Anjing, Toa dan Logika yang Kurang Tertata

Dalam logika ada yang disebut dengan istilah false analogy. Yaitu satu kekeliruan berpikir yang terjadi ketika seseorang membanding-bandingkan dua hal yang tidak sepadan, tapi dihukumi dengan penghukuman serupa. Dan ini cukup sering terjadi dalam percakapan sehari-hari kita. Idealnya, ketika Anda ingin membandingkan antara sesuatu dengan sesuatu, penalaran yang logis mengharuskan Anda untuk mencari titik persamaan yang tepat antara kedua sesuatu yang ingin Anda bandingkan itu. Dan persamaan itu haruslah berimbang. Satu contoh sederhana bisa memperjelas kekeliruan yang satu ini.  

Bagaimana respon Anda kalau suatu ketika, misalnya, ada orang yang memandang perempuan sebagai makhluk yang berbahaya, dengan alasan bahwa dia bisa menggoda kaum pria, dan menjerumuskan mereka pada perbuatan yang dilarang agama? Lalu, perempuan itu dibanding-bandingkan dengan setan. Karena kedua-duanya sama-sama bisa menggoda. Bisakah Anda menerima analogi semacam itu? Kemungkinan besar—apalagi kalau Anda seorang perempuan—Anda akan menolak dengan keras. 

Kenapa menolak keras? Mungkin Anda akan berkata, itu tidak menghormati perempuan! Dan perbandingan itu memang tidak sepadan. Ya, memang benar bahwa baik setan maupun perempuan kedua-duanya bisa menggoda. Dan laki-laki pun sebenarnya punya potensi yang sama dalam urusan goda menggoda itu. Bukan hanya sebatas perempuan. Katakanlah bahwa kedua makhluk itu punya potensi yang sama dalam menjerumuskan umat manusia. Tapi, sekali lagi, perbandingan semacam itu bukanlah perbandingan yang adil. Itu namanya false analogy. Karena bagaimanapun ada perbedaan-perbedaan mendasar antara kedua makhluk itu. 

Perempuan itu berasal dari kalangan manusia. Sedangkan setan berasal dari kalangan makhluk halus. Manusia mendapatkan kemuliaan dalam pandangan agama. Sementara setan adalah makhkluk terkutuk yang dipandang hina. Perempuan adalah makhluk yang tampak. Sedangkan setan adalah makhluk yang tidak kasat mata. Perempuan memiliki sisi kebaikan. Sementara setan adalah cerminan dari keburukan, yang tidak punya kebaikan sama sekali. Setan diciptakan sebagai ujian bagi manusia. Sementara perempuan diciptakan sebagai pendamping bagi laki-laki. Dan karena itu tentu sangatlah tidak adil kalau kita membuat analogi antara keduanya. 

Lalu bagaimana dengan penganalogian suara azan dengan suara anjing, seperti yang ramai dibicarakan belakangan ini? Memang benar, kedua-duanya sama-sama suara. Dan kedua-duanya, sampai batas tertentu, sama-sama bisa mengganggu. Tapi kita jangan melupakan perbedaan yang mendasar antara kedua hal itu. Suara anjing itu tidak memuat sakralitas apapun, dan bukan bagian dari syiar agama manapun. Itu adalah suara hewan biasa, yang kalaupun tidak diperdengarkan, tidak ada beban moral apapun bagi para pemeliharanya. 

Sementara suara azan, yang dikumandangkan melalui toa, atau melalui alat apapun, memuat sisi sakralitas itu. Mengumandangkan suara azan adalah bagian dari syiar agama. Meskipun alat seperti toa bukanlah bagian dari syiar itu. Sementara suara anjing adalah suara hewan biasa. Tidak adil kalau kita menganalogikan keduanya. Lalu bagaimana kalau pengumandangan itu mengganggu kenyamanan umat agama lain? Di sini kita harus bersepakat dengan Menag, bahwa kalau memang terbukti suara itu dikumandangkan secara berlebihan, dan itu mengganggu masyarakat sekitar, maka harus ada regulasi terkait hal itu. 

Mendapatkan kenyamanan adalah hal semua warga negara. Umat beragama yang baik adalah umat beragama yang tidak mengganggu kenyamanan umat agama lain. Tidak ada yang perlu diperselisihkan dalam hal itu. Menag sendiri mengatakan bahwa dia tidak bermaksud untuk melarang. Dia bermaksud untuk mengatur. Dan itu bagus.  

Yang kita persoalkan adalah logikanya yang menganalogikan suara anjing dan suara yang keluar dari balik toa. Menag mungkin tidak bermaksud untuk menganalogikan keduanya. Seorang Muslim yang taat rasanya akan sulit untuk menerima penganalogian semacam itu. Tapi, diakui atau tidak, kalau diperhatikan dengan cermat, pernyataan yang disampaikan Menag memang menuju ke arah itu. Atau katakanlah berkonsekuensi pada penganalogian itu. Dan itu kurang tepat. Soal apakah dia “kepleset” atau nggak, saya kira itu persoalan lain. Yang kita soroti adalah pernyataannya saja.

Suara anjing bisa mengganggu. Suara toa juga bisa mengganggu. Dan karena itu harus kita atur. Begitulah kira-kira logika Menag berjalan. Sepintas tampak terlihat logis. Tapi itu bukanlah perbandingan yang adil. Apalagi kata “anjing”, di lingkungan masyarakat kita, sudah terlanjur memiliki konotasi yang negatif sehingga tak relevan untuk dipersamakan dengan suara azan, yang memuat sisi sakralitas dan merupakan bagian dari syiar agama. Sangat wajar kalau ada umat Muslim yang tidak setuju dengan pernyataan itu. 

Tapi, agak berlebihan juga kalau pernyataaan Menag itu dimaksudkan untuk menodai syariat Islam. Atau menghina umat Islam. Bagaimanapun, kita juga harus menggunakan logika yang berimbang. Terlepas dari itu, putusan Menag yang ingin mengatur penggunaan toa, dalam hemat saya, adalah putusan yang bagus. Niatan Menag sudah baik. Tapi, niatan yang baik tidak selamanya disampaikan dengan cara-cara yang baik. Di sinilah kita mulai menyadari kembali pentingnya ilmu logika. Sebagai modal utama dalam membangun percakapan bermutu dalam kehidupan sehari-hari kita. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda