Rejeki yang Terbagi Itu Seperti Baju yang Kita Pakai

Siapa sih yang nggak kenal Raffi Ahmad? Atta Halilintar? Dedy Corbuzier? Ria Ricis? Baim Wong? Tanboykun? Dan nama-nama lainnya yang dikenal sebagai Youtuber sukses itu? Kadang saya suka iseng-sieng nyari informasi tentang kekayaan mereka, dan penghasilan yang mereka peroleh melalui Youtube. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala aja sih, kalau melihat nominal-nominal uang sebesar yang mereka miliki itu. 

Andai kata Anda diberikan tawaran, mau nggak sih kalau ditakdirkan hidup seperti mereka? Sebagian besar dari kita sepertinya akan menganggukkan kepala. Ya mau bangetlah. Punya uang banyak. Rumah mewah. Kendaraan keren. Dikenal banyak orang. Bisa bebas jalan-jalan. Mau beli apa aja kayanya bisa. Tanpa harus kesulitan mengeluarkan uang. Enak bukan? Apa sih yang kurang dari mereka? Hidup jadi orang kaya itu enak. Begitulah bayangan banyak orang.  

Dan, sampai batas tertentu, saya sendiri bisa sepakat dengan pandangan itu. Bahwa kekayaan memang bisa berperan dalam memberikan kebahagiaan. Meskipun ia bukan satu-satunya jalan. Tetapi, bagaimana pun juga, dalam pandangan saya, rejeki itu ibarat pakaian. Kekayaan itu bisa kita ibaratkan seperti baju. Ya, seperti baju. Saya membayangkan perbedaan rejeki yang diterima oleh setiap orang itu seperti halnya perbedaan ukuran baju yang menyesuaikan dengan ukuran para pemakainya. 

Izinkan saya untuk bertanya kepada Anda semua, kalau suatu waktu Anda dihadapkan dengan dua pilihan, misalnya, antara memilih baju mahal dengan ukuran dan model yang tidak cocok, atau baju dengan harga pas-pasan, tapi dia sesuai dengan ukuran tubuh Anda, kira-kira Anda akan memilih yang mana? Milih yang mahal sekalipun nggak cocok? Atau milih yang harganya pas-pasan yang penting sesuai? Kalau bajunya mau dipake, ya jelas kita akan memilih yang kedua donk. Yang penting kan cocok. Ya syukur-syukur kalau ada yang mahal dan cocok.  

Tapi bagaimana kalau pilihan cuma ada dua? Pastilah pilihan akan jatuh pada baju yang cocok. Bukan baju yang hanya sekedar mahal. Kalau mahal tapi nggak cocok, buat apa? Dipake juga cuma bikin malu doang. Udah gitu nggak nyaman lagi. 

Saya punya pandangan bahwa rejeki itu persis seperti baju. Tuhan membagikan rejeki itu kepada hamba-hamba-Nya sesuai dengan kecocokan dan kelayakan diri mereka masing-masing. Yang layak mendapatkan kekayaan, Tuhan berikan kekayaan. Yang tidak layak mendapatkan kekayaan, maka diberikan keterbatasan. Dan kita tidak pernah tahu mana sesungguhnya yang cocok dengan diri kita itu. 

Mungkin sekarang Tuhan tidak memberikan kekayaan kepada Anda, karena Tuhan tahu, bahwa kalau kekayaan itu diberikan, Anda akan terhanyut dalam kelalaian. Dan itu buruk bagi Anda. Sekarang Tuhan mentakdirkan Anda hidup apa adanya, karena mungkin itulah yang cocok bagi diri Anda. Dan kesempatan Anda untuk hidup bahagia tentu tidak lebih kurang dari orang yang diberikan setumpuk harta kekayaan itu.

 Karena toh yang menentukan orang hidup bahagia atau tidak bukan apa yang dimilikinya, melainkan penyikapan yang baik terhadap takdirnya. Jangan lupa, betapapun berlimpahnya rejeki seseorang, masalah hidup itu tetap saja ada. Orang yang Anda duga sekarang bahagia karena berlimpah harta, boleh jadi dia memiliki persoalan hidup, yang kalau saja Anda tahu seutuhnya, maka Anda tidak akan berharap sedikit pun untuk menjadi orang itu. 

Kalau Anda tahu semua rahasia kehidupan seseorang, niscaya Anda akan lebih memilih untuk menjadi diri Anda sendiri. Lengkap satu paket dengan pembagian rejekinya, yang sudah Tuhan tentukan sebelum kita terlahir. Di sini berlaku pepatah Arab yang bilang, bahwa “kalau kita bisa menerawang yang ghaib, maka niscaya kita akan memilih apa yang sudah terjadi.” 

Maksudnya, kalau sekiranya kita tahu rahasia-rahasia ketetapan Tuhan yang kita terima, dan ketetapan-ketetapan itu bersifat ghaib, dalam arti berada di luar jangkauan pengetahuan kita, niscaya kita akan memilih apa yang telah Tuhan pilih. Bukan memilih untuk menjadi apa yang kita pilih. 

Tidak ada jaminan bahwa apa yang kita pilih itu sepenuhnya baik. Bahkan seringkali manusia mengharapkan sesuatu yang menurutnya baik. Tapi, setelah itu tersingkaplah kenyataan, bahwa apa yang dia duga baik ternyata justru bisa menyengsarakan hidupnya. Secara pribadi saya pernah mengalami itu. Bahkan berkali-kali. Yang lebih tua dari saya pasti mengalami lebih banyak lagi. 

Dan dengan adanya pengalaman itu saya mulai belajar untuk tidak menjadi manusia yang keukeuh, ngotot bin kedot, yang kalau minta, dia meminta dengan cara ‘memaksa’ Tuhan agar mengabulkan apa yang Dia inginkan. Saya lebih nyaman dengan cara meminta yang diiringi kepasrahan. Karena saya tidak pernah tahu apa yang terbaik untuk kehidupan saya. 

Yang penting tugas saya hanyalah berusaha. Soal hasil, cukuplah Tuhan sebagai sebaik-baiknya penentu kehidupan kita. Dan saya kira cara pandang semacam ini penting sebagai salah satu seni dalam menjalani hidup. Tidak perlu kita berharap seperti orang lain. Maksimalkanlah potensi diri Anda sendiri. Dan jadilah diri Anda sendiri. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya. 

Boleh Anda berharap untuk jadi orang kaya. Dan tidak ada masalah kalau Anda berupaya untuk mendapatkan kekayaan itu. Tapi iringilah upaya Anda dengan keyakinan, bahwa apa yang ditakdirkan Tuhan itu jauh lebih baik ketimbang apa yang kita inginkan. Apa yang kita inginkan mungkin baik, tapi boleh jadi buruk. Sementara apa yang Tuhan putuskan sudah pasti baik, sekalipun keterbatasan nalar kita memandangnya sebagai sesuatu yang buruk. 

Dengan begitu, dalam keadaan apapun, kita akan tetap bersyukur. Dan hidup dengan tidak banyak mengeluh. Kesengsaraan hidup itu seringkali terlahir dari penyikapan yang salah dari diri kita sendiri, bukan semata-mata disebabkan oleh keadaan yang menimpa kita. Dalam urusan nikmat duniawi, agama memerintahkan kita untuk melihat ke bawah. Tapi menyangkut urusan kebaikan, sepatutnya kita memandang ke atas. Karena cara pandang itulah yang bisa mendorong kita untuk menjadi lebih baik lagi. 

Sekian banyak orang yang diberikan kekayaan, tapi kekayaannya menjadi sebab kesengsaraan. Sebagaimana tidak sedikit orang yang hidup dalam keterbatasan, tapi dengan keterbatasan itu dia mampu mendapatkan kebahagiaan. Bahkan berkontribusi besar bagi kehidupan banyak orang. Kita tidak pernah tahu baju yang cocok untuk kita. Karena kita bukanlah pencipta atas diri kita sendiri. Karena itu, menyangkut urusan rejeki, sebaiknya kita pasrahkan saja kepada Allah Swt, dengan tetap memantapkan upaya. Di situlah kunci kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda