Hidup Kok Gini-gini Aja Sih!

Kalau sekarang Anda ditakdirkan hidup miskin, kemungkinan besar Anda akan mengharapkan kemewahan dan kekayaan. Anda berharap uang berlimpah itu segera datang, agar Anda terbebas dari belenggu kemiskinan itu. Tapi, tahukah Anda bagaimana kalau tiba-tiba kekayaan dan keberlimpahan itu datang? Ya, Anda akan merasa senang. Mungkin Anda juga akan teriak sekencang-kencangnya. Lari-lari di tengah jalan, senyum-senyum sendiri kaya orang gila. Hal-hal yang tidak biasa bisa Anda lakukan demi mengekspresikan kebahagiaan itu. Pokoknya, kalau urusan mengeksrepsikan kebahagiaan, orang punya caranya sendiri-sendiri.

Bagaimana kalau ternyata kekayaan itu berlanjut secara terus menerus, dan Anda, setelah itu, tidak pernah merasakan kesulitan hidup sama sekali? Apakah Anda yakin bahwa Anda akan bahagia dengan keadaan itu? Saya rasa tidak. Kalau keadaan itu berlanjut, tanpa ada selingan kesedihan, nestapa, kekecewaan, dan kesusahan, dalam bentuk apapun, maka pada akhirnya apa yang dulu pernah Anda impi-impikan itu akan melahirkan kebosanan. Dan Anda pun bertanya, “kok hidup gue begini-begini aja ya. Kaya masih ada yang kurang?”. Kekayaan itu akan terasa garing. Dan, ketika itu, Anda tidak bisa menikmatinya seperti dulu lagi. Kecuali kalau Anda diberikan kekayaan tambahan yang belum Anda dapat. 

Begitulah manusia. Bosan dengan satu titik, maka dia pun mengharapkan titik yang lain. Sekarang, misalnya, Anda hidup sebagai jomblo. Dan Anda benar-benar merindukan kehadiran seorang pasangan. Apa yang akan Anda rasakan ketika pasangan itu hadir? Waduh, seneng banget. Status facebook yang tadinya galau mulai bertabur emot kebahagiaan. Sama orang yang tadinya galak jadi bae. Yang tadinya pelit, gara-gara dapat pacar baru, jadi bisa berbagi. Dan kesenangan yang dialami oleh manusia seringkali memang merubah sisi-sisi tertentu dari kehidupannya. Meskipun perubahan itu tidak berlangsung lama. Lalu, apa yang Anda rasakan ketika pasangan itu datang, dan Anda berdua terikat dengan pernikahan? 

Ya kalau awal-awal doang mah biasanya masih mesra sih. Pasangan kita masih terbayang sebagai berlian. Tapi, kalau sudah memasuki tahun ke-3, 4, apalagi 5 ke atas, percaya nggak sih, kalau berlian itu tiba-tiba akan terlihat berkarat? Yang tadinya dielus-elus lama kelamaan dibanting dan diludahi juga. Bukankah Anda sendiri pernah menyaksikan orang yang tadinya pacaran dengan penuh kemesraan, kemudian setelah menikah keduanya berakhir di meja perceraian? Bukankah itu terjadi? Ya itulah makanya. Apa yang dulu menyenangkan kita, kalau itu terus berlanjut, seringkali berujung dengan rasa bosan. 

Sekarang pengen jadi pejabat. Udah jadi pejabat A, lama kelamaan bosen juga. Akhirnya nyoba jadi pejabat B. Selesai jadi pejabat B, bosen juga. Akhirnya nyobalah jadi pebisnis. Berhasil jadi pebisnis di bidang A, lama kelamaan pasti bosen. Dan pengen mencari suasana baru. Udah dapat tuh suasana baru, bosen lagi bosen lagi. Lama-lama kelamaan akhirnya kita bertanya-tanya, dan inilah pertanyaan yang cukup sering diajukan oleh orang-orang yang hidupnya teras kering, “eh, perasaan kok hidup gue begini-begini aja sih?” 

Ketika pertanyaan itu mengemuka, maka ketika itu pulalah kita akan terus tertarik lagi untuk menjelajahi dunia baru. Kapan itu terhenti? Semua itu akan terhenti kalau kita mati. Karena, selama nafsu masih tertancap, maka keinginan untuk mencari hal-hal baru, dunia baru, dan suasana baru itu tidak akan hilang. Nafsu seringkali terjatuh dalam perasaan bosan. Dan dia cenderung merasa tidak puas. Kalaupun merasa puas, kadang dia hanya puas pada satu titik, atau puas pada suatu saat. Tapi dia sendiri tidak akan puas dengan sesuai yang belum dia capai. Semakin dituruti semakin keinginan itu bertambah. Dan dengan banyaknya keinginan maka semakin susahlah kita mencari ketenangan dan kebahagiaan. Karena ketika itu pasti kita akan punya banyak pikiran. 

Terus gimana dong solusinya? Di sinilah agama tampil untuk menjawab. Agama bilang, bahwa kita harus belajar puas dengan apa yang kita terima. Dan kita harus belajar untuk menerima semua ketetapan Allah Swt. Karena itulah yang terbaik untuk kita. Dan kepuasaan itulah yang dapat melahirkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Jangan pernah Anda mengira bahwa kebahagiaan itu hanya akan tercapai seiringnya dengan terwujudnya sesuatu yang kita inginkan. Tidak. Kebahagiaan yang hakiki itu sesungguhnya akan kita rasakan manakala kita mampu menerima keadaan, dan berupaya untuk merasa puas, seraya menikmati keadaan itu. Tanpa perlu membayangkan keadaan lain yang lebih baik.

Jadi, hidup tuh harusnya selow aja. Nggak usah banyak impian. Ya bukan berarti nggak boleh sih. Punya banyak impian itu boleh. Bahkan bagus kalau niatnya baik mah. Tapi, ingat, apa yang Anda impikan itu, kalau udah terlaksana, lama kelamaan Anda akan merasa bosan juga. Dan ingat, rasa bosen itu nggak bisa dihilangkan hanya dengan menjelajahi dunia baru, profesi baru, maupun pengasilan baru. Karena, pada akhirnya, yang baru-baru itu pun akan melahirkan kebosanan yang sama. Terus gimana? Belajar puas dengan keadaaan. Nikmati aja apa yang ditakdirkan oleh Tuhan. Dapat suami bawel, syukuri aja. Masih mending suami lu masih bisa nyari duit. Lah suami orang, beliin soptek juga kagak! 

Dapet kerjaan cuma gaji dua juta sebulan. Pertanyaan gua, lu bisa makan nggak? Dengan duit dua juta itu, lu nggak tiba-tiba mati ditelan kelaparan kan? Lu masih bisa makan kan? Selama bisa bisa makan, ada yang bisa diminum, ya meskipun kadang-kadang harus minjem duit ke tetangga, ya lu nikmatin aja sih. Lagian kalau lu dikasih duit 2 milyar. Kalau lu nggak bisa mengelola, dan kehidupan lu nggak berubah-ubah, lama kelamaan lu bosen juga. Jangan lu kira orang kaya itu semuanya bahagia. Kagak, solihin! Duit banyak juga kalau hati gelisah kagak bakal ada gunanya. 

Lagi-lagi di sinilah agama mengambil peran. Sungguh naif kalau ada yang bilang bahwa agama tidak penting bagi kehidupan kita. Kalau nggak ada agama, dari mana lu bisa mendapatkan ketenangan itu? Kalau bukan dari agama, dari mana lu bisa tahu jawaban-jawaban yang tepat, komplit dan detail menyangkut persoalan-persoalan hidup, yang jumlahnya berjibun dan berlimpah itu? Mau itu hidup pribadi, kelompok, bahkan negara sekalipun. Agama berperan penting dalam mementuhi sisi batiniah kita. Kalau tidak ada agama, maka kita akan hidup layaknya hewan. Dan kita akan kesulitan dalam menemukan keteraturan juga ketenangan. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *