnya dia termasuk orang yang tengah mempertontonkan kelucuan itu. 

Dari paparan yang lalu kita sudah membuktikan bahwa definisi Dennett tentang agama adalah definisi yang keliru. Dan kesimpulannya yang memandang agama sebagai fenomena alam terlahir dari konsepsi yang keliru itu. Sebagai orang yang tidak percaya kepada Tuhan, memang wajar kalau dia punya pandangan demikian. Tetapi, jika keberadaan Tuhan itu sendiri mampu dibuktikan dengan argumen-argumen yang meyakinkan, dan aturan yang berasal dari Tuhan itu terbukti sebagai jantung utama dari ajaran agama, maka ketika itu Dennett perlu meninjau pandangannya, seraya sadar dengan kenyataan bahwa agama dan keberagamaan adalah dua hal yang berbeda. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.

Bagikan di akun sosial media anda