Cacat Pikir Baggini dalam Merumuskan Definisi

Jika Anda masih bertanya tentang apa gunanya mempelajari ilmu logika, kekeliruan Baggini yang satu ini barangkali bisa dijadikan sebagai salah satu jawabannya. Baggini dikenal sebagai salah seorang filsuf. Ingat, filsuf. Saya sendiri tidak tahu dengan alasan apa dia diberi label terhormat semacam itu. Dia menulis buku Atheism: A Very Short Introduction, yang kemudian diterjemahkan oleh salah satu penerbit di Indonesia dengan judul, “Apa itu Ateisme: Sebuah Pengantar Singkat.” 

Dari judulnya sudah terlihat, bahwa Baggini, melalui buku itu, ingin menyuguhkan rumusan definisi dan pengantar singkat tentang ateisme. Melalui buku yang ditulisnya Baggini berupa untuk membuktikan bahwa ateisme itu adalah pilihan yang rasional. “Alasan saya mengarahkan perhatian pada fakta ini adalah bahwa buku ini hampir sepenuhnya tentang alasan rasional untuk ateisme.” Tuturnya.

Tapi, sayang, di sekujur tubuh bukunya kita tidak akan menjumpai argumen-argumen rasional. Dan orang-orang Ateis memang tidak akan pernah mampu untuk melakukan itu. Membuktikan ketiadaan Tuhan adalah perkata yang sulit, kalaulah enggan berkata mustahil. Meski begitu, orang Ateis tetap saja meyakini ketiadaan-Nya, sekalipun klaim tersebut tidak bersandar pada bukti apapun. Sebelum membuktikan apakah ateisme itu pilihan yang rasional atau tidak, tentu saja pertama-tama harus mendefinisikan istilah ateisme itu terlebih dulu.  

“Apa sih ateisme itu?” Itu pertanyaan dasar yang harus kita jawab. Menurut Baggini, ateisme itu ialah “kepercayaan bahwa tidak ada Tuhan ataupun dewa-dewa.” Inilah definisi ateisme versi Baggini yang ia tuangkan ke dalam bukunya. Apakah definisi ini tepat? Jika Baggini menghentikan definisinya pada kata “Tuhan” saja, misalnya, maka sepertinya kita bisa menerima definisi itu. Tapi, ketika dia menyertakan kata “dewa-dewa”, maka dari sinilah definisi itu menjadi cacat. Mengapa cacat? Sebab, ketika itu, definisinya menjadi tidak mencegah (ghair mani’). 

Dalam logika kita mengenal sebuah kaidah, bahwa definisi itu harus mampu menghimpun sekaligus mencegah (jami’ mani). Dalam pembahasan tentang definisi kita juga mengenal satu ketentuan, bahwa dalam merumuskan definisi tidak boleh kita menyertakan kata “atau.” Karena kata tersebut mengindikasikan sebuah ambiguitas dan keraguan. Sementara definisi harusnya dirumuskan dengan uraian yang tegas dan lugas. Karena dia berfungsi sebagai penjelas. Kalau orang yang tidak percaya dewa-dewa disebut sebagai ateis, maka orang-orang Muslim seperti kita juga bisa disebut sebagai Ateis donk! 

Orang Kristen juga bisa disebut Ateis, kalau dia tidak percaya kepada dewa-dewa. Siapapun yang tidak percaya dewa-dewa, maka, menurut definisi yang dirumuskan Baggini, dia termasuk Ateis. Hello! Masa orang beragama yang tidak percaya dewa-dewa Anda sebut sebagai Ateis semua, sementara mereka percaya dengan keberadaan Tuhan? Di sini Baggini tampaknya tidak membedakan antara istilah “dewa” dengan “Tuhan.” Baginya dua istilah itu sepertinya sama saja. Dan karena itu dia memasukkan kedua-duanya ke dalam definisi yang dia rumuskan. 

Padahal, dalam tradisi agama-agama, keduanya merujuk pada pemaknaan yang berbeda. Istilah dewa lebih banyak dipakai untuk tuhan-tuhan khayalan, yang penamaannya tidak pernah dikenal dalam tradisi agama samawi. Sementara Tuhan, atau Allah, adalah nama bagi wujud yang haq, yang bersifat niscaya, yang keberadaan-Nya dapat dibuktikan melalui argumen-argumen rasional. Anda boleh berkata bahwa istilah dewa itu merujuk pada tuhan khayalan, sementara kata Tuhan, atau Allah, merujuk pada Tuhan sungguhan. 

Di lain sisi, Baggini tampaknya juga tidak membedakan antara gambaran tentang Tuhan dengan wujud Tuhan itu sendiri. Apa yang diyakini sebagai Tuhan bukanlah wujud Tuhan. Sebagaimana gambaran kita tentang sesuatu itu bukanlah wujud asli dari sesuatu itu sendiri. Dan ketika orang tidak percaya dengan konsep ketuhanan tertentu, atau keyakinan tertentu tentang Tuhan, maka sesungguhnya dia tidak bisa disebut Ateis. Orang baru bisa disebut Ateis kalau dia, seperti yang pernah kita terangkan dalam tulisan yang lalu, tidak percaya dengan keberadaan Tuhan sebagai pencipta alam semesta. 

Di luar sana ada orang-orang yang mempercayai Tuhan sebagai sebuah ide yang ada dalam benak manusia. Bagi mereka Tuhan itu ada. Tapi sebagai ide yang diciptakan oleh nalar manusia saja. Dan mereka tidak percaya dengan keberadaan Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Apakah kita bisa menyebut orang ini sebagai Ateis? Jelas, selama dia mengingkari Tuhan, sebagai wujud yang berada di luar pikiran manusia, maka dia adalah Ateis. Tapi, kalau dia percaya pada Tuhan, sebagai pencipta alam semesta, sekalipun dia mengingkari dewa-dewa, maka dia tidak bisa disebut sebagai Ateis. Karena mengingkari dewa itu satu hal, mengingkari Tuhan itu hal yang lain lagi. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda