Kalam UlamaTasawuf dan AkhlakTerkini

Ketika Ketersingkapan Bisa Menjadi Ujian

Bagaimana kalau suatu ketika Tuhan menawari Anda untuk bisa langsung melihat sorga, atau disingkapkan kejadian mengerikan yang kelak akan berlangsung di dalam neraka? Mungkin, bagi orang yang batinnya senantiasa diselimuti rasa penasaran, dia akan senang dengan tawaran itu. Dan memandangnya sebagai sesuatu keistimewaan. Atau kita jangan bicara sorga-neraka lah. Katakanlah suatu ketika Anda ditawari untuk bisa berjumpa dengan nabi dalam keadaan sadar. Siapa sih yang nggak mau? Sebagai orang yang mengimani kenabiannya, hidup dengan ajarannya, tapi tidak pernah berjumpa dengannya, tentu saja kita merindukan pertemuan itu. 

Di samping melihat nabi, Anda juga, misalnya, ditawari agar bisa menatap malaikat. Intinya Anda ditawari ketersingkapan hakekat-hakekat yang selama ini tidak dapat terlihat oleh pandangan manusia biasa. Dalam tradisi tasawuf, ketersingkapan batin itu sering disebut dengan istilah kasyf. Apakah kasyf itu sebuah nikmat? Menurut Syekh Yusri, jawabannya malah sebaliknya. Kasyf itu bukan anugerah, tetapi dia, menurut beliau, adalah ujian bagi orang yang mengalaminya. Orang yang mengalami kasyf itu, tegas Syekh Yusri, pada dasarnya adalah orang-orang yang mengalami ujian besar di hadapan Allah Swt. 

Sekali saja dia bermaksiat, setelah diberikan ketersingkapan itu, maka dia tidak akan mendapatkan ampunan. Kenapa? Ya karena hal-hal ghaib itu sudah dia lihat secara langsung, sehingga dia tidak akan punya celah untuk berbuat salah lagi. Lain cerita dengan manusia biasa pada umumnya. Kalau manusia biasa bermaksiat, dia masih punya sisi “kewajaran”. Tapi, kalau orang sudah sampai pada tingkat kasyf, atau ketersingkapan batin itu, toleransi itu sudah tertutup. Karena itu, kata beliau, jangan sekali-kali Anda mengharapkan ketersingkapan itu. Kalau Anda ditawari, katakan bahwa Anda tidak mampu. 

Kalau ada orang menerima tawaran itu, atau malah berharap, berarti, kata beliau, dia adalah bodoh. Dia adalah orang yang tidak tahu. Tidak tahu dengan kadar dirinya (jahil binafsihi), juga tidak tahu dengan Tuhannya (jahil birabbihi). Karena mengharapkan hal semacam itu sama saja dengan mengharapkan ujian yang besar, sementara kita sendiri tidak sanggup untuk memikulnya. Dulu, demikian tutur Syekh Yusri, Syekh Ismai’il Shadiq al-‘Adawi, salah seorang guru beliau, yang juga dikenal sebagai wali besar, sempat merasakan pengalaman kasyf itu. Di antara karamahnya, beliau bisa melihat manusia sesuai dengan kadar dosa-dosanya. 

Yang beliau lihat, kalau berpapasan dengan orang, bukan hanya jasad, tapi juga dosa-dosanya. Kalau kita diberikan keistimewaan itu, kita mungkin akan senang. Karena bisa mengetahui rahasia-rahasia orang lain. Tapi beliau, sebagai seorang alim, malah sedih dengan keistimewaan itu. Karena dengan begitu pada akhirnya hidup beliau sibuk menatap keburukan orang lain. Sampai-sampai, kata Syekh Yusri, beliau melihat orang dari balik dinding. Akhirnya, karena tidak kuat, beliau pun memutuskan pergi Umrah. Dan memohon kepada Allah agar ditutup kembali ketersingkapan itu. Lalu menjadi manusia biasa pada umumnya. 

Begitulah sikap para wali-wali besar. Mereka tidak mengharapkan karamah dan hal-hal ajaib. Yang menjadi tumpuan harapan mereka hanyalah Allah Swt. Jadi, orang yang sudah mengalami ketersingkapan batin itu tugas dan tanggungjawabnya berat. Bagi yang tidak mampu, justru itu bisa menjadi malapetaka untuk dirinya. Lihat, kata Syekh Yusri, kisah al-Hawariyyin (para pengikut setia nabi Isa), yang suatu ketika meminta kepada nabi Isa agar Tuhannya menurunkan makanan dari langit (maidah minassama). 

Untuk apa? Agar mereka yakin bahwa nabi Isa itu benar-benar utusan Tuhan. Kisah ini terekam dalam Q.S al-Maidah [5]: 112-115. Para pengikut Nabi Isa As berkata, “Wahai Isa putra Maryam! Bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”. Artinya, dalam konteks ini, para pengikut nabi Isa meminta kasyf. Lalu apa jawaban nabi Isa? “bertakwalah kepada Allah jika kalian orang-orang beriman.” Perhatikan, Nabi Isa menyuruh mereka untuk bertakwa, karena mengajukan permintaan semacam itu dapat memberatkan diri mereka sendiri.

Namun, seperti yang diceritakan dalam al-Quran, mereka tetap meminta agar makanan itu diturunkan. Lantas apa jawaban Tuhan? Perhatikan bunyi ayat ini. “Sungguh, Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, tetapi barangsiapa kafir di antaramu setelah (turun hidangan) itu, maka sungguh, Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia (seluruh alam).” (QS. Al-Maidah [5]: 115). Ini menunjukkan bahwa kasyf itu, kata Syekh Yusri, justru bisa menjadi malapetaka bagi yang bersangkutan, kalau setelah mengalami ketersingkapan itu dia masih bersikukuh untuk berbuat maksiat kepada Tuhan. 

Apa pelajarannya? Jadilah manusia biasa pada umumnya. Tidak perlu berharap ingin bisa melihat malaikat, nabi, sorga, neraka, dan hal-hal ghaib lainnya. Tidak perlu mengharapkan kasyf. Apalagi memandang diri kita sebagai sosok yang istimewa, kalau sudah mengalami ketersingkapan itu. Tugas kita di dunia ini hanyalah beribadah, dan menjalankan tugas sebaik-sebaiknya. Biarlah ketersingkapan batin itu kita alami kelak di alam akhirat, sebagai karunia dari Allah Swt. Bukan sekarang. Karena untuk sekarang kita belum tentu mampu untuk memikulnya. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda