Nabi Ibrahim Pernah Ateis?

Apakah Nabi Ibrahim pernah menjadi Ateis? Cukup disayangkan, ada salah seorang penulis Indonesia bernama Agus Mustofa yang menjawab pertanyaan ini secara afirmatif. Sewaktu muda, menurut Agus, Nabi Ibrahim itu pernah jadi Ateis. “Yakni, saat dia mengingkari berhala-berhala yang disembah oleh ayahnya dan masyarakat di zaman itu. Akal sehatnya menolak mempertuhan segala macam berhala, dan dia menyatakan diri ‘kafir’ terhadap agama pagan. Ibrahim pun lantas mencari Tuhan yang lebih masuk akal.” (Ibrahim Pernah Atheis, hlm. 46)

Dalam hemat penulis, di sini Agus telah keliru dalam memaknai kata “Ateis” itu sendiri. Dalam pengertian yang populer, Ateis itu sering diartikan sebagai orang yang tidak percaya dengan keberadaan Tuhan, bukan tidak percaya pada keyakinan tertentu tentang Tuhan. Ini harus dibedakan. Saya sudah jelaskan ini dalam tulisan yang lain. Orang yang mengingkari berhala tidak bisa kita sebut sebagai Ateis. Sebab, jika orang yang mengingkari ketuhanan berhala disebut sebagai Ateis, maka sebagai konsekuensinya sebagian besar kaum beragama, kalaulah enggan berkata semuanya, termasuk kaum Muslim sendiri, juga bisa kita sebut sebagai Ateis. Dan di sinilah saya kira letak kekeliruan definisi itu. 

Yang akan menjadi fokus perhatian kita dalam tulisan kali ini bukanlah pengertian Ateis yang dia pahami secara keliru itu. Agus, pada halaman bukunya yang lain, melansir suatu kisah tentang Nabi Ibrahim yang tidak jelas asal-usulnya. Misalnya kisah tentang beliau yang, katanya, suka berjualan patung di pasar bersama ayahnya. “Ketika remaja ia ditugasi membantu orang tuanya berjualan patung ke pasar. Ayahnya, Aazar, adalah seniman pembuat patung, yang karyanya banyak dipakai sebagai sesembahan oleh masyarakat. Sejak remaja itu sebenarnya Ibrahim sudah merasa tidak suka dengan praktek beragama masyarakatnya…maka, ia pun sering ogah-ogahan untuk menjual patung di pasar-pasar.” (hlm. 46-47)

Kita ingin bertanya, mungkinkah seorang nabi mulia, yang ditahbiskan sebagai bapaknya para nabi itu, mengalami masa lalu yang sesuram ini dalam perjalanan keimanannya? Apa yang akan dikatakan kaumnya, kalau sosok yang mengajak manusia pada ajaran tauhid ini ternyata pernah berjualan patung? Apa benar Nabi Ibrahim pernah berjualan patung? Dari manakah sumber informasi itu Agus dapatkan? Dan apakah cerita itu berlandaskan pada riwayat yang sahih? Layak bagi kita untuk meragukan informasi itu. Jangan-jangan, cerita itu memang hasil imajinasi penulisnya semata. Dan, saya kira, Agus bukan satu-satunya orang di Indonesia ini yang memandang bahwa Nabi Ibrahim adalah sosok yang baru beriman setelah melewati masa kekufuran itu.  

Muhammad al-Fayyadl, misalnya, dalam buku Teologi Negatif Ibn ‘Arabi, menempatkan Nabi Ibrahim sebagai penganut teologi negatif. Pandangannya kurang lebih sama. Bahwa Nabi Ibrahim itu, dalam pandangan Fayyadl, tadinya tidak percaya Tuhan, dan kemudian beliau pun beriman setelah melalui proses pencarian. Nabi Ibrahim, tulis Fayyadl, adalah “orang pertama dalam sejarah agama yang mengalami momen negatif dalam perjumpaannya dengan Tuhan…al-Quran menyajikan sebuah kisah yang “dramatis”, bagaimana Ibrahim mencari Tuhan sebelum benar-benar menemukan-Nya.” “Pencarian ini”, tegas Fayyadl, “menandakan bahwa keimanan Ibrahim berangkat dari ketidaktahuannya tentang Tuhan.” (Teologi Negatif Ibn ‘Arabi, hlm. 102)

Pertanyaan yang akan jawab di dalam tulisan ini ialah, apakah benar Nabi Ibrahim pernah jadi Ateis, dalam arti pernah ingkar kepada Tuhan, kemudian dia beriman setelah melalui proses pencarian? Dengan pertanyaan lain, apakah benar kisah al-Quran yang melibatkan Nabi Ibrahim itu merupakan rekaman dari pengalaman Nabi Ibrahim itu sendiri, yang, dalam pemahaman sebagian orang, pernah mempertuhan benda-benda langit, dan setelah itu barulah beriman pada ajaran tauhid? 

Untuk menjawabnya, sekarang mari kita simak terlebih dulu narasi al-Quran yang melibatkan Nabi Ibrahim itu. Allah Swt berfirman:

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًا ۗقَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ ، فَلَمَّا رَاَ الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هٰذَا رَبِّيْ ۚفَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَىِٕنْ لَّمْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَكُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّاۤلِّيْنَ ، فَلَمَّا رَاَ الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَآ اَكْبَرُۚ فَلَمَّآ اَفَلَتْ قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ

Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Al-An’am [6]: 76-78)

Inilah ayat yang dijadikan pijakan oleh Agus, dan orang-orang yang satu pandangan dengannya, untuk mendukung klaim tersebut. “Ada makna tersirat yang menarik di dalam pengakuannya itu. Yang pertama, kalimat itu menunjukkan bahwa saat itu Ibrahim sedang tidak punya Tuhan alias atheis. Dia sedang menapaki salah satu fase dari proses perjalanan spiritualnya. Tapi bukan atheis yang mengingkari keberadaan Tuhan, melainkan atheis yang sedang mencari Tuhan yang layak untuk dipertuhan.” (hlm. 73-74)

Jadi, mereka berpandangan bahwa pengakuan-pengakuan Nabi Ibrahim yang terekam dalam ayat di atas merupakan pengalaman pribadi dari Nabi Ibrahim itu sendiri. Artinya, menurut pandangan mereka, Nabi Ibrahim itu tadinya benar-benar pernah mempertuhan bintang, bulan dan matahari. Dalam istilah Agus, Nabi Ibrahim itu tadinya pernah Ateis. Lalu, setelah sadar bahwa mereka semua itu tidak dapat dipertuhan, barulah setelah itu beliau memeluk ajaran tauhid, dengan mengesakan Allah Swt, dan berlepas diri dari kekufuran itu. 

Pandangan ini sejujurnya sangat bermasalah, dan jelas bertentangan dengan akidah yang dianut oleh mayoritas umat Muslim tentang para nabi. Seperti yang kita tahu, para nabi adalah sosok yang terjaga dari dosa dan kesalahan, termasuk kekufuran, baik sebelum diutus maupun setelah diutus. Ayat itu pun, kalau dibaca dengan cermat, sesungguhnya tidak menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim pernah menjadi Ateis, ataupun menjadi orang Musyrik, dan kemudian beriman melalui pencarian. Tapi klaim-klaim nabi Ibrahim itu, seperti yang ditegaskan oleh Imam Fakhruddin ar-Razi, justru dikemukakan untuk membantah pandangan kaumnya, yang mempertuhan benda-benda langit itu.

Imam ar-Razi, dalam kitab tafsirnya, mengajukan beberapa alasan. Beberapa di antaranya akan kita ringkas dalam uraian sebagai berikut: 

Pertama, kalau Anda perhatikan dengan cermat, sebelum mencantukan ayat yang penulis kutipkan di atas, al-Quran terlebih dulu merekam pengingkaran Nabi Ibrahim terhadap penyembahan berhala. Sebelum ketiga ayat tersebut disebut, menarik untuk kita perhatikan firman Allah berikut ini. 

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصۡنَامًا ءَالِهَةً إِنِّيٓ أَرَىٰكَ وَقَوۡمَكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ، وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ

 “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya Azar, ”Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata. Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin.” (QS. Al-An’am [6]: 74-75)

Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim As. mengingkari penyembahan berhala, yang dilakukan oleh pamannya Azar. Dan memandang perbuatan tersebut sebagai kesesatan yang nyata. Dan ayat ini juga tentunya bisa menjadi bukti, bahwa sebelum mengutarakan klaim-klaim tersebut, yang secara lahiriahnya mempertuhan benda langit, Nabi Ibrahim sudah mengenal Tuhannya. Buktinya dia mengingkari penyembahan berhala yang dilakukan oleh pamannya. Menyebut bintang, bulan dan matahari sebagai Tuhan jelas merupakan sebuah kekufuran, dan ini—tegas Imam ar-Razi—tidak mungkin terjadi pada diri para nabi. Apalagi nabi Ibrahim yang dikenal sebagai bapaknya para nabi, yang dari keturunannya lahir pula sebaik-baiknya nabi. 

Kedua, kejadian yang dinarasikan oleh ketiga ayat tersebut, sebagaimana terlihat dari susunan ayatnya, itu terjadi setelah Allah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada Nabi Ibrahim As. Dan al-Quran sendiri yang menyatakan bahwa penampakan ayat-ayat Tuhan itu diberikan kepada Nabi Ibrahim agar dia menjadi orang-orang yang yakin (liyakûna minal mûqinîn). Pertanyaannya, mungkinkah orang yang telah diperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Allah Swt, dan dibuat yakin akan keberadaan-Nya, lantas dikatakan tidak mempercayai ketuhananannya, sambil mempertuhan bintang, bulan dan matahari? Jelas, ini kesimpulan yang tidak masuk akal. 

Ketiga, ayat tersebut memang menarasikan perkataan Nabi Ibrahim yang menyebut “ini adalah Tuhanku” (hâdzâ rabbî). Tetapi, kalau kita sepakat dengan kemaksuman para nabi, dan itu merupakan konsensus (ijma’) di kalangan umat Muslim, seperti yang ditegaskan oleh Imam ar-Razi sendiri, maka ungkapan-ungkapan tersebut tentunya tidak bermaksud untuk merekam keyakinan yang dipeluk Nabi Ibrahim itu sendiri. Lalu apa maksudnya? Ungkapan-ungkapan itu dikemukakan oleh Nabi Ibrahim dalam konteks menarasikan pandangan kaumnya, yang mempertuhan benda-benda langit. Dengan kata lain, beliau mengemukakan pendapat lawaannya, seolah-olah itu pendapat dirinya, padahal tujuannya adalah membatalkan pandangan kaumnya itu sendiri. 

Dalam Ilmu Debat, ini sering disebut dengan istilah mujârâh. Yakni satu tindakan di mana kita menarasikan pendapat lawan, melalui ungkapan yang seolah-olah ungkapan itu berasal dari kita, tapi tujuan dari menyertakan ungkapan itu sendiri adalah membuktikan kebatilannya. Bukan dalam rangka mengemukakan pandngan asli kita. Ini sama halnya, misalnya, kalau saya berdebat dengan orang Kristen dan saya ingin membuktikan kemustahilan Yesus sebagai Tuhan. 

“Yesus ini adalah Tuhanku. Tetapi dia makan dan minum. Dan dia bergantung kepada yang lain. Karena adanya kenyataan itu, maka tidak layak bagiku untuk meyakininya sebagai Tuhan.” Perkataan yang menyebut bahwa “Yesus adalah Tuhanku” itu disampaikan bukan dalam konteks menarasikan keyakinan saya, tetapi saya mengutarakan ungkapan tersebut untuk menarasikan pandangan lawan bicara saya, dan saya mengutarakan ungkapan itu dalam konteks membuktikan kebatilannya. 

Jadi, ketika Nabi Ibrahim dikisahkan berkata, “ini adalah Tuhanku”, maksudnya bukan berarti Nabi Ibrahim pernah menjadikan bintang, matahari dan bulan sebagai Tuhan. Juga bukan berarti Nabi Ibrahim sedang mencari keimanan yang sahih untuk dirinya sendiri. Tetapi ungkapan itu, sekali lagi, dikemukakan dalam konteks memaparkan keyakinan lawan bicaranya, demi membuktikan batilnya keyakinan itu sendiri. Menjadikan bulan, matahari dan bintang gemintang sebagai Tuhan jelas merupakan pandangan yang sangat dangkal. Dan para nabi tidak mungkin terjebak dalam kedangkalan semacam itu. 

Sekali lagi kita tegaskan bahwa ungkapan yang menyebut “ini adalah Tuhanku” itu dikemukakan oleh Nabi Ibrahim dalam konteks menceritakan pandangan kaumnya. Seakan-akan beliau ingin berkata, bahwa “ini adalah Tuhanku” (dalam pandangan kalian). Dan aku ingin membuktikan bahwa pandangan itu keliru, karena masing-masing dari matahari, bintang dan bulan adalah sesuatu yang mengalami perubahan. Dan segala sesuatu yang mengalami perubahan tidak layak dipertuhan. Dan karena itu bulan, bintang dan matahari tidak layak dipertuhan. Yang layak dipertuhan hanyalah Allah Swt.

Keempat, ungkapan tersebut juga bisa kita takwilkan sebagai ungkapan yang menyembunyikan ungkapan sisipan. Memang ungkapan sisipan itu tidak disertakan secara sarih. Tapi dia ada, dan dapat kita pahami dari konteks kalimatnya. Dan dalam ungkapan-ungkapan berbahasa Arab hal semacam ini cukup sering kita jumpai. Bahkan dalam al-Quran pun dapat kita jumpai (lihat, misalnya QS. Az-Zumar: 3 dan QS. Al-Baqarah: 127). Ungkapan sisipan yang dapat kita kira-kira sebelum kalimat “ini adalah Tuhanku” itu ialah “mereka berkata” (yaqûlûn). 

Jadi, lebih jelasnya ayat itu menyebutkan: (mereka berkata) “ini adalah Tuhanku”. Maksudnya, Ibrahim berkata: (mereka berkata) “ini adalah Tuhanku”. Atau, ungkapan dalam ayat tersebut juga bisa kita takwilkan sebagai ungkapan yang menyembunyikan istifhâm istinkâri. Seolah-olah Nabi Ibrahim berkata, “ini adalah Tuhanku?” (dengan membubuhkan tanda tanya). Tetapi alamat istifhâm itu dibuang karena sudah jelasnya petunjuk dari ayat itu, yakni membuktikan ketidaklayakan disembahnya bintang-bintang itu. 

Penjelasan alternatif lainnya, ungkapan tersebut juga bisa kita takwil sebagai ungkapan yang bernada “mengejek.” Sama halnya kalau kita bilang kepada lawan bicara kita, “eh, ini atasan kamu?” Ketika itu saya tidak bermaksud untuk menyampaikan keyakinan saya, tapi justru ungkapan tersebut diutarakan untuk “merendahkan” pandangan lawan bicara saya. Dengan ungkapan ini sesungguhnya saya ingin berkata, benarkah engkau menjadikan sosok yang hina dan tak terhormat ini sebagai atasan? Semua penjelasan ini sangat dimungkinkan dan bisa kita terima. 

Dengan dimungkinkannya takwilan-takwilan tersebut, maka narasi yang termuat dalam surat al-An’am di atas tidak bisa dijadikan landasan yang cukup bagi kita untuk menyebut Nabi Ibrahim sebagai orang yang dulunya mengingkari keberadaan Tuhan, atau mempertuhan benda-benda langit, kemudian melakukan pencarian, dan setelah itu barulah Dia menyembah Tuhan yang Maha Esa. Karena sesungguhnya, apa yang dinarasikan oleh al-Quran tentang perkataan Nabi Ibrahim itu, sekali lagi, tidak dimaksudkan untuk menarasikan keyakinan dirinya. Tapi itu adalah ungkapan yang disampaikan untuk membatalkan keyakinan kaumnya. 

Bukankah penjelasan semacam ini lebih dapat kita terima ketimbang pandangan kebalikannya, seperti diajukan oleh Agus Mustofa, dan orang-orang yang satu pandangan dengannya? Para nabi adalah makhluk-makhluk yang Tuhan utus sebagai teladan. Dan kita diperintahkan untuk mengikuti jejak kehidupan mereka. Kalau mereka dimungkinkan terjatuh dalam kekufuran, maka itu artinya kita diperintahkan untuk mengikuti hal itu. Sementara kekufuran adalah sesuatu yang dikecam keras dalam pandangan agama. Dan kita diminta untuk menghindari hal itu. 

Kalaupun itu terjadi sebelum beliau diutus menjadi nabi, adanya jejak kekufuran itu tentu saja dapat dijadikan alasan oleh kaumnya untuk menolak ajarannya. “Kamu juga dulunya pernah nyembah bintang kok! Ngapain aku ikut ajakan kamu?!”. Boleh jadi muncul keberatan semacam itu. Karena alasan logis itulah para nabi tidak mungkin terjatuh dalam sebuah dosa, apalagi terperangkap dalam kekufuran yang nyata. Tidaklah Tuhan mengangkat seseorang sebagai nabi, kecuali dia memiliki kecerdasan yang melampaui kaumnya. Memandang benda-benda langit sebagai tuhan jelas merupakan cerminan dari kebodohan. Dan Nabi Ibrahim pastilah tersucikan dari kedangkalan semacam itu, baik sebelum maupun sesudah menjadi nabi. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.  

Bagikan di akun sosial media anda