Kalau Ada Kontradiksi, Memangnya Kenapa?

Telah kita paparkan dalam tulisan yang lalu, bahwa kontradiksi bukan hanya sebatas perbedaan antara kedua pernyataan yang bertolak belakang. Untuk memastikan adanya kontradiksi, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Syarat-syaratnya juga sudah kita paparkan. Dan, kalau kita pahami dengan baik, kaidah yang diberlakukan oleh para logikawan sungguh benar-benar senafas dengan akal sehat.

Tapi, mari kita ikuti cara berpikir orang Ateis lebih lanjut. Katakanlah misalnya mereka bersikukuh bahwa dalam al-Quran itu benar-benar terjadi kontradiksi antara satu ayat dengan ayat yang lain. Tapi, dan ini pertanyaan pentingnya, apakah adanya kontradiksi itu dengan serta menafikan kesahihan semua isi al-Quran itu sendiri? Saya harap Anda memahami pertanyaan ini dengan baik. Orang Ateis menolak kesahihan kitab suci, dengan alasan bahwa ia menyimpan banyak kontradiksi. Sekarang anggaplah di dalam al-Quran itu ada kontradiksi.

Pertanyaannya kemudian, apakah adanya kontradiksi itu dengan serta dapat dijadikan alasan untuk menafikan kesahihan semua isi kitab suci itu? Kalau kita paham dengan hukum kontradiksi, jawabannya tentu saja tidak. Kenapa tidak? Karena hukum kontradiksi menyatakan, bahwa dua hal yang kontradiktif itu tidak mungkin saling terhimpun, juga tidak mungkin saling terangkat. 

Artinya, kalau sekarang kita asumsikan ada dua ayat yang benar-benar kontradiktif, misalnya, maka paling jauh Anda hanya bisa mengatakan bahwa ayat yang satu itu benar, dan ayat yang lain itu salah. Kalau ayat yang pertama salah, maka ayat yang lain, yang kontradiktif dengannya, itu pasti benar. Sekarang katakanlah ada 10 ayat yang kontradiktif.

Sementara al-Quran terdiri dari 6000 ayat lebih. Pertanyaannya, apakah adanya kontradiksi beberapa ayat itu dapat dijadikan alasan untuk menafikan keabsahan semua ayat al-Quran? Jika Anda menjawab pertanyaan ini secara afirmatif, berarti Anda tidak paham dengan hukum kontradiksi itu sendiri. 

Karena hukum kontradiksi menyatakan, bahwa kebenaran suatu proposisi, yang dalam hal ini ialah ayat tertentu dalam al-Quran, itu pasti meniscayakan kesalahan proposisi yang lain, yaitu ayat al-Quran lain kontradiktif dengan dirinya. Begitu juga sebaliknya. Kalau yang satu terbukti salah, maka proposisi kontradikifnya sudah pasti benar.

Jadi, kalau kita konsisten mengikuti kaidah hukum kontradiksi, maka kalaupun ada ayat-ayat al-Quran yang kontradikif—sekali lagi kalaupun itu ada—adanya kontradiksi dalam beberapa ayat itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menafikan keabsahan semua ayat al-Quran. 

Sayangnya, lagi-lagi, seperti yang penulis singgung dalam tulisan yang lalu, orang-orang yang memandang adanya kontradiksi dalam ayat al-Quran itu seringkali tidak memahami hukum kontradiksi itu sendiri. Padahal, sebelum kita menghukumi sesuatu dengan sesuatu, penalaran yang logis mengharuskan kita untuk memahami sesuatu yang ingin kita berlakukan itu. Kalau Anda ingin menghukumi kitab suci tertentu sebagai kitab yang kontradiktif, tentu Anda harus punya gambaran yang tepat tentang hukum kontradiksi itu. 

Akan lebih arif kalau kita tidak memandang adanya kontradiksi dalam al-Quran kecuali setelah kita menyimak penafsiran para ahlinya. Dalam urusan bedah membedah jasad manusia kita tidak memperbolehkan sembarang orang. Lantas, kenapa dalam urusan membedah kitab suci semua orang kita perbolehkan untuk berbicara? Tidakkah itu mengkhianati kearifan ilmiah yang selama ini diajarkan oleh para ilmuwan kita? 

Dalam menafsirkan al-Quran, para ulama memberlakukan kaidah-kaidah tertentu, yang tidak selamanya dipahami oleh orang-orang awam. Al-Quran turun dalam bahasa Arab. Dan bahasa Arab punya keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bahasa yang lain. Mereka yang ingin menyingkap makna-makna al-Quran tentunya harus lebih paham dengan seluk beluk bahasa Arab. Begitulah sikap yang bijak.

Dan para ulama yang benar-benar ahli dalam bahasa Arab dan kaidah penafsiran itu, sejak jauh-jauh hari sudah membuktikan, bahwa apa yang diduga kontradiktif dalam al-Quran itu sebenarnya tidak ada. Yang ada hanyalah kedangkalan pemahaman kita saja, yang belum memahami al-Quran dengan baik, juga tidak memahami hukum kontradiksi sebagaimana mestinya. 

Al-Quran sendiri memang menafikan adanya kontradiksi itu. Kesan adanya kontradiksi itu seringkali terlahir dari kedangkalan pemahaman para pembacanya, yang kadang memaknai ayat-ayat al-Quran secara literal. Dan itulah sebenarnya pembacaan ala kaum teroris, ketika ingin menjustifikasi perbuatan-perbuatan biadab mereka dengan teks-teks agama. Mereka mencomot beberapa ayat, tak peduli apa makna terdalamnya, diabaikan konteks yang mengitarinya, masa bodo dengan kaidah penafsirannya, lalu dilahirkanlah kesimpulan semaunya.

Sayangnya, para orientalis, dan anak-anak didiknya, juga seringkali terjebak dalam cara pembacaan serupa. Walhasil, kebingungan mereka disebabkan oleh kedangkalan cara berpikir mereka sendiri. Bukan karena adanya problem serius di dalam kitab suci. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda