Ancaman yang Tidak Masuk Akal?

Kadang orang tidak bisa membedakan antara sesuatu yang tidak masuk akal karena dia bertentangan dengan hukum akal, dengan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh akal karena ia berada di luar jangkauan akal. Bagi orang-orang yang nalarnya tidak mengalami gangguan, jelas, itu adalah dua hal yang berbeda. Sesuatu yang bertentangan dengan hukum-hukum akal tidak dapat kita persamakan dengan sesuatu yang berada di luar jangkauan akal. 

Jika terbukti, melalui argumen-argumen yang rasional, bahwa suatu keyakinan itu bertentangan dengan hukum-hukum akal, maka Anda tak perlu ragu untuk berkata, bahwa keyakinan itu adalah keyakinan yang tidak masuk akal. Tidak ada masalah dengan kesimpulan itu. Tapi, jangan Anda katakan suatu keyakinan itu tidak masuk akal, sementara akal kita sendiri masih memungkinkan keberadaannya. 

Apa yang kita duga tidak masuk akal boleh jadi bukan karena dia bertentangan dengan hukum akal, tetapi karena dia bertentangan dengan hukum kebiasaan. Dan sesuatu yang bertentangan dengan kebiasaan itu tidak mesti bertentangan dengan hukum-hukum akal. Tapi sesuatu yang bertentangan dengan hukum-hukum akal sudah pasti tidak akan kita jumpai di alam kebiasaan. 

Dalam agama, misalnya, kita mempercayai keberadaan sorga dan neraka. Apakah keberadaan keduanya dimungkinkan menurut akal? Jelas, tak ada keraguan dalam hal itu. Keyakinan akan keduanya sama sekali tidak berkonsekuensi pada kemustahilan. Dan karena itu, menurut akal, adanya sorga dan neraka termasuk sesuatu yang mungkin. Tetapi apakah penjelasan keduanya berada dalam jangkauan akal? Di sini kita harus menjawab tidak. Akal kita tidak punya otoritas untuk menjelaskan sesuatu yang berada di luar jangkauannya itu.  

Lalu kenapa kita memercayai keduanya? Kita memercayai keduanya—dan hal-hal ghaib lain selain keduanya—karena informasi tentang keduanya disampaikan melalui wahyu yang berasal dari Tuhan. Yaitu al-Quran. Lalu apa bukti kalau al-Quran itu sendiri benar-benar wahyu yang berasal dari Tuhan? Kita perlu pembicaraan secara terpisah untuk menjawab pertanyaan ini. Jika Anda ingin menyimak ulasan yang singkat, barangkali Anda bisa mengakses tulisan ini. 

Yang jelas, apabila argumen-argumen rasional menggiring Anda pada kesimpulan bahwa al-Quran bukan kitab biasa, dan dia disimpulkan sebagai firman Allah Swt, melalui argumen-argumen rasional yang dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya, maka sebagai konsekuensi logisnya apapun yang dikabarkan oleh wahyu, termasuk rincian tentang sorga dan neraka, harus Anda pandang sebagai sesuatu yang benar. Karena dia berasal dari sumber kebenaran tertinggi. 

Jadi, keyakinan kita yang membenarkan semua rincian tentang sorga dan neraka merupakan konsekuensi logis dari pembenaran kita terhadap al-Quran yang merupakan wahyu dari Allah Swt. Dan klaim keilahian al-Quran itu sendiri, seperti yang dapat kita jumpai dalam buku-buku sarjana Muslim, adalah fakta yang dapat dibuktikan dengan argumen-argumen rasional yang meyakinkan. Bukan hanya sebatas keyakinan yang diwariskan secara turun temurun semata.   

Sebagian orang mungkin tidak mampu mencerna gambaran tentang sorga dan neraka itu. Mereka memandangnya sebagai sesuatu yang aneh. Kok bisa begini, kok bisa begitu? Dan keanehan itu mereka anggap sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Padahal, seperti yang penulis tegaskan di muka, apa yang terlihat aneh berdasarkan kebiasaan belum tentu dapat dikatakan mustahil menurut timbangan akal. 

Apakah benar hukuman neraka, yang sedemikian dahsyat dan mengerikan itu, termasuk hukuman yang tidak masuk akal? Dawkins, dan saya kira orang-orang Ateis lain pada umumnya, menjawab pertanyaan ini secara afirmatif. Baginya, hukuman neraka itu merupakan hukuman yang tidak masuk akal. Dan beruntunglah, kata Dawkins, orang-orang yang tidak mempercayai hukuman yang tidak masuk akal itu. 

“Saya punya teori tentang ancaman hukuman. Beberapa ancaman masuk akal. Seperti, jika kamu terbukti mencuri, kamu mungkin masuk penjara. Ancaman lain sangat tidak masuk akal. Seperti, jika kamu tidak percaya pada Tuhan, ketika kamu mati kamu akan menghabiskan seluruh kekekalan di lautan api. Teori saya adalah bahwa semakin masuk akal ancamannya, semakin tidak mengerikannya ancaman itu… ancaman hukuman saat kamu masih hidup masuk akal (penjara adalah tempat yang nyata). Jadi itu tidak harus melibatkan siksaan mengerikan di mana kulit kamu dibakar dan kemudian diganti untuk dibakar lagi.” (Outgrowing God, hlm. 112-113)

Mungkin, jika ingin diperjelas, Dawkins sebenarnya ingin berkata bahwa hukuman yang masuk akal itu ialah hukuman yang nyata, seperti hukuman penjara yang dia sebutkan itu. Sementara hukuman yang tidak nyata dia kategorikan sebagai hukuman yang tidak masuk akal. Jadi, tolak ukur masuk akal atau tidaknya suatu hukuman, menurut Dawkins, ialah nyata atau tidaknya hukuman itu sendiri. Jika nyata, dia sebut masuk akal. Kalau tidak, maka tidak masuk akal. Apakah ini tolak ukur yang tepat? Bagi yang menekuni tradisi filsafat, saya kira jawabannya jelas tidak.

Karena faktanya sekian banyak sesuatu yang tidak nyata, dan tidak dapat dijangkau oleh pancaindera, tapi keberadaannya sendiri masih dimungkinkan oleh akal. Untuk menentukan apakah sesuatu itu masuk akal atau tidak, maka yang perlu kita jadikan rujukan ialah ketetapan-ketetapan akal itu sendiri. Akal kita, misalnya, percaya dengan hukum identitas, hukum non-kontradiksi, dan hukum terangkatnya kemungkinan ketiga. Ini adalah kaidah berpikir yang melandasi semua produk pemikiran kita. 

Jika suatu pikiran, atau keyakinan, bertentangan dengan salah satu dari ketiganya, maka kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa pikiran itu bertentangan dengan hukum-hukum akal. Salah satu problem yang cukup sering saya jumpai, orang-orang Ateis ini seringkali tidak mampu membedakan antara sesuatu yang bertentangan dengan hukum akal, dengan sesuatu yang bertentangan dengan kebiasaan, sehingga kalaupun ditolak oleh akal, penolakan itu hanya berlandasakan pada kebiasaan, bukan karena penolakan dari hukum akal itu sendiri. 

Hukum akal itu, seperti kata para teolog, terbelah ke dalam tiga bagian. Yaitu wajib/niscaya, mungkin dan mustahil. Penjelasan tentang ketiganya sudah sering kita kemukakan dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Pertanyaannya sekarang, apakah keimanan akan keberadaan sorga dan neraka dapat berkonsekuensi pada kemustahilan secara akal? Jelas tidak. Baik sorga maupun neraka, menurut akal kita, itu mungkin ada, juga mungkin tiada. Artinya, dikatakan niscaya ada, tidak. Dikatakan mustahil ada, juga tidak. Akal kita memandang keberadaannya sebagai sesuatu yang mungkin, bukan mustahil. 

Nah, karena informasi tentang keduanya itu disampaikan melalui sumber yang meyakinkan, maka tidak ada pilihan lain bagi kita—jika sumber itu benar-benar terbukti berasal dari Tuhan—kecuali memercayai keberadaan keduanya. Dan kepercayaan akan keduanya sama sekali tidak bertentangan dengan hukum-hukum akal. Jika Anda keberatan dengan jawaban ini, kita persilakan yang bersangkutan untuk membuktikan di mana letak kemustahilannya. 

Anda tentu pasti pernah melihat api, bukan? Apakah api bisa membakar? Jelas, menurut kebiasaan yang berlaku—sekali lagi menurut kebiasaan—api itu memang bisa membakar sesuatu yang didekatkan kepada dirinya. Tapi bagaimana kalau suatu ketika api itu tidak membakar? Apakah akal kita memungkinkan terjadinya peristiwa semacam itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, Anda cukup membayangkan, apakah akal kita bisa membayangkan terjadinya peristiwa itu? Jelas sangat bisa. Kenapa tidak?

Akal kita sangat memungkinkan terjadinya peristiwa itu, sekalipun itu bertentangan dengan kebiasaan. Dan dari sini saya ingin tegaskan sekali lagi bahwa sesuatu yang bertentangan dengan kebiasaan itu sesungguhnya dimungkinkan terjadinya oleh akal. Apakah pisau bisa memotong? Jelas, hampir sulit menafikan jawaban itu. Tapi kita harus tahu, bahwa yang membuat kita yakin dengan jawaban itu adalah kebiasaan. Menurut kebiasaan yang berlaku, pisau itu memang bisa memotong. 

Lantas bagaimana kalau suatu ketika dia tidak memotong benda yang didekatkan kepada dirinya? Apakah akal kita memungkinkan terjadinya hal itu? Tentu saja, lagi-lagi, akal kita sangat memungkinkan terjadinya hal itu. Meskipun itu bertentangan dengan kebiasaan yang berlaku. Dan yang bertentangan dengan kebiasaan bukan berarti mustahil menurut akal. Kalau Anda memandang hal ini sebagai sesuatu yang mustahil menurut akal, tolong jelaskan, di mana letak kemustahilan itu?

Semua kabar yang berkaitan dengan eskatologi memang bukan merupakan kabar biasa, yang contoh-contohnya dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari kita. Tetapi, sekali lagi, keberadaan hari akhir, dengan segalar rinciannya, termasuk uraian sorga dan neraka itu sendiri, adalah sesuatu yang dimungkinkan keberadaannya oleh akal kita. Tidak bisa Anda mengatakan lautan api itu sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Karena faktanya akal kita sendiri memungkinkan keberadaannya. Dan yang memandangnya mustahil hanyalah kebiasaan semata.  

Anda bayangkan suatu tempat yang dipenuhi dengan api, lalu ada orang-orang tertentu yang dibakar di atas kobaran api yang dahsyat itu. Apakah itu mungkin terjadi? Jelas, menurut akal sehat—sekali lagi menurut akal—itu sangat mungkin terjadi. Tapi masalahnya kita tidak terbiasa menyaksikan hal itu. Jadi, kalaupun dikatakan mustahil, itu hanyalah sesuatu yang mustahil dari sudut kebiasaan, bukan mustahil secara akal. 

Akal kita memungkinkan, lalu wahyu datang menginformasikan keberadaan sesuatu yang dimungkinkan oleh akal itu. Lantas di mana sisi irasionalitasnya? Kalau Anda bersikukuh memandang peristiwa semacam itu sebagai sesuatu yang tidak masuk akal, saya ingin bertanya sekali lagi, dapatkah Anda membuktikan di mana letak kemustahilan itu? Kalau tidak, berarti klaim Anda hanya omong kosong belaka. Dan orang Ateis memang sering sekali mempertontonkan omong kosong semacam itu. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.

Bagikan di akun sosial media anda