Mengapa Pencipta Harus Lebih Hebat dari Ciptaannya?

Tak dapat dipungkiri, bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita sering menyaksikan sekian banyak anak yang lebih hebat dari orang tuanya. Tapi, betapapun hebatnya seorang anak, derajatnya tidak akan pernah melampaui derajat orang tua. Karena tanpa keberadaan orang tua, dia sendiri tidak akan pernah ada. Dengan kata lain, wujud anak bergantung kepada orang tua. Dan, dari sisi ini, setinggi apapun kehebatan yang dimiliki oleh sang anak, kehebatannya tidak akan sampai mengalahkan derajat orang tuanya. Karena kehebatan dia itu sendiri tidak akan terlahir kecuali dengan adanya orang tua. Kecuali kalau kita hanya bicara kemampuan, prestasi, dan kelebihan-kelebihan lainnya. Memang, dalam hal ini, banyak anak yang jauh lebih hebat ketimbang orang tuanya. 

Orang beriman punya keyakinan bahwa yang menciptakan alam semesta ini pastilah lebih hebat dari ciptaannya. Apakah itu kesimpulan yang masuk akal? Tentu saja. Yang mencipta pastilah lebih sempurna dari yang dicipta. Tapi bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita dihadapkan pada fakta tentang banyaknya anak yang lebih hebat dari orang tuanya? Tidakkah fakta itu dapat menggurkan pandangan tersebut? Dalam uraiannya tentang argumen kosmologis, William Lane Craig, sebagaimana dikutip oleh Michael Martin, mengemukakan pandangan yang sama. Bahwa yang mencipta alam semesta pastilah lebih hebat, lebih besar, dan lebih agung dari ciptaannya. 

Namun, Martin tampak keberatan dengan kesimpulan itu. Dalam kritiknya ia menulis: 

“It is hard to see, however, why the creator or creators of the universe must be greater than the universe itself. Indeed, experience by no means uniformly supports the hypothesis that a creator is greater than its creation. Parents, for example, give birth to children who turn out to be greater than they are. Craig supplies no reason to suppose that the relation between the universe and its creator or creators would be any different.” (Atheism: A Philosophical Justification, hlm. 103-104)

“Akan tetapi sulit untuk melihat mengapa pencipta, atau pencipta-pencipta, alam semesta harus lebih hebat dari alam semesta itu sendiri. Sungguh, pengalaman sama sekali tidak mendukung hipotesis bahwa pencipta lebih hebat dari ciptaannya. Orang tua, misalnya, melahirkan anak yang ternyata lebih hebat dari dirinya. Craig tidak memberikan alasan untuk menganggap bahwa hubungan antara alam semesta dan penciptanya, atau pencipta-penciptanya, akan berbeda.”

Betul, pengalaman memang menunjukkan bahwa anak seringkali lebih hebat dari orang tuanya. Tapi apakah itu dapat dijadikan alasan untuk memungkinkan adanya pencipta yang lebih lemah ketimbang ciptaannya, atau ciptaan yang lebih hebat dari penciptanya? Martin lupa, bahwa dengan perbandingan itu dia sebetulnya sedang membandingkan dua hal yang tidak layak diperbandingkan. Orang tuanya hanyalah sebab bagi kelahiran sang anak, tapi dia bukan pencipta bagi sang anak itu sendiri. 

Bukti bahwa dia tidak menciptakan sang anak, orang tua tidak pernah tahu jenis kelamin dari anak yang dikandungnya, kecuali dengan alat bantu tertentu. Dia juga tidak tahu kapan anak itu akan terlahir, dengan cara apa, di mana, dan segala rincian yang menyangkut dirinya. Padahal, pencipta harusnya tahu tentang semua itu. Dan, bagaimana pun, orang tua tetaplah makhluk yang diliputi oleh berbagai macam kekurangan, yang wujudnya sendiri senantiasa bergantung kepada wujud yang lain.

Kita tidak punya alasan yang logis untuk mempersamakan orang tua—atau apapun dari alam semesta ini yang menjadi sebab—dengan wujud Tuhan yang bersifat niscaya, yang tidak bergantung kepada wujud yang lain. Sejak awal status ontologis Tuhan dengan alam sudah berbeda. Tuhan adalah pencipta bagi seluruh alam. Sementara orang tua hanya berperan sebagai sebab bagi lahirnya anak, tapi bukan pencipta anak, juga pencipta bagi seluruh alam. Lantas dengan alasan logis macam apa kita mempersamakan keduanya? 

Anak dan orang tua adalah sama-sama makhluk; sama-sama tergolong ke sebagai sesuatu yang kontingen, yang senantiasa bergantung kepada yang lain. Sementara Tuhan adalah sang khaliq, yang wujudnya tidak dimungkinkan untuk memiliki ketergantungan kepada yang lain. Karena wujud-Nya bersifat niscaya. Dan penalaran rasional memang mengharuskan keniscayaan itu. Lantas, apakah dengan adanya fakta itu kita masih bisa mempersamakan keduanya, padahal keduanya sendiri tidak dapat menerima persamaan itu? 

Ini problem yang hampir dapat kita jumpai pada sebagian besar orang-orang Ateis. Orang-orang Ateis ini seringkali dihantui imajinasi, bahwa apa-apa yang berlaku dalam pengalaman manusia itu juga berlaku bagi Tuhan pencipta alam semesta. Berhubung pengalaman menunjukkan ada anak-anak yang lebih hebat dari orang tuanya, mereka jadikanlah itu sebagai alasan untuk memungkinkan adanya pencipta yang tidak lebih hebat dari ciptaannya, seperti yang dikatakan Martin tadi. Padahal, kalaulah kita harus merujuk pada pengalaman, pengalaman sehari-hari justru menunjukkan, bahwa yang mengadakan sesuatu dari ketiadaan itu pastilah berbeda dari apa yang dia adakan. 

Pernahkah Anda melihat sesuatu yang mengadakan sesuatu, sementara sesuatu itu sendiri persis sama dengan sesuatu itu? Pengalaman tidak pernah menunjukkan adanya sesuatu semacam itu. Sesuatu yang mengadakan pastilah berbeda dengan sesuatu yang diadakan. Dan, jika kita menyepakati wujud Tuhan sebagai wujud yang niscaya, dan wujud alam semesta sebagai wujud yang kontingen, maka sebagai konsekuensi logisnya, yang pertama pastilah berbeda dengan yang kedua. Dan perbedaan itu mengharuskan kesempurnaan yang pertama dan kekurangan yang kedua. 

Karena wujud yang pertama adalah wujud yang niscaya, sedangkan wujud yang kedua adalah wujud yang senantiasa bergantung kepada wujud-wujud yang lainnya. Jadi, jika kita menyepakati keniscayaan wujud Tuhan, sebagai konsekuensi logisnya memang kita harus memandangnya sebagai sesuatu yang sempurna. Karena dengan wujud itulah segala sesuatu bisa menjadi ada. Nalar logis kita, sampai kapanpun, tidak akan memungkinkan adanya sesuatu yang mengadakan dirinya sendiri. Dan karena itu sangat logis kalau kita katakan bahwa alam semesta hanya bisa ada dengan adanya Tuhan, sebagai sebab yang mengadakannya dari ketiadaan. 

Manakala terbukti—melalui argumen-argumen rasional yang meyakinkan—bahwa Tuhanlah yang menciptakan alam semesta, maka sudah pasti bahwa yang menjadi sebab bagi keterlahiran alam semesta itu—sebagai sesuatu yang niscaya—lebih besar, lebih agung, dan lebih sempurna ketimbang ciptaannya. Karena antara pencipta dengan yang dicipta, menurut akal sehat kita, sudah pasti berbeda. Dan perbedaan itu, sekali lagi, meniscayakan kesempurnaan wujud Tuhan, dan kekurangan wujud alam. Dengan kata lain, wujud Tuhan adalan wujud yang sempurna karena dirinya sendiri. Di antara kesempurnaannya, yang tidak dimiliki oleh makhluk, ialah ketidak-bergantungannya kepada wujud yang lain. 

Dan sesuatu yang tidak bergantung pada wujud yang lain tentunya lebih hebat ketimbang sesuatu yang wujudnya senantiasa bergantung kepada wujud yang lain. Jika sesuatu yang disebut sebagai Tuhan itu lebih lemah dari ciptaan-Nya, maka otomatis dia tidak lagi menjadi Tuhan. Karena keniscayaan wujud tidak memungkinkan adanya kecacatan dan kekurangan. Dalil-dalil rasional menggiring kita pada kesimpulan bahwa wujud pencipta pastilah berbeda dengan apa yang diciptakan-Nya. Jika keduanya memang benar-benar berbeda, lantas adakah alasan logis bagi kita untuk dapat mempersamakan keduanya? 

Bagikan di akun sosial media anda