Pemahaman yang Keliru Tentang Regresi

Melalu tiga epidose dalam channel ini saya pernah memaparkan tentang bukti-bukti rasional tentang regresi yang tak berakhir, atau yang sering disebut dengan istilah tasalsul. Penting untuk kita pahami, bahwa regresi tak berujung yang kita katakan mustahil ialah regresi yang berkaitan dengan sesuatu yang berwujud. Dan regresi yang kita katakan mustahil itu juga berkaitan dengan regresi ke arah masa lampau, bukan ke masa yang akan datang.

Dengan demikian, para teolog tidak pernah memandang mustahil adanya regresi ke arah masa yang akan datang. Dan memang akal kita sendiri tidak memandang itu sebagai sesuatu yang mustahil. Kita percaya dengan ketidak-terbatasan nikmat sorga. Dan ketidak-terbatasan itu sendiri bukanlah sesuatu yang mustahil. Kenapa dia tidak mustahil? karena dia berkaitan dengan masa depan (mustaqbal), bukan masa lampau (mâdhi). 

Kita juga tidak memandang mustahil adanya ketak-terhinggaan dalam makna-makna, seperti angka-angka misalnya. Karena angka-angka memang bukan sesuatu yang berwujud. Angka-angka itu adalah makna-makna fiktif yang ditarik oleh nalar kita berdasarkan pengamatan kita atas sesuatu tertentu. Dan makna-makna itu sendiri hanya ada di alam luar. Tidak ada di alam luar.

Yang ada di hadapan kita adalah wujud tiga pohon, empat buku, enam sapu, atau satu buah rumah. Adapun angka tiga, empat, enam dan satu itu sendiri hanyalah sekedar makan fiktif yang tidak punya realisasi di alam luar. Sementara regresi yang kita katakan mustahil adalah regresi yang berkaitan dengan sesuatu yang berwujud, dengan wujud eksternal (wujûd khâriji

Dalam lanjutannya kritiknya terhadap argumen kosmologis, Martin telah menunjukkan pemaman yang keliru tentang kemustahilan regresi yang tidak berujung itu. Dia menulis: 

“Further, we have no experience of infinite causal sequences, but we do know that there are infinite series, such as natural numbers. One wonders why, if there can be infinite sequences in mathematics, there could not be one in causality. No doubt thea·e are crucial differences between causal and mathematical series; but without further arguments showing precisely what these are, there is no reason to think that there could not be an infinite regression of causes.” (Atheism: A Philosophical Justification, hlm. 97)

(Selanjutnya, kita tidak memiliki pengalaman tentang barisan kausal tak terhingga, tetapi kita tahu bahwa ada deret tak berhingga, seperti bilangan asli. Orang bertanya-tanya mengapa jika ada urutan tak terbatas dalam matematika, lalu tidak mungkin ada dalam kausalitas. Tidak diragukan lagi ada perbedaan penting antara deret kausal dan matematis; tetapi tanpa argumen lebih lanjut yang menunjukkan dengan tepat apa ini, tidak ada alasan untuk berpikir bahwa tidak mungkin ada regresi penyebab yang tak terbatas)

Terlihat jelas dari kutipan ini, bahwa Martin sadar dengan perbedaan antara regresi kausal dan regresi matematis. Yang dia pertanyakan hanyalah argumen tentang kemustahilan regresi itu. Dan kita sudah memaparkannya. Tapi, pandangan yang cukup kita sayangkan di sini ialah, kalau benar dia menyadari perbedaan itu, lantas mengapa dia membanding-bandingkan antara ketiadaan pengalaman terkait barisan kausal tak terhingga, dengan adanya deret tak berhingga di dalam angka-angka? Yang satu mustahil, yang satu lagi mungkin. Kenapa harus membandingkan kedua hal itu? 

Adanya regresi dalam bilangan tidak serta merta dapat dijadikan alasan untuk memungkinkan adanya regresi dalam sesuatu yang berwujud. Karena regeresi dalam bilangan adalah sesuatu yang mungkin. Sementara regresi dalam sesuatu yang berwujud adalah sesuatu yang mustahil. Dan kemungkinan pada sesuatu yang mungkin tidak dapat dijadikan alasan untuk memungkinkan sesuatu yang mustahil. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda