Jangan Puji Aku Seperti Halnya Orang Kristen Memuji Isa

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Rasulullah Saw melarang para sahabatnya untuk memujinya seperti halnya orang Kristen memuji Nabi Isa As. Bunyi haditsnya:

لا تُطرُوني كما أطْرَتِ النَّصارى عيسى بنَ مريمَ؛ فإنَّما أنا عبدُ اللهِ ورسولُه

“Jangan puji aku secara berlebihan seperti halnya orang Kristen memuji Isa putra maryam. Karena sesungguhnya aku hanyalah hamba Allah dan utusan-Nya” (HR. Bukhari). 

Kita semua tahu, bahwa ketika menjelang bulan Rabi’ul Awwal selalu saja muncul orang-orang yang memandang perayaan maulid sebagai perbuatan yang terlarang. Dan hadits di atas mungkin bisa dijadikan dalil oleh sebagian kalangan untuk melarang puji-pujian terhadap nabi, yang kerap kita simak dalam acara perayaan maulid itu. Bagi sebagian kalangan, melantunkan pujian kepada nabi itu adalah sebuah kenikmatan. Tapi bagi sebagian yang lain tidak demikian.

Memuji nabi itu, dalam bayangan mereka, dapat menjatuhkan seorang Muslim ke dalam perbuatan syirik. Dan hadits tersebut melarang umat Muslim untuk tidak berlebihan dalam memuji nabi. Baik. Katakanlah pujian yang berlebihan itu terlarang. Dan memang faktanya demikian. Tapi, pertanyaan yang harus kita jawab ialah, apa tolak ukur keberlebihan itu? Kapan suatu pujian itu dikatakan berlebihan? Dan apakah pujian yang berlebihan itu dapat kita jumpai di lingkungan umat Islam? 

Harap para pembaca perhatikan dengan seksama. Hadits tersebut, kalau kita baca secara utuh, bukan hanya melarang kita untuk memuji nabi. Tapi memuji nabi seperti halnya orang-orang Kristen memuji Isa al-Masih As. Sekarang kita ingin bertanya, bagaimana pandangan orang Kristen terhadap Isa al-Masih itu? Dan bagaimana cara mereka memujinya? Jawabannya jelas, orang Kristen memandang Isa, atau Yesus, sebagai Tuhan. Dan semua pujian yang mereka lantunkan adalah pujian yang dilantunkan dengan cara mempertuhan sosok yang dipuji. 

Dan dari sini kita bisa tahu, bahwa pujian berlebih yang dilarang itu ialah pujian yang mempertuhan sosok yang dipuji. Artinya, kalau seseorang memuji seorang manusia, lalu dengan pujiannya itu dia meyakini sosok yang dipuji itu sebagai Tuhan, atau anak Tuhan, maka pujian itu adalah pujian yang berlebihan. Dan kita sepakat dengan pandangan itu. Pertanyaannya, ada tidak orang Islam yang mempertuhan nabi Muhammad Saw? 

Sejak dulu sampai sekarang, tidak ada umat Islam, hatta yang paling sesat sekalipun, yang berani mempertuhan nabi. Setinggi apapun pujian kita terhadap nabi Muhammad, tidak ada pujian kita yang sampai mempertuhan beliau. Dan hadits itu bukan melarang kita untuk memuji nabi. Tapi memuji nabi dengan pujian yang berlebihan, dengan cara menjadikan sosok yang dipuji sebagai Tuhan, seperti halnya orang-orang Kristen memuji Isa al-Masih As.  

Jadi, kalau ingin diperjelas, pujian yang dilarang dalam hadits tersebut adalah pujian yang mempertuhan nabi. Dan orang-orang yang merayakan maulid, atau siapa saja yang memuji nabi dari kalangan umat Muslim, tidak pernah melakukan itu. Anda bisa kunjungi satu persatu pesta perayaan maulid Nabi di mana pun yang Anda jumpai. 

Lalu, kalau perlu, Anda tanya orang-orang yang hadir dalam acara itu satu persatu, apakah Anda memandang nabi Muhammad Saw sebagai Tuhan? Atau, apakah Anda memuji nabi Muhammad seraya meyakininya sebagai Tuhan, atau anak Tuhan, seperti halnya pujian orang Kristen terhadap Isa As? Mungkin, dengan mengajukan pertanyaan itu saja, mereka akan terheran-heran dengan pertanyaan Anda. “Memangnya sejak kapan ada umat Islam yang menuhankan nabi Muhammad?!” 

Fakta sejarah menunjukkan, bahwa betapapun beragamnya sekte-sekte dalam Islam, tidak ada satu pun sekte dalam sejarah pemikiran kita yang sampai mempertuhan nabi Muhammad. Umat Muslim terjaga dari akidah semacam itu. Ya, barangkali kita bisa menjumpai sekte-sekte sempalan, seperti sekte ekstrem Syiah, misalnya, yang memandang Sayyidina Ali sebagai Tuhan. Atau sosok-sosok lain selain nabi Muhammad Saw, yang mereka yakini sebagai Tuhan. Meskipun mereka sendiri sejujurnya bukanlah bagian dari Islam. 

Memang kelompok-kelompok semacam itu pernah ada. Dan riwayat pemikiran mereka sampai sekarang masih bisa kita baca. Tapi pernahkah Anda menjumpai satu sekte saja—sekali lagi satu sekte saja—dalam Islam yang menuhankan nabi Muhammad Saw? Coba Anda telaah buku-buku doksografi seperti al-Milal wa an-Nihal, al-Farq baina al-Firaq,Maqalat al-Islamiyyin, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah, dan buku-buku sejenisnya, yang mendedahkan sejarah pemikiran sekte-sekte itu. Setahu saya tidak ada satu sekte pun dalam buku-buku itu yang tercatat pernah yang mempertuhan Nabi Muhammad Saw. 

Paling jauh umat Muslim hanya memandang Nabi Muhammad sebagai jelmaan (tajalli), atau manifestasi dari kesempurnaan sifat-sifat Tuhan. Maksudnya, jika kita ingin melihat kesempurnaan sifat-sifat Allah itu termanifestasikan dalam diri manusia, maka cerminan manusiawi yang paling pantas dan paling sempurna adalah pribadi Nabi Muhammad itu. Tapi itu bukan berarti kita mempertuhan nabi Muhammad! Tidak ada umat Islam yang berpandangan begitu. 

Karena itu tidak mengherankan jika Rasulullah Saw pernah bersabda dalam sebuah hadits, bahwa beliau tidak mengkhawatirkan kemusyrikan bagi umatnya. “Aku tidak takut kalian menjadi musyrik sepeninggalku. Tetapi yang aku takutkan adalah dunia, yang kalian akan berlomba-lomba dengannya. Kemudian kalian saling membunuh. Dan kalian pun hancur, sebagaimana hancurnya orang-orang terdahulu” (HR. Muslim). 

Beliau tidak takut dengan kemusyrikan yang dikhawatirkan oleh orang-orang Wahabi itu. Karena beliau pasti tahu, bahwa sampai kapanpun, umatnya tidak akan pernah menjadikan beliau sebagai Tuhan selain Allah, atau menjadikan kuburannya sebagai sesembahan selain Allah. Yang beliau takutkan, seperti yang termaktub dalam hadits tersebut, ialah dunia, yang dapat membuat kita saling bermusuhan satu sama lain, dan kemudian menghancurkan kehidupan kita. Dan itulah yang terjadi sekarang. 

Jadi, kalau nabi saja tidak mengkhawatirkan kita terjatuh dalam syirik, lantas atas dasar apa kita mengkhwatirkan orang-orang yang merayakan maulid terjatuh dalam perbuatan musyrik? Selama kita tidak memandang nabi sebagai Tuhan, maka segala bentuk pujian apapun, selama pujian itu dilantunkan dengan memposisikan beliau sebagai hamba dan utusan Allah, maka pujian itu diperbolehkan. Dan hadits tersebut tidak melarang pujian semacam itu. 

Lalu mengapa larangan di atas muncul? Kenapa Nabi mengutarakan larangan itu, kalau memang beliau tidak takut kemusyrikan terhadap umatnya? Nabi Muhammad Saw adalah sosok yang rendah hati. Larangan untuk memuji itu boleh jadi mengemuka sebagai ekspresi kerendahhatian itu. Dan dalam kehidupan sehari-hari pun kita biasa menjumpai ekspresi semacam itu. 

Kalau ada sosok terhormat di hadapan Anda yang melarang Anda untuk memujinya, sementara Anda tahu bahwa sosok yang Anda di hadapan Anda itu sangat layak menyandang pujian, dan dia sendiri mengemukakan larangan itu sebagai wujud kerendah-hatian, apakah dengan adanya larangan itu lantas Anda harus mencabut pujian itu? Tentu saja tidak. Karena toh larangan itu bukan larangan yang diiringi kecaman dan ancaman. Tetapi larangan yang terlahir sebagai ekspresi kerendahhatian.  

Karena itu, seperti kata guru kami, Syekh Gamal Faruq, andai kata ada teks agama yang melarang kita untuk merayakan hari kelahiran nabi, maka kita akan tetap merayakan hari kelahiran nabi itu. Dan perayaan kita tidak akan tergolong ke dalam perbuatan maksiat. Karena merayakan maulid nabi, pada hakikatnya, adalah mengekspresikan perasaan cinta kepada kekasih Allah Swt, yang memang berhak mendapatkan pengagungan dari umatnya. 

Dan setinggi apapun pujian yang kita sampaikan, itu semua tidak akan mempu menampilkan hakikat keagungan Rasulullah Saw. Tidak ada yang mengetahui hakikat kedudukannya kecuali Tuhan yang telah menciptakannya. Dan cukuplah kemuliaan bagi dirinya ketika Tuhan semesta alam menyandingkan namanya dengan nama-Nya. Jika Tuhan saja memuliakan kedudukannya, lantas tidak pantaskah jika kita bergembira atas hari kelahirannya? 

Bagikan di akun sosial media anda