Tidak Ada Dogmatisme dalam Islam

Setiap agama pasti memiliki dasar-dasar keyakinan yang menjani landasan ajaran pemeluknya. Tak ada agama tanpa keyakinan. Dan masing-masing umat beragama pasti meyakini agamanya sebagai agama yang benar. Tapi, kita harus bisa membedakan antara apa yang diyakini benar dengan kebenaran itu sendiri. Apa yang kita yakini benar belum tentu sepenuhnya benar. Sebagaimana apa yang kita yakini salah belum tentu seutuhnya salah. Dengan kata lain, keimanan kita terhadap sesuatu itu sama sekali tidak mempengaruhi benar tidaknya sesuatu yang kita imani itu. 

Untuk membuktikan apakah suatu keyakinan itu benar atau tidak, maka yang berhak untuk menjadi kata putus ialah dalil dan argumentasi. Kalau keyakinan itu ditopang oleh dalil-dalil yang sahih, maka kita bisa memastikan sahihnya keyakinan itu. Tapi kalau tidak, dan kita tetap mempercayainya sebagai kebenaran, maka itulah yang ingin kita sebut sebagai dogma. Apa itu dogma? Dogma adalah keyakinan yang tidak berlandaskan pada bukti. Kalau Anda memeluk satu keyakinan tertentu, sementara keyakinan itu sendiri tidak berlandaskan pada bukti, atau dalil, maka ketika itu Anda telah bersikap dogmatis. 

Apakah ada umat beragama yang bersikap demikian? Tentu saja. Sulit bagi kita untuk mengingkari fakta itu. Tapi, apakah dogmatisme itu ada dalam semua agama? Atau, apakah dogmatisme itu dikenal dalam ajaran Islam? Penelurusan yang objektif akan berkata tidak. Dalam Islam, tidak ada keyakinan yang “dipaksakan” kepada para pemeluknya tapi keyakinan itu sendiri tidak berlandaskan pada dalil. Buku-buku teologi Islam klasik adalah saksi terbaik untuk menepis adanya dogmatisme itu. 

Dalam Islam, misalnya, Tuhan diyakini sebagai Dzat yang satu, esa, dan tidak berbilang. Kalau Anda bertanya apa bukti rasional di balik keesaan Tuhan? Ratusan lembar buku para sarjana Muslim sudah siap untuk memuaskan nalar Anda. Islam menegaskan bahwa Muhammad Saw bukan sebatas manusia biasa. Beliau adalah seorang nabi, yang diutus oleh Allah Swt. Tapi, hak setiap orang untuk bertanya, memangnya apa bukti kalau Nabi Muhammad Saw itu benar-benar seorang nabi? 

Di hadapan Anda bukan hanya ada puluhan lembar jawaban. Para ulama Muslim bahkan menyusun buku-buku untuk membuktikan kenabian nabi Muhammad itu. Argumen mereka sangat berlimpah sekali. Di antara salah satu bukti kenabian terbesarnya, Nabi Muhammad Saw datang dengan membawa mukjizat, yaitu al-Quran. Kalau kita menyebut al-Quran sebagai mukjizat, itu bukan hanya sebatas dogma. Tapi itu adalah fakta yang diamini oleh para pakar bahasa Arab manapun di belahan muka bumi ini. 

Tidak ada orang yang bisa tampil untuk menandingi keindahan, kedalaman, dan kefasihan dan susunan bahasa al-Quran. Dan al-Quran sudah mengumandangkan tantangan itu sejak 14 abad yang lalu. Adakah kitab suci seperti itu di dunia ini? Bagi yang ingin mengiyakan pertanyaan ini, dia harus mengemukakan bukti. Sebutkan satu saja kitab suci yang setara dengan al-Quran itu. Tidak ada. Dan itu adalah fakta. Bukan dogma. Islam tidak kenal dengan dogma, yang tak berlandaskan pada bukti itu.

Lalu bagaimana dengan keimanan kita terhadap hal-hal ghaib, seperti sorga, neraka, malaikat, jin, dan semacamnya? Bagaimana kita bisa membuktikan keberadaan hal-hal ghaib itu? Apa bukti mereka semua itu ada? Jawabannya, keimanan kita akan hal-hal ghaib itu adalah konskeuensi logis dari pembenaran kita akan kenabian Nabi Muhammad Saw itu sendiri. Kalau bukti-bukti yang sahih menggiring kita pada kesimpulan bahwa Nabi Muhammad Saw itu adalah seorang nabi, maka sebagai konsekuensi logisnya apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad pastilah benar, bukan hanya sebatas dongeng dan khayalan semata. 

Jadi, kalau Anda ingin memperdebatkan ada atau tidaknya hal-hal ghaib itu, diskusi kita harus terarah pada sahih tidaknya informasi yang memuat berita tentang hal-hal ghaib itu sendiri. Hal-hal ghaib itu disampaikan oleh al-Quran. Lalu benar tidak kalau al-Quran itu berasal dari Tuhan? Hal-hal ghaib itu disampaikan oleh seorang manusia agung bernama Muhammad Saw. Tapi benar tidak kalau dia adalah seorang nabi sungguhan? Kalau bukti-bukti yang sahih menggiring kita pada kesimpulan bahwa bahwa al-Quran itu adalah firman Tuhan, dan Muhammad Saw adalah seorang nabi, maka semua informasi yang tertuang di dalamnya pastilah benar. 

Kenapa harus benar? Karena Tuhan tidak mungkin berbohong. Kebohongan adalah sifat tercela, yang merupakan bagian dari kekurangan makhluk. Apa logis kalau Tuhan yang menciptakan alam raya itu menyandung sifat yang kurang terpuji itu? Jadi, hatta dalam soal perkara ghaib sekalipun, ajaran Islam memiliki penjelasan logisnya, yang bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Dan itu didedahkan secara panjang lebar oleh para ulama Muslim, khususnya di dalam buku-buku ilmu kalam. 

Dengan adanya fakta semacam itu, sungguh sangat tidak adil kalau kita mempersamakan keimanan umat Muslim terhadap prinsip-prinsipnya keimanannya, dengan keimanan umat agama lain terhadap doktrin-doktrin tertentu di dalam agama mereka. Ya, semua umat beragama meyakini agamanya sebagai agama yang benar. Tapi, apakah klaim kebenaran itu dengan serta merta menjadikan apa yang mereka yakini sebagai sesuatu yang benar? Hanya argumentasi yang bisa menjawab itu. Selama tidak ada argumentasi yang sahih, maka keyakinan yang dipandang benar itu hanya akan menjadi dogma. 

Dan Islam tidak mengenal apa yang disebtu sebaga dogma itu. Dengan demikian, kalau ada pertanyaan apakah agama mengajarkan dogma? Sebelum menjawab, selayaknya tentukan dulu jawaban dari pertanyaan ini. Agama apa yang Anda maksud dalam pertanyaan itu? Merupakan fakta yang terang benderang, bagi yang siapapun yang mengkaji Islam secara objektif, bahwa Islam sama sekali tidak mengenal apa yang disebut sebagai dogma itu. Yang saya maksud tentunya ialah prinsip-prinsip ajarannya. 

Adapun menyangkut rincian, perbedaan pendapat lumrah terjadi di lingkungan kelompok-kelompok Muslim. Dan tidak semua pendapat itu memiliki dalil yang sahih. Kalau yang bersangkutan tetap meyakini kebenarannya, sekalipun tidak ada buktinya sama sekali, lalu menyalahkan pendapat selainnya, barulah ketika itu dia sudah terjatuh dalam sikap dogmatis. Dogmatisme bukanlah milik semua agama. Dia adalah kecenderungan sikap yang ditampilkan oleh sebagian umat beragama. Dan Islam sendiri tidak mengenal itu. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda